Jika seorang salik bermimpi tengah berperang dengan kawanan binatang berbisa, tapi ia tidak kuasa mengalahkannya maka setelah ia sadar hendaklah ia melawannya dengan meningkatkan intensitas ibadah dan zikir. Dengan begitu, ia akan mampu menjungkalkan dan melenyapkan sifat-sifat binatang itu, bahkan mengubahnya menjadi sifat insani. Tapi, bila dalam mimpi itu ia berhasil mengalahkan dan melenyapkannya secara total, berarti berbagai keburukannya telah terhapus. Sebagaimana firman Allah,
“Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan
mereka.” (Muhammad: 2)
Jika ia melihat dalam mimpinya kawanan binatang tersebut berubah rupa menjadi manusia maka itu berarti keburukannya telah berubah menjadi kebaikan. Sebagaimana yang diisyaratkan Allah melalui firman-Nya,
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan.” (al-Furqan: 70)
Itu maknanya ia selamat dari binatang-binatang (kesalahan-kesalahan) tersebut. Namun, setelah ia mampu mencapai maqam tersebut, ia tetap tidak boleh merasa aman darinya, karena kekuatan nafsu dapat muncul kembali, bahkan jiwa yang tenang (nafsu muthma ‘innah) pun tidak akan mampu berkutik di hadapannya. Maka dari itu, Allah Ta’ala memerintahkan seorang hamba untuk menjauhi larangan setiap saat, selama hidup di dunia.
Nafsu amarah tampak dalam bentuk orang-orang kafir, nafsu lawwamah tampak dengan rupa orang Yahudi, dan nafsu mulhamah tampak dalam bentuk atau rupa orang Nasrani, bahkan terkadang tampak dalam bentuk ahli bid’ah.









One Comment