Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Al Kasyfu Wat Tabyin Karya Imam Ghazali

D. Kelompok Keempat; Ahli Tasawuf.

1. Golongan Pertama.

Orang-orang ini adalah para sufi di zaman ini, kecuali orang yang dijaga oleh Allah. Mereka tertipu sebab pakaian, ucapan dan merasa kagum. Mereka terlihat seperti orang- orang yang paling benar di kalangan sufi baik dari cara berpakaian, berperilaku, berkata, bertata krama, berupacara dan membuat istilah.

Yang jelas dimiliki mereka adalah suka mendengarkan, menari, bersuci, shalat, duduk di atas sajadah sambil menundukkan kepala, dan memasukkannya ke dalam kerah baju seperti orang yang merenung sambil menghela nafas yang panjang dan mengecilkan suara dalam berbicara dan bercakap dengan orang lain.

Saat mereka menyadarinya, yang dikira adalah bahwa hal itu dapat membuat mereka selamat, padahal sama sekali mereka tidak bersusah payah dengan beribadah, riyadah, dan mendekatkan diri agar dirinya menjadi bersih luar dan dalam dari segala dosa yang samar dan tersembunyi. itu semua adalah bagian dari ajaran-ajaran tasawuf.

Kemudian mereka juga menyukai perkara yang haram, syubhat, dan harta penguasa. Mereka berebut mendapatkan anggur dan uang, mereka saling iri meski sebesar biji kurma dan setipis selaput biji kurma. Sebagian dari mereka menghina kehormatan orang lain saat orang tersebut tidak sependapat dengan mereka.

Mereka itulah orang-orang yang tertipu. Ibarat orang tua renta yang mendengar bahwa ada seorang pemberani, pahlawan dan para pejuang yang namanya tertulis dalam daftar buku orangorang yang hebat. la pun berpakaian seperti pakaian orang hebat tersebut.

Saat sampai di hadapan seorang raja dan ditunjukkan timbangan amalnya, maka ditemukan fakta bahwa ia adalah seorang perempuan tua renta yang sangat buruk.

Dan sebuah pertanyaan dilontarkan kepadanya, “Apakah kamu tidak punya rasa malu

karena  keteledoranmu  di  hadapan  sang  raja?,  lemparkan  dia  di  sekeliling  gajah”.

Kemudian ia dilemparkan di  sekeliling gajah dan gajah mendorongnya hingga ia mati terbunuh.

2. Golongan Kedua.

Orang yang lebih parah tertipunya, mereka sulit mengikuti tradisi dalam memakai pakaian keseharian, suka makan, suka menikah, dan rumah mewah. Mereka ingin menunjukkan sisi kesufiannya tetapi cara berpakaiannya jauh dari cara berpakaiannya ahli tasawuf.

Ahli tasawuf tidak memakai sutera dan baju berbahan sutera, tetapi mereka malah memakai pakaian yang berkelas, handuk yang lembut, serbet yang indah dan sajadah yang berwarna-warni. Karena serbet yang indah harganya lebih mahal dari harga sutera. Mereka juga tidak menjauhi maksiat yang lahir apalagi yang batin.

Mereka hanya ingin hidup bahagia dan makan dari harta para penguasa, mereka kira hal itu baik baginya. Bahaya yang ditimbulkan oleh mereka jauh melebihi bahayanya seorang pencuri karena mereka bisa mencuri hati orang lain melalui pakaian yang lekat pada tubuhnya sehingga ia pun diikuti oleh orang lain dan inilah yang menjadikan sebab mereka tertipu.

Jika dikuak dari awal, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka seolah-olah adalah ahli tasawuf tapi sejatinya mereka sendiri justru berseberangan dengan ajaran sufi.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker