PASAL SEMBILAN: MELIHAT ALLAH (RUYATULLAH)
Melihat Allah Ta’ala itu ada dua bentuk. Pertama, melihat keindahan Allah (Jamalullah) di akhirat tanpa perantara cermin hati. Dan kedua, melihat sifat-sifat Allah di dunia melalui perantara cermin hati, yaitu dengan penglihatan mata hati (alfu’ad) dari pantulan cahaya keindahan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (an-Najm: 11) Nabi saw bersabda,
“Seorang mukmin adalah cermin Al-Mukmin.” (HR. Abu Daud)
Adapun maksud dari kata mukmin yang pertama maksudnya adalah hati seorang mukmin, sedangkan kata mukmin yang kedua adalah Zat Allah yang bersifat Al- Mukmin.
Firman Allah,
“Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara….”
(al-Hasyr: 23)
Orang yang melihat sifat-sifat Allah di dunia, niscaya akan melihat Zat-Nya di alam akhirat, tanpa perlu bertanya dengan cara bagaimana ia melihat-Nya. Melihat sifat- sifat Allah seperti inilah yang kerap diceritakan atau dituturkan oleh para wali, sebagaimana perkataan Umar ibnul-Khaththab ra., “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku.” Demikian pula perkataan Ali bin Abi Thalib ra, “Aku tidak menyembah tuhan yang tidak aku lihat (dengan mata hati).
Semua penyaksian (musyahadah) di atas adalah penyaksian atas sifat-sifat Allah. Ini seperti orang yang melihat cahaya matahari yang bersinar dari sela-sela lubang yang tidak tembus, atau dari dinding yang serupa dengannya, maka boleh-boleh saja dia berkata, “Aku melihat matahari.” Sekalipun itu secara umum atau menggeneralisir apa yang ia lihat.
Allah Ta’ala telah memberi perumpamaan dalam kalam-Nya mengenai gambaran sifat-sifat-Nya,
“Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya).” (an-Nuur: 35)
Kalangan sufi mengatakan, al-misykah (lubang) di sini maksudnya adalah hati seorang mukmin, sementara al-mishbah (pelita yang menerangi lubang hati) adalah rahasia mata hati (sirri al-fu’ad), yaitu ruh sulthani. Adapun az-zujaajah adalah mata hati (al-fu’ad), ia disifati seperti mutiara, karena kemilau cahayanya yang bersinar terang-benderang.
Kemudian Allah menjelaskan mengenai sumber penerang tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya di ayat yang sama,
“..yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya….” (an-Nuur:
35)
Itu adalah pohon talqin. Sementara tauhid orang khusus keluar dari lisan suci tanpa perantara. Ini seperti Al-Qur’an yang pada dasarnya sudah melekat Nabia saw. secara utuh melalui lisan yang suci. Barulah kemudian turun Jibril as. kepada beliau (menyampaikan wahyu secara bertahap) demi kemaslahatan orang-orang awam, serta untuk melawan penolakan orang-orang kafir dan munafik.
Dalil bahwa Nabi saw. sebetulnya telah menerima Al-Qur’an secara utuh sebelum diwahyukan oleh Malaikat Jibril adalah firman Allah,
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (an-Naml: 6)
Oleh karena itu, Nabi saw. pernah mendahului malaikat Jibril dalam menerima wahyu hingga turun ayat,
“Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa membacakan Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu.” (Thaahaa: 114)
Maka, Nabi saw. meninggalkan Malaikat Jibril pada peristiwa Mikraj, karena Jibril tidak mampu melewati sidratul muntaha.
Kemudian Allah menyifati pohon di atas dengan firman-Nya,
“.. yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya).”
(an-Nuur: 35)
Maknanya, tidak mengalami sesuatu yang bersifat baru, tidak pula akan hilang, terbit maupun tenggelam, namun ia sudah ada sejak zaman azali dan tidak akan pernah hilang selamanya. Ini seperti halnya Zat Allah yang wajib ada (wajibul wujud), kekal, azali, tidak akan dihilangkan dan akan ada selamanya. Begitu pula dengan sifat-sifat-
Nya, karena itu adalah cahaya yang memancar dari Zat-Nya, dan yang selalu melekat dengan Zat-Nya.
Maka, bisa saja tabir nafsu tersingkap dari hati sehingga hati menjadi hidup berkat cahaya-cahaya tersebut, sehingga roh dapat menyaksikan sifat-sifat Allah melalui misykat tersebut. Apalagi tujuan diciptakannya alam semesta ini adalah agar manusia dapat menyingkap Perbendaharaan Tersembunyi, seperti yang difirmankan oleh-Nya dalam sebuah hadits qudsi,
“Aku adalah kanzan makhfiyya (kekayaan yang terpendam). Aku ingin dikenali maka
Aku pun menciptakan makhluk agar Aku dikenali.”
Maksudnya adalah “agar mereka mengenal sifat-sifat-Ku di bumi ini”.
Adapun melihat Zat Allah Ta’ala itu hanya bisa dilakukan alam akhirat saja, tanpa perantara cermin hati insya Allah-, melalui pandangan tersembunyi (sirri). Dan itulah yang dinamakan dengan thiflul ma’ani.
Allah Ta’ala berfirman,
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya lah
mereka melihat.” (al-Qiyaamah: 22-23) Nabi saw. bersabda,
“Aku melihat Tuhanku dalam rupa anak muda yang tampan.” (HR. as-Suyuthi)
Mungkin yang dimaksudkan oleh Nabi saw. itu adalah thiflul ma’ani, dimana Allah ber- tajalli dalam bentuk tersebut di cermin ruh tanpa ada perantara antara Al-Mutajalli (Allah) dengan al-mutajallah lahu (orang yang melihat-Nya). Allah Ta’ala suci dari segala bentuk penyerupaan dan pencitraan, baik jenis maupun fisiknya. Citra adalah gambar yang ada di cermin, bukan cermin itu sendiri dan bukan pula orang yang melihat ke cermin tersebut. Maka, pahamilah benar-benar hal tersebut. Dan itu adalah inti sebuah rahasia.
Tapi, semua itu terjadi hanya di alam sifat, bukan di alam Zat. Sebab, di alam Zat semua perantara akan terbakar dan lenyap, tiada yang berkuasa di alam tersebut kecuali Allah. Sebagaimana Rasulullah saw. telah bersabda,
“Aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku.”
Maksudnya, mengenal melalui cahaya Tuhan. Sementara Insan al-hakiki merupakan mahram bagi cahaya tersebut.
Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya.” Nabi saw. bersabda,
“Aku dari Allah, dan orang-orang beriman dari aku.”
Selain itu, Allah juga berfirman dalam hadits qudsi lainnya,
“Aku menciptakan Muhammad dari cahaya wajah-Ku.”
Maksud dari kata wajhi (wajah-Ku) pada hadits diatas adalah Zat Yang Mahasuci yang terpancar dalam sifat penyayang. Sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi,
“Rahmat -Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari)
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam.” (al Anbiya : 107)
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (al-Maa-‘idah: 15)
Dan Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,
“Tika bukan karena engkau, jika saja bukan karena engkau, Aku tidak akan
menciptakan jagat raya ini.” (HR. ad Dailami)









One Comment