Adapun mimpi yang berhubungan dengan ruh, contohnya adalah seperti seseorang yang bermimpi memandang pemuda yang elok rupanya, dimana dari wajahnya terpancar cahaya-cahaya Ilahiyah. Sebab, penduduk surga semuanya seperti wujud pemuda tampan tersebut.
Nabi saw. bersabda,
“Ahli surga kelak berparas tampan dan bercelak.” (HR. at-Tirmidzi) Beliau juga bersabda,
“Aku melihat Tuhanku dalam rupa pemuda yang sangat tampan.”
Sebagian ulama mengatakan, maksud dari ‘rupa’ itu adalah penampakan Allah (tajalli) pada permukaan cermin ruh melalui sifat ketuhanan-Nya. Dan inilah yang dinamakan dengan thiflul ma’ani, karena ia merupakan pembimbing bagi jasad sekaligus perantara (wasilah) antara manusia dan Rabbnya.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Kalaulah bukan karena bimbingan Tuhanku tentu aku tidak akan mengenal Tuhanku.”
Pembimbing di sini adalah pembimbing batin, yang diperoleh melalui bimbingan lahir, yaitu ahli talqin. Para nabi dan wali adalah pembimbing hati, sementara mereka mendapat pendidikan dari perjumpaannya dengan ruh yang lain (Jibril).
Allah Ta’ala berfirman,
“Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (al-Mukmin: 15)
Oleh karena itu, mencari pembimbing (mursyid atau ahli talqin) untuk menghidupkan hati dan mengenal tuhan hukumnya adalah wajib. Maka, pahamilah hal tersebut!
Imam al-Ghazali berkata, “Seseorang bisa saja melihat Tuhan dalam mimpinya, dalam bentuk atau rupa yang indah dan ukhrawi. Tapi, yang ia lihat sebenarnya adalah simbol, sesuai dengan kesiapan dan maqam ruhani orang yang melihat. Apa yang ia lihat dalam mimpi itu sebetulnya bukanlah Zat Allah, karena Allah Mahasuci dari segala bentuk dan rupa tersebut. Begitu pula halnya dengan mimpi melihat Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad bisa saja terlihat dalam mimpi, tapi juga dalam bentuk atau symbol yang berbeda-beda sesuai kualitas kesiapaannya. Wujud beliau yang sebenarnya tidak mungkin muncul dalam mimpi seseorang kecuali bagi mereka yang mendapat sebutan “pewaris sempurna”, baik dalam amal, ilmu, ahwal, dan penglihatan hatinya, lahir maupun batin.
Dalam kitab Syarah Muslim dijelaskan, “Seseorang bisa saja bermimpi melihat Allah dalam rupa manusia atau cahaya, sebagaimana takwil sebelumnya. Allah mewujudkan dirinya dalam bentuk sifat-sifatnya. Kepada Nabi Musa as., Allah mewujud dalam bentuk api di dahan pohon anggur. Sebagaimana tertuang dalam firman-Nya,
“Tinggallah kamu (di sini), Sesungguhnya Aku melihat api, Mudah-mudahan Aku
dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu.” (Thaaha: 10)
Begitu pula sebagaimana Allah firmankan dalam ayat-Nya,
“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?” (Thaaha: 17)
Api sejatinya juga cahaya, namun dinamakan “api” selaras dengan keinginan Nabi Musa as. yang ketika itu membutuhkan api. Demikian pula ketika penampakan-Nya dalam bentuk pohon maka bukan berarti manusia rendah derajatnya daripada pohon. Tidak heran, kalau Allah Ta’ala menampakkan diri-Nya (ber-tajalli) melalui salah satu sifat-Nya dalam bentuk al-insan al-haqiqi setelah manusia membersihkan dirinya dari sifat hewani kepada sifat insani. Sebagaimana saat Allah Ta’ala ber-tajalli pada sebagian wali.
Abu Yazid al-Busthami berkata saat melihat Allah ber-tajalli, “Betapa suci aku, betapa mulia aku.” Ketika mengalami kondisi yang sama (Allah ber-tajalli), Al-Junaid al- Baghdadi pernah berkata, “Di dalam jubahku tidak ada yang lain kecuali Allah.”
Pada maqam itu terdapat banyak rahasia dan berbagai hal istimewa bagi ahli tasawuf, yaitu para pencari hikmah ilahi. Dan ini membutuhkan waktu yang panjang untuk menjelaskannya.
Maqam ruhani seperti itu dapat diraih melalui pengajaran dan bimbingan dari seorang guru. Orang yang baru menapaki jalan spiritual belumlah memiliki “hubungan mesra” dengan Tuhan dan nabi-Nya, maka dari itu ia membutuhkan bimbingan dari seorang guru (wali) terlebih dahulu sebagai perantara. Pertama-tama, ia harus dibimbing oleh guru yang dekat secara rohani dengan Allah dan Rasul-Nya. Guru yang sejati punya hubungan rohani dengan Allah dan Rasulullah saw. Bila Rasulullah masih hidup, umatnya dapat langsung mengambil ilmunya langsung dari beliau, tanpa perlu perantara. Akan tetapi, setelah beliau wafat dan berpindah ke alam rohani (alam akhirat), maka putuslah hubungan itu. Demikian pula kondisi para wali ketika mereka sudah berpindah ke alam akhirat, maka orang-orang tidak akan mendapatkan petunjuk darinya.
Pahamilah hal ini, jika engkau termasuk orangorang yang mengerti. Jika tidak mampu, maka carilah pemahaman melalui latihan rohani yang mampu mengalahkan nafsu manusiawi yang menjadi sumber kegelapan. Sebab, pemahaman itu mengalir melalui cahaya, bukan melalui kegelapan, dan cahaya tidak akan hinggap kecuali pada tempat yang indah dan bersih. Seorang yang baru menapaki jalan spiritual tentu belumlah memiliki maqam yang sama dengan para wali itu (maka dari itu ia harus meningkatkan latihannya).
Seorang pemula dalam dunia tasawuf punya peluang untuk sama maqam-nya dengan wali yang masih hidup. Hal itu tidak lepas dari dua faktor, yaitu keterikatan jasad (at- ta’alluqiyah al-jasmaniyah) dan kebersihan rohani (at-tajarrudiyah ar-ruhaniyah) jika ditinjau dari kedudukannya sebagai pewaris sempurna dari Nabi saw.. Ia juga akan dianugerahi bagian dari wilayah kenabian agar nanti dapat memperkenalkannya di hadapan manusia. Oleh karena itu, pahamilah, karena di balik semua ini terdapat rahasia luar biasa, yang hanya diketahui oleh ahlinya.
Allah Ta’ala berfirman,
“Keagungan itu hanyalah bagi Allah dan Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.”
(Al-Munafiqun: 8)
Adapun mengenai bimbingan roh, maka roh jasmani adalah pembimbing bagi jasad, sedangkan ruh rawwani menjadi pembimbing bagi hati, ruh sulthani menjadi pembimbing bagi mata hati (fu’ad), dan ruh al-qudsi pembimbing bagi sirri (rasa, yang tersembunyi) yang merupakan perantara antara manusia dengan Allah. Ia juga sebagai penerjemah dari Allah Ta’ala bagi makhluk-Nya, karena ruh al-qudsi adalah ahlullah sekaligus mahram-Nya. Inilah mimpi anfusi yang mencerminkan akhlak terpuji.
Adapun mimpi anfusi yang mencerminkan akhlak tercela, baik berupa nafsu amarah, nafsu lawwamah, atau nafsu malhamah adalah mimpi melihat kawanan binatang buas, seperti harimau, singa, beruang, anjing, babi, dan lain sebagainya. Juga mimpi melihat binatang seperti kelinci, musang, kucing atau lainnya, atau binatang yang
menyakiti seperti ular, kalajengking, tawon dan lain-lain. Ini semua merupakan sifat tercela yang harus diwaspadai dan dibersihkan dari jalan roh.
Harimau melambangkan sifat ujub, yaitu sombong kepada Allah dan merasa besar di hadapan Allah.
Firman Allah,
“Sungguh, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadap-Nya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit” dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum2.”
Begitu pula balasan bagi orang yang sombong kepada manusia. Singa melambangkan sifat sombong dan congkak di hadapan manusia lainnya. Beruang melambangkan sifat marah dan selalu ingin menekan siapa yang ada di bawah kekuasaannya. Serigala melambangkan sifat keserakahan, suka menyantap barang yang haram dan syubhat, tanpa mau memilah-milah. Anjing melambangkan sifat cinta pada dunia (hubbud dunya), memaksa, dan marah karena masalah-masalah duniawi.
Babi melambangkan sifat iri, dengki, tamak dan mengekor pada kemauan syahwat. Kelinci melambangkan sifat licik, dan suka memainkan tipu daya dalam urusan dunia. Musang juga seperti kelinci, tapi kelalaian musang lebih besar.
Macan kumbang melambangkan sifat memuja-muja kejahiliyahan dan ‘mendewakan’ kekuasaan.
Kucing melambangkan sifat pelit dan munafik.
Ular melambangkan sifat menyakiti dengan lisan, seperti mencaci, melakukan ghibah dan berdusta.
Pada binatang-binatang buas tersebut ada juga makna-makna hakiki lain yang hanya diketahui oleh pakarnya.
Kalajengking melambangkan sifat suka mencela, mengejek, dan mengadu domba. Tawon melambangkan sifat suka menyakiti orang dengan lisan secara samar.
Sedang lalat kerbau mencerminkan sifat menyakiti makhluk dengan lisan secara sembunyi-sembunyi.









One Comment