Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

PASAL SEPULUH: TABIR GELAP DAN TABIR CAHAYA

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat ia akan buta dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (al-Israa ‘: 72)

Maksud buta di sini adalah buta hatinya. Sebagaimana yang Allah firmankan,

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah kalbu yang di dalam dada.” (al Hajj: 46)

Kebutaan hati itu disebabkan meluasnya tabir kegelapan (al-hijab azh-zhulmaniyah), kelalaian, dan karena si pemilik hati menjauhkan diri pada janji sucinya kepada Allah saat ia hidup di dunia. Sementara kelalaian disebabkan oleh kebodohan seseorang akan hakikat Ilahiyah. Kebodohan itu merajalela karena sifat-sifat tercela lebih menguasai ruang hati, seperti sifat sombong, dendam, dengki, kikir, ujub, mengumpat, mengadu domba (namimah), bohong, dan sifat tercela lainnya. Sifat-sifat tercela inilah yang mendorong manusia terjungkal ke derajat terendah.

Sifat-sifat tercela ini dapat dilenyapkan dengan cara membersihkan cermin hati dengan alat pembersih tauhid, ilmu, amal baik, dan berjuang keras secara lahir maupun batin. Dengan itu, hati akan hidup melalui sapaan cahaya tauhid dan sifat- sifat-Nya. Jika ia berjuang keras tanpa henti, niscaya hatinya menjadi hidup, dan ia

pasti akan ingat pada tempat asalnya. Setelah ingat, akan muncul kerinduan untuk pulang kembali ke tempat asalnya yang hahiki itu, melalui pertolongan Allah.

Setelah hijab kegelapan itu terangkat maka yang tersisa adalah buncahan cahaya atau al-hujub annuraniyah. Dimana ia memperoleh bashirah, mampu mamandang melalui ‘kacamata’ ruh, sementara dirinya diterpa cahaya yang memancar dari nama dan sifat-sifat Allah. Kemudian secara perlahan hijab cahaya itu meninggi, dan jiwanya akan diterangi oleh cahaya yang mengalir dari Zat (Allah).

Ketahuilah, bahwa hati di dalam jiwa itu memiliki dua mata, mata kecil, dan mata besar. Mata kecil bisa menyaksikan kemunculan sifat-sifat Allah (tajalli sifat) melalui cahaya yang mengalir dari nama-nama  dan  sifat-sifat-Nya. Dan itu  berlangsung hingga ke alam surga yang bertingkat-tingkat (jannatul ma’wa, jannatun na’im, dan jannatul firdaus). Sementara mata besar bisa menyaksikan kemunculan (tajalli) cahaya-cahaya ZatNya di alam ketuhanan (alam lahut), yang dekat dengan cahaya tauhid Keesaan. Tiada jalan untuk bisa sampai ke tingkatan ini selain melalui kematian (al-maut). Atau bila sebelum mati, maka itu melalui fana’ dari segala nafsu kemanusiaannya. Sekali pun begitu, sampainya (wushul) manusia melangkah ke alam itu tergantung pada sejauh mana kualitas (kadar) keterputusannya dari sifat-sifat manusiawi dan hawa nafsu.

Konteks makna wushul kepada Allah di sini bukanlah seperti bersatunya jasad dengan jasad atau bersatunya ilmu dengan apa yang sudah diketahui. Bukan pula seperti pikiran dengan apa yang dipikirkan, dan tidak juga seperti dugaan dengan yang diduga. Adapun yang dimaksud wushul kepada Allah di sini adalah, seberapa besar dirinya bisa lepas dari selain-Nya, tanpa kedekatan, tanpa kejauhan, tanpa perjumpaan, tanpa berhubungan, dan tanpa berpisah. Mahasuci Allah dalam penampakan-Nya, kesamaran-Nya, tajalli-Nya, dan dalam mengenal-Nya, dimana di situ terdapat hikmah yang luar biasa.

Orang yang mampu mencapai nilai-nilai ini di dunia dan mampu mengintropeksi diri sebelum dihisab maka ia termasuk golongan orang-orang beruntung. Akan tetapi, jika dirinya tidak dapat menggapai nilai tersebut maka kelak ia akan menemukan berbagai rintangan,  seperti  siksa  kubur,  kengerian  padang  mahsyar,  perhitungan  amal,

timbangan amal, melewati shiratal mustaqim, dan berbagai peristiwa menakutkan lainnya di akhirat.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker