PASAL 2: TURUNNYA MANUSIA KE ALAM TERENDAH
Saat Allah menciptakan ruh yang suci (ruh al-qudsi) dengan bentuknya yang sempurna (ahsani taqwim) di alam lahut, Allah ingin mengembalikannya ke alam terendah (asfala safilin). Ini dimaksudkan untuk menyempurnakan kemanusiannya dan mendekat kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (al-Qamar: 55)
Manakala sifat kemanusiannya dan kedekatannya kepada Allah telah sempurna, itulah maqam (tingkatan) para nabi dan para wali. Allah Ta’ala menurunkan ruh al-qudsi atau insan hakiki ini pertama dengan mengembalikannya ke alam jabarut dengan dibekali benih tauhid dan menaburnya melalui pelantara cahaya-Nya. Ruh al-qudsi lalu dipakaikan kiswah (pelindung) dari alam jabarut ini dan diberi nama jiwa sultan (ruh sulthani).
Begitu pula yang dilakukan di alam malakut (alam batiniyah), dimana di situ ruh al-qudsi lalu diberi nama “jiwa aktif” (ruh sirani rawwani). Kemudian ruh al-qudsi itu menuju alam materi (alam mulk), dimana ia disebut ruh jismani.
Dan disini Allah menciptakan untuknya pakaian pelindung (kiswah unshuriyahi) dari cahaya alam al-mulk untuk menyempurnakan wujudnya, agar tidak terbakar di alam mulk.
Sementara tujuan utama diturunkannya ruh al-qudsi ke alam terendah (asfal) adalah untuk mendapatkan derajat yang lebih mulia dan menambah kedekatan (kepada-Nya) dengan hati dan raga.
Kemudian Allah menaburkan benih tauhid di relung hatinya sehingga tumbuh kuat menjadi pohon tauhid.
Maka kemudian keluarlah darinya buah tauhid untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala.
Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair, “Kami ranting-ranting pohon yang tinggi menjulang, yang penuh dengan buah tauhid Tak ada rasa takut di hati kami, meski orang-orang yang berjalan ingin melempar batu ke kami.”
Allah Ta’ala juga menumbuhkan benih syariat di relung hati, agar nantinya tumbuh subur menjadi pohon syariat dan menghasilkan buah derajat (pahala surga) melalui amal-amalnya.
Kemudian, Allah memerintahkan seluruh lapisan ruh (ruh jismani, ruh sirani rawwani, ruh sulthani dan ruh al-qudsi) untuk memasuki jasad, dan Allah menempatkan setiap ruh pada ruang yang telah disiapkan. Ruang ruh jismani dalam jasad adalah antara daging dan darah, sementara ruang bagi ruh rawwani adalah di hati (al-qalb).
Ruh sulthani bertempat di mata hati ((al-fu ‘ad), sedangkan ruang bagi ruh al-qudsi adalah ruang tersembunyi (rasa).
Setiap ruh itu memiliki ruang masing-masing di alam jasad, dengan tugas dan urusan yang berbeda-beda.
Setiap bagian memiliki potensi, hasil dan manfaat yang mendatangkan keuntungan, baik lahir maupun batin.
Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap manusia mengetahui tata cara berhubungan (bersosialisasi) dengan ruh-ruh itu di alam wujud (alam jasad), karena apapun daya upaya yang ia lakukan di alam itu, kelak (di akhirat) akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman, “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.” (al-Aadiyaat: 9-10)
Dan juga firman Allah, “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya….” (al-Israa’: 13)









One Comment