Hadits

Terjemahan Kitab Tanqihul Qoul

BAB XXI KEUTAMAAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH TA’ALA

Allah Ta’ala berfirman :

Artinya : “karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku dan niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-ku”. (QS. 2 Al Baqarah : 152)

Para Ulama berbeda pendapat tentang tafsir ayat tersebut : 

1. Ibnu Abbas berkata : “Ingatlah kamu kepada-Ku”, maksudnya dengan mentaati Aku. “Niscaya Aku ingat kepadamu”, maksudnya dengan pertolongan-Ku.

2. Sa’id bin Jubair berkata : “Ingatlah kamu kepada-Ku”, maksudnya dengan mentaati Aku. “Niscaya Aku ingat kepadamu”, maksudnya dengan ampunan-Ku.

3. Fudlail bin ‘Iyadl berkata : “Ingatlah kamu kepada-Ku”, maksudnya dengan mentaati Aku. “Niscaya Aku ingat kepadamu”, maksudnya dengan memperoleh pahala-Ku.

4. Ibnu Kisan berkata : “Ingatlah kamu kepada-Ku”, maksudnya dengan bersyukur. “Niscaya Aku ingat kepadamu”, maksudnya menambah kenikmatan-Ku.

5. Pendapat-pendapat yang lain mengatakan :

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan tauhid dan iman. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan derajat dan surga.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, di muka bumi. Niscaya Aku ingat kepadamu, di dalam batinnya ketika penduduk bumi melupakan kamu.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, di dunia. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan ampunan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan berserah diri dan pasrah. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan usaha yang lebih baik.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan penuh kerinduan dan cinta. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan persambungan dan keakraban.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan sanjungan dan pujian. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan pemberian dan balasan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan bertaubat. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan ampunan dosa.

– Ingatlah aku kepada-Mu, dengan doa. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan pemberian.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan permohonan. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan keberhasilan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, tanpa melupakan. Niscaya Aku ingat kepadamu, tanpa menyia-nyiakan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan penyesalan. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan kemuliaan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan merasa malu. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan ampunan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan kehendak. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan faedah.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan ketulusan hati. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan ketenangan hati.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan hati. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan membukakan kesempitan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan tidak melupakan. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan keimanan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan merasa butuh. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan kekuasaan (kekuatan).

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan pengaduan dan memohon ampun. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan penuh kasih sayang dan ampunan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan iman. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan surga.

– Ingatlah kamu kepadaku, dengan Islam (penyerahan diri). Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan kemuliaan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan hati. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan membuka tabir.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan ingatan yang rusak. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan ingatkan yang kekal.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan merendahkan diri dalam memohon. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan keutamaan karunia.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan merasa hina. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan ampunan dari penyimpangan kebenaran.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan menyatakan mengaku salah. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan menghapus dosa.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan bersihnya rahasia. Niscaya Aku ingat kepadamu dengan kemurnian kebaikan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan kebenaran. Niscaya Aku ingat kepadamu, dengan kelembutan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan kejernihan. Niscaya Aku ingat kepadamu dengan memaafkan.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan mengagungkan. Niscaya Aku ingat kepadamu dengan keselamatan dari neraka.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan meninggalkan perkara yang sia-sia. Niscaya Aku ingat kepadamu dengan memelihara ketetapan.

– Ingatlah kamu kepadaku dengan meninggalkan kesalahan. Niscaya Aku ingat kamu dengan berbagai macam pemberian.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, dengan kesungguhan dalam khidmat. Niscaya aku ingat kepadamu dengan kesempurnaan nikmat.

– Ingatlah kamu kepada-Ku, menurut keadaanmu. Niscaya akui ingat kepadamu menurut keadaan-Ku.

Dan berdzikirlah kepada Allah Yang Maha Agung.

Demikian faedah yang dikemukakan oleh Syekh Abdul Qodir.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Dzikir kepada Allah adalah bendera iman dan terbebas dari sifat munafik serta menjadi benteng dari setan dan menjadi penjagaan dari neraka”.

Dzikir sebagai bendera iman atau panji-panji nya, dan pembebasan dari sifat munafik, karena menunjukkan bahwa orang yang berdzikir itu mempercayai adanya Allah dan membenarkan adanya seteguh hati. Juga menjadi benteng dari setan dan tameng dari neraka.

Apabila dzikir itu telah menempati hati, maka jika setan mendekati orang yang berdzikir itu ia terpelanting, sebagaimana terpelantingnya manusia ketika setan mendekatinya.

Lalu mereka berkata : “kenapa ini ?” Dikatakan : “Manusia telah menimpanya”.

Demikian faedah yang dikemukakan oleh Syekh Abdul Qadir Al Jailani Ra.

Nabi SAW bersabda : 

Artinya : “Dzikir yang paling utama adalah dzikir khafi (dzikir dalam hati)”.

Malaikat tidak dapat membawa naik dzikir khofi, karena tidak tampak padanya. Yaitu suatu dzikir yang rahasia antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala.

Demikian sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abdul Qodir.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Aisyah Ra : “Dzikir yang tidak didengar oleh malaikat Hafadhah mempunyai nilai tambah atas dzikir yang dapat didengar malaikat Hafadhah 70 kali lipat”.

Al Manawi mengatakan : “Yang dimaksud dzikir khafi itu adalah merenungkan dan memikirkan serta memperhatikan terhadap segala ciptaan Allah dan kenikmatan kenikmatannya, sedangkan orang yang memperhatikan itu selalu berdzikir dalam hati”.

Menurut Al ‘Aqami mengatakan : “Barangkali yang dimaksud dzikir khafi itu adalah memperhatikan dan memikirkan terhadap segala ciptaan Allah Ta’ala dan dalam mengistimbatkan hukum-hukum syariat serta menciptakan masalah-masalah fiqih yang selalu berjalan dalam hati seseorang dan memikirkannya”.

Dan inilah yang disabdakan Nabi SAW : “Dzikir yang tidak didengar oleh malaikat Hafadhah, yaitu para malaikat yang ditugasi menulis amal-amal perbuatan”.

Dalam hadits ini tidak dikatakan : “Dzikir yang tidak dapat dilihat (diketahui) malaikat Hafadhah. Adapun Dzikir khafi itu mempunyai nilai tambah, karena dalam segala permasalahannya diperhitungkan lebih memberikan manfaat dan dalam menambah keimanan serta memberikan ke-Esaan Allah.

Nabi SAW bersabda : 


Artinya : “Seberat-berat amal ada tiga, yaitu : Dzikir kepada Allah Ta’ala pada setiap keadaan; menyenangkan saudara dengan hartamu; dan melayani orang yang sangat fakir dari dirimu”.

Dzikir kepada Allah pada setiap keadaan maksudnya di setiap waktu dan tempat. Menyenangkan saudara maksudnya menolongnya dengan harta.

Dan melayani orang yang sangat kafir dari dirimu, maksudnya menjadikan kan dirimu sebagai pelayan bagi orang yang membutuhkan, yaitu orang yang tertimpa kemelaratan yang berat.

Nabi SAW bersabda :

Artinya : “Tanda mencintai Allah adalah cinta berdzikir kepada Allah, dan tanda benci kepada Allah adalah benci dzikir kepada Allah Azza wa Jalla”. 

(Hadits diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Anas bin Malik Ra).

Al Manawi berkata : “Tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah Dia mencintai hamba-Nya karena berdzikir kepada-Nya. Sebab kalau Allah mencintai seorang hamba Dia mengingatnya, dan jika ia berdzikir kepada-Nya, maka Allah lebih mencintai kepadanya untuk mengingatnya dan sebaliknya”.

Rasulullah SAW bersabda, karena menceritakan dari firman Allah Ta’ala :

Artinya : “Aku tetap menyertai hamba-Ku ketika ia mengingat kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak karena berzikir kepada-Ku”.

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata dalam Bulughul Maram, bahwa hadits itu dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

Nabi SAW bersabda :

Artinya : “Berdzikir kepada Allah Ta’ala di waktu pagi dan sore adalah lebih utama daripada memukulkan pedang di dalam perang Sabil (menegakkan agama Allah)”.

Di dalam Ihya’ disebutkan, Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya berzikir kepada Allah Azza wa Jalla di waktu pagi dan sore adalah lebih utama daripada memecahkan pedang-pedang di dalam perang Sabilillah dan memberikan harta karena derma”.

Nabi SAW bersabda : 

Artinya : “Dzikir yang paling utama adalah “LA ILAHA ILLALLAH=Tidak ada Tuhan yang berhak dan wajib disembah selain Allah”.

Dalam riwayat Ad Dailami dari Anas Ra : “Dzikir kepada Allah dapat menyembuhkan penyakit penyakit hati, yaitu sebagai obat yang menimpa hati dari kegelapan dosa dan kelalaian”.

Nabi SAW bersabda :

Artinya : “Berdzikirlah kamu semua kepada Allah dengan “Dzikir Khamil”. Sebagaimana sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa dzikir khamil itu ?”. Beliau bersabda : “Yaitu dzikir khafi (dzikir samar di dalam hati)”.

(Hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Al Mubarok dari Dlamrah bin Hubaib).

Maksudnya, bahwa dzikir yang samar di dalam hati itu lebih utama daripada dzikir yang keras agar terjamin keselamatannya dari riya’ (pamer).

Demikian menurut kelompok ahli Tasawuf, bagi yang bukan baru memulai suluk. Adapun yang baru mulai, maka zikir keras lebih bermanfaat.

Sedangkan Nabi SAW adalah benar-benar memerintahkan manusia untuk melakukan apa yang lebih maslahat dan manfaat.

Nabi SAW bersabda :

Artinya : “Para hamba yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang-orang yang yang banyak berdzikir kepada Allah”.

(Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Turmudzi dari Abu Sa’id Al khudri dengan isnad shahih).

Dalam hadits tersebut menyebutkan dengan kata “Adz Dzakiruunallaha Katsiira” yang artinya orang laki-laki yang banyak mengingat Allah, mengandung maksud juga termasuk para wanita, tetapi mereka tidak disebut karena Mudzakkar mengalahkan atas mu’annats, sehingga orang-orang yang banyak berdzikir mengingat Allah itu adalah baik laki-laki maupun perempuan.

Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian “ADZ DZAKIRUUNALLAHA KATSIIRA”=orang-orang yang banyak berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah.

1. Imam Abu Hasan Al Wahidi mengatakan, bahwa Ibnu Abbas RA berkata : “Yang dimaksud orang-orang yang banyak mengingat Allah adalah mereka yang mengingat Allah pada setiap selesai shalat pagi maupun sore, di tempat pembaringan, ketika bangun dari tidurnya, ketika pergi dan pulang waktu pagi dan sore di rumahnya, mereka selalu mengingat Allah Ta’ala”.

2. Mujahid berkata : “Tidak termasuk orang-orang yang berdzikir kepada Allah, sehingga ia selalu mengingat Allah Ta’ala baik di waktu berdiri dan duduk maupun berbaring”.

3. Menurut ‘Atha mengatakan : “Siapa yang mengerjakan shalat lima waktu dengan memenuhi hak-haknya dengan sempurna, maka ia termasuk dalam firman Allah Ta’ala “ADZ DZAKIRUUNALLAHA KATSIIRA=Dan orang-orang yang banyak mengingat Allah”.

Maka ia berkata : “Apabila ia rajin membiasakan berdzikir yang telah diajarkan dan ditetapkan di waktu pagi dan sore, dalam keadaan yang berbeda-beda malam dan siang, yaitu dzikir yang telah ditetapkan sebagaimana amalan siang dan malam, maka ia termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Demikian sebagaimana disebutkan oleh Al Azizi dalam sirojul Munir.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khafi (rahasia dalam hati), sebaik-baik ibadah yang ringan lagi rutin dilakukan, dan sebaik-baik rezeki adalah yang mencukupi”.

Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi dari Sa’ad bin Malik dan Ibnu Abi Waqqash Ra dengan isnad shahih.

Dalam riwayat tersebut bahwa kata ” Al Khafi”  dengan kata “Al Mukhfi” dengan “mim”, maksudnya dzikir itu dirasakan oleh orang yang berpikir dari pandangan manusia, maka dzikir yang demikian ini lebih utama daripada dzikir yang jahar (keras dan terang-terangan).

Dalam hadits lain disebutkan, bahwa keutamaan dzikir yang samar atau dirasakan dalam hati karena dikawatirkan riya’ (pamer) dan dapat mengganggu orang lain yang sedang shalat.

Oleh karenanya Dzikir jahar itu pun utama jika dapat selamat dari hal yang demikian itu.

Adapun maksud sebaik-baik rezeki adalah yang cukup adalah sekedar secukupnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker