3. Golongan Ketiga.
Orang yang mengerti tentang akhlak tersebut. la mengerti bahwa hal tersebut merupakan akhlak yang buruk dari segi syariat. Namun, karena keterbuaiannya kepada diri sendiri menjadikannya telah bebas dari akhlak yang tercela ini.
Mereka mengira telah mendapatkan kedudukan di sisi Allah sehingga ia merasa tidak akan mendapat cobaan dari Allah. Hanya orang awamlah yang akan mendapatkan ujian tersebut, bukan orang yang telah sampai ilmunya sesuai level mereka.
Padahal sebenarnya yang siksanya lebih besar menurut Allah adalah mereka. Jelas mereka ini telah menyombongkan diri dan pamer serta mengharap kedudukan dan kemuliaan di mata manusia.
Yang menjadi sebab ketertipudayaan adalah prasangka bahwa hal tersebut bukan merupakan kesombongan melainkan memuliakan ilmu dan untuk menolong agama Allah. Mereka lupa bahwa Iblis bahagia dengan hal tersebut. Adapun pertolongan Nabi dapat diperoleh dengan apa? Dan dengan apa beliau menundukkan orang-orang kafir?
Mereka lupa terhadap kerendah hatian para sahabat Nabi-semoga Allah meridhai mereka semua-yang menghinakan dirinya sendiri, kefakiran serta rumahnya. Hingga sahabat Umar dicela saat tiba di Syam karena memakai baju yang lusuh. Beliau berkata, “Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, kami tidak mencari kemuliaan dari selain Islam”.
Lalu orang yang tertipu ini malah mencari kemuliaan agama dengan memakai pakaian yang halus dan bagus. Dengan hal itu mereka merasa telah berhasil mencari keagungan dan kemuliaan agama.
Bagaimanapun juga lidahnya tetap berkata dengan penuh dengki kepada orang lain dan orang yang tidak sependapat dengan pemikirannya. la tidak sadar bahwa yang ia lakukan adalah perbuatan dengki seraya berucap, “la marah karena merasa bahwa apa yang ia lakukan telah benar dan membantah orang yang berbuat perkara batil dalam permusuhan dan kezalimannya.
Mereka adalah orang yang telah tertipu, bahkan jika temannya yang berasal dari kalangan ulama dicela ia tidak akan marah, justru membuatnya gembira. Walaupun jika
ia menampakkan kemarahannya di depan manusia, sama saja menjadikan hatinya gembira.
Terkadang saat ia menampakkan ilmunya seraya berkata, “Tujuanku dengan ilmu ini adalah agar dapat memberi manfaat kepada makhluk”. Padahal ucapannya_ tersebut menjadikannya pamer. Karena jika seandainya tujuannya adalah memberi kemaslahatan untuk makhluk, tentu ia ikut senang jika kebaikannya ada pada tangan orang lain baik yang umurnya sepadan, lebih tua dan lebih muda darinya.
Terkadang ia mengunjungi para penguasa, memperlihatkan kehormatan dan memuji mereka. Jika ia ditanya, ia menjawabnya “Tujuanku (mendatangi penguasa) adalah agar memberi manfaat kepada orang-orang Islam agar mereka aman dan terhindar dari suatu bahaya”. Dia ini adalah orang yang tertipu.
Jika tujuannya memang demikian, seharusnya ia rela jika hal tersebut dilakukan oleh orang lain. Padahal, andai orang lain yang sepadan dengannya mendatangi penguasa tersebut, ia akan marah.
Dan ketika mereka hendak mengambil harta dari penguasa, seketika terlintas dalam benaknya bahwa perbuatan ini haram. Kemudian setan menghasud kepadanya, “harta inj tidak bertuan, harta tersebut untuk kemaslahatan umat islam, sedangkan engkau adalah imam dan ulama mereka, dan hanya denganmu agama menjadi tegak”.
Dalam hal ini setidaknya ada tiga kerancuan; pertama, harta yang tak bertuan. Kedua, harta tersebut untuk kemaslahatan umat islam. Dan ketiga, ia adalah imamnya.
Tidak dapat disebut seorang pemimpin melainkan orang tersebut mampu berpaling dari godaan dunia layaknya para nabi dan sahabat-sahabatnya. Contohnya adalah ucapan Nabi Isa AS, “Orang alim yang buruk bagai batu besar yang keras yang jatuh ke dalam jurang, ia tidak dapat menyerap air tidak pula dapat menumbuhkan tumbuhan” .
Golongan ahli ilmu yang tertipu sangat banyak, yang rusak lebih banyak ketimbang yang baik.
4. Golongan Keempat.
Orang yang menghukumi sesuatu dengan ilmu, membersihkan anggota badannya dan menghiasinya dengan taat serta meninggalkan maksiat.
Dan mereka meninjau akhlak yang ada dalam dirinya serta sifat-sifat hatinya seperti pamer, hasud, sombong, dengki, mencari kedudukan dan menentang keras terhadapnya, dan mencabut akar yang menjadi sumbernya di dalam hati.
Namun, mereka ini sesungguhnya tetap tertipu karena di dalam hati mereka masih tersimpan tipu daya setan. Menjadi sarang tipuan nafsu yang halus dan samar, mereka tidak memahaminya sedikitpun bahkan abai terhadapnya.
Mereka ibarat seperti orang yang membersihkan tanaman. Barangsiapa yang hendak membersihkannya dari rerumputan, hendaknya mengelilinya seraya mencabutnya. la tidak dapat menyelidiki sesuatu yang belum keluar ujung bagian atasnya dari bawah tanah.
Ia mengira seluruhnya telah tampak. Ketika ia lalai, akhirnya tanaman tersebut tampak dan merusak dirinya. Mereka jika masih ingin mengubah, maka semuanya masih bisa berubah.
Terkadang mereka tidak mau bercengkerama dengan makhluk karena sombong. Terkadang mereka menatap makhluk dengan tatapan yang penuh kehinaan. Terkadang sebagian dari mereka ingin memperbaiki pandangannya agar ia tidak dilihat dengan mata kelemahan.
5. Golongan Kelima.
Orang-orang yang meninggalkan ilmu-ilmu yang penting. Hanya mempelajari secara ringkas ilmu-ilmu terkait fatwa dalam pemerintahan, perdebatan, serta uraian tentang sosial duniawi yang terjadi antar makhluk untuk kemaslahatan kehidupan. Mereka hanya memperdalam ilmu fikih sehingga mendapat gelar ahli fikih (al-faqqih) dan ahli mazhab.
Terkadang mereka menyia-nyiakan ilmu tentang amal yang lahir dan batin, tidak introspeksi terhadap anggota tubuhnya, tidak menjaga lidahnya dari membicarakan orang lain, tidak menjaga perutnya dari hal yang haram, tidak menjaga kakinya untuk mengunjungi para penguasa, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Mereka tidak menjaga hatinya dari sifat sombong, pamer, dengki, dan seluruh sifat yang dapat merusak,
Mereka adalah orang-orang yang tertipu dari dua sisi; Pertama, Amal. Dalam kasus’ ini pengarang telah menjelaskannya dalam kitab Ihya’. Mereka diibaratkan bagai orang yang sakit yang belajar tentang obat-obatan kepada dokter, namun tidak malah memahaminya justru tidak mau mempraktekkan ilmunya.
Mereka menjerumuskan kepada kerusakan, tidak mau membersihkan dirinya. Malah sibuk mendalami tentang haid, diyat (denda), li’an, dan dhihar. Mereka menyia-nyiakan perkembangan kebersihan dirinya.
Mereka tertipu karena para makhluk mengagungkan dan memuliakannya serta salah satu dari mereka telah ada yang menjadi hakim dan pemutus fatwa. Setiap dari mereka saling menyindir temannya ketika saling berjauhan, dan_ ketika mereka berdekatan hilanglah rasa saling sindir tersebut.
Kedua, dari sisi ilmu. Mereka mengira tidak ada ilmu yang lebih penting dari ilmu fikih. IImu tersebut yang dapat menuntun pada keberuntungan dan keselamatan. Padaha| perkara yang menguntungkan dan menyelamatkan hanyalah rasa cinta kepada Allah, dan cinta tidak cukup tanpa mengetahui tentang Allah.
Lalu bagaimana cara mengetahui Allah? Ada tiga cara; mengetahui dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Perumpamaannya adalah orang yang merasa cukup bekal untuk perjalanan haji. Dan mereka belum tahu bahwa ilmu fikih adalah ilmu yang memahami tentang ibadah kepada Allah, termasuk haji. Sedangkan mengetahui sifat-Nya yang menakutkan dan mengancam adalah tidak lain agar hati senantiasa takut supaya dapat melanggengkan ketakwaan.
Sesuai dalam firman-Nya, “Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka
tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka?
Orang-orang ini merasa cukup hanya dengan memahami ilmu fikih yang menjelaskan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama hanya agar mahir berdebat, mempertahankan argumen dengan tujuan agar lawannya tidak berkutik. Mereka menolak kebenaran (yang lain) karena keangkuhannya. Sepanjang siang dan malam ia mempelajari tentang komparasi antar mazhab, mencari kesalahan lawan debat.
Mereka keluar dari batas keilmuan, malah hanya bertujuan untuk menang dari lawannya. Andai mereka mau menyibukkan diri dengan membersihkan hati, maka hal tersebut lebih baik untuknya. Kecuali mereka hanya sibuk berkutat pada ilmu yang membuat tidak bermanfaat baginya dan sibuk dengan urusan dunia.
Dan hal itu dapat mengantarkannya ke dalam neraka yang menyala di akhirat nanti. Padahal dalil-dalil yang digunakan oleh para imam mazhab itu didasari al-qur’an dan hadis. Maka tidak ada sesuatu yang lebih buruk ketimbang tertipunya mereka.









One Comment