Kitab Permulaan Turun Wahyu
1. AWAL TURUNNYA WAHYU KEPADA RASULULLAH SAW
Diriwayatkan dari Aisyah Ummil mukminin Radhiyallahu anha bahwa Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, bagaimana wahyu datang kepadamu?” Rasulullah SAW menjawab: “Kadang-kadang ia datang kepadaku seperti bunyi lonceng dan itu adalah paling berat aku rasakan. Ketika kejadian itu berlalu, aku telah hafal apa yang dikatakannya. “Kadang-kadang malaikat itu menampakkan diri kepadaku dalam rupa seorang laki-laki. la berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya.”
Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Aku telah melihat wahyu turun kepadanya di hari yang sangat dingin. Setelah kejadian itu berakhir, ternyata dahinya mengeluarkan keringat yang deras.”
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa ia berkata: Pertama kali wahyu diturunkan kepada Rasulullah SAW berupa mimpi yang baik dalam tidur. Beliau tidak mengalami mimpi, melainkan datang seperti sinar pagi. Kemudian beliau suka menyendiri di gua Hira dan menjauhi dosa. Di situ beliau beribadah selama beberapa malam sebelum rindu kepada istrinya dan menyiapkan bekal untuk ibadah itu.
Kemudian beliau kembali kepada Khadijah Radhiyallahu anha, lalu menyiapkan bekal untuk ibadah itu hingga datang wahyu kepadanya di saat beliau berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata: Bacalah!
Nabi SAW menjawab: Aku tidak bisa membaca.
Beliau berkata: Malaikat itu memegangiku hingga aku merasakan kepayahan yang sangat. Kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca.
la memegangiku dan menekanku untuk kali yang kedua hingga aku merasakan kepayahan yang sangat. Kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca.
la memegangiku dan menekanku untuk kali yang ketiga, kemudian melepaskanku. la berkata: “Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akramu.”
(Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah). Al-Alaq: 1-3
Rasulullah SAW pulang membawa ayat-ayat itu. Hatinya gemetar. Beliau masuk kepada Khadijah binti Khuwailid Ummul mu’minin radhiyallahu “anha seraya berkata: Selimutilah aku, selimutilah aku.
Maka mereka menyelimutinya hingga lenyap rasa takutnya. Rasulullah SAW menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Khadijah dan berkata: Aku khawatir atas diriku.
Khadijah berkata kepadanya: Sekali-kali tidak. Demi Allah, Allah tidak menghinakanmu untuk selamanya. Sesungguhnya engkau menyambung hubungan dengan para kerabat, memikul beban, memberi orang yang tidak punya, menghormati tamu dan menolong orang-orang yang susah.
Kemudian Khadijah membawanya ke tempat Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul
Uzza putra paman Khadijah.
Waraqah memeluk agama Nasrani di zaman jahiliyah. la menulis kitab Injil dengan bahasa itu sebanyak yang dikehendaki Allah. Waraqah seorang yang sangat tua dan telah buta.
Khadijah berkata kepadanya: Hai putra paman, dengarlah dari putra saudaramu. Waraqah berkata kepada Nabi SAW: Hai putra saudaraku, apa yang kau lihat?
Rasulullah SA menceritakan kepadanya kejadian yang dilihatnya. Waraqah berkata: Ini adalah pembawa rahasia (malaikat) yang
diturunkan Allah kepada Musa. Kiranya aku masih muda di masa itu. Kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.
Maka Rasulullah SAW berkata: Apakah mereka akan mengusirku?
Waraqah menjawab: Ya. Tidaklah seorang lelaki membawa agama seperti yang engkau bawa, melainkan ia dimusuhi.
Jika aku mendapati masa kenabianmu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat. Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu berhenti.
Maksud dan penjelasan hadits wahyu
Allah Ta’ala memelihara Nabi SAW dan memberinya taufik dan ilham dengan hikmah. Allah Ta’ala mengutamakannya dengan hidayah. Maka sebagaimana dikatakan oleh Al-Karmani: Nabi SAW diberi permulaan tanda-tanda kenabian dan kemuliaan berupa mimpi yang benar, suka menyendiri dan beribadah serta ketekunannya dalam melakukannya.
Hakikat mimpi yang baik ialah bahwa Allah Ta’ala menciptakan dalam hati orang yang tidur atau indera-inderanya segala sesuatu sebagaimana Dia menciptakannya pada orang yang tidak tidur.
Allah SWT melakukan apa yang Dia kehendaki tanpa terhalang Oleh tidur maupun lainnya. Boleh jadi hal itu terjadi dalam keadaan jaga sebagaimana Rasulullah SAW melihatnya dalam tidur.
Dan boleh jadi Allah Ta’ala menjadikan apa yang dilihatnya sebagai tanda atas hal- hal lain yang diciptakannya dalam keadaan kedua atau Allah Ta’ala telah menciptakannya dan terjadi sebagaimana Dia menjadikan mendung sebagai tanda hujan. Engkau lihat kasih sayang Allah SWT kepada kekasih-Nya.
Dia mendahulukan baginya tanda-tanda risalah dan kabar-kabar gembira berupa pemeliharaannya.
Para ulama berkata: Sesungguhnya wahyu itu dimulai dengan mimpi supaya malaikat tidak mengejutkannya dan mendatanginya dengan membawa tanda kenabian yang terang secara mendadak sehingga tidak bisa ditanggung oleh kekuatan manusia.
Allah Azza wa jalla telah memberi taufik kepada Sayyidina Rasulullah untuk beribadah dan bersikap ikhlas kepada-Nya.
Ada yang mengatakann dengan syari’at Sayyidina Nuh. Ada yang mengatakan: Sayyidina Ibrahim. Ada yang mengatakan:
Sayyidina Isma’il. Ada yang mengatakan: Sayyidina Musa. Ada yang mengatakan: Sayyidina Isa hingga datang perintah Allah kepada rasul-Nya.
Al-Karmani berkata: Hikmah dalam penekanannya (ketika menerima wahyu) ialah supaya beliau bisa berkonsentrasi dan memusatkan perhatian pada urusannya dengan menghadirkan hatinya untuk mendengarkan apa yang dikatakan Jibril kepadanya. Dan Jibril mengulanginya tiga kali supaya beliau lebih memahaminya.
Ini mengandung pelajaran bagi pengajar agar berhati-hati dalam mengingatkan pelajar dan menghadirkan segenap hatinya.
Di sini terdapat teladan bagi pendidik agar bertindak bijaksana dan menggunakan kekerasan dengan perlahan serta memperhatikan buah pengajarannya dengan perhatiannya yang baik.
Maka kiaskanlah supaya mereka mematuhi peringatan dan siapa yang bijaksana, hendaklah ia kiaskan kadang-kadang dengan orang yang disayanginya
Ketika Nabi SAW merasa takut, beliau berselimut seakan-akan khawatir dirinya tidak kuat melawan perintah itu dan tidak mampu memikul beban wahyu sehingga nyawanya melayang lantaran kerasnya keadaan yang dialaminya ketika berjumpa malaikat pertama kalinya. Demikian kata Al-Qadhi Iyadh.
Dan siapa yang takut, ia pun selamat.
Dadaku terasa lapang ketika membaca perkataan An-Nawawi rahimahullah: “Saya katakan: “kecuali makna: “aku khawatir atas diriku” adalah ia mengabari Khadijah tentang rasa takut yang menimpanya pertama kali, bukannya ia merasa takut di saat mengabarkan.
Sayyidah Khadijah telah menenangkan hatinya dan menghilangkan kekhawatirannya serta meringankan ketakutannya sebagai istri yang bijaksana dan berpendidikan. la
bebaskan suaminya dari kesusahan dan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan baginya.
Mengapa? Karena ia telah menghasilkan akibat yang baik dari sifat-sifatnya yang terpuji dan luhur serta adab-adabnya yang tinggi. Allah Ta’ala berfirman: “Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.”
Khadijah radhiyallahu anha menyebut lima sifat dengan mana kerajaan berdiri tegak, keadilan merata, bendera kebahagiaan dibentangkan dan panji kecintaan berkibar:
1. Berbuat baik kepada para kerabat dengan harta atau jasa atau kunjungan atau ucapan salam.
2. Menolong orang yang lemah dan membantu orang yang tidak mampu serta orang yang membutuhkan bantuan.
3. Memberi orang yang tidak punya.
4. Menghormati tamu.
5. Engkau bela kebenaran dan pengikutnya dan ikut serta dalam menolak kezaliman dan menghilangkan kesusahan dari orang: orang yang mengalami musibah.
Khadijah r.a. membawanya kepada Waraqah bin Naufal, karena ia tersohor sebagai orang yang berilmu dan beriman kepada Sayyidina Isa Alaihis salam dan meninggalkan penyembahan berhala. Maka Khadijah berkata: Dengarlah dari putra saudaramu. Sebutan putra saudaramu adalah sebagai penghormatan, karena yang sebenarnya ialah kakek Waraqah dan kakek Rasulullah SAW bersaudara sehingga dianggap putra saudara.
Waraqah menyebut Jibril sebagai Namus (Pembawa rahasia), karena Allah Ta’ala mengkhususkannya untuk menyampaikan kabar ghaib dan wahyu. Waraqah menyebut Sayyidina Musa untuk memastikan risalah, karena turunnya Jibril kepada Musa telah disepakati antara kaum Yahudi dan Nasrani. Berbeda dengan Isa, karena sebagian kaum Yahudi mengingkari kenabiannya atau karena kaum Nasrani mengikuti hukum-hukum Taurat dan merujuk kepadanya. Wallahu a’lam.
Waraqah berjanji akan membelanya dan mendorongnya dengan melagukan syair:
Jika benar pembicaraanmu kepada kami, ketahuilah hai Khadijah bahwa Ahmad telah diutus dan Jibril datang kepadanya dan Mikail bersama keduanya dari Allah diturunkan wahyu yang melapangkan dada
Tidaklah diragukan bahwa Waraqah beriman pada Nabi Isa Alaihis salam dan membenarkan Sayyidina Rasulullah SAW serta beriman kepadanya. la berkata: Ya Muhammad, kiranya aku masih hidup.
niscaya aku akan membelamu dengan pembelaan yang kuat. Tidak lama kemudian ia wafat.
Kita ambil kesimpulan dari hadits ini
1. Memperbanyak ibadah dan mengingat Allah.
2. Pendidikan anak-anak dan memelihara adab supaya mereka menjadi tangguh dan tabah.
3. Memperbanyak amal baik untuk menyelamatkan pelakunya dari kesempitan.
4. Banyak membaca shalawat untuk Rasulullah SAW dan mencintainya, mengamalkan sunnahnya dan membela agamanya.
“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tidak disentuh oleh siksa (neraka) dan tidak pula mereka berduka cita.” Az- Zumar: 61









One Comment