Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

PASAL TUJUH BELAS: PUASA SYARIAT DAN PUASA TAREKAT

Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami isteri pada siang hari. Sedangkan puasa tarekat adalah menahan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang diharamkan dan menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, sombong, bakhil dan lain sebagainya, baik secara lahir maupun batin, siang dan malam hari. Sebab, semua itu dapat membatalkan puasa tarekat. Puasa syariat dilakukan pada waktu tertentu, sedang puasa tarekat dilakukan seumur hidup.

Rasulullah saw. bersabda,

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya

selain lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)

Maka dari itu, ada yang mengatakan, “Banyak yang berpuasa namun hakikatnya ia berbuka, sedangkan banyak pula yang berbuka padahal sebenarnya ia berpuasa.” Maksud dari kalimat ‘berbuka padahal sebenarnya berpuasa adalah orang yang tidak berpuasa perutnya tapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa maupun menyakiti orang lain.

Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

“Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits qudsi lainnya Allah Ta’ala juga berfirman,

“Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan: bahagia ketika berbuka

dan bahagia ketika melihat keindahan-Ku.”

Menurut ahli syariat, maksud dari berbuka (al-ifthar) itu adalah makan pada saat matahari tenggelam, sedangkan rukyah adalah melihat hilal pada malam hari raya. Sementara menurut pandangan ahli tarekat, berbuka itu adalah saat ia masuk ke surga, saat seorang hamba mencicipi semua kenikmatan surga, sedangkan maksud dari kegembiraan ketika rukyah adalah mampu melihat Allah Ta’ala secara nyata pada hari kiamat dengan pandangan tersembunyi (sirr). Dengan kemuliaan dan keutamaan- Nya, semoga Allah Ta’ala memberi karunia kepada kita agar dapat melihat-Nya.

Sementara puasa hakikat adalah menahan hati untuk tidak mencintai selain Allah, dan menahan rasa (Ssirri) supaya  tidak mencintai penyaksian  (musyahadah) kecuali kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadits qudsi,

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya.”

Rahasia itu bersumber dari cahaya Allah, jadi tidak mungkin berpindah ke selain Allah. Oleh karena itu, tidak ada yang dicintai dan dicari di kolong dunia maupun di akhirat selain Allah. Jika ia ‘jatuh cinta’ selain kepada Allah, maka batallah puasa tarekat-nya, dan ia wajib meng-gadha puasanya, dengan cara kembali kepada Allah dan menemui- Nya. Ganjaran dari puasa tarekat ini adalah berjumpa dengan Allah di alam akhirat.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker