Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

Ilmu itu sendiri dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama, esensi atau inti ilmu, yaitu ilmu hal yang dianugerahkan kepada seorang

(wali).? Ini berkaitan dengan makrifat dan hakikat.

Dalam sebuah sabdanya, Nabi saw. menggambarkan tekad dan semangat wali itu untuk mendapatkan inti ilmu,

“Semangat para wali mampu mencabut gugusan gunung.”

Maksud dari “mencabut gugusan gunung” adalah mencabut kerasnya hati. Sifat keras hati itu dapat dilebur dengan doa dan sifat merendah mereka. Sebagaimana firman Allah,

“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah, dia benar-benar dianugerahi kebaikan

yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)

Kedua, kulit dari inti ilmu tersebut. Dan ini dianugerahkan kepada ulama lahir, yaitu berupa nasihat yang baik (mau’izhah hasanah), menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Orang alim menasehati dengan ilmu dan adab, sedangkan orang bodoh menasehati

dengan pukulan dan kemarahan.”

Ketiga, kulit terluar dari kulit inti tersebut. Dan itu dianugerahkan kepada para pemimpin, yakni keadilan lahiriah dan politik yang sehat. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,  “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an – Nahl: 125)

Oleh karena itu, para pemimpin memiliki kekuatan untuk memaksa, demi terjaganya nilai-nilai agama. Ini sebagaimana kulit luar kacang. Sementara ulama itu bagaikan kulit bagian dalam, sedangkan ulama batin (ahli makrifat) itu bagaikan saripati (isi) yang dicari dari buah kacang tersebut. Oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda,

“Hendaklah kalian bersama ulama, dan mendengarkan perkataan ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.” (HR. al-Haitsami)

“Kalimat  hikmah  adalah  barang  yang  paling  dicari  oleh  orang  bijak,  ia  akan

memungutnya di mana pun menjumpainya.” (HR. at-Tirmidzi)

Adapun kalimat yang keluar dari mulut orang awam turun dari Lauhul Mahfuzh?, yang tidak lain adalah alam jabarut dari masih melihat derajat. Sementara kalimat yang keluar dari mulut seorang laki-laki wushul turun dari Lauhul Akbar (Lembaran Terbesar) dengan lisan yang suci tanpa perantara dari alam qurbah.

Ketahuilah, segala sesuatu itu kelak akan kembali kepada asalnya sehingga mencari ahli talqin (pembimbing) adalah wajib untuk menghidupkan hati.

Nabi saw. bersabda,

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah.” (HR. Ibnu Majah)

Maksud ilmu di hadits tersebut adalah ilmu makrifat dan ilmu al-qurbah, sementara ilmu-ilmu  selain  itu, yaitu  ilmu-ilmu  lahir, hanya  dibutuhkan  untuk  memantapkan ibadah fardhu. Imam al-Ghazali bersyair,

Hidupnya hati adalah (dengan) ilmu, maka perbanyaklah Matinya hati adalah (dengan) kebodohan, maka jauhilah Dan sebaik-baik tujuanmu adalah takwa, maka berbekallah dengannya Cukuplah bagimu apa yang aku nasehatkan, maka ambilah nasehat darinya

Allah Ta’ala telah berfirman,

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197) Ridha Allah akan membawa hamba-Nya untuk sampai ke alam al-qurbah, tanpa

peduli dengan ke derajat atau surga. Firman-Nya,

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh.” (al-Kahfi: 30)

“Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu apapun atas seruanku kecuali

kasih sayang dalam kekeluargaan’.” (asy-Syuura: 23)

Menurut salah satu pendapat, maksud dari kata qurbah di atas adalah alam al-qurbah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker