Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

PASAL LIMA: TOBAT DAN TALQIN

Ketahuilah bahwa tingkatan-tingkatan (maqamat) yang telah dijelaskan sebelumnya tidaklah akan berhasil ditapaki kecuali dengan tobat yang sebenar-benarnya (taubatan nashuha) dan bimbingan (talqin) dari ahlinya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-kalimat takwa.” (al-Fath: 26)

Maksud “kalimat takwa’ dalam ayat di atas adalah kalimat laa ilaaha illallaah yang keluar dari hati orang yang bertakwa dan bersih dari selain Allah. Bukan sekedar kalimat laa ilaaha illallah yang keluar dari mulut orang biasa. Sekalipun lafaz laa ilaaha illallah setiap orang sama, namun ketika diucapkan masing-masing memiliki kualitas makna yang berbeda. Hati hanya akan hidup bila mengambil benih tauhid dari hati yang juga hidup, sehingga menjadi bibit yang bermutu tinggi. Adapun benih yang tidak matang, ia tidak akan dapat tumbuh (dan berkembang).

Kalimat tauhid dalam Al-Qur’an terdapat di dua tempat.

Pertama, kalimat tauhid laa ilaaha illallah yang bermakna lahir saja, yaitu:

“Apabila dikatakan kepada mereka, “laa ilaaha illallah’, mereka menyombongkan diri.”

(ash-Shaffaat: 35)

Kalimat laa ilaaha illallah yang ini merupakan bagian Orang awam.

Kedua, kalimat tauhid yang disertai dengan ilmu hakikat, sebagaimana firman Allah

Ta’ala,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan (bagi) dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)

Maka talqin (bimbingan) yang menjadi sebab turunnya ayat ini, tujuannya tidak lain adalah untuk bimbingan bagi orang-orang khusus.

Dikatakan dalam kitab Bustaanu asy-Syarti’ah, orang yang pertama kali ingin menempuh jalan yang terdekat, yang utama dan yang termudah kepada Allah melalui Nabi saw. adalah Ali bin Abi Thalib ra.. Ia menanyakan hal itu kepada Nabi saw. Nabi saw. lalu menunggu turunnya jawaban dari Allah (wahyu) melalui Jibril as.. Dan

Malaikat Jibril lantas turun menemui beliau dan membimbing (menalgin) beliau mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah sebanyak tiga kali. Kemudian Nabi saw. mengucapkan seperti apa yang diucapkan Jibril, lalu beliau mengajarkannya kepada Ali ra.. Tidak lama kemudian, beliau mendatangi para sahabat dan membimbing mereka semua.

Rasulullah saw. bersabda,

“Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang paling besar.” (HR. al-Baihaqi) Maksud dari jihad yang paling besar adalah, perang menjungkalkan hawa nafsu.

Sesuai dengan sabda Rasulullah saw., .

“Musuh terbesar kalian adalah hawa nafsu kalian sendiri yang letaknya ada di antara lambung kalian.” (HR. ad-Dailami)

Cinta kepada Allah tidak akan diperoleh kecuali setelah engkau menjungkalkan hawa nafsu yang ada dalam dirimu, berupa nafsu ammarah, nafsu lawwamah, dan nafsu mulhamah. Kemudian engkau bersihkan dirimu dari akhlak binatang jinak yang tercela (bahimiyah), seperti suka banyak makan, banyak minum, banyak tidur dan berhura- hura. Engkau juga harus membersihkan dirimu dari sifat-sifat binatang buas (sabu

‘iyyah), seperti marah, mencaci, memukul dan membentak. Demikian pula bersih dari sifat-sifat setan, seperti sombong, membanggakan diri, dengki, dendam, dan yang lainnya sehingga mampu merusak tubuh dan hati.

Jika engkau telah bersih dari sifat-sifat dan akhlak buruk itu, berarti engkau sudah bersih dari pangkal dosa, dan engkau termasuk golongan orang-orang yang bersuci dan bertobat.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Orang yang hanya bertobat dari gelimangan dosa lahiriah saja maka ia tidak termasuk orang yang disebutkan dalam ayat di atas. Ia bisa disebut sebagai orang yang bertobat (taa’ib), namun belum secara total menjadi orang yang benar-benar bertobat (tawwab). Sebab, ayat ini merupakan lafaz mubalaghah (superlatif), dan maksudnya adalah tobatnya orang-orang khusus.

Analogi orang yang bertobat hanya dari dosa-dosa lahiriyah itu seperti orang yang memotong rumput, tapi hanya di barangnya saja. Ia tidak mencabut dari akarnya. Walhasil, rumput yang ia pangkas pasti tumbuh kembali, bahkan lebih rimbun dari sebelumnya. Sementara, orang yang benar-benar bertobat dari dosa dan akhlak yang tercela, adalah seperti orang yang mencabut rumput dari akarnya sehingga rumput itu tidak akan tumbuh kembali. Kalaupun tumbuh, itu termasuk hal yang langka.

Sedangkan kedudukan talqin di sini merupakan alat yang memutuskan (memotong) hati manusia dari segala sesuatu selain Allah. Orang yang tidak memotong pohon yang pahit (tidak mau menjalani perjalanan pahit) tidaklah akan sampai kepada pohon yang manis. Berpikirlah  wahai manusia  yang memiliki  pandangan  hati. Semoga engkau berbahagia dan wushul kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan….” (asy-Syuura: 25)

Firman-Nya pula,

“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh: maka

kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (al-Furqaan: 70)

Tobat itu sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu tobat umum (taubat al-amm) dan tobat khusus (taubat al-khash).

Tobat umum adalah kembali seorang hamba dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari perbuatan  tercela  ke  perbuatan  terpuji,  dari  lorong  neraka  kejalan  surga,  dari

mengikuti keinginan badan menuju kesulitan batin dengan cara rajin zikir, bermujahadah, dan mencurahkan segenap potensi.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker