BAB XIX KEUTAMAAN DOA
Syekh Abdul Qodir Al Jaelani ra. berkata : “tidak baik bagi imam dan makmum keluar dari masjid tanpa berdoa. Allah ta’ala berfirman :
Artinya : “apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.
Maksudnya apabila engkau telah selesai mengerjakan salat maka berdo’alah, dan apabila telah selesai beribadah maka berdo’alah dengan sungguh-sungguh dan berharaplah kepada apa yang ada di sisi Allah serta tuntutlah dari padanya.
Disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik ra. Dari Nabi SAW. bahwasanya Beliau berkata : “Ketika imam berdiri di mihrabnya dan barisan makmum telah urut maka turunlah rahmat, yang pertama menjadi bagian imam,kemudian orang yang ada di sebelah kanannya lalu yang ada di sebelah kirinya, selanjutnya rahmat itu terpisah-pisah pada para jamaah.
Kemudian menyeruhlah seorang malaikat : “Beruntunglah Fulan dan merugilah Fulan. Adapun orang yang beruntung adalah orang yang mengangkat kedua tangannya sambil berdo’a kepada Allah Ta’ala ketika selesai dari salatnya lima waktu. Sedangkan orang yang merugi adalah yang keluar dari masjid tidak berdo’a.
Maka apabila ia keluar tanpa berdo’a, berkatalah para malaikat : “wahai Fulan, kamu merasa kaya dari Allah Ta’ala, kamu tidak mengharapkan kebutuhan kepada Allah!”
Nabi SAW bersabda :
Artinya : “do’a itu adalah otak ibadah”.
(Hadis diriwayatkan oleh turmudzi dari Anas ra. yaitu hadits sahih).
Do’a dikatakan sebagai otak perkara karena dua perkara pertama bahwa dengan berdoa berarti melaksanakan perintah Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya :
“Berdo’alah kepadaku!”, Maka iya merupakan otak ibadah dan kemurniannya.
Kedua, bahwa dengan berdoa apabila perkaranya sukses dari Allah Ta’ala, maka terputuslah angan-angan dari selain-Nya.
Dan inilah pokoknya ibadah.Karenatujuan beribadah adalah memperoleh pahala dari badannya, yaitu yang dituntut dengan berdo’a.
Al Hakim berkata : “Sesungguhnya do’a menjadi otak ibadah, karena do’a adalah berbuat kebaikan dari daya upaya dan kekuatan serta mengetahui bahwa segala sesuatu semuanya dari Allah Ta’ala dan menyerahkan kepada-Nya”.
Syekh Abdul Qodir Al Jaelani menyebutkan,bahwa adab (tata kesopanan) dalam berdo’a adalah :
- Menghadap kiblat.
- Mengangkat kedua tangannya.
- Memuji kepada Allah Ta’ala.
- Menyanjung kan shalawat atas Nabi SAW.
- Memohon hajatnya.
- Jangan memandang ke langit ketika berdo’a.
- Ketika selesai berdo’a maka ucapkanlah kedua tangannya pada mukanya. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi SAW. bahwasanya Beliau bersabda : “Memohonlah kepada Allah dengan batin-batin tapak tanganmu semua”.
Nabi SAW. bersabda :
Artinya : “Sesungguhnya Allah ta’ala mencintai orang-orang tetap serius dalam berdo’a”.
Nabi SAW bersabda :
Artinya : “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia menurut Allah ta’ala daripada do’a”.
Hadits tersebut menunjukkan bahwa karena orang yang berdo’a itu mengetahui kelemahannya dan sangat butuh kepada Tuhannya, serta dalam keadaan rendah dan menyerah.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Turmudzi, dan An Nasa’i dari Abu Hurairah ra. dan sanad-sanadnya adalah sahih.
Dalam kitab Ihya’ disebutkan, Nabi SAW. bersabda : “Memohonlah kepada Allah Ta’ala dan karunia-Nya, karena Allah Ta’ala senang untuk dimintai. Adapun ibadah yang utama adalah menunggu kelapangan”.
Nabi SAW. bersabda :
Artinya : “Allah Ta’ala berfirman : “Wahai hamba-Ku, Aku menyertai prasangkamu, dan Aku pun menyertaimu ketika kamu berdo’a kepada-Ku.
Maksudnya, jika seorang hamba itu berprasangka baik kepada-Ku maka prasangka baik nya itu tetap padanya, dan jika berprasangka buruk pada-Ku dengan prasangka bahwa aku berbuat buruk, maka keburukan itu menyertainya.
Aku pun menyertaimu, maksudnya adalah bahwa Allah senantiasa memberikan pertolongan. Dan apabila kamu berdoa kepada-Ku, maka aku mendengar apa yang kamu ucapkan, maka akupun memperkenankan permohonan itu.
Dan dalam riwayat Al ‘Askaridari Abu Hurairah Ra. dengan isnad Hasan Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “siapa yang tidak mau berdo’a ( memohon) kepada-Ku, maka Aku marah kepadanya”.
Maka sebaiknya bagi manusia jangan sampai lupa memohon kepada Tuhannya, sebagaimana Al ‘Azizi memberikan faidah.
Nabi SAW. bersabda :
Artinya : “Siapa yang tidak mau berdo’a kepada Allah Ta’ala, maka Allah marah kepada-Nya”.
As Syekh Abdul Qodir Al Jailani Ra. Berkata. : Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah Ra. : “Siapa yang tidak mau memohon kepada Allah maka Allah murka kepadanya”.
Seorang penyair mengatakan :
Artinya : Allah marah jika kamu tidak mau memohon kepada-nyaSedangkan manusia marah ketika meminta.
Nabi SAW bersabda :
Artinya : “Meninggalkan berdo’a itu adalah durhaka”.
Orang yang meninggalkan berdo’a adalah durhaka atau maksiat, karena ia tidak mau melaksanakan perintah Allah.
Nabi SAW bersabda :
Artinya : ” Do’a itu adalah pedang orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi”.
Doa sebagai pedang orang mukmin, sebab dengan gaman pedang itu dapat menolak bencana, sebagaimana menolak musuhnya dengan pedang.
Doa juga sebagai tiang agama, maksudnya agama bisa tegak dengan doa. Karena salat juga mengandung arti doa.
Dan doa merupakan cahaya langit dan bumi,maksudnya bahwa orang yang berdo’a itu berarti menerangi apa yang ada di langit dan di bumi.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al-Hakim dari Ali Ra. Yaitu hadits shahih.
Nabi SAW bersabda:
Artinya : “doa orang yang teraniaya itu dikabulkan sekalipun ia berdosa, maka dosanya ditanggung dirinya sendiri”.
(Hadits diriwayatkan oleh At Thayalis dan Abu Dawud dari Abu Hurairah. Juga dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad)
Orang teraniaya maksudnya dari penganiayaan orang yang menganiaya kepadanya,sehingga ia dalam keadaan terdesak dan tertekan lalu ia berlindung kepada Tuhannya.
Nabi SAW bersabda :
Artinya : “Takutlah terhadap do’a orang yang teraniaya, karena do’a orang teraniaya itu dibawa awan.
Allah lalu berfirman (kepadanya) : “Demi kemenangan-Ku dan keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu sekalipun tidak sekarang (pada waktu kelak kamudian)”.
Maksudnya,jauhilah penganiayaan agar orang yang teraniaya itu tidak berdoa terhadap kamu semua.
Dalam hal itu terdapat peringatan adanya larangan dari segala macam bentuk penganiayaan.
Doa orang teraniaya itu dibawa awan (mendung), maksudnya Allah Ta’ala memerintahkan untuk menaikkannya, sehingga awan yang putih melewati hingga sampai ke hadirat Allah ta’ala.
Pada waktu kelak kemudian adalah waktu yang panjang atau lama.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Thabrani dan Ad Dliya’ dari Khuzaimah dan Tsabit dengan isnad shahih.
Nabi SAW bersabda :
Artinya : “takutlah kamu semua terhadap doa orang teraniaya sekalipun dia itu adalah orang kafir, karena tidak ada (antara doa dan dikabulkannya) suatu dinding (penghalang)”.
(Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Dliya’ Al Muqaddasi dari Anas bin Malik dan isnadnya adalah shahih)
Ibnu ‘Arabi berkata,bahwa hadits ini terkait dengan hadits yang lain dimana orang berdoa itu terdapat tiga tingkatan :
- Adakalanya agar apa yang diminta segera dipenuhi.
- Adakalanya untuk menjadi simpanan yang lebih utama daripada nya
- Ada kalanya agar dapat menolak dari kejelekan.
Sebagai penutup uraian, doa di bawah ini adalah doa Syekh Abdulul Qodir Al Jaelani ra. :
Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, tidak ada Tuhan melainkan Dia, kepada-Nya aku berserah diri dan Dialah Tuhan pemilik ‘Arsy yang agung. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”.
Artinya : “Ya Allah, semoga engkau berkenan mengampuni kami dan dosa-dosa kami,baik yang kami nampakkan maupun yang kami rahasiakan dan yang kami samarkan maupun yang kami nyatakan, dan apa yang Engkau lebih Mengetahui dengannya daripada kami. Ya Allah, berilah kami merindukan-Mu di dunia dan akhirat, dan akhiri lah kehidupan kami dengan kebahagiaan, kesaksian dan ampunan”.
Artinya : “Ya Allah, jadikanlah kebaikan pada akhir umur kami dan kebaikan pada penghabisan amal perbuatan kami serta kebaikan hari-hari kami yaitu pada hari berjumpa Engkau. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari lengkapnya kenikmatan-Mu, dan dari mendadaknya penyakit-Mu, serta dari perubahan kesehatan Engkau”.
Artinya : “Ya Allah, sungguh kami memohon perlindungan kepada Engkau, dari mendapatkan kecelakaan dan dari kepayahan bencana, dari pandangan musuh dan berubahnya kenikmatan serta jeleknya ketentuan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari segala yang dibenci dan kejelekan, dan kami memohon kepada-Mu ya Allah, akan pemberian yang baik”.
Artinya : “Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Muagar Engkau berkenan menghilangkan penyakit kami dan membebaskan sakit kami, menyayangi orang orang mati kami dan menyehatkan tubuh tubuh kami. Semoga Engkau berkenan memurnikan agama kami, menjaga perlindungan kami, melapangkan dada kami, mengatur urusan kami mencukupi anak-anak kami,menutupi dosa kesalahan kami dan mengembalikan orang-orang pergi kami. Semoga Engkau berkenan menetapkan kami pada agama kami, dan kami memohon kepada Engkau akan kebaikan dan petunjuk”.
Artinya : “Ya Allah Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu semoga Engkau berkenan memberikan kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat, semoga Engkau mematikan kami termasuk golongan orang-orang Islam dengan kasih sayang-Mu, peliharalah kami dari siksa kubur, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang dari penyayang, wahai Tuhan semesta alam”.









One Comment