Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Al Kasyfu Wat Tabyin Karya Imam Ghazali

5. Golongan Kelima.

Orang yang kesulitan ekonomi dan kebiasannya mencari perkara yang benar-benar murni kehalalannya hingga membuat mereka lupa terhadap hati dan anggota tubuhnya yang terkait dengan selain masalah yang satu ini.

Sebagian mereka abai terhadap kehalalan sesuatu dalam makanan, pakaian dan tempat kerjanya dan hal tersebut menjadi semakin parah. Mereka tidak tahu bahwa Allah tidak ridha dengan seorang hamba kecuali yang sempurna ketaatannya. Barangsiapa yang mengikuti orang-orang yang tertipu di atas dan bagian-bagian dari mereka, sungguh ia telah tertipu.

6. Golongan Keenam.

Orang yang mengklaim mempunyai akhlak baik, suka tawadu dan berlapang dada dengan tujuan mengikuti jejak langkah pada sufi.

Mereka mengumpulkan suatu kaum dan membebani mereka dengan menyuruh berkhidmah kepada para _ sufi tersebut. Mereka melakukan cara itu supaya memperoleh barang-barang duniawi dan menumpuk harta.

Tujuannya tak lain adalah sombong dan memperbanyak harta. Mereka memperlihatkan tujuannya agar mendapat pelayanan dan pengikut. Lalu) dengan’ itu. mereka mengumpulkan barang haram dan syubhat untuk disalurkan kepada para sufi agar pengikutnya bertambah banyak dan namanya semakin tersebar.

Sebagian mereka menjilat harta para penguasa dan menyalurkannya untuk dana haji para sufi. Mereka mengira tujuannya adalah termasuk kebaikan dan sedekah. Sedangkan yang melatarbelakangi semua itu adalah sifat riya dan cari perhatian.

Semua itu dilakukan tetapi mereka abai terhadap semua perintah Allah, suka mengambil barang haram kemudian menyedekahkannya.

Misalnya seperti orang yang menyedekahkan uang haram untuk dana haji bagaikan orang yang mendirikan masjid kemudian mengotorinya dengan dalih bahwa usahanya adalah untuk memakmurkan masjid.

7. Golongan Ketujuh.

Orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk bermujahadah, memperbaiki akhlak dan menyucikan diri dari aib. Mereka memperdalamnya dengan selalu membahas halhal yang berkaitan dengan penyakit-penyakit hati, mengetahui segala risiko dan cara kerja tipuan itu terhadap mereka. Di setiap kondisi mereka sibuk menjaga diri dari segala penyakit hati dan mencari pembicaraan yang detail terkait dengan malapetaka hati.

Mereka berkata, “Ini merupakan penyakit dalam hati”, sedangkan mereka lalai dari aib yang ada di dalam dirinya yang juga terdapat aib. Mereka malah sibuk mencari kalimat yang rancu hingga waktunya terbuang sia-sia seakan-akan dirinya mampu berdiri sendiri tanpa peduli dengan siapa Tuhan yang menciptakannya.

Ibaratnya bagai orang yang yang seenaknya pada saat melakukan ibadah haji dan segala ritualnya tetapi tanpa memakai protokol yang telah ditentukan sehingga hajinya sia-sia.

8. Golongan Kedelapan.

Orang yang telah melewati tingkatan ini, mereka mengikuti tarekat sampai pintu makrifat terbuka. Setelah mereka akan sampai pada awal makrifat, mereka takjub dan merasa senang, hatinya kagum dengan perkara yang di luar logika kemudian sering memikirkannya, berpikir bagaimana cara membuka pintu makrifat tersebut dan menutupi hal itu dari orang lain.

Semua ini adalah tipuan karena keajaiban-keajaiban tersebut adalah jalan menuju Allah dan itu tidak ada batasnya. Barangsiapa yang berhenti karena terbuai dengan keajaiban tersebut, maka hal itu) dapat membelenggu dan memperpendek langkah hingga ia tidak mungkin sampai menuju tujuannya.

Ibaratnya seperti orang yang hendak mendatangi raja, ia melihat pintu istana dan melihat kebun yang dipenuhi bungabunga indah bermekaran serta cahaya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia pun terhenti dan habislah waktu yang ia miliki untuk bertemu dengan raja, akhirnya ia pulang dengan sia-sia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker