Hadits

Terjemah Kitab Jawahirul Bukhari Karya Syeikh Mustafa Imarah

Kitab Iman

2. KETAKWAAN, PETUNJUK, RUKUN-RUKUN ISLAM DAN MASALAH-MASALAH AGAMA

Ibnu Umar berkata: “Tidaklah hamba mencapai hakikat takwa hingga ia tinggalkan bisikan yang menggoda di dalam dada.”

Ibnu Mas’ud berkata: Keyakinan adalah iman seluruhnya. Maksud hadits ini manusia tidak akan sampai kepada derajat orang yang beriman kepada Allah Ta’ala hingga ia tinggalkan bisikan yang menggoda hatinya karena takut terjerumus dalam dosa dan Orang muslim tidak akan mencapai puncak rasa takut kepada Tuhannya hingga ia menjauhi segala sesuatu yang masuk dalam hatinya dan menimbulkan kesempitan dalam dadanya serta tidak ia peroleh pahala darinya.

Sayyidina Abdullah bin Umar ibnul Khaththab meriwayatkan atsar yang menyerukan penguatan kemauan untuk percaya kepada Allah Ta’ala dan memusatkan pikiran untuk mentaati-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya hingga mencapai derajat orang-orang bertakwa yang mukhlis.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” Al- Hajj: 34-35.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut

nama Allah, gemetarlah hati mereka.” Al-Anfal: 2.

Al-Karmani berkata: Yang dimaksud hakikat takwa adalah iman, karena yang dimaksud dengan takwa adalah melindungi diri dari syirik.

Dan makna ini menunjukkan sebagian kaum mukminin mencapai hakikat iman dan sebagian lagi tidak.

Maka iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Abdullah bin Umar seorang lelaki yang shaleh. la banyak mengeluarkan shadagah. Terkadang ia keluarkan shadagah dalam satu majelis 30.000 dirham.

Sedikit yang bisa menandinginya dalam hal mengikuti Rasulullah SAW dan menjauhi kesenangan dunia serta mencari jabatan atau lainnya.

la hidup 60 tahun sesudah Rasulullah SAW wafat.

Abdullah berkata: Aku tidak menyesal atas suatu urusan dunia yang lewat, kecuali ketika aku tidak ikut berperang bersama Ali melawan golongan pemberontak.

Abdullah wafat di Makkah sesudah haji pada tahun 73 Hijriah, yaitu tiga bulan setelah terbunuhnya Ibnu Zubair dan dimakamkan di Al-Mahshab.

An-Nawawi berkata: Mazhab Salaf adalah bahwa iman itu perkataan, perbuatan dan niat, bertambah dan berkurang. Maksudnya iman adalah mempercayai dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan beramal dengan semua anggota tubuh.

Iman bertambah dan berkurang sesuai dengan pertambahan dan kekurangan semua ini.

Ibnu Baththal berkata: Mazhab seluruh ahli sunnah, baik salaf maupun khalaf, ialah iman itu merupakan perkataan dan perbuatan yang bisa bertambah dan berkurang.

Makna yang menghasilkan pujian bagi hamba dan kecintaan dari kaum mukminin ialah melakukan ketiga perkara ini, yaitu membenarkan, berikrar dan beramal.

Tidak ada khilaf bahwa andaikata seseorang berikrar dan beramal tanpa beriktikad atau beriktikad dan beramal dan mengingkari dengan lisannya, maka ia bukan seorang mukmin.

Demikian pula andaikata seseorang berikrar atau beriktikad dan tidak mengamalkan kewajiban-kewajiban, ia pun tidak disebut seorang mukmin secara mutlak.

An-Nawawi mengomentari hal ini: Barangkali maksudnya kesempurnaan iman, bukan asal iman dan hakikatnya. Kalau tidak begitu, maka setiap orang yang meninggalkan kewajiban sekali, ia pun tidak beriman dan ini adalah rumit. Karena telah jelas bahwa setiap orang yang berikrar dengan lisan dinamakan mukmin oleh Rasulullah SAW secara mutlak.

Dari Handhalah bin Abi Sufyan dari Ikrimah bin Khalid dair ibnu Umar ibnul Khaththab r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi  bahwa tiada Tuhan  selain  Allah dan  Muhammad  adalah  utusan  Allah, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang  yang meminta-minta dan  (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Al-Baqarah: 177

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Al-Mu’minun: 1) dan seterusnya hingga ayat kesebelas.

Maksud pembatasan pada lima perkara itu ialah bahwa ibadah itu berupa perkataaan atau lainnya. Yang pertama: Dua kalimat syahadat. Yang kedua ialah meninggalkan atau melakukan sesuatu, yaitu puasa.

Ketiga mengenai badan, yaitu shalat. Keempat mengenai harta, yaitu zakat. Kelima ialah campuran antara badan dan harta, yaitu haji.

Haji disebutkan lebih dulu daripada puasa, maka ibnu Umar berkata: Tidak puasa

Ramadhan dan haji. Demikian aku mendengarnya dari Rasulullah SAW.

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda: “Iman itu terdiri dari 60 cabang

lebih sedikit’ dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.”

Hal itu dilakukan dengan meyakini kebenaran dan bersikap lurus dalam beramal. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi SAW sewaktu ditanya oleh Sufyan Ats-Isauri. yaitu dengan jawaban: Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah, kemudian bersikaplah yang lurus (dalam beramal).”

Iktikad bercabang menjadi 16 cabang, yaitu: menuntut ilmu, mengenal pencipta, membersihkan-Nya dari segala kekurangan, beriman kepada sifat-sifat Tuhan seperti hidup, mengetahui. meyakini keesaan Allah. mengakui bahwa segala sesuatu terjadi dan musnah dengan keputusan dan takdir-Nya, beriman pada malaikat-Nya yang disucikan dan berdiam di tempat-tempat suci, mempercayai rasulrasul-Nya yang didukung dengan berbagai mukjizat serta iktikad yang baik mengenai mereka.

Meyakini bahwa alam ini diciptakan dan akan musnah, meyakini adanya kehidupan kedua dan pengembalian arwah ke dalam tubuh, mempercayai hari kemudian dengan segala yang ada padanya seperti shirat, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal) dan lainnya yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah SAW, meyakini janji surga dan pahalanya, ancaman neraka dan hukumannya.

Amal terbagi menjadi tiga macam Pertama. Amal yang berkaitan dengan manusia sendiri dan terbagi menjadi dua macam:

Macam pertama berkaitan dengan batin dan hasilnya ialah pembersihan jiwa dari sifat-sifat rendah yang pokok-pokoknya ada sepuluh, yaitu: serakah makanan, serakah bicara, cinta kedudukan, cinta harta, cinta dunia, dendam, dengki, riya’, nifak dan sombong.

Di samping itu adalah menghiasi jiwa dengan berbagai keutamaan dan pokok- pokoknya ada tiga belas,  yaitu: taubat,  rasa  takut,  harap, zuhud, malu,  syukur, menepati janji, sabar, ikhlas, berkata benar, cinta, bertawakkal dan ridha dengan keputusan Allah.

Macam kedua berkaitan dengan lahir dan dinamakan ibadah. Cabang-cabangnya ada tiga belas, yaitu: kesucian badan dari hadats dan kotoran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengurusi jenazah, berpuasa di bulan Ramadhan, beriktikaf, membaca Al-Qur’an, pergi haji ke Baitullah, menyembelih korban, menepati nazar, mengagungkan sumpah dan menunaikan kaffarat.

Kedua. Amal yang berkaitan dengan manusia dan orang-orang dekatnya serta penghuni rumahnya. Cabang-cabangnya ada delapan. yaitu: memelihara diri dari zina, menikah dan menunaikan hak-haknya, bakti kepada ibu bapak, silaturrahim, menaati tuan dan berbuat baik kepada hamba sahaya serta membebaskannya.

Ketiga Amal yang berkaitan dengan orang banyak dan tergantung perbaikan masyarakat. Cabang-cabangnya ada  tujuh belas, yaitu:

mengurusi pemerintahan kaum muslimin, mengikuti jama’ah, menaati penguasa dan membantu mereka untuk berbuat kebajikan, menghidupkan ajaran-ajaran agama dan menyiarkannya, menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat kemungkaran,

menjaga agama dengan mencegah kekufuran dan memerangi kaum kafir, bersiaga di jalan Allah, melindungi jiwa dengan tidak melakukan kejahatan dan menegakkan hak-haknya berupa gishash, diyat, menjaga harta orang lain dengan mencari rezeki yang halal,

menunaikan hak-hak dan menjauhi kezaliman, menjaga nasab dan kehormatan manusia dengan melaksanakan hukuman atas perbuatan zina dan tuduhan zina tanpa bukti, melindungi akal dengan mencegah minum minuman yang memabukkan disertai ancaman dan hukuman atas pelakunya, serta menghilangkan bahaya dari kaum muslimin seperti menyingkirkan gangguan dari jalan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker