KITAB MANDI
1 BERWUDHU SEBELUM MANDI
Diriwayatkan dari Aisyah istri Nabi SAW bahwa Nabi SAW apabila mandi karena janabah, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya, kemudian beliau berwudhu sebagaimana beliau berwudhu untuk shalat. Kemudian beliau masukkan jari-jarinya di dalam air, lalu membasuh pangkal-pangkal rambutnya. Kemudian beliau
tuangkan air di atas kepalanya tiga kali ciduk dengan kedua tangannya, kemudian menyiramkan air di atas seluruh kulit tubuhnya.
Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata: Aku mandi bersama Nabi SAW dari sebuah bejana yang dinamakan al-faraq (berisi 16 rithil air menurut penduduk Hijaz).
Diriwayatkan dari Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah SAW apabila hendak mandi janabah membasuh tangannya.
Diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Adapun aku, maka aku tuangkan air di atas kepalaku tiga kali, sambil memberi isyarat dengan kedua telapak tangannya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Adalah Nabi SAW menggilir istri-istrinya yang berjumlah sebelas orang dalam sehari semalam.
Aku berkata kepada Anas: Apakah beliau mampu melakukannya?
Anas menjawab: Kami berbicara bahwa beliau diberi kekuatan 30 orang.
Said berkata dari Qatadah: Sesungguhnya Anas mengatakan kepada mereka: Sembilan orang istri.
Diriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata: Aku seorang lelaki yang sering keluar madzi. Maka aku menyuruh seorang lelaki untuk menanyai Rasulullah SAW mengingat posisi putrinya (Fathimah). Orang itu bertanya dan beliau menjawab: Berwudhulah dan basuhlah zakarmu.
Diriwayatkan dari ibnu Abbas, ia berkata: Maimunah berkata: Kuletakkan air untuk mandi bagi Nabi SAW. Kemudian aku menutupinya dengan selembar baju. Kemudian beliau tuangkan air di atas kedua tangannya. lalu membasuhnya.
Kemudian beliau tuangkan air dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu membasuh kemaluannya. Kemudian beliau menepuk tanah dengan tangannya, lalu mengusapnya.
Kemudian beliau membasuhnya, lalu berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dan membasuh mukanya serta kedua tangannya, Kemudian beliau tuangkan air di atas kepalanya dan menyiram tubuhnya. Kemudian beliau menjauh, lalu membasuh kedua telapak kakinya.
Kemudian aku memberikan selembar baju kepadanya, namun beliau tidak mengambilnya, lalu pergi sambil mengibaskan kedua tangannya.
Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Apabila salah seorang dari kami mengalami janabah, ia mengambil air dengan kedua tangannya tiga kali dan menyiram kepalanya. Kemudian ia mengambil air dengan tangannya untuk menyiram sisi kanannya dan dengan tangannya yang lain untuk menyiram sisi kirinya.
2 ORANG YANG MANDI SAMBIL TELANJANG
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: Di saat Ayyub sedang mandi telanjang, tiba-tiba jatuh belalang dari emas menimpanya. Maka Ayyub mengambilnya dengan tangannya dalam bajunya dan melemparkannya. Kemudian Tuhannya berseru kepadanya: Hai Ayyub, tidakkah Aku mencukupimu dari apa yang engkau lihat? Ayyub menjawab: Benar, demi keperkasaan-Mu, akan tetapi aku membutuhkan berkah-Mu.
3 ORANG YANG DALAM KEADAAN JANABAH HENDAKNYA BERWUDHU KETIKA AKAN TIDUR
Diriwayatkan dari Aisyah r.a.. ia berkata: Adalah Nabi SAW apabila ingin tidur dalam keadaan junub, beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu untuk shalat (yakni wudhu yang syar’iy).
Atha’ berkata: Orang yang junub boleh berbekam (cantuk) dan boleh menggunting kuku-kukunya serta mencukur kepalanya, meskipun tidak berwudhu.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia berkata: Umar bin Khaththab mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa ia mengalami janabah pada malam hari. Maka Rasulullah SAW berkata: “Berwudhulah dan basuhlah zakarmu, kemudian tidurlah.”
Penjelasan hadits
Membasuh zakar adalah sunnah bagi orang yang junub ketika hendak tidur dan boleh menangguhkan mandi setelah wudhu. Dengan berwudhu ia ringankan hadats dan menghilangkannya dari anggota-anggota wudhu.
4 APABILA DUA ANGGOTA KHITAN BERTEMU
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apabila ia duduk di antara kedua tangan dan kedua kakinya, kemudian menggaulinya, maka ia wajib mandi.” Penjelasan hadits Dalam suatu riwayat: Apabila anggota khitan menyentuh anggota khitan.
An-Nawawi berkata: Hadits ini berarti bahwa wajib mandi tidak tergantung pada keluarnya mani. Akan tetapi bilamana ujung zakar masuk dalam kemaluan perempuan, wajib mandi atas istri dan suami
Yang dimaksud dengan anggota khitan menyentuh anggota khitan ialah bila orang lelaki memasukkan zakarnya dalam kemaluar istrinya, bukan cuma menyentuh.
Hal itu disebabkan khitan perempuan berada di atas kemaluan dan tidak tersentuh oleh zakar di waktu melakukan jimak (persetubuhan).
Para ulama sepakat bahwa seandainya suami meletakkan zakarnya di atas khitan istrinya dan tidak memasukkannya. maka tidak wajib mandi atas keduanya. Begitu pula jika kedua khitan bertemu, yakni saling berhadapan. Wallahu a’lam.









One Comment