Obat Penawar dari Tertipunya Orang Kafir.
Di antaranya adalah iman yang kuat (at-Tashdiq) dan petunjuk (al-Burhan).
Solusi pertama yaitu dengan cara mempertebal iman kepada Allah SWT melalui firman- Nya, “Apapun yang berasal dari Allah SWT adalah baik dan kekal”, sedangkan yang berasal dari selain Allah pasti akan sirna.
Firman Allah yang lain berbunyi “Kehidupan dunia tidak lain hanyalah merupakan kesenangan yang palsu”. Serta (mempertebal) iman kepada utusan-Nya dan apa yang telah diturunkan kepadanya (Al-Qur’an).
Solusi kedua yaitu mencari petunjuk. Orang yang telah terperdaya hendaknya mengetahui rusaknya analogi yang berasal dari iblis bahwa dunia itu bersifat pasti sedangkan akhirat hanya sebatas janji manis. Letak kesalahannya adalah prasangka terhadap sesuatu yang telah terjadi itu lebih baik dari yang belum terjadi.
Prasangka seperti di atas tidak bisa dipercaya validitasnya. Bahkan jika seandainya keduanya sama-sama dikomparasikan, sebenarnya bahagia di dunia itu memang merupakan satu kebaikan. Namun kebahagiaan yang didapat sejatinya tidak lebih hanya bersifat sedikit dan sementara.
Sedangkan hidup bahagia di akhirat tentu jauh lebih baik dari pada hidup bahagia semasa di dunia.
Jelas sekali kebahagiaan di akhirat bersifat abadi sedangkan dunia hanya fana. Maka dari itu, dalam setiap doa hendaknya kita sebagai hamba selalu mengharapkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (as-sa’adah fi ad-darain).
Ungkapan “Kesenangan dunia itu pasti, dan kesenangan akhirat tidak pasti” juga merupakan kesalahan. Bagi orangorang mukmin, kesenangan di akhirat itu pasti terbukti karena mempunyai dua tendensi.
Pertama, iman dan percaya melalui jalan yang telah diajarkan oleh para Nabi terdahulu dan para ulama selaku ahli waris. Sama halnya seperti yakinnya seorang pasien terhadap resep obat yang telah disarankan langsung oleh dokter.
Kedua, melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan ilham yang diturunkan kepada para wali.
Maka tidak tepat jika berprasangka bahwa Nabi SAW mengetahui seluruh urusan akhirat dan dunia melalui malaikat Jibril AS. Asumsi ini bukanlah pengertian yang benar dan lurus.
Nabi SAW dijauhkan oleh Allah SWT dari hal-hal tersebut, bahkan sesuatu tersebut membuka tabirnya sendiri hingga kemudian Nabi membuktikannya melalui ‘penglihatan hati’ bagai tersingkapnya sesuatu yang tidak jelas terlihat hanya dengan melihat dari sisi luarnya.
Mukmin Yang Sama Tertipunya Dengan Kafir.
Yaitu. orang-orang mukmin dengan lidah dan keyakinannya yang telah abai terhadap perintah Allah yakni beramal shalih, dan terperangkap dengan hawa nafsu. Mereka adalah Orang Mukmin Yang Sama Tertipunya Dengan Orang Kafir.
Kehidupan dunia telah menipu orang kafir sedangkan mereka orang mukmin telah tertipu bahwa tertipunya orang kafir adalah karena mengingkari Allah.
Ibarat ucapan mereka tentang dirinya sendiri, “Jika Allah membantu kami, maka dengan itu kami lebih berhak mendapat pertolongan ketimbang orang lain”.
Seperti firman Allah dalam surat al-Kahfi yang berbunyi, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku kira hari kiamat itu tidak akan datang, dan sekirang aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan Mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada ini”.
– Faktor Yang Menjadikan Mereka Tertipu.
Ketertipuan tersebut berdasarkan analogi yang dikampanyekan oleh Iblis laknatullah. Mereka memandang nikmat yang telah diberikan oleh Allah selama di dunia sama dengan nikmat yang diberikan di akhirat kelak.
Suatu hari ketika mereka melihat siksa Allah yang ditangguhkan kepada mereka selama di dunia, maka mereka analogikan dengan siksa akhirat.
Sebagaimana firman Allah, “Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?”, Cukuplah bagi mereka neraka jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburukburuk tempat kembali”.
Mereka juga memandang orang-orang mukmin sebagaj Orang yang fakir. Mereka memandangnya dengan pandangan hina seraya berkata, “Orang-orang semacam inikah di antargakita yang diberi anugerah oleh Allah?”. Dan mereka berkata, “Sekiranya al- Qur’an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya”.
Urutan qiyas yang diyakini dalam hati mereka dalam perkataannya; “Allah telah berbuat baik dengan memberi kenikmatan duniawi kepada kita, setiap kebaikan pasti disenangi dan setiap hal yang disenangi adalah bersifat baik’. Padahal bukan seperti itu, bahkan setiap yang baik belum tentu disenangi.
Terkadang hal-hal yang (kelihatannya) baik justru dapat menjadi sebab kerusakan bagi dirinya sendiri, dalam arti lain yaitu istidraj. Prasangka yang seperti di atas merupakan ketertipuan yang sangat jelas bagi seorang hamba terhadap Allah SWT.
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari kenikmatan dunia yang dicintainya sebagaimana kalian mencegah orang yang sakit dari suatu. makanan dan minuman padahal mereka menyukainya” (HR. Ahmad dan Hakim).
Orang-orang yang mempunyai penglihatan hati saat berhadapan dengan (kemewahan) dunia, mereka akan bersedih hatinya. Sebaliknya, ketika mereka berhadapan dengan kesusahan, hati mereka justru senang. Mereka_berkata, “Selamat datang syiar orang- orang yang shalih”.
Allah telah berfirman, “Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia_ berkata, “Tuhanku _ telah memuliakanku”.
Dan firman Allah, “Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak- anak kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya”.
Dan firman Allah, “..Kelak akan kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh”.
Dan firman Allah, “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”.









One Comment