Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

BIOGRAFI SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Nama dan Keturunan

Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah ulama dan sufi besar keturunan Al-Hasan dan Al- Husein, dua cucu kecintaan Rasulullah saw. Jalur keturunan Al-Hasan berasal dari ayahnya, Abdullah (Abu Saleh). Sedang jalur keturunan Al-Husein didapat dari ibunya, Fatimah.

Nama lengkap beliau adalah adalah (Abu Muhammad) Abdul Qadir bin (Abi Saleh) Abdullah bin Musa Zanqi Dost bin Yahya bin Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Silsilah keturunan ibunya adalah Fatimah binti Abdillah ash-Shuma’i bin Muhammad bin Thahir bin Abdullah bin Isa bin Muhammad al-Jawad bin Ali Ridha bin Musa al- Khadim bin Ja’far ash-Shadiq  bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin  bin AlHusain bin Ali bin Abi Thalib r.a.

Kelahiran dan Sifat-sifat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lahir di bulan Ramadhan tahun 471 H (di sebuah daerah bernama Jilan. Di negeri itulah ia menghabiskan masa belianya hingga berumur 18 tahun. Pada tahun 488 H ia bertolak ke Baghdad, dan menetap di kawasan itu hingga akhir hayatnya.

Lahir pada tanggal 1 Ramadhan tahun 471 H (1077 M) di sebuah desa bernama Na’if, di distrik Qilan (Jailan) di wilayah Thabaristan (sekarang Iran bagian utara). Tapi menurut sumber lain, ia lahir pada 11 Rabiul Tsani 470 H (1077 M). Ia meninggal dunia di Baghdad pada 8 Rabiul Awwal 561 H (1166 M).

Ciri-ciri fisik beliau antara lain: berbadan kurus sedang, dada berbidang, janggut lebat terurai panjang serta berwarna sedikit kecoklatan, kedua bulu alis menyatu, suara keras, kata-kata yang keluar teratur, elok rupa, memiliki derajat istimewa, dan ilmu yang mendalam.

Masa Beliau hingga Mengembara Menimba Ilmu

Abdul Qadir al-Jailani adalah penuntut ilmu yang sangat rajin. Setelah menghabiskan masa kecilnya di Na’if, desa kelahirannya, ia merantau ke Baghdad, ibukota Khilafah Abbasiyah saat itu, di usia delapan belas tahun (1095). Di kota ini ia belajar ilmu-ilmu agama pada beberapa ulama kalangan mazhab Hanbali.

Ia mulai dengan belajar membaca Al-Qur’an hingga benar-benar menguasainya secara  itgan  (terpercaya).  Demi menguasai  membaca  Al-Qur’an  secara  baik,  ia belajar ke sejumlah ulama terpandang di Baghdad, seperti Abu al-Wafa’ Ali bin Uqail al-Hanbali, Abu alKhaththab Mahfuzh al-Kalwadzanij, dan lain-lain.

Ia belajar fikih pada Abu Ali al-Mukharrimi, Abu Al Wafae Ali ibn Ageel Hanbali dan lainnya. Belajar hadits ke Abu Bakr bin Muzaffar, Mohammad bin Al-Hasan al-Baqalai, Mohammad bin Abdul Kareem, dan lainnya. Belajar ilmu tafsir pada Abu Muhammad Ja’far, seorang ahli tafsir yang cukup terpandang di masanya, dan lainnya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani belajar Hadits anNabawi ke banyak ulama hadits terkemuka di masanya, seperti dan lain-lain. Sedang dalam bidang bahasa dan sastra kepada Abu Zakariya Yahya bin Ali at-Tabrizi. Sementara dalam bidang ilmu tasawuf, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani belajar dari Abu’I-Khair Hammad bin Muslim al-Dabbas.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani boleh dikatakan menguasai berbagai bidang ilmu tersebut, mulai dari syariah, tasawuf, bahasa, hingga sastra. Tidak berlebihan, jika ia menjadi salah seorang ulama rujukan dalam mazhab Hanbali, dan salah satu ulama terkemuka di masanya. Buncahan hikmah Allah mengalir dari relung hatinya ketika memberikan ceramah di majelis-majelis nasehat.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pertama kali membuka majelis pengajiannya pada bulan Syawwal tahun 521 H, di sebuah madrasah Abu Sa’ad al-Mukharrimi, di daerah al- Azajj, Baghdad. Dengan aktivitas inilah, kezuhudan Syaikh Abdul Qadir mulai terkenal, akibatnya madrasah tempat beliau mengadakan pengajian terus didatangi jamaah sehingga menjadi sempit. Bahkan majelisnya pernah suatu ketika dipindahkan ke sebuah mushalla di luar Baghdad, namun tetap saja dihadiri banyak orang, bahkan diperkirakan mencapai 70.000 orang.

Para ahli fikih, ulama, ahli hadits dan kalangan sufi banyak menuntut ilmu kepadanya.

Selain itu, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani juga termasuk ulama yang produktif dalam

menulis.  Ia  telah  menulis   banyak   buku,  mulai  dari cabangcabang agama, bahkan ahwal dan ilmu hakikat.masalah  pokokhingga
  Di antara karyanya adalah: 
  1. Al-Fath ar-Rabbani   2. Kitab Sirr al-Asrar wa Mazhar al-Anwar,”
3. Futuh al-Ghaib,   4. Jala’ al-Khawatir,
5. “Ighaatsatul “Arifiin wa Ghaayatu al-Washiliin,   6. Awraadu al-Jilani,
7. Tuhfatu al-Muttagiin wa Sabiilu alArifin, dan lainlain.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menguasai setidaknya tiga belas cabang ilmu. Di madrasahnya setiap hari selalu membahas, tafsir, ilmu hadits, fikih madzahb, alkhilaf, ushul fikih, nahwu, Al-Qur’an berserta giraat-nya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berfatwa dengan madzhab Imam Syafi’i dan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Fatwa-fatwanya pernah diperlihatkan kepada para ulama di Irak, dan mereka sangat takjub dengan semua itu. Mereka pun berucap seketika melihatnya, “Mahasuci Allah yang menganugerahi (hal itu) kepadanya.”

Murid Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Banyak sekali yang menunut ilmu kepada beliau bahkan diperkirakan majelis pengajiannya dihadiri sekitar 70.000 jamaah. Di antara mereka ada yang benar-benar yang senantiasa menghadiri majelisnya,

dan jumlah mereka banyak sekali. Kami sebutkan di antara mereka yang terkemuka, antara lain:

1. Abu Ali al-Hasan bin Muslim al-Iragi (404594 H). Ia belajar ilmu fikih dan Al-Qur’an

dari beliau.

2. Abu Abdillah Muhammad bin Abi Al Ma’ali bin Oayid al-Awwani (w. 854 H).

3. Abu al-Qasim Abdul Malik bin Isa Dirbas al-Kurdi asy-Syafi’i (516-605 H)

4. Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid bin Ja’far al-Maqdisi al-Hanbali (541-

600 H).

5. Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Magdisi al- Hanbali (Penulis Kitab al-Mughni al-Labib) (541-620 H). Ulama Terkemuka Semasa Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Abad ke-5 adalah masa keemasan dalam sejarah Islam.

Hal itu ditandai dengan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan, sastra, munculnya ulama-ulama terkemuka dan produktif dalam menulis. Di antara ulama yang muncul di akhir abad itu antara lain, Abu Ishaq asy-Syairazi, Imam al-Ghazali, Abul Wafa’ Ibnu Aqil, Abdul Qahir al-Jurjani, Abu Zakariyya atTabrizi, Abul Qasim al- Hariri, Jadullah az-Zamakhsyari, dan al-Qadhi Iyadh al-Maliki.

Di masa yang kental dengan ilmu pengetahuan dan ulama-ulama terkemuka inilah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani hidup. Baghdad saat itu merupakan pusat keilmuan Islam. Di sana juga berkembang pesat sekolah-sekolah dan pusat-pusat penelitian.

Oleh karena itu, dapat dibayangkan bagaimana sosok yang lahir dan tumbuh bersama sederetan ulama besar di masa itu.

Kesaksian Para Ulama

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dikenal banyak memiliki keutamaan dan sifat terpuji. Beliau juga dikenal dengan karamah yang dituturkan generasi demi generasi secara mutawatir darinya.

Syaikh Izzuddin bin Abdussalam berkata, “Tidak ada karamah seseorang yang dituturkan kepada kami secara mutawatir kecuali Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.” Ibnu Taimiyah juga mengakui hal yang sama.

Syaikh Abu Bakar al-Imad menuturkan, “Ketika aku sedang belajar ilmu-ilmu pokok agama, tiba-tiba muncul keraguan di hatiku. Untuk menghapus keraguan itu, aku pergi menghadiri majelis ilmu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Sebab aku banyak mendengar bahwa beliau mampu menyingkap apa yang ada dalam hati kita. Di tempat mengajarnya itu beliau berkata, “Akidah kita adalah akidah salafus shaleh dan para sahabat.” Aku pun berkata dalam hati, ‘Apa sepakat dengan apa yang dikatakannya. Beliau lalu meneruskan ucapannya dan menoleh ke arahku, lalu beliau kembali mengulangi ucapanya. Aku pun berkata kembali dalam hati, “Pemberi nasehat itu telah menoleh ke aku. Seketika itu juga beliau pun menoleh ke arahku lagi seraya berkata, “Wahai Abu Bakar, berdirilah! Ayahmu telah kembali. Qaat aku hadir di majelis beliau memang ayahku sedang keluar. Aku pun segera berdiri dan ternyata ayahku benar telah datang.”

Wafat Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani wafat pada 10 Rabi’ul Akhir 561 H (1166 M) dalam usia sekitar 90 tahun. Orang yang mangantar jenazahnya ketika itu tidak terhitung banyaknya. Ia dimakamkan di madrasahnya yang terletak di Babul Azaj, Baghdad.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker