Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

Tobat khusus adalah tobatnya seorang hamba setelah menggapai tobat umum (seperti penjabaran di atas), yaitu melanjutkan amal-amal baik menuju kemakrifatan, dari kemakrifatan menuju amalan derajat, serta dari amalan derajat kepada kedekatan kepadaNya (al-qurbah), dan dari kedekatan dan kenikmatan jasmani menuju kelezatan ruhaniyah. Singkatnya, tobat ini bermakna meninggalkan sesuatu selain Allah Ta’ala, bermesra-mesraan dengan Allah, dan melihat-Nya dengan pandangan yakin ( ainul yaqin).

Semua yang disebutkan di atas (yang ditinggalkan) adalah tergolong kasbul wujud (amalan-amalan jasmani), sementara kasbul wujud itu dipandang dosa menurut pandangan orang yang dekat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi saw. dalam sebuah hadits qudsi,

“Wujudmu adalah dosa yang tidak dapat dibandingkan dengan dosa yang lainnya.”

Seorang sufi besar berkata, “Segala kebaikan manusia yang berbakti (al-abrar) adalah keburukan bagi orang-orang yang dekat dengan-Nya (al-muqarrib).”

Oleh karena itu, Nabi saw. beristighfar setiap hari sebanyak seratus kali. Firman Allah,

“Dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (Muhammad: 19)

Maksud dosa dalam ayat di atas adalah dosa karena eksistensi (wujud)-mu. Dan itulah yang disebut inabah (kembali), karena hakikat inabah itu adalah kembali dari selain Allah kepada Allah Ta’ala, masuk menapaki tangga kedekatan (al-qurbah) kepada- Nya di alam akhirat, dan melihat (keindahan) wajah-Nya.

Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang badan mereka di dunia, sementara hati mereka di bawah “Arasy.” Yang dimaksud melihat Allah (ru’yatullah) itu bukanlah melihat-Nya di dunia dengan indera mata kita karena itu mustahil-, tapi melihat sifat-sifat-Nya melalui cermin hati. Umar ibnul-Khaththab ra. berkata, “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya hatiku.“ Jadi, hati adalah cermin yang memantulkan keindahan Allah (Jamalullah).

Musyahadah (penyaksian) seperti itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan bimbingan (talqin) seorang syaikh yang telah wushul (sampai) kepada Allah dan diakui kemampuannya itu oleh syeikh-syeikh yang sebelumnya (as-sabiqiin). Mereka dikembalikan ke bumi untuk menyempurnakan orang-orang yang masih diliputi kekurangan (naqishin) atas perintah dari Allah Ta’ala, serta melalui perantara Nabi- Nya.

Sesungguhnya para wali diutus untuk orang-orang khusus (al-khawwash), bukan untuk orang awam. Inilah perbedaan antara nabi dengan wali. Adapun nabi diutus kepada  orang  awam dan  orang  khusus  secara  keseluruhan  dan  berdiri  sendiri, sedangkan seorang wali mursyid hanya diutus untuk orang-orang khusus saja. Wali itu itu tidak membawa syariat sendiri, tapi mengikuti syariat Nabi saw. Maka, bila ia mengaku membawa syariat sendiri, berarti ia kufur.

Maka dari itu, Nabi saw. telah mengumpamakan para ulama dari umatnya dengan nabi-nabi Bani Israil, karena mereka masih mengikuti syariat seorang utusan, yaitu Musa as.. Para ulama itu mungkin membawa suatu hal yang baru atau seperti melakukan perubahan pada hukum, tapi itu lebih bersifat penguatan pada syariat, bukan membuat syariat yang baru.

Begitu pula dengan ulama umat Muhammad saw. dari kalangan para para wali. Mereka diutus untuk orang-orang khusus guna memperbarui kembali perintah- perintah agama, larangan-larangannya, memotivasi amal ibadah dengan penuh keyakinan, dan membersihkan ahli syariat (dari akhlak yang buruk). Pusatnya adalah hati, yang merupakan tempat makrifat. Para wali mengabarkan kepada orang lain melalui ilmu Nabi saw., sebagaimana ash-habush-suffah yang sudah mengungkapkan berbagai rahasia Mikraj sebelum Nabi saw. mengabarkannya.

Jadi, wali adalah orang menjalankan misi kenabian sekaligus juga menjadi bagian dari kenabian tersebut. Dimana batinnya adalah amanah bagi dirinya. Seorang wali bukanlah ulama yang hanya sekedar memiliki ilmu lahir (tapi juga ilmu batin). Ia tak hanya termasuk dari warisan kenabian, tapi juga seperti punya hubungan kerabat dengan Nabi saw. Pewaris yang sempurna itu adalah orang yang menempati status sebagai anak laki-laki, karena ia ashabah yang paling dekat. Status para wali seperti itu, pewaris sempurna dari ilmu Nabi saw., baik ilmu lahir maupun ilmu batin (rahasia).

Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya ada ilmu yang seperti tiram (tersembunyi dengan baik). Tak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang mengenal Allah Ta’ala. Jika mereka berbicara (dengan ilmu tersebut) maka tak ada yang mengingkarinya kecuali orang- orang lalai.” (HR. ad-Dailami)

Ini adalah rahasia (sirri) yang dititipkan di hati Nabi saw. pada malam Mikraj. Tepatnya di relung batinnya yang paling dalam, yang terdiri dari tiga puluh ribu lapis. Rahasia itu tidak dikabarkan kepada kalangan awam, tapi hanya bagi para sahabat dekat beliau dan ash-habush-shuffah. Semoga Allah meridhai mereka semua, menganugerahkan manfaat kepada kita melalui kebaikan dan keberkahan mereka. Dengan barakah rahasia tersebut, syariat yang suci ini akan tetap tegak hingga hari kiamat. Dan hanya ilmu batin saja yang menunjukkan kepada rahasia itu, sedangkan ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan lainnya semua itu hanyalah kulit terluar dari sebuah rahasia.

Sedangkan ulama atau ahli ilmu lahiriah, mereka adalah pewaris Nabi saw. Sebagian mereka kedudukannya seperti ash-habul furudh, sebagian lainnya seperti ashabah”, dan sebagian lainnya lagi seperti dzawil arham” dalam ilmu waris. Mereka dibiarkan menyebarkan ilmu-ilmu kulit dalam berdakwah dijalan Allah dengan nasihat-nasihat yang baik.

Para syaikh Ahlus-Sunnah, yang silsilahnya bersambung kepada Ali bin Abi Thalib ra. mengemban kewajiban untuk menyebarkan ilmu dari Babul Ilmi? ini melalui jalan dakwah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan hikmah.

Allah Ta’ala berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik

dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” tan-Nahl: 125)

Pada prinsipnya, pendapat mereka tentang masalah-masalah pokok (ushul) adalah satu, tapi dalam masalah cabang (furu’) mereka kadang berbeda pendapat.

Ada tiga makna yang dapat diambil dari ayat di

atas, dan ke semuanya  terhimpun  dalam diri Nabi saw.. Tak ada  seorang pun dianugerahi ketiganya secara keseluruhan selain beliau.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker