C. Kelompok Ketiga; Hartawan.
1. Golongan Pertama.
Orang-orang yang turut andil dalam pembangunan masjid, madrasah, pondok, tandon air dan sesuatu yang kasat mata lainnya. Mereka mencantumkan nama mereka di petilasan batu, agar jasanya tetap dikenang setelah kematiannya, mereka mengira berhak mendapatkan ampunan dengan jasanya tersebut.
Mereka tertipu dari dua sisi. Pertama, harta yang diperoleh berbau zalim, syubhat, suap, dan sejenisnya yang dilarang. Mereka jelas mengundang murka Allah dari apa yang telah mereka kerjakan, yang dilakukannya merupakan kemaksiatan kepada Allah.
Satu-satunya yang harus mereka lakukan adalah bertaubat dan mengembalikan harta tersebut kepada tuannya jika mereka masih hidup atau ahli warisnya jika tuannya tidak ada. Dan jika pewarisnya tidak ada, maka yang wajib dilakukan adalah menggunakan harta tersebut untuk kemaslahatan.
Terkadang hal yang lebih utama adalah membagibagikan kepada para fakir miskin, demikian lebih berfaedah ketimbang dialokasikan menjadi suatu bangunan yang mana hal itu umumnya dapat menjadikan seseorang menjadi pamer, ingin terkenal dan merasa nyaman jika namanya disebut-sebut.
Kedua, mereka mengira telah ikhlas, berniat baik dalam berinfak, serta membangun tinggi sebuah bangunan. Andai ia dimintai untuk menginfakkan hartanya kepada orang miskin maka ia tidak tulus (lebih suka dipuji karena telah meninggikan Suatu bangunan ketimbang sedekah kepada fakir miskin) karena ia sendiri telah menyukai pujian yang bersarang di dalam hatinya.
2. Golongan Kedua.
Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang halal dan mengindari pekerjaan yang haram serta menginfakkan hartanya di masjid-masjid, tetapi mereka ini tertipu dari dua Sisi.
Pertama, karena pamer, mencari perhatian dan pujian. Kadang di kalangan tetangganya atau suatu daerah yang terdapat orang miskin, untuk membagikan hartanya kepada mereka merupakan keutamaan ketimbang infak ke masjid. Karena di daerah tersebut sudah banyak masjid.
Tujuan dari adanya masjid adalah agar manusia dapat berkumpul di sana, bukan untuk selainnya. Itulah kenapa masjid tidak dibangun di setiap jalan yang besar atau di sebelah pintu gerbang yang besar. Sedangkan para fakir miskin lebih membutuhkan harta tersebut.
Mereka merasa lebih nyaman mengeluarkan harta untuk renovasi masjid, karena dampaknya dapat dilihat oleh mata manusia. Mereka mengira ia akan mendapatkan pujian dari para makhluk dan mengira telah berbuat karena Allah padahal yang dilakukannya bukan diniati karena Allah. Allah Maha Mengetahui hal tersebut. Niatnya tersebut dapat mengundang murka Allah kepadanya tetapi mereka malah berucap, “Niatku ini hanyalah karena Allah semata”.
Kedua, ia tertipu karena menggunakan hartanya untuk memperindah masjid dengan hiasan yang dilarang dan dapat mengusik hati orang-orang yang shalat. Karena saat melihatnya, dapat membuat shalatnya tidak khusyuk dan menghadirkan hati yang keduanya menjadi tujuan utama dalam shalat.
Karena adanya faktor internal dan ekternal di dalam melakukan shalat tersebut harusnya menjadi pertimbangan bagi takmir. Oleh karenanya, tidak boleh menghias masjid dengan berbagai alasan.
Sayyidina Hasan RA berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW saat ingin merenovasi masjid di kota Madinah, Jibril mendatanginya seraya berkata, “Bangunlah dengan tinggi tujuh dzira’ dan janganlah engkau hiasi dan melukisnya”.
Mereka telah tertipu karena mengira bahwa perkara yang sebenarnya pekerjaan munkar malah dianggap sebuah pekerjaan yang baik, dan mereka tetap melakukannya.
3. Golongan Ketiga.
Orang yang menginfakkan harta dengan bersedekah kepada para fakir dan miskin. la meminta agar mereka berkumpul di satu tempat agar dapat melihat sebagian dari mereka bersyukur dan mengungkap kebaikan. Sehingga ia tidak menyukai sedekah dalam keadaan sepi dengan sangkaan bahwa menyembunyikan sedekah merupakan pengkhianatan dan pengingkaran bagi mereka.
Mengenai hal tersebut, Ibnu Abbas berkate, “Di akhir zaman nanti akan ada banyak orang haji tanpa niat yang jeles, mudah bagi mereke untuk bepergian, rezekinya melimpah.
Mereka pulang menjadi orang yang dosa dan mencuri. Mereka dengan mudah melalui semak-semak dan padang pasir menggunakan kendaraan yang mewah sedangkan tetangganya kelaparan, tetapi ia tidak menolong dan perhatian kepada mereka.









One Comment