Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

PASAL DUA PULUH: KHALWAT DAN UZLAH

Khalwat (berduaan dengan Allah) dan uzlah K (mengasingkan diri) terbagi menjadi dua, yaitu khalwat lahir dan khalwat batin.

Khalwat lahir adalah mengasingkan diri (uzlah) dari dunia agar orang lain tidak terkontaminasi oleh keburukan akhlaknya mendorong jiwa untuk menyingkirkan berbagai kebiasaan buruknya. Kemudian, menjaga panca inderanya agar dapat menyingkap indera batin secara ikhlas dan penuh kepasrahan. Semua itu dilakukan

dengan niat semata-mata untuk mencari ridha Allah, dan supaya keburukan dirinya tidak menimpa kaum muslimin.

Rasulullah saw. bersabda,

“Muslim (yang baik) adalah yang Muslim lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR.

Bukhari)

Selain  itu,  ia  menahan  lidahnya  dari  perkataan  yang  tidak bermanfaat  baginya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.,

“Keselamatan seseorang tergantung pada penjagaan lisannya.” (HR. Ibnu Abi ad- Dunya)

Kemudian, ia menjaga kedua matanya agar tidak berkhianat maupun melihat kepada yang diharamkan, serta menjaga kedua telinga, kedua tangan, dan kedua kakinya.

Rasulullah saw. bersabda,

“Kedua mata bisa berzina.”

Zina anggota tubuh ini akan membuat munculnya sosok yang buruk rupa, yang akan berdiri bersamanya pada hari kiamat sebagai saksi di hadapan Allah. Sosok buruk itu akan menemaninya menerima azab di neraka.

Tapi, jika kemudian ia bertobat dan menjaga dirinya, maka ia tergolong seperti yang

Allah Ta’ala firmankan,

“Dan  orang-orang  yang  menahan  diri  dari  keinginan  hawa  nafsunya,  maka

sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (an Naazi aat: 40-41)

Maka rupa yang buruk itu akan berubah menjadi wajah yang elok menawan, lalu pemuda itu akan selamat dari keburukannya.

Dengan begitu, khalwat seolah telah berhasil menyelamatkannya dari berbagai kemaksiatan sehingga tiada yang tersisa kecuali amalan baik, sementara ia pun menjadi sosok manusia yang baik.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

(at-Taubah: 120)

Di ayat lainnya, Allah berfirman,

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al- A’raaf: 56)

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih.” (al-Kahfi: 110)

Sedangkan khalwat batin, maka seseorang harus menjaga hatinya agar tidak dirasuki pikiran-pikiran kotor dan setan, seperti terlalu menyukai makanan, minuman, keluarga, binatang, riya”, sum ‘ah dan popularitas.

Nabi saw. bersabda,

“Popularitas   itu   musibah,   namun   setiap   orang   mendambakannya.   Sedang

ketidakpopuleran adalah kedamaian, namun setiap orang (berusaha) manjauhinya.”

Melalui khalwat batin, maka hatinya tidak akan dihinggapi kesombongan, ujub, kikir dan sifat-sifat tercela lainnya. Jika salah satu dari sifat tersebut menyusup ke lubuk hati orang yang sedang berkhalwat, maka rusaklah khalwat dan hatinya. Dan rusak pulalah amal saleh dan kebaikan yang ada di dalam hatinya, akibatnya hati itu pun tidak lagi bermanfaat.

Firman Allah,

“Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-

yang membuat kerusakan.” (Yunus: 81)

Setiap orang yang dihatinya meringkuk sifatsifat merusak, maka ia termasuk kalangan perusak (mufsidin). Sekalipun secara lahiriah ia terlihat seperti sosok yang baik.

Rasulullah saw. bersabda,

“Kemarahan itu merusak keimanan, sebagaimana cuka merusak madu.” (HR. ath- Thabrani dan al-Baihaqi)

“Kedengkian (hasad) itu melahap kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.”

(HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

“Menggunjing  orang  lain  (ghibah)  itu  lebih  berbahaya  daripada  zina.”  (HR.  ath- Thabrani)

“Fitnah   itu   seperti   orang   yang   terlelap,   Allah   akan   melaknat   orang   yang

membangunkannya.” (HR. as Suyuthi)

“Orang yang kikir tidak akan masuk surga walaupun dia ahli ibadah dan pezuhud.”

(HR. at-Tirmidzi)

“Riya’ adalah syirik yang samar.”

“Pengadu domba (namimah) tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Dan   hadits-hadits   lain   yang   mengupas   seputar   akhlak   tercela.   Semua   itu mengisyaratkan kepada kita untuk waspada.

Tujuan paling awal dari tasawuf adalah membersihkan hati dari semua sifat buruk itu dan mencabut pengaruh hawa nafsu dari akarnya melalui khalwat, latihan spiritual (riyadhah), banyak merenung, zikir secara kontinyu, cinta, ikhlas, bertobat, dan beritikad Ahlussunnah yang lurus, sesuai dengan atsar salafus saleh dari kalangan

para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya. Jika seseorang menyendiri (berkhalwat) dengan keadaan telah bertobat, mendapatkan bimbingan (talqin) dan menjalankan syarat-syarat tersebut maka Allah kelak akan menerima amalannya. Allah juga akan menerangi hatinya, melembutkan kulitnya, mensucikan lidahnya, menyatukan panca inderanya yang lahir maupun batin.

Kemudian Allah akan mengangkat amal ibadahnya ke hadirat-Nya, dan Allah mendengarkan doanya, sebagaimana  tertuang  dalam  dalam  kalimat,  sami’allahu liman hamidah (Allah Mendengar orang yang memuji-Nya). Artinya, Allah akan menerima doa, segala  pujian, dan  ibadahnya. Allah  akan  memberikan  ganjaran kepadanya berupa kedekatan dengan-Nya (al-qurbah) dan kenikmatan surga.

Sebagaimana firman Allah,

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-

Nya.” (Fathir: 10)

Adapun maksud dari “al-kalam ath-thayyib” pada ayat di atas adalah menjaga lisan dari bualan tiada guna, karena lisan adalah medium untuk berzikir dan bertauhid kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (al-Mukminun: 1-3)

Oleh karena itu, Allah akan mengangkat ilmu dan amalan baik pelakunya menuju kedekatan di sisi-Nya (al-qurbah) dan rahmat-Nya melalui naungan ampunan dan ridha-Nya.

Jika orang yang berkhalwat telah menapaki berbagai maqam tersebut, maka hatinya akan seperti lautan yang tidak akan tercemar oleh sikap buruk manusia. Sebagaimana sabda Nabi saw.,

“Jadilah engkau seperti lautan yang tidak berubah.”

Dengan itu, ‘bakteri-bakteri’ nafsunya akan mati tenggelam, seperti tenggelamnya Fir’aun berserta keluarganya tanpa merusak ekosistem laut. Berangkat dari itu, kapal syariat akan berlayar di atasnya tanpa hambatan, dan ruh al-qudsi akan menyelam ke dalam lautan serta mengeluarkan daripadanya mutiara pengetahuan dan mutiara kelembutan (lathifah) yang tersembunyi.

Allah swt. telah berfirman,

“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (ar-Rahman: 22)

“Lautan keistimewaan” ini hanya dapat diraih oleh mereka yang mampu menyatukan lautan lahir dan batin, sehingga tidak ada sebuah kerusakan pun yang bersarang di relung hatinya. Tobatnya akan menjadi nasihat baginya, amalannya menjadi bermanfaat, dirinya tidak lagi mudah condong kepada perkara yang terlarang secara sengaja. Adapun berbagai perbuatan yang ia lakukan akibat terlupa, atas izin Allah akan dimaafkan dengan terus beristighfar dan menyesalinya. Insya Allah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker