Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sirrul Asror Lengkap

Adapun ilmu syariat dianugerahkan untuk kita secara lahir, sedangkan ilmu makrifat untuk batin. Jika mampu menyatukan keduanya maka ia akan membuahkan ilmu hakikat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (ar-Rahmaan: 19-20)

Jika hanya menggunakan ilmu lahir maka engkau tidak akan pernah sampai kepada hakikat dan tujuan yang sesungguhnya (yaitu wushul kepada Allah).

Ibadah hanya dapat sempurna dengan keduanya, bukan dengan salah satunya. Sebagaimana firman Allah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat: 56)

Maksud dari ayat ini adalah agar manusia mengenal Allah (makrifatullah).

Orang yang tidak mengenali-Nya, bagaimana ia akan menyembah-Nya? Sesungguhnya makrifat itu hanya dapat dicapai dengan menyingkap hijab nafsu yang menutupi cermin kalbu, yaitu dengan selalu membersihkannya agar terus mengkilap.

Dengan itu, barulah ia akan dapat melihat keindahan dari “kekayaan tersembunyi” di relung hati yang terdalam. Sebagaimana Allah telah firmankan dalam sebuah hadits qudsi, “Aku adalah kanzan makhfiyya (kekayaan yang terpendam).

Aku ingin dikenali, maka Aku pun menciptakan makhluk agar Aku dikenali.”

Makrifat itu ada dua macam, yaitu makrifat (mengenal) sifat Allah dan makrifat Zat Allah.

Makrifat (mengenal) sifat-sifat Allah menjadi tugas setiap jasad di dunia dan akhirat, sedangkan makrifat (mengenal) Zat Allah adalah bagi ruh al-qudsi di alam akhirat.

Sebagaimana firman Allah, “Dan Kami memperkuatnya dengan RuhulQudus.” (al-Baqarah: 87) Kedua makrifat ini tidak akan didapatkan kecuali dengan memadukan ilmu lahir dan ilmu batin. Rasulullah saw. bersabda, – “Ilmu itu ada dua bagian. Pertama, ilmu dengan lisan, dan itu adalah hujjah Allah kepada anak keturunan Adam. Kedua, ilmu dengan hati. Maka itulah ilmu yang bermanfaat.” (HR. ad-Darimi)

Pada awalnya manusia membutuhkan ilmu syariat agar ruh bisa mendapatkan derajat tinggi di depan-Nya maupun di depan manusia, melalui usaha fisik.

Pada tahap selanjutnya, manusia membutuhkan ilmu batin agar ruhnya sampai pada alam makrifat, melalui ilmu makrifat.

Dan itu tidak dapat diperoleh kecuali dengan meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat dan tarekat.

Selain itu, manusia juga harus menjalani latihan diri yang keras, yang menyebabkan kesusahan jasmani dan ruhani, agar dapat menundukkan hawa nafsunya secara total.

Ini harus dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah, tanpa sikap riya” dan sum’ah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan janganlah ia menyekutukan Tuhannya dengan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahfi: 110)

Alam makrifat adalah alam lahut (alam ketuhanan), yaitu tempat asal dimana ruh suci (ruh al-qudsi) diciptakan dalam bentuk yang sempurna. Adapun yang dimaksud ruh al-qudsi adalah “insan hakiki” yang diletakkan di relung hati yang paling dalam.

Hakikat manusia ini akan mewujud dalam bentuk tobat, talqin dan terus mengucapkan kalimat laa ilaaha Illallah. Awalnya ia membaca kalimat tauhid itu dengan lisannya, kemudian setekah hatinya hidup, maka ia melafazkannya dengan lisan hati.

Para ahli tasawuf menyebut ruh al-qudsi ini dengan sebutan thiflul ma’aani (bayi maknawi), karena maknamaknanya yang suci (seperti bayi).

Penamaan itu juga disebabkan beberapa alasan: Pertama, ruh al-qudsi (atau thiflul ma’aani) terlahir dari hati, layaknya anak kecil yang lahir dari rahim seorang ibu.

Kemudian hati merawatnya sebagaimana seorang ibu merawat bayinya, lalu sedikit demi sedikit bayi itu tumbuh besar dan dewasa. Kedua, mengajarkan ilmu kepada anak kecil adalah suatu yang umum terjadi dimanamana, maka mengajarkan ilmu makrifat kepada thiflul ma’ani adalah juga sesuatu yang lazim.

Ketiga seperti halnya seorang bayi yang bebas dosa, thiflul ma’ani juga suci dari syirik, kelalaian dan kotoran yang tampak secara kasat mata.

Keempat seperti halnya jiwa anak kecil yang jernih berkilau, maka dalam mimpi thiflul ma’ani akan muncul dalam bentuk seorang yang elok rupa (tampan) seperti malaikat.

Kelima, Allah menyifati anak-anak muda di surga-Nya dengan sifat kekanak-kanakan. Sebagaimana tertuang dalam firman-Nya, “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda.” (al-Waqi’ah: 17)

Demikian pula dengan firman-Nya yang lain, “Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (ath-Thuur: 24)

Keenam, penyebutan thiflul ma’ani untuk ruh al-qudsi tidak lain karena faktor kelembutan dan kesuciannya. Ketujuh penyebutan thiflul ma’ani, yang dihubungkan dengan fisik dan rupa manusia (anak-anak), hanya bersifat kiasan (majazi).

Tujuannya semata-mata untuk menjelaskan keindahannya, bukan untuk meremehkan atau menganggap kecil.

Selain itu, berdasarkan pengamatan terhadap proses awalnya, thiflul ma’aani adalah “insan hakiki” karena dia lah yang merasakan ketentraman bersama Allah Ta’ala.

Sedangkan tubuh dan ruh jismani tidaklah dapat berhubungan langsung dengan Allah karena bukan ‘mahram’ bagi-Nya.

Ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw., “Aku memiliki waktu khusus bersama Allah, yang tidak dimiliki oleh malaikat terdekat dan juga oleh para nabi yang diutus.” Maksud dari nabiyyun mursal (nabi yang diutus) adalah raga Nabi saw. sendiri, sedangkan malakun muqarrab (malaikat yang terdekat dengan Allah) adalah ruhaniah Nabi yang tercipta dari cahaya alam jabarut, sebagaimana pula malaikat.

Namun demikian, malaikat tidak masuk ke dalam cahaya alam lahut (alam ketuhanan). Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki surga yang tidak terdapat di dalamnya bidadari dan istana, tak ada pula pakaian, madu, dan susu. Yang ada (di sana) hanyalah melihat wajah Allah Ta’ala.” Allah swt. berfirman, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (al Qiyaamah: 22-23)

Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “ Kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama.” (HR. Bukhari)

Namun demikian, bila malaikat dan makhluk bersifat badaniyah nekad menyusup masuk ke alam ini, niscaya keduanya akan terbakar. Ini seperti yang difirmankan Allah dalam sebuah hadits qudsi, “Jika tersingkap kesucian Wajah (Zat)-Ku yang Agung, niscaya akan terbakar segala yang terjangkau oleh pandangan-Ku.” (HR. Muslim)

Dan juga sebagaimana perkataan Jibril, “Jika aku mendekati (alam itu) secuil saja, niscaya aku akan terbakar.”

Kitab ini (Sirrul Asrar wa Mazh-harul Anwar) terdiri dari dua puluh empat bab (pasal), sesuai dengan jumlah huruf pada kalimat laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah, dan juga sesuai jumlah jam dalam sehari semalam, yaitu 24 jam.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker