Terjemahan Kitab Kuning | Terjemah Kitab Jawahirul Bukhari Karya Syeikh Mustafa Imarah Daftar IsishowKEUTAMAAN AHLIL HADITSKitab Permulaan Turun Wahyu1. AWAL TURUNNYA WAHYU KEPADA RASULULLAH SAWKitab Iman2. KETAKWAAN, PETUNJUK, RUKUN-RUKUN ISLAM DAN MASALAH-MASALAH AGAMA3. MUSLIM SEMPURNA, CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH4. MEMBERI MAKANAN TERMASUK PENGAMALAN ISLAM5. CINTA RASULULLAH SAW TERMASUK IMAN6. KEMANISAN IMAN7. PEMBAI'ATAN NABI SAW TERHADAP PARA SAHABATNYA8. MENYEBARKAN SALAM TERMASUK PENGAMALAN ISLAM9. MAKSIAT DARI PERBUATAN JAHILIYAH DAN PELAKUNYA TIDAK DIHUKUMI KAFIR, KECUALI DENGAN SYIRIK10. PENGAMALAN ISLAM YANG BAIK OLEH MANUSIA 11. KETAKUTAN ORANG MUKMIN AKAN KEGAGALAN AMALNYA SEDANG IA TIDAK MERASA12. PERTANYAAN JIBRIL KEPADA NABI SAW TENTANG IMAN, ISLAM DAN IHSAN 13. KEUTAMAAN ORANG YANG MEMBERSIHKAN AGAMANYA14. AGAMA ADALAH NASIHATKitab Ilmu15 ORANG YANG DITANYAI ILMU KETIKA IA SIBUK BICARA16. MENGAJAR ILMU DENGAN SUARA KERAS17. TENTANG ILMU DAN FIRMAN ALLAH TA'ALA18. ILMU SEBELUM PERKATAAN DAN AMAL19. PENENTUAN WAKTU-WAKTU OLEH NABI SAW UNTUK MENASEHATI DAN MENGAJAR PARA SAHABATNYA20. RASA IRI DALAM MENDAPATKAN ILMU DAN HIKMAH21. KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU DAN MENGAJAR22. PENGANGKATAN ILMU DAN MUNCULNYA KEBODOHAN23. MENGULANGI PEMBICARAAN TIGA KALI24. MENJAWAB FATWA25. SERUAN NABI SAW KEPADA DELEGASI ABDUL QAIS AGAR MENJAGA IMAN, ILMU DAN MENGABARI ORANG-ORANG DI BELAKANG MEREKA26. DOSA ORANG YANG BERDUSTA TERHADAP NABI SAW27. MENGKHUSUSKAN SUATU KAUM DENGAN ILMU KARENA KHAWATIR MEREKA TIDAK MENGERTI28. RASA MALU UNTUK BELAJAR ILMU DAN MENGAJARKANNYAKitab Wudhu29. SHALAT TIDAK DITERIMA BILA TANPA BERSUCI30. KEUTAMAAN BERWUDHU & ORANG-ORANG YANG MUKA & ANGGOTANYA PUTIH BERSERI-SERI KARENA BEKAS WUDHU31 TIDAK PERLU BERWUDHU KARENA RAGU HINGGA IA MERASA YAKIN 32 TIDAK MENGHADAP KIBLAT DI WAKTU KENCING DAN BUANG AIR BESAR, KECUALI DI DALAM BANGUNAN33 LARANGAN BERISTINJA' (CEBOK) DENGAN TANGAN KANAN34 BERWUDHU TIGA KALI TIGA KALI35 MENGELUARKAN AIR DARI HIDUNG36 MEMULAI DENGAN YANG KANAN DI WAKTU BERWUDHU DAN MANDI37 TENTANG MINUMNYA ANJING DI DALAM BEJANA38 KEUTAMAAN TINGGAL DI MASJID39 BERWUDHU DARI BEJANA40 MENGGUNAKAN BATU DALAM BILANGAN GANJIL KETIKA BERISTINJA41 BERWUDHU SETELAH TIDUR42 TERMASUK DOSA BESAR ADALAH BILA SESEORANG TIDAK MENJAGA ANGGOTA BADAN DARI KENCINGNYA43 SIWAK44 KEUTAMAAN ORANG YANG TIDUR DALAM KEADAAN BERWUDHU KITAB MANDI1 BERWUDHU SEBELUM MANDI2 ORANG YANG MANDI SAMBIL TELANJANG3 ORANG YANG DALAM KEADAAN JANABAH HENDAKNYA BERWUDHU KETIKA AKAN TIDUR4 APABILA DUA ANGGOTA KHITAN BERTEMUKITAB HAIDH1 WANITA HAID MEMBASUH KEPALA SUAMINYA DAN MENYISIRNYA2 LELAKI MEMBACA AL-QUR AN SAMBIL BERSANDAR DI PANGKUAN WANITA YANG HAID3 MENINGGALKAN PUASA BAGI WANITA YANG HAIDH4 WANGI-WANGIAN UNTUK WANITA KETIKA MANDI SETELAH HAID5 DAGING YANG SEMPURNA CIPTAANNYA DAN TIDAK SEMPURNA6 KEUTAMAAN MENGHADAP KIBLAT7 MERAPIKAN SHAF-SHAF8 BUMI DIJADIKAN TEMPAT SHALAT BAGIKUKITAB SHALAT1 KEWAJIBAN SHALAT DENGAN MEMAKAI BAJU 2 DOSA ORANG YANG LEWAT DI DEPAN MUSHALLI (ORANG YANG SEDANG SHALAT)3 BERHADATS DI DALAM MASJID4 ORANG YANG DUDUK DI TEMPAT TERAKHIR DARI SUATU MAJLIS 5 SALING MENOLONG DI ANTARA KAUM MUKMININ6 ORANG YANG SEDANG SHALAT MENCEGAH ORANG YANG LEWAT DI DEPANNYA7 KEUTAMAAN SHALAT PADA WAKTUNYA8 SHALAT LIMA WAKTU ADALAH TEBUSAN9 DOSA ORANG YANG KETINGGALAN SHALAT ASHAR10 KEUTAMAAN SHALAT ASHAR11 ADZAN SESUDAH HILANGNYA WAKTU12 KEWAJIBAN SHALAT JAMA'AH13 KEUTAMAAN SHALAT JAMA'AH14 KEUTAMAAN PERGI DI AWAL WAKTU UNTUK MENGERJAKAN SHALAT DHUHUR, MEMELIHARA SHALAT ISYA' DAN FAJAR15 KEUTAMAAN MASJID -MASJID DAN TUJUH ORANG YANG DINAUNGI ALLAH 16 APABILA MAKANAN TELAH HADIR17 APABILA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENUNAIKAN SHALAT DI SAAT IA MEMEGANG MAKANAN19 PERGI MENUJU SHALAT20 SIAPA YANG TERGANGGU OLEH SESUATU DALAM SHALATNYA21 WANITA SENDIRIAN BERADA DALAM SATU SHAF22 KEUTAMAAN ORANG-ORANG YANG LEMAH23 ORANG YANG MENGANGKAT KEPALANYA SEBELUM IMAM24 HAMBA SAHAYA MENJADI IMAM25 MERINGANKAN SHALAT OLEH IMAM26 BERDIRI TEGAK DALAM SHALAT27 PERKATAAN YANG DIUCAPKAN SESUDAH TAKBIR28 MEMANDANG KE LANGIT (KE ATAS)29 MENOLEH DALAM SHALAT30 UCAPAN “AMIN” IMAM DENGAN SUARA KERAS DAN KEUTAMAANNYA31 KEUTAMAAN SUJUD32 MENGUCAPKAN TASBIH DAN BERDOA DI DALAM SUJUD33 DZIKIR SETELAH SHALAT KEUTAMAAN AHLIL HADITS Aku memohon dari Al-Maula Yang Maha Agung pertolongan dan penjelasan dan memohon dari-Nya taufik dan ridha dan menjadikan amalku ini murni untuk wajah- Nya yang Maha Pemurah. Dan aku memohon agar Allah menambahi kami dari ilmu-Nya dan membantu kami untuk menaati-Nya dan menyiarkan hadits Rasulullah SAW, karena itu adalah sebagian besar tujuanku. Maha Suci Allah, Dialah yang kami andalkan dan kepada- Nya kami bersandar. Diriwayatkan dari ibnu Mas'ud r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah membaguskan wajah orang yang mendengar perkataanku, lalu menghafal dan memahaminya, serta menyampaikannya (kepada orang lain). Ada kalanya orang yang memahami figih menyampaikannya kepada orang yang lebih fagih daripada dia.” Maknanya ialah Allah Ta'ala mengkhususkannya dengan keindahan dan kegembiraan, karena ia berusaha dalam menampakkan keindahan ilmu dan memperbarui sunnah. Maka Rasulullah SAW membalasnya dalam doanya untuk orang itu dengan balasan yang sesuai dengan keadaannya dalam memperlakukannya. Di samping itu, siapa yang hafal hadits yang didengarnya dan menyampaikannya seperti yang didengarnya tanpa mengubahnya, seakan-akan ia menjadikan makna hadits itu baru dan segar. Kata “figih” disebut secara khusus, bukan ilmu, untuk memberitahukan bahwa orang yang memahami figih itu tidak kosong dari ilmu. Dari ibnu Abbas r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, rahmatilah para khalifahku. Kami berkata: Ya Rasulallah, siapakah para khalifahmu itu? Rasulullah SAW menjawab: Orang-orang yang meriwayatkan hadits- haditsku dan mengajarkannya kepada orang-orang.” Hadits riwayat Thabarani Tiada keraguan bahwa menyampaikan sunnah-sunnah kepada kaum muslimin sebagai nasihat bagi mereka termasuk tugas para nabi shalawat dan salam Allah atas mereka semuanya. Maka siapa yang melakukan itu adalah khalifah bagi nabi yang dia sampaikan haditsnya. Sebagaimana tidak patut bagi para nabi alaihimus salam untuk mengabaikan musuh- musuh mereka dan tidak menasihati mereka, demikian pula tidak baik bagi pencari hadits dan perawi sunnah untuk memberikannya kepada temannya dan mencegahnya dari musuhnya. Orang yang alim tentang sunnah harus menjadikan keinginannya yang terbesar menyiarkan hadits Nabi SAW yang menyuruh menyebarkan hadits darinya. Beliau bersabda: “Sampaikan hadits dariku, walaupun satu ayat.” Hadits ini riwayat Bukhari. Al-Madhari berkata: Yakni sampaikan hadits-hadits dariku, walaupun sedikit. Al-Baidhawi rahimahullah berkata: Sesungguhnya Nabi SAW hanya mengatakan: “Walaupun satu ayat dan bukan walaupun satu hadits”. karena perintah menyampaikan hadits bisa dipahami darinya dengan yang lebih utama. Karena meskipun ayat-ayat itu tersebar dan banyak penghafalnya, Allah Ta'ala menjamin penjagaan dan perlindungannya dari kehilangan dan penyelewengan. Inilah yang mendorong orang yang menukil hadits-hadits ini untuk mencetaknya dan menyebarkannya di berbagai negeri demi mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala dan melayani agama dan kaum muslimin dan mencintai rasul termulia Shallallahu alaihi wa sallam dan menambahkannya dengan 2000 hadits dari Sahih Muslim. Imam dari para imam, Malik rahimahullahu Ta'ala berkata: Telah sampai padaku bahwa para ulama akan ditanya pada hari kiamat tentang penyampaian ilmu mereka sebagaimana para nabi alaihimus sholatu was salam akan ditanya. Sufyan Ats-Isauri berkata: Aku tidak tahu ilmu yang lebih utama daripada ilmu hadits bagi siapa yang menginginkan ridha Allah. Orang-orang membutuhkannya hingga mengenai makanan dan minuman mereka dan ia lebih utama daripada shalat sunnah dan puasa sunnah, karena hukumnya fardhu kifayah. Dalam hadits Usamah bin Zaid r.a. dari Nabi SAW disebutkan bahwa beliau bersabda: “Ilmu ini dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka singkirkan darinya penyelewengan orang-orang yang melampaui batas dan pemalsuan orang- orang yang berbuat batil dan penakwilan orang-orang yang bodoh.” Hadits ini diriwayatkan sejumlah sahabat Nabi SAW radhiyallahu anhum. An-Nawawi rahimahullah berkata dalam At-Tahdzib: Ini adalah pemberitahuan dari Nabi SAW tentang perlindungan dan penjagaan atas ilmu dan keadilan para rawinya. Dan Allah Ta'ala mengadakan dalam setiap masa generasi dari orang-orang adil yang membawanya dan menyingkirkan penyelewengan darinya sehingga tidak hilang. Ini adalah penegasan tentang keadilan para rawinya dalam setiap masa. Demikianlah yang terjadi dan segala puji bagi Allah dan itu termasuk tanda-tanda kenabian. Tidaklah membahayakan bahwa sebagian orang fasik mengetahui ilmu hadits, karena hadits itu hanya memberitahu bahwa orang-orang adil meriwayatkannya, bukannya tidak ada orang lain yang tidak mengetahui ilmu itu. Di samping itu, ilmu yang diketahui orang fasik bukanlah ilmu yang sebenarnya, karena mereka tidak mengamalkannya. Al-Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu anhu telah mengisyaratkan kepada hal itu dalam perkataannya: Tidak ada ilmu kecuali dengan ketakwaan, dan tidak ada akal, kecuali disertai adab. Ibnul Qaththan berkata: “Tidak ada di dunia pembuat bid'ah, melainkan ia membenci ahli hadits.” Termasuk kemuliaan ahli hadits ialah yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku di antara orang-orang pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat untukku.” Ibnu Hibban berkata dalam kitab Shahihnya: Dalam hadits ini terdapat penjelasan yang benar, karena tidak ada kaum dari umat ini yang lebih banyak membaca shalawat untuknya daripada mereka (ahlil hadits). Abul Yaman ibnu Asakir berkata: Berbahagialah ahlil hadits. Allah Ta'ala memperbanyak kabar gembira ini. Allah Ta'ala telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dengan keutamaan terbesar ini. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan nabi mereka Muhammad SAW dan yang terdekat di antara mereka insya Allah Ta'ala untuk menjadi perantara pada hari kiamat kepada Rasulullah SAW. Karena mereka mengabadikan namanya di kitab-kitab mereka dan memperbarui shalawat dan salam untuknya dalam sebagian besar waktu di majelis-majelis pengkajian mereka dan penyampaian hadits serta pelajaran-pelajaran mereka. Mereka ini insyaAllah golongan yang selamat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita dari golongan mereka dan membangkitkan kita dalam kelompok mereka dan memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang tepat dan benar serta memberi perbaikan dan kebahagiaan kepada kita. Semoga Allah menerima amalku dan memberinya pertolongan. Semoga Allah meridhai Al-Imam Bukhari dan Asy-Syeikh Al-Qasthallani. Keduanya adalah sumber amalku dan kebaikan dari kitabku. “Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam.” Ash-Shaaffaat: 180-182 Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. Yunus: 57-58 Kitab Permulaan Turun Wahyu 1. AWAL TURUNNYA WAHYU KEPADA RASULULLAH SAW Diriwayatkan dari Aisyah Ummil mukminin Radhiyallahu anha bahwa Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, bagaimana wahyu datang kepadamu?” Rasulullah SAW menjawab: “Kadang-kadang ia datang kepadaku seperti bunyi lonceng dan itu adalah paling berat aku rasakan. Ketika kejadian itu berlalu, aku telah hafal apa yang dikatakannya. “Kadang-kadang malaikat itu menampakkan diri kepadaku dalam rupa seorang laki-laki. la berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya.” Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Aku telah melihat wahyu turun kepadanya di hari yang sangat dingin. Setelah kejadian itu berakhir, ternyata dahinya mengeluarkan keringat yang deras.” Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa ia berkata: Pertama kali wahyu diturunkan kepada Rasulullah SAW berupa mimpi yang baik dalam tidur. Beliau tidak mengalami mimpi, melainkan datang seperti sinar pagi. Kemudian beliau suka menyendiri di gua Hira dan menjauhi dosa. Di situ beliau beribadah selama beberapa malam sebelum rindu kepada istrinya dan menyiapkan bekal untuk ibadah itu. Kemudian beliau kembali kepada Khadijah Radhiyallahu anha, lalu menyiapkan bekal untuk ibadah itu hingga datang wahyu kepadanya di saat beliau berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata: Bacalah! Nabi SAW menjawab: Aku tidak bisa membaca. Beliau berkata: Malaikat itu memegangiku hingga aku merasakan kepayahan yang sangat. Kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca. la memegangiku dan menekanku untuk kali yang kedua hingga aku merasakan kepayahan yang sangat. Kemudian ia melepaskanku dan berkata: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca. la memegangiku dan menekanku untuk kali yang ketiga, kemudian melepaskanku. la berkata: “Iqra' bismi rabbikal ladzi khalaq. Khalaqal insaana min 'alaq. Iqra' wa rabbukal akramu.” (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah). Al-Alaq: 1-3 Rasulullah SAW pulang membawa ayat-ayat itu. Hatinya gemetar. Beliau masuk kepada Khadijah binti Khuwailid Ummul mu'minin radhiyallahu “anha seraya berkata: Selimutilah aku, selimutilah aku. Maka mereka menyelimutinya hingga lenyap rasa takutnya. Rasulullah SAW menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Khadijah dan berkata: Aku khawatir atas diriku. Khadijah berkata kepadanya: Sekali-kali tidak. Demi Allah, Allah tidak menghinakanmu untuk selamanya. Sesungguhnya engkau menyambung hubungan dengan para kerabat, memikul beban, memberi orang yang tidak punya, menghormati tamu dan menolong orang-orang yang susah. Kemudian Khadijah membawanya ke tempat Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza putra paman Khadijah. Waraqah memeluk agama Nasrani di zaman jahiliyah. la menulis kitab Injil dengan bahasa itu sebanyak yang dikehendaki Allah. Waraqah seorang yang sangat tua dan telah buta. Khadijah berkata kepadanya: Hai putra paman, dengarlah dari putra saudaramu. Waraqah berkata kepada Nabi SAW: Hai putra saudaraku, apa yang kau lihat? Rasulullah SA menceritakan kepadanya kejadian yang dilihatnya. Waraqah berkata: Ini adalah pembawa rahasia (malaikat) yang diturunkan Allah kepada Musa. Kiranya aku masih muda di masa itu. Kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu. Maka Rasulullah SAW berkata: Apakah mereka akan mengusirku? Waraqah menjawab: Ya. Tidaklah seorang lelaki membawa agama seperti yang engkau bawa, melainkan ia dimusuhi. Jika aku mendapati masa kenabianmu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat. Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu berhenti. Maksud dan penjelasan hadits wahyu Allah Ta'ala memelihara Nabi SAW dan memberinya taufik dan ilham dengan hikmah. Allah Ta'ala mengutamakannya dengan hidayah. Maka sebagaimana dikatakan oleh Al-Karmani: Nabi SAW diberi permulaan tanda-tanda kenabian dan kemuliaan berupa mimpi yang benar, suka menyendiri dan beribadah serta ketekunannya dalam melakukannya. Hakikat mimpi yang baik ialah bahwa Allah Ta'ala menciptakan dalam hati orang yang tidur atau indera-inderanya segala sesuatu sebagaimana Dia menciptakannya pada orang yang tidak tidur. Allah SWT melakukan apa yang Dia kehendaki tanpa terhalang Oleh tidur maupun lainnya. Boleh jadi hal itu terjadi dalam keadaan jaga sebagaimana Rasulullah SAW melihatnya dalam tidur. Dan boleh jadi Allah Ta'ala menjadikan apa yang dilihatnya sebagai tanda atas hal- hal lain yang diciptakannya dalam keadaan kedua atau Allah Ta'ala telah menciptakannya dan terjadi sebagaimana Dia menjadikan mendung sebagai tanda hujan. Engkau lihat kasih sayang Allah SWT kepada kekasih-Nya. Dia mendahulukan baginya tanda-tanda risalah dan kabar-kabar gembira berupa pemeliharaannya. Para ulama berkata: Sesungguhnya wahyu itu dimulai dengan mimpi supaya malaikat tidak mengejutkannya dan mendatanginya dengan membawa tanda kenabian yang terang secara mendadak sehingga tidak bisa ditanggung oleh kekuatan manusia. Allah Azza wa jalla telah memberi taufik kepada Sayyidina Rasulullah untuk beribadah dan bersikap ikhlas kepada-Nya. Ada yang mengatakann dengan syari'at Sayyidina Nuh. Ada yang mengatakan: Sayyidina Ibrahim. Ada yang mengatakan: Sayyidina Isma'il. Ada yang mengatakan: Sayyidina Musa. Ada yang mengatakan: Sayyidina Isa hingga datang perintah Allah kepada rasul-Nya. Al-Karmani berkata: Hikmah dalam penekanannya (ketika menerima wahyu) ialah supaya beliau bisa berkonsentrasi dan memusatkan perhatian pada urusannya dengan menghadirkan hatinya untuk mendengarkan apa yang dikatakan Jibril kepadanya. Dan Jibril mengulanginya tiga kali supaya beliau lebih memahaminya. Ini mengandung pelajaran bagi pengajar agar berhati-hati dalam mengingatkan pelajar dan menghadirkan segenap hatinya. Di sini terdapat teladan bagi pendidik agar bertindak bijaksana dan menggunakan kekerasan dengan perlahan serta memperhatikan buah pengajarannya dengan perhatiannya yang baik. Maka kiaskanlah supaya mereka mematuhi peringatan dan siapa yang bijaksana, hendaklah ia kiaskan kadang-kadang dengan orang yang disayanginya Ketika Nabi SAW merasa takut, beliau berselimut seakan-akan khawatir dirinya tidak kuat melawan perintah itu dan tidak mampu memikul beban wahyu sehingga nyawanya melayang lantaran kerasnya keadaan yang dialaminya ketika berjumpa malaikat pertama kalinya. Demikian kata Al-Qadhi Iyadh. Dan siapa yang takut, ia pun selamat. Dadaku terasa lapang ketika membaca perkataan An-Nawawi rahimahullah: “Saya katakan: “kecuali makna: “aku khawatir atas diriku” adalah ia mengabari Khadijah tentang rasa takut yang menimpanya pertama kali, bukannya ia merasa takut di saat mengabarkan. Sayyidah Khadijah telah menenangkan hatinya dan menghilangkan kekhawatirannya serta meringankan ketakutannya sebagai istri yang bijaksana dan berpendidikan. la bebaskan suaminya dari kesusahan dan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan baginya. Mengapa? Karena ia telah menghasilkan akibat yang baik dari sifat-sifatnya yang terpuji dan luhur serta adab-adabnya yang tinggi. Allah Ta'ala berfirman: “Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” Khadijah radhiyallahu anha menyebut lima sifat dengan mana kerajaan berdiri tegak, keadilan merata, bendera kebahagiaan dibentangkan dan panji kecintaan berkibar: 1. Berbuat baik kepada para kerabat dengan harta atau jasa atau kunjungan atau ucapan salam. 2. Menolong orang yang lemah dan membantu orang yang tidak mampu serta orang yang membutuhkan bantuan. 3. Memberi orang yang tidak punya. 4. Menghormati tamu. 5. Engkau bela kebenaran dan pengikutnya dan ikut serta dalam menolak kezaliman dan menghilangkan kesusahan dari orang: orang yang mengalami musibah. Khadijah r.a. membawanya kepada Waraqah bin Naufal, karena ia tersohor sebagai orang yang berilmu dan beriman kepada Sayyidina Isa Alaihis salam dan meninggalkan penyembahan berhala. Maka Khadijah berkata: Dengarlah dari putra saudaramu. Sebutan putra saudaramu adalah sebagai penghormatan, karena yang sebenarnya ialah kakek Waraqah dan kakek Rasulullah SAW bersaudara sehingga dianggap putra saudara. Waraqah menyebut Jibril sebagai Namus (Pembawa rahasia), karena Allah Ta'ala mengkhususkannya untuk menyampaikan kabar ghaib dan wahyu. Waraqah menyebut Sayyidina Musa untuk memastikan risalah, karena turunnya Jibril kepada Musa telah disepakati antara kaum Yahudi dan Nasrani. Berbeda dengan Isa, karena sebagian kaum Yahudi mengingkari kenabiannya atau karena kaum Nasrani mengikuti hukum-hukum Taurat dan merujuk kepadanya. Wallahu a'lam. Waraqah berjanji akan membelanya dan mendorongnya dengan melagukan syair: Jika benar pembicaraanmu kepada kami, ketahuilah hai Khadijah bahwa Ahmad telah diutus dan Jibril datang kepadanya dan Mikail bersama keduanya dari Allah diturunkan wahyu yang melapangkan dada Tidaklah diragukan bahwa Waraqah beriman pada Nabi Isa Alaihis salam dan membenarkan Sayyidina Rasulullah SAW serta beriman kepadanya. la berkata: Ya Muhammad, kiranya aku masih hidup. niscaya aku akan membelamu dengan pembelaan yang kuat. Tidak lama kemudian ia wafat. Kita ambil kesimpulan dari hadits ini 1. Memperbanyak ibadah dan mengingat Allah. 2. Pendidikan anak-anak dan memelihara adab supaya mereka menjadi tangguh dan tabah. 3. Memperbanyak amal baik untuk menyelamatkan pelakunya dari kesempitan. 4. Banyak membaca shalawat untuk Rasulullah SAW dan mencintainya, mengamalkan sunnahnya dan membela agamanya. “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tidak disentuh oleh siksa (neraka) dan tidak pula mereka berduka cita.” Az- Zumar: 61 Kitab Iman 2. KETAKWAAN, PETUNJUK, RUKUN-RUKUN ISLAM DAN MASALAH-MASALAH AGAMA Ibnu Umar berkata: “Tidaklah hamba mencapai hakikat takwa hingga ia tinggalkan bisikan yang menggoda di dalam dada.” Ibnu Mas'ud berkata: Keyakinan adalah iman seluruhnya. Maksud hadits ini manusia tidak akan sampai kepada derajat orang yang beriman kepada Allah Ta'ala hingga ia tinggalkan bisikan yang menggoda hatinya karena takut terjerumus dalam dosa dan Orang muslim tidak akan mencapai puncak rasa takut kepada Tuhannya hingga ia menjauhi segala sesuatu yang masuk dalam hatinya dan menimbulkan kesempitan dalam dadanya serta tidak ia peroleh pahala darinya. Sayyidina Abdullah bin Umar ibnul Khaththab meriwayatkan atsar yang menyerukan penguatan kemauan untuk percaya kepada Allah Ta'ala dan memusatkan pikiran untuk mentaati-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya hingga mencapai derajat orang-orang bertakwa yang mukhlis. Allah Ta'ala berfirman: “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” Al- Hajj: 34-35. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” Al-Anfal: 2. Al-Karmani berkata: Yang dimaksud hakikat takwa adalah iman, karena yang dimaksud dengan takwa adalah melindungi diri dari syirik. Dan makna ini menunjukkan sebagian kaum mukminin mencapai hakikat iman dan sebagian lagi tidak. Maka iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Abdullah bin Umar seorang lelaki yang shaleh. la banyak mengeluarkan shadagah. Terkadang ia keluarkan shadagah dalam satu majelis 30.000 dirham. Sedikit yang bisa menandinginya dalam hal mengikuti Rasulullah SAW dan menjauhi kesenangan dunia serta mencari jabatan atau lainnya. la hidup 60 tahun sesudah Rasulullah SAW wafat. Abdullah berkata: Aku tidak menyesal atas suatu urusan dunia yang lewat, kecuali ketika aku tidak ikut berperang bersama Ali melawan golongan pemberontak. Abdullah wafat di Makkah sesudah haji pada tahun 73 Hijriah, yaitu tiga bulan setelah terbunuhnya Ibnu Zubair dan dimakamkan di Al-Mahshab. An-Nawawi berkata: Mazhab Salaf adalah bahwa iman itu perkataan, perbuatan dan niat, bertambah dan berkurang. Maksudnya iman adalah mempercayai dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan beramal dengan semua anggota tubuh. Iman bertambah dan berkurang sesuai dengan pertambahan dan kekurangan semua ini. Ibnu Baththal berkata: Mazhab seluruh ahli sunnah, baik salaf maupun khalaf, ialah iman itu merupakan perkataan dan perbuatan yang bisa bertambah dan berkurang. Makna yang menghasilkan pujian bagi hamba dan kecintaan dari kaum mukminin ialah melakukan ketiga perkara ini, yaitu membenarkan, berikrar dan beramal. Tidak ada khilaf bahwa andaikata seseorang berikrar dan beramal tanpa beriktikad atau beriktikad dan beramal dan mengingkari dengan lisannya, maka ia bukan seorang mukmin. Demikian pula andaikata seseorang berikrar atau beriktikad dan tidak mengamalkan kewajiban-kewajiban, ia pun tidak disebut seorang mukmin secara mutlak. An-Nawawi mengomentari hal ini: Barangkali maksudnya kesempurnaan iman, bukan asal iman dan hakikatnya. Kalau tidak begitu, maka setiap orang yang meninggalkan kewajiban sekali, ia pun tidak beriman dan ini adalah rumit. Karena telah jelas bahwa setiap orang yang berikrar dengan lisan dinamakan mukmin oleh Rasulullah SAW secara mutlak. Dari Handhalah bin Abi Sufyan dari Ikrimah bin Khalid dair ibnu Umar ibnul Khaththab r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan. Allah Ta'ala berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Al-Baqarah: 177 “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Al-Mu'minun: 1) dan seterusnya hingga ayat kesebelas. Maksud pembatasan pada lima perkara itu ialah bahwa ibadah itu berupa perkataaan atau lainnya. Yang pertama: Dua kalimat syahadat. Yang kedua ialah meninggalkan atau melakukan sesuatu, yaitu puasa. Ketiga mengenai badan, yaitu shalat. Keempat mengenai harta, yaitu zakat. Kelima ialah campuran antara badan dan harta, yaitu haji. Haji disebutkan lebih dulu daripada puasa, maka ibnu Umar berkata: Tidak puasa Ramadhan dan haji. Demikian aku mendengarnya dari Rasulullah SAW. Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda: “Iman itu terdiri dari 60 cabang lebih sedikit' dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.” Hal itu dilakukan dengan meyakini kebenaran dan bersikap lurus dalam beramal. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi SAW sewaktu ditanya oleh Sufyan Ats-Isauri. yaitu dengan jawaban: Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah, kemudian bersikaplah yang lurus (dalam beramal).” Iktikad bercabang menjadi 16 cabang, yaitu: menuntut ilmu, mengenal pencipta, membersihkan-Nya dari segala kekurangan, beriman kepada sifat-sifat Tuhan seperti hidup, mengetahui. meyakini keesaan Allah. mengakui bahwa segala sesuatu terjadi dan musnah dengan keputusan dan takdir-Nya, beriman pada malaikat-Nya yang disucikan dan berdiam di tempat-tempat suci, mempercayai rasulrasul-Nya yang didukung dengan berbagai mukjizat serta iktikad yang baik mengenai mereka. Meyakini bahwa alam ini diciptakan dan akan musnah, meyakini adanya kehidupan kedua dan pengembalian arwah ke dalam tubuh, mempercayai hari kemudian dengan segala yang ada padanya seperti shirat, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal) dan lainnya yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah SAW, meyakini janji surga dan pahalanya, ancaman neraka dan hukumannya. Amal terbagi menjadi tiga macam Pertama. Amal yang berkaitan dengan manusia sendiri dan terbagi menjadi dua macam: Macam pertama berkaitan dengan batin dan hasilnya ialah pembersihan jiwa dari sifat-sifat rendah yang pokok-pokoknya ada sepuluh, yaitu: serakah makanan, serakah bicara, cinta kedudukan, cinta harta, cinta dunia, dendam, dengki, riya', nifak dan sombong. Di samping itu adalah menghiasi jiwa dengan berbagai keutamaan dan pokok- pokoknya ada tiga belas, yaitu: taubat, rasa takut, harap, zuhud, malu, syukur, menepati janji, sabar, ikhlas, berkata benar, cinta, bertawakkal dan ridha dengan keputusan Allah. Macam kedua berkaitan dengan lahir dan dinamakan ibadah. Cabang-cabangnya ada tiga belas, yaitu: kesucian badan dari hadats dan kotoran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengurusi jenazah, berpuasa di bulan Ramadhan, beriktikaf, membaca Al-Qur’an, pergi haji ke Baitullah, menyembelih korban, menepati nazar, mengagungkan sumpah dan menunaikan kaffarat. Kedua. Amal yang berkaitan dengan manusia dan orang-orang dekatnya serta penghuni rumahnya. Cabang-cabangnya ada delapan. yaitu: memelihara diri dari zina, menikah dan menunaikan hak-haknya, bakti kepada ibu bapak, silaturrahim, menaati tuan dan berbuat baik kepada hamba sahaya serta membebaskannya. Ketiga Amal yang berkaitan dengan orang banyak dan tergantung perbaikan masyarakat. Cabang-cabangnya ada tujuh belas, yaitu: mengurusi pemerintahan kaum muslimin, mengikuti jama'ah, menaati penguasa dan membantu mereka untuk berbuat kebajikan, menghidupkan ajaran-ajaran agama dan menyiarkannya, menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat kemungkaran, menjaga agama dengan mencegah kekufuran dan memerangi kaum kafir, bersiaga di jalan Allah, melindungi jiwa dengan tidak melakukan kejahatan dan menegakkan hak-haknya berupa gishash, diyat, menjaga harta orang lain dengan mencari rezeki yang halal, menunaikan hak-hak dan menjauhi kezaliman, menjaga nasab dan kehormatan manusia dengan melaksanakan hukuman atas perbuatan zina dan tuduhan zina tanpa bukti, melindungi akal dengan mencegah minum minuman yang memabukkan disertai ancaman dan hukuman atas pelakunya, serta menghilangkan bahaya dari kaum muslimin seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. 3. MUSLIM SEMPURNA, CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Orang muslim sejati ialah orang yang tidak mengganggu kaum muslimin dengan lidah dan tangannya, sedangkan Muhajir ialah orang yang meninggalkan larangan Allah.” 4. MEMBERI MAKANAN TERMASUK PENGAMALAN ISLAM Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a. bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW: Pengamalan Islam mana yang paling baik? Nabi SAW menjawab: Engkau beri makanan dan engkau ucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal (dari kaum muslimin). Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: Tidaklah seseorang dari kamu beriman hingga ia menyukai pada saudaranya (sesama muslim) apa yang ia sukai pada dirinya (dalam hal kebaikan). 5. CINTA RASULULLAH SAW TERMASUK IMAN Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa ia berkata: Nabi SAW bersabda: Tidaklah seseorang dari kaum beriman hingga aku lebih dicintainya daripada ayah dan anaknya dan semua manusia. 6. KEMANISAN IMAN Diriwayatkan dari Anas dari Nabi SAW, beliau bersabda: Tiga perkara yang bilamana ada pada seseorang, ia pun merasakan manisnya iman, yaitu: Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada lainnya. Dan bilamana ia mencintai manusia karena Allah dan tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dimasukkan ke dalam neraka. Kecintaan kepada Allah diwujudkan dengan menaati-Nya dan mengamalkan syari'atnya serta menjauhi larangan-Nya di samping banyak menyebut nama-Nya dan memohon ampun kepada Nya. Cinta Rasulullah SAW diwujudkan dengan menegakkan syi'ar-syi'ar agamanya, banyak mengucapkan shalawat untuknya, membela agamanya dan menyeru orang-orang untuk mengikutinya dan mengamalkan sunnahnya. Mencintai manusia karena Allah diwujudkan dengan mencintai makhulk Allah (manusia), menyayangi dan membela mereka dan condong kepada orang-orang shalih. Yang ketiga ialah menjauhi sifat-sifat tercela, membenci maksiat dan membuang akidah kufur serta tidak menyekutukan Allah. 7. PEMBAI'ATAN NABI SAW TERHADAP PARA SAHABATNYA Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit r.a, - seorang yang pernah Ikut perang Badar dan salah seorang pemimpin pada mal Aqabah bahwa Rasulullah SAW berkata kepada sejumlah sahabatnya di sekelilingnya: “Bai'atlah aku dengan syarat kamu tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak melancarkan tuduhan dusta yang kamu adakan di antara tangan dan kakimu dan tidak mendurhakai Allah. Maka siapa yang memenuhinya di antara kamu, Allah akan memberinya pahala. Dan siapa yang melakukan sebagian dari itu (selain syirik) dan dihukum di dunia, maka hukuman itu menjadi tebusan baginya. Dan siapa yang melakukan sebagian dari itu, kemudian Allah menutupinya, maka terserah kepada Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan memaafkannya. Dan jika Dia menghendaki, Dia akan menghukumnya.” Maka kami membai'atnya dengan syarat-syarat itu. 8. MENYEBARKAN SALAM TERMASUK PENGAMALAN ISLAM Diriwayatkan dari Ammar bin Yasir, ia berkata: “Tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, ia pun telah mengumpulkan iman: yaitu berlaku adil terhadap dirimu, memberi salam kepada setiap orang mukmin dan memberi nafkah (sedekah) dalam keadaan miskin.” 9. MAKSIAT DARI PERBUATAN JAHILIYAH DAN PELAKUNYA TIDAK DIHUKUMI KAFIR, KECUALI DENGAN SYIRIK Abu Dzarr r.a. berkata: Sesungguhnya aku telah memaki seorang lelaki dan menjelekkannya dengan ibunya. Maka Nabi SAW berkata kepadaku: Hai Abu Dzarr, apakah kau menjelekkannya dengan ibunya? Sesungguhnya engkau seorang yang masih mempunyai sifat jahiliyah. Hamba sahayamu adalah saudaramu. Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaanmu. Maka siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari makanan yang dimakannya dan memberinya pakaian dari apa yang dipakainya. Janganlah kamu paksa mereka melakukan pekerjaan yang tidak mampu mereka lakukan. Jika kamu paksa mereka, maka bantulah mereka. 10. PENGAMALAN ISLAM YANG BAIK OLEH MANUSIA Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila hamba masuk Islam dan mengamalkan Islam dengan baik, maka Allah menghapus darinya setiap dosa yang dulu dilakukannya. Dan sesudah itu kebaikan dibalas dengan pahala sepuluh kali lipat hingga 700 kali, sedangkan perbuatan dosa dibalas setimpal, kecuali Allah memaafkannya. Allah Ta'ala memaafkan dosa dengan kehendak-Nya. Hal ini merupakan dalil bagi Ahlus Sunnah bahwa hamba berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah Ta'ala menghendaki, Dia memaafkannya. Dan jika Allah menghendaki, Dia menghukumnya. Keyakinan ini menolak pendapat yang memastikan bahwa pelaku dosa besar masuk neraka, seperti Mu'tazilah. 11. KETAKUTAN ORANG MUKMIN AKAN KEGAGALAN AMALNYA SEDANG IA TIDAK MERASA Diriwayatkan dari Abdullah bahwa Nabi SAW bersabda: “Memaki orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kufur.” Ibnu Baththal berkata: Bukanlah yang dimaksud dengan kufur itu keluar dari agama, melainkan mengingkari hak-hak orang yang dimaki, karena Allah menjadikan mereka bersaudara dan menyuruh mendamaikan di antara mereka. Rasulullah SAW melarang mereka saling memutuskan hubungan dan saling memerangi. Maka beliau menyatakan bahwa siapa yang melakukan itu, ia pun telah mengingkari hak saudaranya yang muslim. Al-Khaththabi berkata: Yang dimaksud dengannya ialah kafir kepada Allah Ta'ala. Hal itu berlaku pada siapa yang melakukannya dengan menganggapnya halal tanpa alasan maupun penakwilan. Adapun orang yang menakwilkan, mereka tidak dihukum kafir maupun fasik, seperti para pembangkang yang melawan imam dengan menakwilkan alasannya. Nabi SAW ingin agar orang muslim yang sempurna menjauhi sikap saling mencela dan memaki serta menjauhi kata-kata yang buruk dan senda gurau yang kotor di samping meninggalkan pertengkaran, permusuhan dan kebencian. Sebaliknya beliau menyeru kepada kerukunan. perkataan yang baik, cinta dan kasih sayang yang membuahkan dan mendatangkan kebaikan. 12. PERTANYAAN JIBRIL KEPADA NABI SAW TENTANG IMAN, ISLAM DAN IHSAN Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Pada suatu hari Nabi SAW keluar menemui orang-orang. Kemudian seorang lelaki mendatanginya dan berkata: Apakah iman itu? Nabi SAW menjawab: Iman ialah bila engkau beriman kepada Allah. para malaikat dan perjumpaan dengan-Nya, beriman kepada rasul-rasul-Nya serta beriman pada kebangkitan dari kubur. Orang itu berkata: Apakah Islam itu? Nabi SAW menjawab: Islam ialah bila engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya, engkau dirikan shalat. engkau tunaikan zakat yang diwajibkan dan engkau berpuasa di bulan Ramadhan. Orang itu berkata: Apakah ihsan itu? Nabi SAW menjawab: Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya. maka sesungguhnya Dia melihatmu. Orang itu berkata: Kapan terjadi kiamat? Nabi SAW menjawab: Orang yang ditanyai tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya: yaitu apabila sahaya perempuan melahirkan tuannya, apabila para penggembala unta hitam saling berlomba meninggikan bangunan dalam lima perkara yang hanya diketahui Allah. Kemudian Nabi SAW membaca: “Innallaha indahu 'ilmus saa'ati (sesungguhnya Allah mempunyai pengetahuan tentang kiamat). Kemudian orang itu pergi. Maka Rasulullah SAW berkata: “Kembalikanlah dia. Namun mereka tidak melihat sesuatu apapun. Kemudian Nabi SAW berkata: Ini Jibril datang mengajari orang-orang agama mereka. Abu Abdillah berkata: Dia jadikan semua itu termasuk iman. Penjelasan hadits Pertama: Beriman kepada Allah artinya percaya kepada-Nya dalam semua urusanmu dan memohon kepada-Nya segala keperluanmu, berlindung dan berharap kepada- Nya, takut kepada-Nya dan mengamalkan kitab-Nya. Di samping itu engkau beriktikad bahwa Allah memiliki segala sifat sempurna dan bersih dari setiap kekurangan. Engkau beriktikad bahwa Allah mempunyai malaikat-malaikat yang berbakti dan rasul- rasul yang terpelihara dari kesalahan (ma'shum), sedangkan Muhammad SAW adalah rasul yang penghabisan. Maka engkau amalkan sunnah-sunnahnya, engkau baca shalawat yang banyak untuknya, engkau agungkan orang-orang yang mengamalkan syari'atnya, berteman dengan mereka dan meneladani mereka. Kemudian engkau harus mempercayai hari pembalasan: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya.” Az-Zalzalah: 7-8. Kedua. Yang dimaksud dengan Islam ialah semua amal baik yang lahir dengan arti mentaati Allah dalam seluruh perintah-Nya dan mengamalkannya serta menjauhi semua larangan-Nya. Iman adalah akidah yang tetap di dalam hati dan menunjukkan pengesaan Allah dan pengagungan-Nya. Keyakinan itulah yang dinamakan penganut peradaban modern sekarang sebagai “dhamir” (hati nurani)”. Ya. kebersihan batin dan rasa takut kepada Allah termasuk jalan yang menyampaikan kepada ridha Allah SWT. Dan kesimpulan dari semua itu adalah iman kepada Allah SWT. Islam adalah ketundukan pada lahirnya dan buah yang dekat dengan iman. Al-Khaththabi berkata: Orang muslim bisa menjadi mukmin dan bisa pula tidak. Orang mukmin adalah muslim selamanya. Orang mukmin pasti seorang muslim, bukan sebaliknya. Dasar iman adalah membenarkan dan dasar Islam adalah penyerahan diri. Ada kalanya manusia ini muslim, yakni tunduk pada lahirnya, tidak tunduk pada batinnya. Terkadang ia benar dalam batinnya, namun tidak tunduk pada lahirnya. Ketiga: Ihsan ialah beramal secara ikhlas karena Allah Ta'ala, sebab orang yang riya' amalnya menjadi batal hingga ia menganiaya dirinya, yakni membebaninya dengan dosa-dosa. Maka dikatakan kepadanya: “berbuat baiklah (ihsan) kepada dirimu”, dan beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalau tidak, maka engkau akan binasa. An-Nawawi berkata: Ini (ihsan) adalah dasar agama yang besar dan kaidah penting dari Islam. Ihsan adalah andalan para shiddiq, keinginan para penempuh jalan Allah, harta berharga orang-orang arif dan adab orang-orang shaleh. Kesimpulan maknanya ialah engkau beribadah kepada Allah sebagai orang yang melihat Allah dan Dia melihatnya. Karena hal itu akan menimbulkan sikap tunduk dan ikhlas, menjaga hati dan anggota tubuh serta memperhatikan adab dalam ibadahnya. semua amalmu dan milikilah keikhlasan sempurna dalam ibadahmu. Perhatikanlah Tuhanmu dalam keadaan sembunyi dan terangterangan supaya engkau hidup bahagia di masa hidupmu dan sesudah mati. Semua itu dikumpulkan oleh kata “ad-diin”. Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". Ali Imran: 85 Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama. Al-Karmani berkata: Maka diketahuilah bahwa Islam, Iman dan Ad-Diin adalah satu dan itulah yang dimaksud oleh Al-Bukhari rahimahullah. 13. KEUTAMAAN ORANG YANG MEMBERSIHKAN AGAMANYA Diriwayatkan dari Amir, ia berkata: Aku mendengar An-Nu'man bin Basyir r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Segala sesuatu yang halal itu adalah jelas dan yang haram adalah jelas, sedangkan di antara keduanya ada hal-hal yang tersamar dan banyak orang yang tidak mengetahuinya. Maka siapa yang menghindari hal-hal yang tersamar, ia pun telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam hal-hal yang tersamar, ia pun seperti penggembala di sekitar tempat terlarang dan nyaris masuk di dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja mempunyai tempat terlarang dan sesungguhnya tempat terlarang Allah di bumi-Nya adalah perbuatan maksiat yang dilarang-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Dan apabila daging itu rusak, maka seluruh tubuh menjadi rusak. Sesungguhnya daging itu adalah hati. Penjelasan hadits Nabi SAW ingin membimbing muslim sempurna untuk mencari makanan, minuman dan pakaian yang halal dengan bekerja secara halal serta menikahi perempuan yang halal. Dan orang muslim patut meninggalkan perkara-perkara yang tersamar untuk melindungi agama dan kehormatannya. An-Nawawi berkata: Artinya segala sesuatu itu ada tiga macam: halal yang jelas dan tidak tersembunyi kehalalannya seperti roti, buah-buahan, berbicara, berjalan dan lainnya. Dan haram yang jelas seperti khamar, bangkai, darah, zina, dusta, dan semacam itu. Kemudian yang tersamar, yaitu yang tidak jelas kehalalan dan keharamannya dan diketahui para ulama. Orang yang wara' menjauhi perkara yang tersamar supaya selamat. 14. AGAMA ADALAH NASIHAT Nabi SAW bersabda: “Agama adalah nasihat bagi Allah dan rasulNya, para imam muslimin, dan kaum awam mereka. Allah Ta'ala berfirman: “Idza nashahuu lillahi wa rasuulihi (apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan rasul-Nya).” At-Taubah: 91. Penjelasan hadits Tonggak agama adalah nasihat (keikhlasan). Nasihat bagi Allah Ta'ala ialah beriman pada-Nya dan mensifatkan-Nya sebagaimana mestinya, tunduk kepada-Nya lahir batin, mencintai-Nya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi perbuatan yang dilarang-Nya dan berjihad dalam mengembalikan orang-orang durhaka kepada-Nya. Nasihat bagi Nabi SAW ialah dengan mempercayai risalahnya, beriman pada semua ajaran yang dibawanya, mengagungkan dan membelanya dalam keadaan hidup dan mati. Selanjutnya menghidupkan sunnahnya dengan mempelajari dan mengajarkannya, mengamalkan akhlak dan adabnya, mencintai ahli baitnya, para pengikut dan orang- orang yang dicintainya. Nasihat bagi para imam (pemimpin) adalah dengan membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, menaati mereka, mengingatkan mereka di saat lalai dengan lemah lembut, memaafkan kesalahan mereka dan mengembalikan kepada mereka hati orang-orang yang membangkang. Adapun para imam mujtahid, maka nasihat kepada mereka adalah dengan menyiarkan ilmu dan riwayat hidup mereka serta berbaik sangka kepada mereka. Nasihat bagi kaum awam muslimin adalah dengan menyayangi mereka, memberi manfaat kepada mereka, mengajari mereka ilmu yang berguna dan mencegah berbagai macam gangguan terhadap mereka. Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah, ia berkata: “Aku membai'at Rasulullah SAW untuk mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan menasehati setiap muslim.” Penjelasan hadits Nasihat itu hukumnya fardhu kifayah sesuai dengan kemampuan bilamana diketahui bahwa nasihatnya akan diterima dan ia pun merasa aman dari gangguan atas dirinya. Jika merasa takut, maka ia bebas memilih. Maka siapa yang mengetahui adanya cacat pada barang yang dijual, ia pun wajib menjelaskannya, baik sebagai penjual atau orang lain. Dan ia harus menasehati dirinya dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan. Al-Qadhi Iyadh berkata: la membatasi pada shalat dan zakat lantaran kemasyhuran kedua perkara itu dan tidak menyebut puasa serta lainnya, karena sudah termasuk dalam perbuatan mendengar dan taat. Adalah Jarir r.a. apabila membeli atau menjual sesuatu, ia berkata kepada temannya: Ketahuilah bahwa apa yang kami ambil darimu lebih kami sukai daripada apa yang kami berikan kepadamu, maka pilihlah. Al-Qurthubi berkata: Pembai'atan Nabi SAW terhadap para sahabatnya adalah sesuai keperluannya untuk memperbarui janji atau menegaskan perintah. Oleh sebab itu kata-kata mereka berbedabeda. Ibnu Baththal berkata mengenai hadits ini bahwa nasihat dinamakan agama dan Islam, sedangkan agama berlaku atas perbuatan sebagaimana berlaku atas perkataan. Ada yang mengatakan: Penasihat tidak dianggap menasihati. kecuali bila ia menasihati dirinya dan bergiat dalam menuntut ilmu untuk mengetahui apa yang wajib dilakukannya. Sayyidina Jarir berkata pada hari meninggalnya Mughirah bin Syu'bah setelah memuji syukur kepada Allah: Hendaklah kalian takut kepada Allah sendiri, tiada sekutu bagi- Nya dan bersikap sabar dan tenang hingga datang kepada kalian seorang pemimpin. Jarir menasihati mereka karena takut terjadi kekacauan dan pergolakan serta huru hara selama menunggu pemimpin baru. Kitab Ilmu 15 ORANG YANG DITANYAI ILMU KETIKA IA SIBUK BICARA Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., ia berkata: Di saat Nabi SAW sedang duduk dalam suatu majelis berbicara kepada orang banyak, tiba-tiba datang seorang dusun kepadanya. Ia berkata: Kapan terjadi kiamat? Namun Rasulullah SAW terus berbicara. Maka seseorang di antara mereka berkata: la mendengar apa yang dikatakannya, namun tidak menyukai perkataannya. Seorang yang lain berkata: Ia (Nabi SAW) tidak mendengar. Setelah Nabi SAW menyelesaikan pembicaraannya, beliau berkata: Di mana orang yang bertanya tentang kiamat? Orang itu menjawab: Inilah aku. ya Rasulallah. Nabi SAW berkata: Apabila amanat disia-siakan, tunggulah kiamat. Orang itu berkata: Bagaimana cara menyia-nyiakannya? Nabi SAW menjawab: Apabila urusan (jabatan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat. Penjelasan hadits Sayyidina Rasulullah SAW memberi pelajaran kepada para sahabatnya, kemudian seorang dusun bertanya. Namun beliau tidak menjawabnya untuk mengajarinya adab ketika bertanya. Seharusnya ia menunggu sampai Rasulullah SAW selesai berbicara. Dalam hadits ini terdapat adab pelajar untuk tidak bertanya kepada orang alim selama ia sibuk bicara atau sibuk dengan lainnya. Hadits ini menunjukkan sikap lemah lembut terhadap pelajar, meskipun kasar di waktu bertanya atau bodoh. Hadits ini menunjukkan boleh bertanya kepada orang alim bila si penanya tidak mengerti, yaitu: Bagaimana cara menyia-nyiakannya? Ibnu Baththal berkata: Hadits ini menunjukkan kewajiban mengajari penanya. Para pemimpin harus mengangkat orang yang memahami agama dan menunaikan amanat serta memperhatikan umat. Apabila mereka mengangkat orang yang tidak memahami agama. maka mereka telah menyia-nyiakan amanat yang diwajibkan Allah Ta'ala atas mereka. Telah diriwayatkan dari Nabi SAW: Kiamat tidak terjadi hingga orang khianat diserahi amanat. Kiamat akan terjadi bila orang-orang bodoh berkuasa dan pengikut kebenaran tidak mampu menegakkan dan membelanya. Demikian dikatakan oleh Al- Karmani. Tanda-tanda kiamat telah nampak sekarang. Kebodohan dan kemunafikan telah tersebar luas, sifat khianat telah merajalela, demikian pula pelacuran. Rasa malu telah lenyap, kebohongan dan sifat penakut terdapat di mana-mana, kepercayaan telah menjadi sedikit dan ketenteraman telah hilang. Maka tiada daya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu kaum muslimin wajib berusaha memahami Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta mengamalkannya. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan dan mengganti kesulitan dengan kemudahan serta menghilangkan kesempitan ini. Sesungguhnya Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. 16. MENGAJAR ILMU DENGAN SUARA KERAS Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Nabi SAW berada di belakang kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan. Nabi SAW menyusul kami di saat kami terburu-buru untuk menunaikan shalat, karena waktunya tinggal sedikit. Kami berwudhu dan mengusap kaki-kaki kami. Maka beliau berseru dengan suara keras: Celakalah tumit yang disentuh api dua atau tiga kali. Hadits di atas menunjukkan kewajiban membasuh kaki di waktu berwudhu, bukan mengusapnya. 17. TENTANG ILMU DAN FIRMAN ALLAH TA'ALA Diriwayatkan dari Syarik bin Abdillah bin Abi Namir bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata: Di saat kami sedang duduk bersama Nabi SAW di masjid, tiba-tiba masuk seorang lelaki yang mengendarai seekor unta, lalu merebahkannya di halaman masjid. kemudian ia mengikatnya. Kemudian ia berkata kepada mereka: Mana di antara kalian yang bernama Muhammad? Ketika itu Nabi SAW sedang duduk bersandar di antara kami. Kami berkata: Inilah dia orang yang putih dan bersandar itu. Orang itu berkata kepadanya: Wahai putra Abdul Muththalib. Nabi SAW berkata kepadanya: Aku telah menjawabmu. Kemudian orang itu berkata kepada Nabi SAW: Aku akan menanyaimu dengan pertanyaan yang berat, namun jangan marah kepadaku. Nabi SAW berkata: Tanyakanlah apa yang ingin engkau tanyakan. Orang itu berkata: Apakah Allah mengutusmu kepada semua manusia? Nabi SAW menjawab: Allahumma, ya. Orang itu berkata: Aku bertanya kepadamu demi Allah, apakah Allah menyuruhmu agar kita mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam? Nabi SAW menjawab: Allahumma, ya. Orang itu berkata: Aku bertanya kepadamu demi Allah, apakah Allah menyuruhmu agar kita berpuasa di bulan ini (Ramadhan) dalam setiap tahun? Nabi SAW menjawab: Allahummah, ya. Orang itu berkata: Aku bertanya kepadamu demi Allah, apakah Allah menyuruhmu mengambil sedekah (zakat) ini dari orang-orang kaya kita dan membagikannya kepada orang-orang miskin kita? Nabi SAW menjawab: Allahumma, ya. Orang itu berkata: Aku beriman kepada wahyu (agama) yang anda bawa. Aku adalah seorang utusan dari kaumku di belakangku. Aku adalah Dhimam bin Tsa'labah saudara bani Sa'ad bin Bakr. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas: la diberitahu bahwa Rasulullah SAW mengutus seorang lelaki untuk membawa suratnya dan menyerahkannya kepada pembesar Bahrain. Kemudian pembesar Bahrain menyerahkannya kepada Kisra. Ketika Kisra selesai membacanya, ia merobek surat itu. Maka aku menduga ibnul Musayyab berkata: Kemudian Rasulullah SAW mendoakan kebinasaan atas mereka hingga mereka dihancurkan oleh Allah. 18. ILMU SEBELUM PERKATAAN DAN AMAL Al-iImam Bukhari berkata mengenai firman Allah Ta'ala: “Fa'lam annahu laa ilaha illallahu (maka ketahuilah bahwasanya tiada Tuhan selain Allah). Allah Ta'ala memulai dengan ilmu. Para ulama adalah pewaris para nabi. Mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, ia pun mengambil bagian yang banyak: Dan siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. Allah azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” Faathir: 28. Allah Ta'ala berfirman: “dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu.” Al-Ankabut: 43. Allah Ta'ala berfirman: “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” Al-Mulk: 10. Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” Az-Zumar: 9. Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Dia menjadikannya pandai tentang ilmu agama. Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar.” Abu Dzar berkata: “Andaikata kalian letakkan pedang yang tajam di atas ini, sambil menunjuk ke belakangnya, kemudian aku mengira bahwa aku bisa melaksanakan perkataan yang aku dengar dari Nabi SAW sebelum kalian mengizinkan bagiku, niscaya aku melaksanakannya.” Ibnu Abbas r.a. berkata: “Jadilah kalian rabbani yang sabar, fugaha dan ulama. Dikatakan bahwa rabbani ialah orang yang mendidik orang-orang dengan ilmu yang kecil sebelum ilmu yang besar.” 19. PENENTUAN WAKTU-WAKTU OLEH NABI SAW UNTUK MENASEHATI DAN MENGAJAR PARA SAHABATNYA Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a.: la berkata: “Adalah Nabi SAW menetapkan waktu-waktu tertentu dalam beberapa hari untuk memberi nasihat supaya kami tidak merasa jemu." 20. RASA IRI DALAM MENDAPATKAN ILMU DAN HIKMAH Umar ibnul Khaththab r.a. berkata: “Tuntutlah ilmu sebelum kalian diangkat menjadi pemimpin.” Penjelasan hadits Ibnu Baththal berkata: Umar mengatakan itu, karena siaapa yang diangkat orang- orang menjadi pemimpin, ia pun merasa malu duduk belajar, karena takut terganggu kepemimpinannya di antara orang-orang. Yahya bin Ma'in berkata: Barangsiapa terburu-buru menjadi pemimpin, ia pun kehilangan ilmu yang banyak. Ada yang mengatakan: Sesungguhnya kepemimpinan itu tercapai dengan ilmu. Semakin bertambah ilmunya, semakin bertambah kepemimpinannya. Umar r.a. bermaksud mendorong pertambahan ilmu sebelum menjadi pemimpin untuk mengagungkan kepemimpinan dengan ilmu. Para sahabat Nabi SAW telah belajar ilmu dalam usia lanjut. Demikian dikatakan oleh Karmani. 21. KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU DAN MENGAJAR Diriwayatkan dari Abi Musa dari Nabi SAW, beliau bersabda: Perumpamaan petunjuk untuk ilmu yang Allah mengutusku untuk menyampaikannya adalah seperti hujan yang banyak menimpa bumi. Sebagian bumi itu ada yang bersih dan menerima air hingga menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak. Sebagian lagi ada yang tandus dan menahan air, maka Allah memberi manfaat orang-orang dengannya hingga mereka minum dan memberi minum ternak mereka serta menanam tanaman. Sebagian tanah lainnya adalah tanah tandus yang tidak menahan air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang mengerti tentang agama Allah dan bermanfaat baginya agama yang aku diutus Allah untuk menyampaikannya. Maka ia memahami agama itu dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepala terhadap pelajaran itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya. Penjelasan hadits An-Nawawi berkata: Perumpamaan ini berarti bahwa tanah itu ada tiga macam. Begitu pula orang-orang. Macam tanah yang pertama mendapat manfaat dari hujan hingga hidup setelah dulunya mati dan menumbuhkan tanaman sehingga orang-orang dan ternak dapat mengambil manfaatnya. Macam pertama dari orang-orang itu menerima petunjuk dan ilmu, lalu menyimpannya dan hidup hatinya. la pun mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain hingga ia mendapat manfaat dan memberi manfaat. Macam tanah yang kedua adalah yang tidak bisa mengambil manfaat, tetapi menghasilkan faedah, yaitu menyimpan air untuk selainnya hingga orang-orang dan ternak memanfaatkannya. Begitu pula macam manusia yang kedua, mereka mempunyai hati yang bisa menyimpan, tetapi tidak mempunyai akal yang cerdas maupun ilmu yang kokoh untuk menghasilkan hukum-hukum dan makna-makna serta tidak bergiat dalam mengamalkannya. Mereka menyimpannya hingga datang ahli ilmu untuk memberi manfaat dan mengambilnya. Maka engkau bisa mengambilnya dari mereka dan mendapat manfaat dengannya. Mereka ini memberi manfaat dengan apa yang sampai pada mereka. Macam tanah yang ketiga adalah tanah tandus yang tidak menumbuhkan tanaman. Tanah itu tidak bisa mengambil manfaat dari air dan tidak bisa menyimpannya untuk dimanfaatkan oleh lainnya. Begitu pula macam ketiga dari manusia tidak mempunyai hati yang bisa menerima maupun pemahaman yang mengerti. Apabila mendengar ilmu, mereka tidak mendapat manfaat dengannya dan tidak menyimpannya untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Yang pertama adalah untuk pengambil manfaat yang memberi manfaat. Yang kedua untuk pemberi manfaat yang tidak mendapat manfaat dan yang ketiga untuk lainnya. Yang pertama adalah isyarat bagi para ulama. Yang kedua adalah isyarat kepada para pembawa ilmu. Dan yang ketiga kepada orang yang tidak berilmu dan tidak pula membawanya. Demikian dikatakan oleh Karmani. 22. PENGANGKATAN ILMU DAN MUNCULNYA KEBODOHAN Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat ialah bila ilmu diangkat, kebodohan tersebar, banyak orang minum khamar, nampak (banyak) perbuatan zina, wanita menjadi banyak dan laki-laki menjadi sedikit hingga lima puluh orang perempuan untuk satu orang laki-laki.” Penjelasan hadits Nabi SAW telah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari para hamba sekaligus, tetapi mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Ketika tidak tersisa seorang alim pun, orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Maka ketika ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu hingga mereka tersesat dan menyesatkan. Umar bin Abdul Aziz menulis: Hendaklah kalian sebarkan salam dan duduk (mengajar) hingga orang yang tidak tahu bisa mengetahui. Karena ilmu tidak binasa hingga menjadi rahasia (tidak tersiar). Sesungguhnya ajaran-ajaran syara' ialah berkata benar, beristigomah (bersikap lurus) dan rasa malu. Apabila engkau melihat selain dari sifat-sifat ini dalam suatu lingkungan, maka hukumilah bahwa ia telah melanggar agama, imannya telah rusak dan pengamalan Islamnya telah lemah serta tunggulah dekatnya hari kiamat sebagaimana diberitahukan kepada kita oleh Nabi SAW, Allah Ta'ala berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menampakkan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ar-Rum: 41. Yakni manusia akan ditimpa berbagai musibah berupa krisis, paceklik, sedikit hujan atau banjir besar, sedikit produksi dan pendapatan dalam pertanian, perdagangan yang sepi, banyaknya kematian pada manusia dan hewan, banyaknya kebakaran dan lenyapnya keberkahan dari segala sesuatu disebabkan banyaknya maksiat dan dosa, kejahatan mereka dan kebejatan wanita-wanita mereka. An-Nasafi berkata: Maksudnya agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan di dunia sebelum Allah menghukum mereka atas seluruh perbuatan itu di akhirat. 23. MENGULANGI PEMBICARAAN TIGA KALI Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi SAW bahwa apabila beliau berbicara dengan suatu perkataan, diulanginya tiga kali supaya bisa dimengerti. Dan apabila mendatangi sekelompok orang, beliau memberi salam kepada mereka tiga kali. Penjelasan hadits Al-Khaththabi berkata: Nabi SAW mengulangi perkataannya tiga kali, karena barangkali di antara hadirin ada yang kurang mengerti tentang apa yang dikatakannya, sedangkan Nabi SAW diperintahkan untuk menjelaskan dan menyampaikannya. Dan boleh jadi disebabkan perkataan yang diucapkannya termasuk macam perkataan yang rumit sehingga beliau ingin menghilangkan kerumitan dan kesamaran darinya. Adapun pemberian salam sebanyak tiga kali, maka sangat besar kemungkinannya hal itu dilakukan ketika meminta izin masuk. Diriwayatkan dari Sa'ad bahwa Nabi SAW datang kepadanya di rumahnya, lalu memberi salam. Namun Sa'ad tidak menjawabnya. Kemudian beliau memberi salam untuk kali kedua, namun Sa'ad tidak menjawabnya. Kemudian beliau memberi salam untuk kali ketiga, namun Sa'ad tidak menjawabnya. Maka Nabi SAW pergi. Kemudian Sa'ad keluar dan mengikutinya. Sa'ad berkata: Ya Rasulallah, aku telah mendengar ucapan salammu dengan kedua telingaku, tetapi aku ingin memperbanyak berkah ucapan salammu. Demikian dikatakan oleh Karmani. 24. MENJAWAB FATWA Diriwayatkan dari Asma' binti Abu Bakar r.a., ia berkata: Aku mendatangi Aisyah yang sedang shalat. Kemudian aku berkata: Ada apa dengan orang-orang! Maka Aisyah memberi isyarat ke langit. Ternyata orang-orang sedang berdiri. Aisyah mengucapkan: Subhanallah. Aku (Asma”) berkata: Apakah tanda (siksaan Allah)? Aisyah menjawab dengan isyarat kepalanya: Ya. Maka aku (Asma') berdiri untuk menunaikan shalat hingga aku merasa pusing (karena lama berada di terik matahari). Kemudian aku tuangkan air di atas kepalaku. Nabi SAW memuji syukur kepada Allah azza wa jalla, kemudian berkata: Tiada sesuatu yang belum pernah ditunjukkan kepadaku melainkan aku melihatnya di tempatku hingga surga dan neraka. Kemudian diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan mengalami ujian di dalam kuburmu seperti atau mendekati, aku tidak tah, yang mana. Asma' berkata: Dari fitnah Al-Masihud Dajjal. Dikatakan: Apakah yang kau ketahui tentang orang ini? Adapun orang yang beriman atau yang yakin, aku tidak tahu yang mana di antara keduanya, dikatakan Asma'. Maka ia berkata: Muhammad Rasul (utusan) Allah, ia datang kepada kami membawa bukti-bukti yang jelas dan petunjuk. Maka kami menjawab (mematuhi) dan mengikutinya. la adalah Muhammad, tiga kali. Kemudian dikatakan: Tidurlah dalam keadaan baik. Kami telah mengetahui, sungguh engkau seorang yang yakin dengannya. Adapun orang munafik atau orang yang ragu, aku tidak tahu yang mana dikatakan Asma': Maka orang itu berkata: Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku mengatakannya. Penjelasan hadits Sayyidah Asma" adalah saudara Sayyidah Aisyah. la lebih tua sepuluh tahun daripada Aisyah. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa hadits ini mengandung faedah- faedah sebagai berikut. 1. Berlindung kepada Allah dalam menghadapi masalah-masalah penting dan memohon kepada Allah Ta'ala untuk memenuhi keperluan dan menghilangkan kesulitan. 2. Anjuran untuk mandi dan berwudhu serta mengerjakan shalat untuk menghilangkan kesusahan dan kesulitan besar. 3. Ketaatan kepada Allah menyelamatkan dari siksaan. 4. Penetapan siksa kubur, pertanyaan Munkar dan Nakir, keluarnya Dajjal dan kemungkinan melihat Allah Ta'ala oleh Nabi SAW. Dan siapa yang ragu tentang kebenaran Rasulullah SAW dan kebenaran risalahnya, ia pun kafir. 5. Sunnah shalat Kusuf (gerhana matahari) dan melamakan berdiri di dalamnya. 6. Orang perempuan boleh mengucapkan tasbih di dalam shalat. Allah Ta'ala berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang dhalim dan melakukan apa yang Dia kehendaki.” Ibrahim: 27. 25. SERUAN NABI SAW KEPADA DELEGASI ABDUL QAIS AGAR MENJAGA IMAN, ILMU DAN MENGABARI ORANG-ORANG DI BELAKANG MEREKA Malik ibnul Huwairits berkata: Nabi SAW berkata kepada kami: Kembalilah kepada keluarga-keluargamu dan ajarilah mereka. Delegasi Abdul Qais telah datang kepada Rasulullah, maka beliau berkata: Selamat datang rombongan atau delegasi tanpa merasa hina maupun menyesal. Mereka berkata: Kami datang kepadamu dari jarak yang jauh. dan di antara kami dan engkau ada suku Mudhar yang kafir ini. Dan kami tidak bisa datang kepadamu sekarang di bulan Haram. Maka suruhlah kami dengan perkara yang kami beritahukan kepada orang-orang di belakang kami agar kami masuk surga. Kemudian Rasulullah SAW menyuruh mereka melakukan empat perkara dan melarang mereka empat perkara. Beliau menyuruh mereka beriman kepada Allah azza wa jalla sendiri. Nabi SAW berkata: Tahukah kalian apa iman kepada Allah sendiri? Mereka menjawab: Allah dan rasul-Nya lebih tahu. Nabi SAW berkata: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, memberikan seperlima dari rampasan perang. Dan Nabi SAW melarang membuat sari minuman dalam ad-dubba' (labu kering), kendi hijau dan wadah yang bercat hitam. Syu'bah berkata: Barangkali ia mengatakan an-nagiir (batang kurma yang dilubangi) dan barangkali ia mengatakan al-magiir. Nabi SAW berkata: Hafalkan semua ini dan beritahukan kepada orang-orang di belakangmu. 26. DOSA ORANG YANG BERDUSTA TERHADAP NABI SAW Diriwayatkan dari Salamah ibnul Akwa' r.a., ia berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa mengatakan tentang aku apa yang aku tidak mengatakannya, biarlah ia menduduki tempatnya di neraka.” Diriwayatkan dari Ali bin Thalib r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian berdusta mengenai aku, karena siapa yang berdusta mengenai aku, biarlah ia masuk neraka.” Penjelasan hadits Rasulullah SAW berkata mengenai Sayyidina Ali r.a.: Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat. Nabi SAW mengawinkannya dengan putrinya Sayyidatina Fathimah, pemimpin kaum wanita semesta alam. Ali adalah ayah dari Al-Hasan dan Al-Husein dan salah seorang dari sepuluh orang yang dikabarkan masuk surga. la pun termasuk anggota majelis syura yang terdiri dari enam orang dan Rasulullah SAW wafat dalam keadaan ridha kepada mereka. Ali seorang alim rabbani dan pemberani yang masyhur serta seorang zahid yang terdahulu masuk Islam. la ikut dalam seluruh peperangan bersama Rasulullah SAW kecuali Tabuk. Pada waktu itu Nabi SAW menunjuknya sebagai wakilnya di Madinah. Maka Ali berkata: Ya Rasulallah, apakah engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak? Nabi SAW menjawab: Tidakkah engkau senang menempati kedudukan terhadapku seperti Harun terhadap Musa, hanya saja tiada nabi sesudah aku? Pada waktu perang Uhud, Ali terkena 16 hantaman senjata. Pada waktu perang Khaibar, Nabi SAW memberinya bendera dan mengabarkan bahwa kemenangan akan tercapai melalui tangannya. Ilmunya menempati kedudukan tertinggi dan keberaniannya dalam berbagai peperangan sudah terkenal. 27. MENGKHUSUSKAN SUATU KAUM DENGAN ILMU KARENA KHAWATIR MEREKA TIDAK MENGERTI Ali karromallahu wajhahu berkata: “Bicaralah kepada orang-orang dengan apa yang mereka ketahui. Apakah kalian suka Allah dan rasul-Nya didustakan?” Penjelasan hadits Amirul mukminin Ali r.a. ingin agar pembicara berbicara kepada Orang banyak menurut kadar akal mereka dan para pembimbing memilih perkataan yang sesuai dengan maksud pembicaraan. Al-Karmani berkata: Hal itu disebabkan bila seseorang mendengar sesuatu yang tidak dipahaminya dan tidak membayangkan kemungkinannya serta menganggapnya mustahil karena bodoh, ia pun tidak mempercayai keberadaannya. Apabila perkataari itu dihubungkan kepada Allah dan rasul-Nya, maka akan berakibat pendustaan terhadap Allah dan rasul-Nya. 28. RASA MALU UNTUK BELAJAR ILMU DAN MENGAJARKANNYA Mujahid bin Jubair seorang Tabi'iy berkata: “Tidaklah bisa belajar ilmu prang yang malu dan orang yang sombong.” Aisyah berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor, Mereka tidak merasa malu untuk belajar ilmu agama.” Diriwayatkan dari Ummi Salamah, ia berkata: Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: Ya Rasulallah. sesungguhnya Allah tidak merasa malu terhadap kebenaran. Apakah orang perempuan wajib mandi bila ia bermimpi? Nabi SAW menjawab: Apabila ia melihat air (mani). Kemudian Ummu Sulaim menutup mukanya. la berkata: Ya Rasulallah, apakah orang perempuan bermimpi (basah)? Nabi SAW menjawab: Ya, bagaimana ini, dengan apa anak menyerupai ibu? Kitab Wudhu 29. SHALAT TIDAK DITERIMA BILA TANPA BERSUCI Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Shalat orang yang berhadats tidak diterima hingga ia berwudhu.” Seorang lelaki dari Hadhramaut berkata: Apakah hadats itu, hai Abu Hurairah? Abu Hurairah menjawab: Kentut. 30. KEUTAMAAN BERWUDHU & ORANG-ORANG YANG MUKA & ANGGOTANYA PUTIH BERSERI-SERI KARENA BEKAS WUDHU Diriwayatkan dari Nu'aim Al-Mujmir, ia berkata: Aku naik bersama Abu Hurairah r.a. di atas atap masjid, lalu ia berwudhu, kemudian ia berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dengan muka dan anggota tubuh berseri-seri karena bekas wudhu. Maka, barangsiapa di antara kamu sanggup memanjangkan bagian yang putih, hendaklah ia melakukannya." 31 TIDAK PERLU BERWUDHU KARENA RAGU HINGGA IA MERASA YAKIN Diriwayatkan dari Abbad bin Tamim dari pamannya Abdullah bin Zaid bahwa ia mengeluhkan kepada Rasulullah SA orang yang membayangkan bahwa ia merasakan sesuatu dalam shalat. Maka Nabi SAW menjawab: “Janganlah ia pergi hingga ia mendengar suara (dari duburnya) atau merasakan angin (kentut).” 32 TIDAK MENGHADAP KIBLAT DI WAKTU KENCING DAN BUANG AIR BESAR, KECUALI DI DALAM BANGUNAN Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu hendak buang hajat, janganlah menghadap kiblat dan jangan membelakanginya, menghadaplah ke timur atau ke barat.” Penjelasan hadits Maksudnya, menghadaplah ke timur atau ke barat. yaitu bagi penduduk Madinah atau orang-orang yang arah kiblatnya sama dengan mereka. Adapun siapa yang kiblatnya menghadap arah timur atau barat, maka di waktu buang hajat ia menghadap ke selatan atau utara. Rasulullah SAW mengajarkan adab buang hajat, yaitu di tempat yang tersembunyi dan menjauhi orang-orang di padang terbuka dan menghindar dari menghadap tempat-tempat yang suci dan terhormat. 33 LARANGAN BERISTINJA' (CEBOK) DENGAN TANGAN KANAN Diriwayatkan dari Abdullah bin Qatadah dari bapaknya, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas, dan apabila buang hajat, janganlah ia menyentuh zakarnya dengan tangan kanannya.” 34 BERWUDHU TIGA KALI TIGA KALI Diriwayatkan dari Atha' bin Yazid bahwa Humran bekas sahaya Utsman bin Affan r.a. mengabarinya bahwa ia melihat Utsman bin Affan menyuruh mengambil bejana berisi air, lalu ia tuangkan air di atas kedua telapak tangannya tiga kali, lalu Utsman membasuh kedua telapak tangannya. Kemudian ia masukkan tangan kanannya ke dalam bejana, lalu berkumur dan menghirup air ke hidung. Kemudian ia basuh mukanya tiga kali dan kedua tangannya hingga kedua siku tiga kali, kemudian ia mengusap kepalanya. Kemudian ia basuh kedua kakinya hingga kedua mata kaki tiga kali. Kemudian ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian mengerjakan shalat dua raka'at dan tidak mengingat sesuatu (dari urusan dunia dan akhirat), diampunilah baginya dosanya yang lampau." 35 MENGELUARKAN AIR DARI HIDUNG Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa berwudhu, hendaklah ia mengeluarkan air (kotoran) sesudah istinsyag (menghirup air di hidung). Dan siapa yang beristinja' (cebok) dengan batu, hendaklah ia gunakan tiga batu.” Penjelasan hadits Yang membatalkan wudhu ada enam perkara, yaitu: Keluarnya sesuatu dari kemaluan dan dubur, tidur dalam posisi yang memungkinkan keluarnya sesuatu dari dubur, hilangnya akal karena mabuk atau sakit, menyentuh perempuan oleh laki-laki yang bukan mahramnya tanpa penghalang, menyentuh kemaluan manusia dengan bagian bawah telapak tangan dan menyentuh lingkaran duburnya menurut mazhab yang baru. Fardhu wudhu ada enam perkara, yaitu: niat ketika membasuh muka, membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala dan membasuh kedua kaki hingga mata kaki dan berurutan seperti yang kami sebutkan. Sunnahnya ada sepuluh, yaitu: membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana, berkumur dan beristinsyaq, mengusap seluruh kepala, mengusap kedua telinga pada bagian luar dan dalamnya dengan air yang baru, membasuh sela-sela janggut yang lebat, membasuh sela-sela dari jari-jari tangan dan kaki, mendahulukan yang kanan sebelum yang kiri, bersuci tiga kali tiga kali dan muwaalat (membasuh anggota berikutnya sebelum kering anggota yang dibasuh). Beristinja' (cebok) dari kencing dan tahi adalah wajib. Yang lebih utama adalah beristinja' dengan batu, kemudian menyusulkannya dengan air. la boleh membatasi pada air atau tiga batu dengan mana ia membersihkan tempatnya. Apabila ingin membatasi pada salah satu dari keduanya, maka air lebih utama. la hindari menghadap kiblat dan membelakanginya di padang terbuka. la hindari buang hajat kecil dan besar di air yang diam, di bawah pohon yang berbuah di jalan, di tempat yang teduh dan lubang. Janganlah ia bicara ketika sedang buang air keciil atau besar, jangan menghadap matahari dan bulan dan jangan membelakanginya. Yang mewajibkan mandi ada enam perkara: Tiga perkara dialami laki-laki dan perempuan, yaitu pertemuan antara dua kemaluan, keluarnya mani dan kematian. Tiga perkara khusus dialami oleh perempuan yaitu haid, nifas dan melahirkan anak. Sunnah mandi ada lima perkara: menyebut nama Allah, berwudhu sebelumnya, menggosokkan tangan pada tubuh. muwaalat, mendahulukan yang kanan sebelum kiri. Diharamkan pada waktu haid dan nifas delapan perkara, yaitu: Shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf dan membawanya, memasuki masjid, melakukan thawaf, berhubungan badan, menikmati bagian di antara pusar dan lutut. Diharamkan atas orang yang junub lima perkara, yaitu: shalat, membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf dan membawanya, melakukan thawaf dan tinggal di masjid. Diharamkan atas orang yang berhadats tiga perkara, yaitu: shalat, thawaf, menyentuh mushaf dan membawanya. 36 MEMULAI DENGAN YANG KANAN DI WAKTU BERWUDHU DAN MANDI Diriwayatkan dari Ummi Athiyyah, ia berkata: Rasulullah SAW berkata kepada orang- orang perempuan mengenai cara memandikan putrinya (Zainab): “Mulailah dengan membasuh bagian kanannya dan tempat-tempat wudhu darinya.” 37 TENTANG MINUMNYA ANJING DI DALAM BEJANA Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anjing minum dalam bejana seseorang dari kamu, hendaklah ia mencucinya tujuh kali.” 38 KEUTAMAAN TINGGAL DI MASJID Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Hamba tetap dalam shalat selama ia berada di dalam masjid menunggu shalat dan tidak berhadats.” 39 BERWUDHU DARI BEJANA Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW menyuruh mengambil bejana berisi air. Kemudian didatangkan sebuah wadah yang luas mulutnya. Ada sedikit air di dalamnya. Kemudian Nabi SAW meletakkan jari-jarinya di dalamnya. Anas berkata: Aku melihat air memancar di antara jari-jari Nabi SAW. Anas berkata: Maka aku menaksir yang berwudhu dari situ ada sekitar 70 hingga 80 orang. 40 MENGGUNAKAN BATU DALAM BILANGAN GANJIL KETIKA BERISTINJA Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu berwudhu, hendaklah ia menghirup air dalam hidungnya, kemudian mengeluarkannya. Dan siapa yang menggunakan batu untuk beristinja', hendaklah ia gunakan jumlah ganjil. Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidurnya, hendaklah ia membasuh tangannya sebelum memasukkannya dalam air wudhunya, karena seseorang dari kamu tidak tahu di mana tangannya bermalam.” 41 BERWUDHU SETELAH TIDUR Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu mengantuk ketika shalat, hendaklah ia tidur hingga hilang kantuknya, karena seseorang dari kamu apabila mengerjakan shalat dalam keadaan mengantuk, ia pun tidak tahu barangkali ia mengucapkan istighfar, lalu memaki dirinya.” 42 TERMASUK DOSA BESAR ADALAH BILA SESEORANG TIDAK MENJAGA ANGGOTA BADAN DARI KENCINGNYA Diriwayatkan dari ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata: Nabi SAW melewati sebidang kebun di Madinah atau Makkah. Beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa dalam kubur mereka. Maka Nabi SAW berkata: “Kedua orang itu sedang disiksa dan bukan disiksa karena meninggalkan sesuatu yang besar. Yang satu tidak menjaga anggota tubuhnya dari kencingnya, sedangkan yang lain berjalan melakukan namimah.” Kemudian beliau menyuruh mengambil pelepah kurma, lalu mematahkannya menjadi dua bagian. Beliau meletakkan setiap potong di atas setiap kubur dari kedua orang itu. Kemudian dikatakan kepadanya: Ya Rasulallah, mengapa engkau lakukan ini? Nabi SAW menjawab: Mudah-mudahan siksaan atas keduanya diringankan selama kedua potong pelepah itu belum kering. Dalam hadits di atas terdapat beberapa faedah: 1. Menunjukkan kewajiban beristinja' (cebok). karena bila ia disiksa hanya lantaran kurang bersih membasuh kencing dan tidak berhati-hati terhadapnya, maka membiarkannya di tempat keluarnya lebih patut untuk disiksa. 2. Penetapan siksa besar. 3. Peringatan untuk tidak membiarkan najasah di badan dan baju. 4. Kewajiban menghilangkan najasah. Diriwayatkan dari Ummul mu'minin Maimunah r.a. bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang seekor tikus yang jatuh dalam samin (beku). Beliau menjawab: “Buanglah tikus itu dan samin yang di sekitarnya, lalu makanlah saminmu yang tersisa.” Penjelasan hadits Yang dimaksud dengan samin ialah samin yang beku. Karena samin yang cair menjadi najis bila terkena najasah dan tidak bisa disucikan serta diharamkan memakannya dan tidak sah menjualnya. Akan tetapi boleh menggunakannya sebagai pelita dan memanfaatkannya selain dimakan dan dijual. Ini adalah mazhab Syafi'iyah dan Malikiyah. Para ulama Hanafi mengharamkan memakannya dan para ulama Hambali melarang pemanfaatannya sama sekali. Demikian kata Syarqawi. Sesungguhnya agama adalah kebersihan dan sesungguhnya Allah Ta'ala baik dan tidak menerima, kecuali yang baik. Adalah Nabi SAW memperhatikan kebersihan makanannya. Bukhari menyebutkan hadits ini dalam bab najasah yang jatuh dalam samin dan air. Az-Zuhri berkata: Tiada masalah dengan air selama tidak berubah rasanya atau bau atau warnanya. Hammad berkata: Tiada masalah dengan bulu bangkai. Az-Zuhri berkata mengenai tulang-tulang bangkai seperti gajah dan lainnya: Aku mendapati beberapa orang ulama salaf menyisir rambut dengannya dan menggunakannya sebagai minyak. Mereka menganggap tidak ada masalah dengannya. Ibnu Sirin dan Ibrahim berkata: Tidak ada masalah dengan perdagangan gading gajah. Andaikata gading itu najis, tidak sah menjualnya. Oleh karena itu air tidak menjadi najis bila gading itu jatuh di dalamnya. Demikian dikatakan oleh Karmani. 43 SIWAK Ibnu Abbas berkata: Aku bermalam di tempat Nabi SAW dan beliau bersiwak (menggosok gigi). Diriwayatkan dari Abi Burdah dari bapaknya, ia berkata: Aku mendatangi Nabi SAW dan aku mendapatinya menggosok gigi dengan sepotong siwak di tangannya. Beliau mengeluarkan suara ketika siwak itu berada di mulutnya seakan-akan beliau muntah. Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata: Adalah Nabi SAW apabila bangun di waktu malam menggosok giginya dengan siwak. Penjelasan hadits Disebutkan dalam kitab figh oleh Abi Syuja': Bersiwak dianjurkan dalam setiap keadaan, kecuali sesudah matahari tergelincir bagi orang yang puasa. Bersiwak sangat dianjurkan dalam tiga keadaan, yaitu di saat berubahnya bau mulut dan lainnya (seperti makan bawang). ketika bangun dari tidur dan ketika hendak mengerjakan shalat. Diriwayatkan dari ibnu Umar bahwa Nabi SAW bercerita: Aku bermimpi menggosok gigi dengan sepotong siwak. Kemudian dua orang lelaki datang kepadaku, yang satu lebih tua daripada yang lain. Kemudian kuberikan siwak itu kepada yang lebih muda. namun dikatakan kepadaku: Berikan kepada yang lebih tua. Maka aku pun memberikannya kepada yang lebih tua di antara keduanya. 44 KEUTAMAAN ORANG YANG TIDUR DALAM KEADAAN BERWUDHU Diriwayatkan dari Al-Baro' bin Azib r.a., ia berkata: Nabi SAW bersabda: Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, berwudhulah untuk menunaikan shalat, kemudian berbaringlah di atas sisimu yang kanan, kemudian ucapkan: “Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu dan kuserahkan urusanku kepada-Mu dan kuperlindugkan punggungku kepada-Mu dengan rasa harap dan rasa takut kepada- Mu. Tiada tempat berlindung dan tiada tempat menyelamatkan diri dari-Mu, kecuali kembali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman pada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang Engkau utus.” Jika engkau mati di malam itu, maka engkau mati dalam keadaan fitrah (suci) dan jadikan kata-kata itu sebagai akhir ucapanmu. Penjelasan hadits Ibnu Baththal berkata: Berwudhu ketika hendak tidur adalah sunnah dan dianjurkan. Begitu pula berdoa, karena bisa jadi rohnya dicabut dalam hari itu sehingga amalnya diakhiri dengan wudhu dan doa yang merupakan amalan yang paling utama. An-Nawawi berkata: Dalam hadits ini terdapat tiga sunnah penting yang dianjurkan. Pertama. Berwudhu ketika hendak tidur. Jika ia sudah berwudhu, maka wudhu itu sudah cukup baginya, karena yang dimaksud adalah tidur dalam keadaan suci dan khawatir ia mati di malam itu. Selain itu dimaksudkan supaya mimpinya lebih benar dan lebih jauh dari permainan syaitan di dalam tidurnya. Kedua: Tidur di atas sisi kanan, karena Nabi SA suka memulai dengan yang kanan dan supaya lebih cepat bangun. Dan saya katakan: Supaya makanan lebih cepat turun sebagaimana disebutkan dalam buku-buku kedokteran. Ketiga. Menyebut nama Allah Ta'ala supaya menjadi amalannya yang penghabisan. KITAB MANDI 1 BERWUDHU SEBELUM MANDI Diriwayatkan dari Aisyah istri Nabi SAW bahwa Nabi SAW apabila mandi karena janabah, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya, kemudian beliau berwudhu sebagaimana beliau berwudhu untuk shalat. Kemudian beliau masukkan jari-jarinya di dalam air, lalu membasuh pangkal-pangkal rambutnya. Kemudian beliau tuangkan air di atas kepalanya tiga kali ciduk dengan kedua tangannya, kemudian menyiramkan air di atas seluruh kulit tubuhnya. Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata: Aku mandi bersama Nabi SAW dari sebuah bejana yang dinamakan al-faraq (berisi 16 rithil air menurut penduduk Hijaz). Diriwayatkan dari Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah SAW apabila hendak mandi janabah membasuh tangannya. Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Adapun aku, maka aku tuangkan air di atas kepalaku tiga kali, sambil memberi isyarat dengan kedua telapak tangannya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Adalah Nabi SAW menggilir istri-istrinya yang berjumlah sebelas orang dalam sehari semalam. Aku berkata kepada Anas: Apakah beliau mampu melakukannya? Anas menjawab: Kami berbicara bahwa beliau diberi kekuatan 30 orang. Said berkata dari Qatadah: Sesungguhnya Anas mengatakan kepada mereka: Sembilan orang istri. Diriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata: Aku seorang lelaki yang sering keluar madzi. Maka aku menyuruh seorang lelaki untuk menanyai Rasulullah SAW mengingat posisi putrinya (Fathimah). Orang itu bertanya dan beliau menjawab: Berwudhulah dan basuhlah zakarmu. Diriwayatkan dari ibnu Abbas, ia berkata: Maimunah berkata: Kuletakkan air untuk mandi bagi Nabi SAW. Kemudian aku menutupinya dengan selembar baju. Kemudian beliau tuangkan air di atas kedua tangannya. lalu membasuhnya. Kemudian beliau tuangkan air dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu membasuh kemaluannya. Kemudian beliau menepuk tanah dengan tangannya, lalu mengusapnya. Kemudian beliau membasuhnya, lalu berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dan membasuh mukanya serta kedua tangannya, Kemudian beliau tuangkan air di atas kepalanya dan menyiram tubuhnya. Kemudian beliau menjauh, lalu membasuh kedua telapak kakinya. Kemudian aku memberikan selembar baju kepadanya, namun beliau tidak mengambilnya, lalu pergi sambil mengibaskan kedua tangannya. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Apabila salah seorang dari kami mengalami janabah, ia mengambil air dengan kedua tangannya tiga kali dan menyiram kepalanya. Kemudian ia mengambil air dengan tangannya untuk menyiram sisi kanannya dan dengan tangannya yang lain untuk menyiram sisi kirinya. 2 ORANG YANG MANDI SAMBIL TELANJANG Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: Di saat Ayyub sedang mandi telanjang, tiba-tiba jatuh belalang dari emas menimpanya. Maka Ayyub mengambilnya dengan tangannya dalam bajunya dan melemparkannya. Kemudian Tuhannya berseru kepadanya: Hai Ayyub, tidakkah Aku mencukupimu dari apa yang engkau lihat? Ayyub menjawab: Benar, demi keperkasaan-Mu, akan tetapi aku membutuhkan berkah-Mu. 3 ORANG YANG DALAM KEADAAN JANABAH HENDAKNYA BERWUDHU KETIKA AKAN TIDUR Diriwayatkan dari Aisyah r.a.. ia berkata: Adalah Nabi SAW apabila ingin tidur dalam keadaan junub, beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu untuk shalat (yakni wudhu yang syar'iy). Atha' berkata: Orang yang junub boleh berbekam (cantuk) dan boleh menggunting kuku-kukunya serta mencukur kepalanya, meskipun tidak berwudhu. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia berkata: Umar bin Khaththab mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa ia mengalami janabah pada malam hari. Maka Rasulullah SAW berkata: “Berwudhulah dan basuhlah zakarmu, kemudian tidurlah.” Penjelasan hadits Membasuh zakar adalah sunnah bagi orang yang junub ketika hendak tidur dan boleh menangguhkan mandi setelah wudhu. Dengan berwudhu ia ringankan hadats dan menghilangkannya dari anggota-anggota wudhu. 4 APABILA DUA ANGGOTA KHITAN BERTEMU Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apabila ia duduk di antara kedua tangan dan kedua kakinya, kemudian menggaulinya, maka ia wajib mandi.” Penjelasan hadits Dalam suatu riwayat: Apabila anggota khitan menyentuh anggota khitan. An-Nawawi berkata: Hadits ini berarti bahwa wajib mandi tidak tergantung pada keluarnya mani. Akan tetapi bilamana ujung zakar masuk dalam kemaluan perempuan, wajib mandi atas istri dan suami Yang dimaksud dengan anggota khitan menyentuh anggota khitan ialah bila orang lelaki memasukkan zakarnya dalam kemaluar istrinya, bukan cuma menyentuh. Hal itu disebabkan khitan perempuan berada di atas kemaluan dan tidak tersentuh oleh zakar di waktu melakukan jimak (persetubuhan). Para ulama sepakat bahwa seandainya suami meletakkan zakarnya di atas khitan istrinya dan tidak memasukkannya. maka tidak wajib mandi atas keduanya. Begitu pula jika kedua khitan bertemu, yakni saling berhadapan. Wallahu a'lam. KITAB HAIDH Allah Ta'ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: Haidh itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan dirinya.” Al-Baqarah: 222 Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata: Kami keluar dan tidak mempunyai tujuan selain haji. Ketika kami tiba di Saraf (desa dekat Makkah), aku mengalami haidh. Kemudian Rasulullah SAW masuk kepadaku di saat aku sedang menangis. Nabi SAW berkata: Kenapa kamu? Apakah engkau mengalami haidh? Aku menjawab: Ya. Nabi SAW berkata: Ini telah ditentukan oleh Allah atas kaum wanita. Maka, tunaikanlah apa yang ditunaikan orang haji, kecuali melakukan thawaf di Ka'bah. Aisyah berkata: Rasulullah SAW menyembelih kurban sapi untuk istri-istrinya. 1 WANITA HAID MEMBASUH KEPALA SUAMINYA DAN MENYISIRNYA Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata: Aku menyisir kepala Rasulullah SAW di saat aku sedang haid. 2 LELAKI MEMBACA AL-QUR AN SAMBIL BERSANDAR DI PANGKUAN WANITA YANG HAID Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersandar di pangkuanku di saat aku sedang haid, kemudian membaca Al-Qur’an. Penjelasan hadits Jumhur ulama berpendapat: Mushaf tidak boleh disentuh oleh wanita yang haid maupun orang yang junub. Allah Ta'ala berfirman: “Tidaklah menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” Al-Wagi'ah 79 Nabi SAW telah menulis surat kepada Amru bin Hazmin yang isinya: Tidaklah menyentuh mushaf, kecuali orang yang suci. Tujuan Bukhari adalah boleh membaca Al-Qur’an di dekat tempat najasah. Di antara mereka ada yang membolehkan. la beralasan dengan sabda Nabi SAW: “Orang mukmin itu tidak najis.” Dan dengan surat Nabi SAW kepada Heraclius yang berisi ayat dari Al-Qur’an. Andaikata haram, tentulah Nabi SAW tidak menulis sesuatu ayat dari Al-Qur’an kepadanya sementara beliau mengetahui mereka (ahlul kitab) menyentuhnya dengan tangan mereka, sedangkan mereka itu adalah najis. Telah jelas dalilnya bahwa dzikrullah boleh dilakukan oleh Orang yang junub dan wanita yang haid, sedangkan pembacaan AlQur’an sama artinya dengan dzikrullah dan tidak ada alasan untuk membedakan antara keduanya. Demikian dikatakan oleh Karmani. 3 MENINGGALKAN PUASA BAGI WANITA YANG HAIDH Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri r.a., ia berkata: Rasulullah SAW keluar di waktu Idul Adha atau Fithri menuju mushalla. Beliau melewati para wanita dan berkata: Hai kaum wanita, keluarkanlah sedekah, karena aku ditunjukkan sebagian besar penghuni neraka adalah wanita. Mereka berkata: Dengan sebab apa, ya Rasulallah? Nabi SAW menjawab: Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami. Tidaklah kulihat manusia yang kurang akal dan agamanya lebih mampu mempengaruhi akal orang yang bijaksana daripada salah seorang dari kalian. Mereka berkata: Apa maksudnya kekurangan agama dan akal kami, ya Rasulallah? Nabi SAW menjawab: Bukankah kesaksian perempuan separuh dari kesaksian laki- laki? Mereka menjawab: Ya. Itu termasuk kekurangan akalnya. Bukankah bila ia mengalami haid tidak mengerjakan shalat dan tidak puasa? Mereka menjawab: Ya. Nabi SAW berkata: Itu termasuk kekurangan agamanya. Penjelasan hadits Rasulullah SAW menjelaskan kemuliaan tempat shalat led di waktu ledul Qurban (Adha) atau ledul Fithri (keraguan dari Abi Said). Maka beliau ingin menasehati para wanita dan menyuruh mereka mengeluarkan sedekah dan berbuat kebaikan serta menyayangi kaum miskin dan memiliki budi pekerti mulia. Mengapa? Karena Allah Ta'ala menunjukkan kepadanya bahwa sebagian besar dari mereka (wanita) berada di neraka. Maka mereka menanyakan tentang sebabnya. Beliau menjawab dengan dua perkara: 1. Kalian suka mengingkari nikmat suami pada kalian dan tidak mensyukurinya. 2. Kalian suka menampakkan kejengkelan dan kemarahan serta sering memaki dan melaknat. 4 WANGI-WANGIAN UNTUK WANITA KETIKA MANDI SETELAH HAID Diriwayatkan dari Ummi Athiyyah r.a., ia berkata: Kami dilarang berkabung untuk mayit lebih dari tiga hari, kecuali untuk suami selama 9 bulan 10 hari. Kami tidak boleh memakai celak, tidak memakai wangi-wangian, tidak memakai baju yang diwarnai, kecuali baju yang dibuat dari benang berwarna. Namun kami diizinkan sewaktu bersuci ketika mandi dari haid menggunakan sedikit wewangian yang menghilangkan bau. Dan kami dilarang mengantarkan jenazah. 5 DAGING YANG SEMPURNA CIPTAANNYA DAN TIDAK SEMPURNA Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menugaskan seorang malaikat untuk mengurusi rahim. la berkata: Ya Tuhanku, setetes mani. Ya Tuhanku, segumpal darah, Ya Tuhanku segumpal daging. Apabila Allah hendak menentukan ciptaan-Nya, malaikat berkata: Apakah laki-laki atau perempuan, sengsara atau bahagia? Apa rezekinya dan berapa lama umurnya? Semua itu ditulis dalam perut ibunya. 6 KEUTAMAAN MENGHADAP KIBLAT Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka mengucapkan: Laa ilaha illallah. Apabila mereka mengucapkannya dan mengerjakan shalat kami, menghadap kiblat kami dan menyembelih sembelihan kami, maka telah diharamkan atas kita darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya dan hisab mereka terserah kepada Allah." 7 MERAPIKAN SHAF-SHAF Diriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata: Shalat didirikan, kemudian Rasulullah SAW menghadapkan mukanya kepada kami, lalu berkata: “Luruskanlah saf-safmu dan merapatlah kalian, karena aku melihat kalian dari belakang punggungku.” 8 BUMI DIJADIKAN TEMPAT SHALAT BAGIKU Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun (dari para nabi) sebelum aku. Aku ditolong (Allah) dengan menimbulkan ketakutan pada musuh sejauh perjalanan sebulan. Dan bumi dijadikan tempat shalat bagiku dan suci. Maka Orang mana dari umatku yang mendapati shalat, hendaklah ia kerjakan shalat. Dihalalkan bagiku rampasan perang dan tidak halal bagi seorang pun sebelum aku. Aku diberi syafa'at. Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada semua manusia.” Penjelasan hadits An-Nawawi berkata: Syafa'at itu ada lima macam : Pertama: Syafa'at yang khusus dilakukan Nabi kita Muhammad SAW, yaitu meringankan kedahsyatan tempat berkumpul dan lamanya berdiri (di padang mahsyar). Kedua. Memasukkan sejumlah orang ke dalam surga tanpa dihisab. Ketiga: Syafa'at bagi orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka. Keempat. Syafa'at bagi orang-orang yang berbuat dosa yang telah berada di neraka. Kelima: Syafa'at untuk menambah derajat penghuni surga. Semoga Allah selalu melimpahkan shalawat dan salam kepadamu, ya Rasulallah, dan menambahimu dengan kebagusan, kemudahan dan kesempurnaan. Dan memberi kami manfaat dengan sunnahmu. Allah Ta'ala mengutus Nabi SAW kepada seluruh alam. Allah Ta'ala berfirman: “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat seluruhnya.” Saba': 28. Allah Ta'ala mengkhususkan nabi-Nya dengan mukjizatnya yang kekal, yaitu Al- Qur’an karena dakwahnya tetap berlangsung dan wajib diterima oleh setiap orang yang mendengarnya hingga akhir zaman. “Hendaklah ia kerjakan shalat”, yakni bertayammum dan mengerjakan shalat jika tidak ada air dan takut ketinggalan shalat. Di samping itu tidak disyaratkan tanah, karena ia bisa menemukan pasir atau kerikil atau lainnya. An-Nawawi berkata: Abu Hanifah dan Malik berhujjah dengannya mengenai bolehnya bertayammum dengan semua bagian bumi. Asy-Syafi'i dan Ahmad berhujjah dengan riwayat lain, yaitu: “Dan tanahnya dijadikan suci bagi kami”, bahwa tidak boleh menggunakan selain tanah untuk bertayammum. Orang-orang yang sebelum kita dibolehkan bagi mereka mengerjakan shalat di tempat-tempat tertentu seperti biara dan gereja. Ada yang mengatakan: Orang-orang yang sebelum kita tidak mengerjakan shalat, kecuali di tempat dari bumi yang mereka yakini kesuciannya. Sedangkan kita diistimewakan dengan bolehnya mengerjakan shalat di seluruh bagian bumi, kecuali yang kita yakini kenajisannya, Allah Ta'ala menimbulkan ketakutan dalam hati musuh, sedangkan di antara Nabi SAW dan musuhnya berjarak sejauh perjalanan sebulan. Hal itu disebabkan pertolongan Allah baginya dalam melawan musuh. Allah telah mengkhususkan nabi-Nya dengan jihad, sedangkan umat-umat yang terdahulu ada dua macam: 1. Di antara mereka ada yang nabi-nabinya tidak dibolehkan berjihad melawan kaum kafir sehingga mereka tidak mendapat rampasan perang. 2. Ada pula di antara mereka yang dibolehkan berjihad. Namun apabila mereka mendapat rampasan perang, datanglah api membakarnya dan mereka tidak halal untuk memilikinya sebagaimana dibolehkan untuk umat ini. Demikian kata Karmani. KITAB SHALAT Ibnu Abbas berkata: Diceritakan kepadaku oleh Abu Sufyan dalam dialog dengan Heraclus, ia berkata: Nabi SAW menyuruh kami mengerjakan shalat, berkata benar dan memelihara diri. 1 KEWAJIBAN SHALAT DENGAN MEMAKAI BAJU DAN FIRMAN ALLAH TA'ALA: Diriwayatkan dari Salamah ibnu Akwa' bahwa Nabi SAW berkata: Hendaklah mushalli mengancing bajunya, walaupun dengan duri. Dan seseorang boleh mengerjakan shalat dalam baju yang dipakainya ketika menggauli istrinya, asalkan ia tidak melihat najasah padanya. Dan Nabi SAW melarang orang melakukan thawaf di Ka'bah dalam keadaan telanjang. Al-Hasan berkata: Adalah orang-orang bersujud di atas surban dan kopiah sementara kedua tangannya berada dalam lengan bajunya. Penjelasan hadits Abu Hanifah membolehkan sujud di atas surban, sedangkan Malik menghukuminya makruh. Ulama Syafi'iyah berpendapat: Tidak boleh sujud di atas surban. Mereka berhujjah bahwa karena mengusap kepala tidak bisa digantikan dengan mengusap surban, maka sujud pun harus pula demikian. Bukhari menyebutkan hal ini dalam bab sujud di atas baju dalam cuaca yang sangat panas dan bab shalat dengan memakai sandal. Diriwayatkan dari Syu'bah dari Abi Maslamah bin Said Al-Azadi, ia berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah Nabi SAW pernah mengerjakan shalat sambil memakai kedua sandalnya? Anas menjawab: Ya. Hal itu dibolehkan bila tidak terdapat najasah pada kedua sandalnya. Apabila terdapat najasah pada kedua sandal, maka hendaklah ia menggosokkannya di tanah, lalu mengerjakan shalat dengan memakainya. Asy-Syafi'i berkata: Tidak ada yang bisa menyucikan najasah, kecuali air. Diriwayatkan dari Abdullah bin Malik bin Buhainah bahwa Nabi SAW apabila mengerjakan shalat, beliau merenggangkan antara kedua tangannya hingga nampak kedua ketiaknya yang putih. Diriwayatkan dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW melihat ingus atau lendir di dinding masjid, kemudian beliau mengambil sebiji batu kecil, lalu menggaruknya. Kemudian beliau berkata: Apakah seseorang dari kamu membuang ingus atau lendir, janganlah ia membuang ingus atau lendir ke arah depannya dan jangan membuangnya ke sebelah kanannya. Dan hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya atau di bawah telapak kaki kirinya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Meludah di dalam masjid adalah dosa dan tebusannya adalah memendamnya.” Diriwayatkan dari Ka'ab bin Malik, ia berkata: Adalah Nabi SAW apabila datang dari suatu perjalanan, beliau masuk masjid lebih dulu, lalu mengerjakan shalat di situ. 2 DOSA ORANG YANG LEWAT DI DEPAN MUSHALLI (ORANG YANG SEDANG SHALAT) Diriwayatkan dari Abi Jahmin, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Andaikata orang yang lewat di depan mushalli (orang yang sedang shalat) mengetahui dosa yang menimpanya, niscaya ia lebih suka berdiri 40 (hari) daripada lewat di depannya. Abu Nadhri berkata: Aku tidak tahu apakah ia mengatakan: 40 hari atau bulan atau tahun. 3 BERHADATS DI DALAM MASJID Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: Para malaikat bershalawat (mendoakan) untuk seseorang dari kamu selama ia berada di mushallanya di mana ia shalat selama ia tidak berhadats. Mereka berkata: Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia. ( Penjelasan hadits Yang dimaksud dengan shalawat oleh malaikat bagi hamba ialah permohonan ampun dan rahmat oleh para malaikat bagi hamp yaitu selama hamba tidak berhadats di mushallanya. 4 ORANG YANG DUDUK DI TEMPAT TERAKHIR DARI SUATU MAJLIS Diriwayatkan dari Abi Wasid Al-Laitsi r.a., ia berkata: Di saat Rasulullah SAW berada di masjid, tiba-tiba datang tiga orang. Yang dua orang datang kepada Rasulullah SAW dan yang satu pergi. Salah satu dari keduanya melihat tempat lowong. lalu duduk. Yang satunya lagi duduk di belakangnya dan yang ketiga pergi berlalu. Setelah Rasulullah SAW selesai, beliau berkata: Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang ketiga orang itu? Salah seorang dari mereka berlindung kepada Allah. lalu Allah memberinya tempat. Yang satunya lagi merasa malu hingga Allah merasa malu (sayang) kepadanya. Yang ketiga pergi hingga Allah berpaling darinya. 5 SALING MENOLONG DI ANTARA KAUM MUKMININ Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: Sesungguhnya orang mukmin itu seperti bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lainnya dan beliau mengaitkan jari-jarinya. 6 ORANG YANG SEDANG SHALAT MENCEGAH ORANG YANG LEWAT DI DEPANNYA Diriwayatkan dari Abi Said, ia berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu shalat menghadap sesuatu yang menutupinya dari orang-orang, lalu ada orang ingin lewat di depannya, hendaklah ia mendorongnya. Jika orang itu menolak, hendaklah ia mendorongnya lebih keras, karena sesungguhnya ia adalah syaitan.” 7 KEUTAMAAN SHALAT PADA WAKTUNYA Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi SAW: Amal apakah yang paling disukai Allah? Nabi SAW menjawab: Shalat pada waktunya. Abdullah berkata: Kemudian apa? Nabi SAW menjawab: Berbuat baik kepada ibu bapak. Abdullah berkata: Kemudian apa? Nabi SAW menjawab: Berjihad di jalan Allah. 8 SHALAT LIMA WAKTU ADALAH TEBUSAN Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Apa pendapat kalian seandainya ada sebuah sungai di depan pintu seseorang dari kamu, lalu ia mandi di situ setiap hari lima kali, apakah kamu mengira akan menyisakan kotorannya? Mereka menjawab: Tidak ada sedikit pun kotoran yang tersisa. Nabi SAW berkata: Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Allah menghapus dosa- dosa dengannya. 9 DOSA ORANG YANG KETINGGALAN SHALAT ASHAR Diriwayatkan dari ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang ketinggalan shalat Ashar adalah seperti orang yang keluarga dan hartanya dirampas orang lain.” Diriwayatkan dari Abi Mulaih, ia berkata: Kami bersama Buraidah dalam peperangan di hari yang mendung. Kemudian Buraidah berkata: Segeralah kalian mengerjakan shalat Ashar, karena Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, ia pun telah sia-sia amalnya.” 10 KEUTAMAAN SHALAT ASHAR Diriwayatkan dari Jarir Al-Bajali, ia berkata: Kami bersama Nabi SAW. Kemudian beliau memandang bulan purnama pada suatu malam. Beliau berkata: Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhanmu azza wa jalla sebagaimana kamu melihat bulan ini tanpa terhalang, Jika kalian sanggup memelihara shalat sebelum naiknya matahari dan sebelum terbenamnya matahari, maka lakukanlah. Kemudian beliau membaca: “Wa sabbih bihamdi robbika qabla thulu'is syamsi wa qablal ghurub.” (Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya). Qaaf: 39. 11 ADZAN SESUDAH HILANGNYA WAKTU Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Qatadah, ia berkata: Kami pergi bersama Nabi SAW pada suatu malam. Kemudian salah seorang di antara rombongan berkata: Kiranya anda berhentikan kami, ya Rasulallah (supaya kita beristirahat). Nabi SAW berkata: Aku takut kalian tidur hingga meninggalkan shalat. Bilal berkata: Aku akan membangunkan kalian, maka berbaringlah. Ternyata kedua matanya tidak bisa menahan kantuk hingga tertidur. Kemudian Nabi SAW terbangun di saat matahari sudah tinggi. Maka beliau berkata: Hai Bilal, mana bukti perkataanmu? Bilal menjawab: Aku belum pernah tertidur seperti itu. Nabi SAW berkata: Sesungguhnya Allah mencabut arwahmu ketika Dia menghendaki dan mengembalikannya kepadamu ketika Dia menghendaki. Hai Bilal, berdirilah dan serukan adzan kepada Orang-orang untuk menunaikan shalat. Maka Nabi SAW berwudhu. Ketika matahari telah tinggi dan menjadi putih, beliau berdiri dan mengimami orang-orang (shalat Subuh). Penjelasan hadits Allah Ta'ala berfirman: “Allah memegang jiwa (orang) ketika ia mati dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” Az-Zumar: 42. Al-Karmani berkata: Pencabutan nyawa tidak harus berarti kematian. Beda antara kematian dan tidur ialah kematian adalah terputusnya roh dari badan dan batinnya sedangkan tidur adalah terputusnya roh dari lahirnya badan saja. Mengenai seruan adzan sesudah keluarnya waktu, Ahmad berpendapat: Boleh. An-Nawawi berpendapat: Tidak ada adzan dan Iqomat dalam shalat yang lewat waktunya. Asy-Syafi'i berpendapat: Tidak ada adzan bagi shalat yang lewat waktunya. 12 KEWAJIBAN SHALAT JAMA'AH Al-Hasan berkata: Jika ibunya melarangnya menunaikan shalat Isya” dalam jama'ah karena sayang padanya, ia tidak boleh mentaatinya. , Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, aku telah ingin menyuruh orang mendatangkan kayu bakar, kemudian aku menyuruh menyerukan adzan untuk shalat. Kemudian aku menyuruh seorang lelaki mengimami orang-orang, kemudian aku mendatangi orang- orang (yang tidak menunaikan shalat dalam jama'ah), lalu membakar rumah-rumah mereka. 13 KEUTAMAAN SHALAT JAMA'AH Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri r.a. bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda: “Shalat jama'ah melebihi shalat sendirian sebanyak 25 derajat.” Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Orang yang paling banyak pahalanya dalam shalat ialah yang terjauh, lalu yang terjauh jaraknya ke masjid. Dan orang yang menunggu shalat hingga mengerjakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada yang mengerjakan shalat kemudian tidur.” 14 KEUTAMAAN PERGI DI AWAL WAKTU UNTUK MENGERJAKAN SHALAT DHUHUR, MEMELIHARA SHALAT ISYA' DAN FAJAR Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: Di saat seorang lelaki berjalan di suatu jalan, ia menemukan sebatang ranting berduri di jalan itu, lalu menyingkirkannya, maka Allah mensyukuri dan mengampuninya. Kemudian beliau berkata: Syuhada ada lima: orang yang mati karena sakit sampar, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati tenggelam dan orang yang mati tertimpa reruntuhan, serta orang yang mati di jalan Allah. Dan beliau berkata: Andaikata orang-orang mengetahui keutamaan yang terdapat dalam adzan dan saf pertama, kemudian mereka tidak menemukan jalan kecuali dengan mengadakan undian untuk mendapatkannya, niscaya mereka mengadakan undian. Dan andaikata mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat diawal waktu, niscaya mereka berlomba-lomba melakukannya. Dan andaikata mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya' dan Subuh (berjama'ah), niscaya mereka mendatanginya, walaupun dengan merangkak. Penjelasan hadits Berikut ini akan kami kemukakan sebagian tentang figh shalat: Syarat-syarat keabsahan shalat ada lima perkara: kesucian anggota badan dari hadats dan najis, menutup aurat dengan pakaian yang suci, berdiri di atas tempat yang suci, mengetahui masuknya waktu dan menghadap kiblat. Boleh meninggalkan kiblat dalam dua keadaan, yaitu dalam keadaan sangat takut dan dalam perjalanan di atas kendaraan. Rukun-rukun shalat ada delapan belas rukun, yaitu: niat, berdiri bila mampu, takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah termasuk Bismilllahir rahmanir rahiim sebagai salah satu ayatnya, ruku' dan thuma'ninah di dalamnya, bangkit dari ruku' dan berdiri tegak serta thuma'ninah di dalamnya, duduk di antara dua sujud dan thuma'ninah di dalamnya. duduk yang terakhir dan membaca tasyahhud serta mengucapkan shalawat untuk Nabi SAW di dalamnya, mengucapkan salam pertama dan niat keluar dari shalat serta mengerjakan rukun-rukun itu secara tertib sebagaimana yang kami sebutkan. Sunnah-sunnahnya sebelum masuk di dalamnya ada dua perkara, yaitu adzan dan iqomat. Dan sesudah masuk di dalamnya ada dua perkara, yaitu membaca tasyahhud pertama dan qunut dalam Shalat Subuh serta shalat Witir dalam pertengahan kedua dari bulan Ramadhan. Hai'ahnya ada lima belas perkara, yaitu mengangkat kedua tangan di waktu mengucapkan takbiratul ihram, ketika ruku' dan bangkit dari ruku', meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, membaca doa iftitah, mengucapkan isti'adzah, membaca keras pada tempatnya dan membaca pelan pada tempatnya, mengucapkan Amin, membaca surah sesudah Al-Fatihah, mengucapkan takbir ketika bangkit dan turun, mengucapkan sami'allahu liman hamidahu robbana lakal hamdu, mengucapkan tasbih (subhana robbiyal “adhiimi) di dalam ruku' dan (subhana robbiyal a'laa) di dalam sujud, meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua paha di waktu duduk dengan membuka telapak tangan kiri dan menggenggam telapak tangan kanan, kecuali jari telunjuk, karena ia memberi isyarat dengannya ketika membaca tasyahhud, duduk iftirasy dalam semua duduk dan tawarruk dalam duduk yang terakhir serta ucapan salam kedua. 15 KEUTAMAAN MASJID -MASJID DAN TUJUH ORANG YANG DINAUNGI ALLAH Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW, belia, bersabda: Tujuh macam orang yang dinaungi Allah dengan naungan. Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. yaitu: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, seorang lelaki yang hatinya bergantung pada masjid, dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah. keduanya berkumpul dalam keadaan itu dan berpisah dalam keadaan itu. Seorang lelaki yang diminta berbuat zina oleh seorang wanita yang berkedudukan dan cantik, namun ia menjawab: Aku takut kepada Allah. Seoranglelakiyangmengeluarkansedekahdanmenyembunyikannya hngga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan oleh tangan tangannya. Dan seorang lelaki yang mengingat Allah sendirian hingga berlinang air matanya. 16 APABILA MAKANAN TELAH HADIR Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, ia berkata: Aku mendengar Aisyah r.a. mengatakan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Apabila makanan malam telah dihidangkan dan shalat didirikan, maka dahulukanlah makanannya.” Diriwayatkan dari ibnu Umar, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu menghadapi makanan, janganlah ia terburu-buru hingga ia selesaikan keperluannya dari makanan itu, meskipun telah diserukan igamat untuk shalat.” 17 APABILA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENUNAIKAN SHALAT DI SAAT IA MEMEGANG MAKANAN Diriwayatkan dari Jabir bin Amru bin Umayyah bahwa ayahnya berkata: Kulihat Rasulullah SAW memakan daging sampil yang akan dipotongnya, kemudian beliau dipanggil untuk menunaikan shalat. Maka beliau berdiri, lalu meletakkan pisau dan mengerjakan shalat serta tidak berwudhu. 18 HENDAKLAH ADZAN DALAM PERJALAN DISERUKAN OLEH SATU ORANG Diriwayatkan oleh Malik ibnul Huwairits, ia berkata: Aku mendatangi Nabi SAW bersama beberapa orang kaumku. Kami tinggal di tempatnya selama 20 malam. Adalah beliau seorang yang penyayang dan berhati lembut. Ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, ia berkata: Kembalilah dan tinggallah besama mereka, ajarilah mereka dan kerjakanlah shalat. Apabila waktu shalat telah tiba, hendaklah salah seorang dari kamu menyerukan adzan untuk kalian dan yang menjadi imam adalah yang tertua di antara kalian. 19 PERGI MENUJU SHALAT Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apabila kalian mendengar Iqomat, berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan sopan dan jangan terburu-buru. Mana yang kamu dapati dari shalat, maka kerjakanlah. Dan mana yang tertinggal darimu, maka sempurnakanlah.” 20 SIAPA YANG TERGANGGU OLEH SESUATU DALAM SHALATNYA Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang terganggu oleh sesuatu kejadian dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan tasbih (subhanallah).” 21 WANITA SENDIRIAN BERADA DALAM SATU SHAF Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi SAW sedangkan ibuku Ummu Sulaim berada di belakang kami. Penjelasan hadits Shafnya terdiri dari dua orang, yaitu Anas bin Malik dan seorang anak yatim dan di belakang keduanya adalah Ummu Sulaim. Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam lima perkara: orang lelaki menjauhkan kedua sikunya dari kedua sisinya dan perutnya dari kedua pahanya di waktu ruku' dan sujud. la membaca dengan suara keras pada tempatnya dan apabila terjadi suatu kekeliruan dalam shalat, ia mengucapkan subhanallah. Aurat laki-laki adalah di antara pusar dan lututnya. Orang perempuan merapatkan sebagian anggotanya dengan sebagian yang lain, memelankan suaranya di hadapan para lelaki dan bukan mahramnya dan apabila mengalami suatu kejadian dalam shalat, ia tepukkan tangannya. Seluruh badan perempuan merdeka adalah aurat, kecuali muka dan kedua telapak tangannya, sedangkan sahaya perempuan seperti laki-laki. Yang membatalkan shalat ada sebelas perkara, yaitu: bicara dengan sengaja, perbuatan yang banyak, berhadats, terkena najasah, tersingkapnya aurat, perubahan niat, membelakangi kiblat, makan dan minum, tertawa dengan suara keras dan murtad. Ada lima waktu yang tidak boleh shalat di dalamnya, kecuali shalat yang mempunyai sebab, yaitu: sehabis shalat Subuh hingga matahari naik dan ketika matahari sedang naik hingga menjadi sempurna dan naik sepanjang tombak. Apabila matahari berada di tengah hingga tergelincir, sehabis shalat Ashar hingga matahari terbenam dan ketika terbenam hingga lenyap sama sekali. 22 KEUTAMAAN ORANG-ORANG YANG LEMAH Rasulullah SAW bersabda: “Carilah aku di antara orang-orang yang lemah di antara kamu, karena sesungguhnya kamu diberi rezeki dengan sebab orang-orang yang lemah itu." 23 ORANG YANG MENGANGKAT KEPALANYA SEBELUM IMAM Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidakkah seseorang dari kamu merasa takut bila ia mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah menjadikan kepalanya kepala keledai atau Allah menjadikan rupanya seperti keledai.” 24 HAMBA SAHAYA MENJADI IMAM Diriwayatkan dari Anas r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Dengarlah dan taatlah, meskipun kalian dipimpin oleh seorang Habasyah yang kepalanya seperti kismis.” Penjelasan hadits Nabi SAW berkata: Mereka shalat untuk kalian. Jika mereka benar, maka kalian dan mereka mendapat pahala. Dan jika mereka salah, maka mereka menanggung kesalahannya. Mereka (imam) wajib menyempurnakan rukun-rukun dan menjaganya dari terjadinya penyimpangan dalam perkara-perkara yang wajib dan sunnah dalam shalat. Shalat jama'ah hukumnya sunnah muakkadah. Ma'mum harus berniat mengikuti imam, sedangkan imam tidak perlu berniat sebagai imam. Laki-laki merdeka boleh menjadi ma'mum dari sahaya, laki-laki yang baligh boleh menjadi ma'mum dari laki-laki yang mendekati baligh. Seorang lelaki tidak boleh menjadi ma'mum dari perempuan, seorang yang pandai membaca tidak boleh menjadi ma'mum dari orang yang buta huruf. Ma'mum boleh shalat di tempat mana pun di masjid bila ia mengetahui shalat imamnya selama ia tidak mendahuluinya. Jika imam shalat di masjid dan ma'mum shalat di luar masjid dekat darinya dan mengetahui shalat imamnya sedangkan di situ tidak ada penghalang, maka hal itu dibolehkan. 25 MERINGANKAN SHALAT OLEH IMAM Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang dari kamu menjadi imam bagi orang-orang, hendaklah ia (imam) meringankan shalatnya, karena di antara mereka ada yang lemah, ada yang sakit, ada orang tua dan orang yang mempunyai keperluan. Dan apabila seorang dari kamu shalat untuk dirinya, ia boleh memperpanjang sekehendaknya.” Seorang lelaki datang membawa dua ekor unta di saat malam telah gelap. la mendapati Mu'adz sedang shalat. Maka ia tinggalkan untanya dan menghampiri Mu'adz. Mu'adz membaca surah AlBaqarah dan An-Nisa'. Maka orang itu pergi dan ia mendengar bahwa Mu'adz mencelanya. Kemudian ia mendatangi Nabi SAW dan mengadukan Mu'adz kepadanya. Maka Nabi SAW berkata: Apakah engkau membuat fitnah (keresahan), hai Mu'adz? tiga kali. Kenapa engkau tidak membaca Sabbihisma robbikal a'laa dan Wasy syamsi wa dhuhaha, wal laili idza yaghsyaa, karena yang shalat di belakangmu ada orang yang tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Mu'adz bin Jabal pernah shalat bersama Nabi SAW, kemudian kembali. lalu mengimami kaumnya. Diriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata: Adalah Nabi SAW memperpendek shalat dan menyempurnakannya. Nabi SAW bersabda: Jadilah kamu ma'mum terhadap aku dan hendaklah orang-orang yang sesudah kamu menjadi ma'mum terhadap kamu. 26 BERDIRI TEGAK DALAM SHALAT Diriwayatkan dari Nu'man bin Basyir r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: Hendaklah kalian luruskan shaf-shafmu atau Allah akan membalikkan wajah-wajahmu. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Iqomat shalat diserukan, kemudian Rasulullah SAW menghadapkan mukanya kepada kami, lalu berkata: Luruskan shaf-shafmu dan merapatlah, karena aku melihatmu dari belakang punggungku. Diriwayatkan dari Anas dari Nabi SAW, beliau bersabda: Luruskan shaf-shafmu, karena meluruskan shaf-shaf itu termasuk mendirikan shalat. 27 PERKATAAN YANG DIUCAPKAN SESUDAH TAKBIR Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Adalah Nabi SAW diam sejenak di antara takbir dan pembacaan surah (Al-Fatihah). Beliau membaca antara takbir dan pembacaan Al- Fatihah: “Ya Allah, jauhkan aku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosa sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dengan air, salju dan embun. Penjelasan hadits Hadits di atas menunjukkan disunnahkannya doa iftihah (pembukaan) sesudah takbiratul ihram dalam shalat fardhu atau sunnah, berbeda dengan pendapat yang masyhur dari Malik r.a. Doa iftitah ialah: (Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan menjalankan agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Sesungguhnya shalat dan ibadahku, kehidupan dan kematianku adalah bagi Allah Tuhan penguasa semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri). 28 MEMANDANG KE LANGIT (KE ATAS) Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: Apa perlunya orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit (ke atas) dalam shalat mereka. Hendaklah mereka berhenti melakukan itu atau biarlah penglihatan mereka dicabut. 29 MENOLEH DALAM SHALAT Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menoleh dalam shalat? Beliau menjawab: Itu adalah pencurian yang dilakukan syaitan dari shalat hamba. 30 UCAPAN “AMIN” IMAM DENGAN SUARA KERAS DAN KEUTAMAANNYA Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda: Apabila imam mengucapkan: Amin, maka ucapkanlah: Amin, karena siapa yang ucapannya “Amin” bertepatan dengan pengucapan “Amin” oleh malaikat, diampunilah baginya dosanya yang terdahulu. Ibnu Syihab berkata: Adalah Rasulullah SAW mengucapkan Amin. 31 KEUTAMAAN SUJUD Diriwayatkan dari Said ibnul Musayyab dan Atha' bin Yazid bahwa Abu Hurairah r.a. memberitahu keduanya bahwa orang-orang berkata: Ya Rasulallah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat? Nabi SAW menjawab: Apakah kalian ragu ketika melihat bulan pada malam purnama tanpa ada awan di depannya? Mereka menjawab: Tidak, ya Rasulallah. Nabi SAW berkata: Apakah kalian ragu ketika melihat matahari tanpa ada awan di depannya? Mereka menjawab: Tidak. Nabi SAW berkata: Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu. Kemudian Allah berkata: Barangsiapa menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikutinya. Maka di antara mereka ada yang mengikuti matahari, di antara mereka ada yang mengikuti taghut (syaitan atau segala sembahan selain Allah). Setelah itu tinggallah dalam umat ini kaum munafiknya. Kemudian Allah azza wa jalla mendatangi mereka, lalu Dia berkata: Aku adalah Tuhanmu. Mereka berkata: Ini adalah tempat kami hingga Tuhan kami datang. Apabila Tuhan kami datang, kami akan mengenali-Nya. Kemudian Allah datang kepada mereka, lalu Dia berkata: Aku adalah Tuhanmu. Mereka berkata: Engkau Tuhan kami. Allah memanggil mereka, lalu dipasanglah shirat di tengah jahannam. Maka aku adalah Rasul pertama yang lewat bersama umatnya. Tiada seorang pun yang berbicara pada hari itu selain para Rasul. Perkataan para rasul pada waktu itu adalah: Allahumma sallim, sallim (Ya Allah, selamatkan, selamatkan). Di jahannam terdapat kail-kail seperti duri Sa'daan. Nabi SAW berkata: Apakah kalian pernah melihat duri Sa'daan! Mereka menjawab: Ya. Nabi SAW berkata: Sesungguhnya kail-kail itu seperti duri Sa'daan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya, kecuali Allah. Kail-kail itu menyambar orang-orang sesuai dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada yang dibinasakan karena amalnya dan di antara mereka ada yang dipotong-potong kecil, kemudian selamat. Hingga ketika Allah azza wa jalla ingin mengasihi orang yang dimasukkannya ke dalam neraka, Allah menyuruh para malaikat mengeluarkan siapa yang menyembah Allah. Maka para malaikat mengeluarkan mereka dan mengenali mereka dengan bekas- bekas sujud, sedangkan Allah mengharamkan atas api neraka untuk memakan bekas sujud. Kemudian mereka keluar dari neraka. Setiap manusia dimakan api, kecuali bekas sujudnya. Mereka keluar dari api neraka setelah hangus terbakar. Kemudian dituangkan air kehidupan di atas mereka. Maka mereka tumbuh seperti biji yang tumbuh di tanah bekas banjir. Kemudian Allah selesai mengadili para hamba dan tinggallah seorang lelaki di antara surga dan neraka. la adalah penghuni neraka yang terakhir masuk surga. Ia hadapkan mukanya ke arah neraka. ia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, baunya telah meracuniku dan nyalanya telah membakarku. Allah berkata: Tidak. Apakah jika hal itu dilakukan terhadapmu, engkau akan meminta yang lainnya? Orang itu menjawab: Tidak, demi keperkasaan-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah apa saja yang ia inginkan. Kemudian Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika Allah menghadapkannya ke surga dan melihat keindahannya, ia pun terdiam'selama yang dikehendaki Allah. Kemudian ia'berkata: Ya Tuhanku, majukan aku di depan pintu surga. Kemudian Allah berkata kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta selain yang telah engkau minta? Orang itu menjawab: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling sengsara. Allah berkata: Apakah kiranya jika engkau diberi seperti itu, engkau tidak akan meminta lainnya? Orang itu menjawab: Tidak, demi keperkasaan-Mu, aku tidak akan meminta selain itu. Maka ia pun berjanji kepada Tuhannya sebagaimana yang diinginkannya. Kemudian Allah memajukannya ke pintu surga. Ketika tiba di pintu surga dan melihat keindahannya dan kesegaran serta kegembiraan yang terdapat di dalamnya, ia pun terdiam selama yang dikehendaki Allah. Kemudian ia berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga. Maka Allah berkata: Kasihan kamu, hai anak Adam, alangkah curangnya kamu, bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta selain yang telah diberikan kepadamu? Orang itu berkata: Ya Tuhanku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling sengsara. Maka Allah azza wa jalla tertawa (ridha) kepadanya, kemudian mengizinkannya masuk surga. Allah berkata kepadanya: Sebutkan keinginanmu. Maka orang itu menyebut keinginannya. Setelah berhenti menyebut keinginannya. Allah azza wa jalla berkata: Tambahilah begini dan begini. Tuhannya azza wa jalla terus mengingatkannya hingga ketika semua keinginannya telah habis, Allah Ta'ala berkata: Semua itu untukmu dua,kali lipat. 32 MENGUCAPKAN TASBIH DAN BERDOA DI DALAM SUJUD Diriwayatkan dari Aisyah r.a.. ia berkata: Adalah Nabi SAW banyak mengucapkan dalam ruku' dan sujudnya: Subhanakallahumma robbana wa bihamdika Allahummaghfir li (Maha suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah ampunilah aku). Beliau menakwilkan Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW berdoa dalam shalat: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al- Masihid Dajjal. aku berlindung kepada-Mu dari cobaan semasa hidup dan cobaan sesudah mati. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” Ada orang berkata kepadanya: Betapa seringnya anda memohon perlindungan dari hutang. Nabi SAW menjawab: Sesungguhnya apabila seseorang berhutang, ia pun berbicara, lalu berdusta. Dan berjanji. lalu mengingkari. Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. bahwa ia berkata kepada Rasulullah SAW: Ajarilah aku doa supaya aku mengucapkannya dalam shalatku. Nabi SAW berkata: Katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menganiaya diriku dan tiada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 33 DZIKIR SETELAH SHALAT Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Kaum miskin datang kepada Nabi SAW. Mereka berkata: Orang-orang kaya telah mendapat derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kita shalat, mereka puasa sebagaimana kita puasa. Mereka mempunyai kelebihan harta dan mereka menggunakannya untuk pergi haji, menunaikan umrah, berjihad dan mengeluarkan sedekah. Nabi SAW berkata: Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang sesuatu yang apabila kalian amalkan, niscaya kalian bisa menyusul Orang yang mendahuluimu dan tidak bisa disusul oleh seorang pun sesudah kalian, sedangkan kalian adalah yang terbaik di antara Orang-orang, kecuali siapa yang melakukan seperti itu. Kalian ucapkan: Subhanallah. dan Alhamdulillah serta Allahu Akbar setiap habis shalat. tiap-tiap ucapan 33 kali.
One Comment