4, Golongan Keempat.
Orang-orang yang tertipu sebab membaca al-qur’an. Ia selalu membaca dengan berulang-ulang dengan cepat di kamarnya, kadang dalam sehari semalam langsung khatam. Lidahnya membaca al-qur’an tetapi hatinya selalu berkhayal memikirkan dunia, tidak sedikitpun terbesit arti dari ayat-ayat tersebut agar ia terhindar dari segala macam hal yang dilarang.
Dan supaya dapat menerima nasihat, menjalankan yang telah diperintahkan, dan menjauhi larangan. Dapat mengambil hikmah dari tempat-tempat yang ia singgahi selama membaca al-qur’an, merasa nyaman dengan al-qur’an karena maknanya bukan dari susunannya.
Barangsiapa yang membaca al-qur’an sebanyak 100 kali dalam sehari semalam,
kemudian ia meninggalkan apa yang diperintah dan melakukan maksiat maka ia akan
mendapat siksaan. Terkadang mereka ini mempunyai suara yang bagus dan merasa nyaman dengan bacaannya, mereka ini tertipu dengan perasaan amannya tersebut.
Mereka mengira dengan suara yang bagus maka akan membuat nyaman saat bermunajat kepada Allah dan mendengarkan firman-Nya. Ekspektasi yang sangat jauh sekali, padahal ketenangan saat mendengarkan firman Allah tidak dilihat dari suara dan kemerduannya, hatinya juga tidak terlalu bergantung dengan hal tersebut. Kenyamanan mendengar firman Allah itu terletak dalam maknanya.
5. Golongan Kelima.
Orang yang tertipu karena berpuasa. Terkadang mereka berpuasa bertahun-tahun dan di hari-hari yang dimuliakan tetapi lidah mereka masih suka ghibah, tidak mampu menahan keinginan untuk berbuat pamer, tidak bisa menjaga perut dari perkara haram ketika berbuka, dan tidak dapat menjaga khayalan terhadap sesuatu yang tidak berguna baginya.
Hal tersebut membuat mereka tertipu yang sangat besar sekali. Mereka meninggalkan kewajiban tetapi melaksanakan perkara yang sunnah dengan dalih hal itu akan dapat menyelamatkan mereka. Padahal tidak, yang selamat adalah orang yang didatangi oleh Allah dengan hati yang selamat.
6. Golongan Keenam.
Orang-orang yang suka berdakwah dengan cara menakut-nakuti, mengajak berbuat makruf, meninggalkan perkara yang mungkar dan berbuat kebaikan tetapi sayangnya ia lupa terhadap dirinya sendiri. Menyuruh orang lain untuk berbuat baik tetapi ia sendiri malah berlaku kejam, mencari jabatan dan kemuliaan.
Saat ia berbuat kemungkaran dan ada orang lain yang mengingkarinya, ia akan marah
seraya berkata, “Saya berniat karena Allah, bagaimana mungkin kalian mengingkariku?”.
Terkadang orang-orang menghadiri majelis atau masjidnya, apabila ada yang datang terlambat maka ia akan memarahi dan memaki. Tak lain tujuannya adalah pamer, mencari reputasi dan menyukai jabatan. Hal ini ditandai dengan orang lain selain dirinya berdiri, maka ia akan menegur Orang tersebut.
Bahkan sebagian dari mereka menjadi muadzin dan menyangka adzannya karena Allah. Andai ada orang lain yang adzan selain dirinya, maka ia akan marah dan berkata, “Kenapa kamu mengambil hakku? Apa kamu ingin menyaingiku?”.
Sebagian lagi menjabat sebagai imam masjid, ia mengira telah berada di jalan yang benar. Tujuan sebenarnya tak lain agar ia diakui sebagai imam masjid. Sedangkan tandanya yaitu jika ada orang lain yang ditunjuk sebagai imam meskipun orang tersebut lebih wara’ dan lebih alim darinya, maka ia merasa keberatan.
7. Golongan Ketujuh.
Orang yang tinggal di daerah dekat dengan Mekkah dan Madinah, mereka tertipu dengan keduanya karena mereka tidak dapat mengontrol hati serta tidak mau membersihkan diri dan hatinya. Barangkali hati mereka masih terpaut dengan negaranya sehingga mereka mudah berkata, “Saya pernah tinggal di Mekkah selama sekian tahun”.
Mereka semua telah tertipu, karena pernyataan yang benar adalah di manapun mereka tinggal, hatinya tetap terpaut dengan Mekkah. Jika mempunyai tetangga hendaknya mereka menjaga hak-hak dalam bertetangga.
Jika bertetangga dengan Mekkah hendaknya menjaga hak-hak Allah, dan jika bertetangga dengan Madinah hendaknya menjaga hak-hak Nabi SAW. Lalu siapa sebenarnya Orang yang mampu melakukan hal tersebut?
Mereka adalah orang-orang yang tertipu dengan hal-hal yang zahir. Dengan prasangkanya bahwa gedung (Mekkah dan Madinah) tersebut dapat menyelamatkannya. Padahal tidak. Kadang mereka tidak mau bermurah hati dengan bersedekah sesuap nasi kepada orang-orang yang fakir.
Jika bertetangga dengan manusia saja sulit lantas bagaimana bisa ia bertetangga dengan Allah. Alangkah indahnya bertetangga dengan Allah seraya menjaga diri dan hatinya.









One Comment