Dari Mana Sumber Ketertipuan Mereka?
Akar masalahnya adalah karena mereka tidak mengenal Allah dan sifat-sifatnya. Sesungguhnya orang yang mengenal Allah mereka selalu waspada dan tidak pernah merasa aman dari segala tipu daya yang berasal dari Allah. Mereka juga melihat apa yang telah dialami oleh Fir’aun, Haman, dan kaum Tsamud, bahwa Allah telah memberi mereka dengan gelimang harta.
Sungguh Allah memberi peringatan melalui tipu dayaNya dalam ayat, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”.
Dalam ayat lain, “Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.
Serta ayat,”Karena itu (hai Muhammad,) beri tangguhlah (kepada) orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar”. Maka barangsiapa yang memperoleh suatu kenikmatan, waspadalah jika ternyata hal itu menjadi bumerang kerusakan bagi dirinya.
Orang Maksiat Yang tertipu Dari Kalangan Mukmin.
Adapun tertipunya orang-orang yang maksiat dari kalangan mukmin adalah perkataannya sendiri yaitu; “sesungguhnya Allah Maha Mengampuni lagi Maha Mengasihi. Mereka memohon ampunan-Nya dan bertawakal tetapi tidak disertai dengan berbuat amal yang shalih.
Hal ini merupakan cara berharap (ar-raja’) yang keliru, Padahal ar-raja’ sebenarnya merupakan derajat yang terpuji dalam kehidupan dunia. Sesungguhnya rahmat Allah sangat luas, kenikmatan dari-Nya menyeluruh, kedermawanan-Nya merata serta kemuliaan-Nya menyeluruh. “Aku mengesakan Allah dan selalu berharap kepada-Nya melalui iman, memuliakan dan berbuat baik”.
– Dari Mana Sumber Ketertipuan Mereka?
Timbulnya keadaan tersebut diperkirakan terjadi karena adanya prinsip bahwa kehebatan seseorang tidak lepas dari kehebatan orang tuanya. Itu adalah puncak ketertipuan, karena sesungguhnya ayah mereka dengan kehebatan dan wirai-nya adalah karena merasa takut kepada Allah.
Analogi mereka karena hasutan setan bahwa barangsiapa yang mencintai seseorang, maka hendaknya mereka menyukai keturunannya. Allah telah mencintai ayahmu pasti mencintaimu pula, maka tidak perlu taat lagi. Mereka berpedoman dengan hal itu dan akhirnya tertipu.
Mereka juga tidak tahu bahwa Nabi Nuh hendak membawa anaknya ke dalam perahu tetapi anaknya menolak. Sehingga Allah menenggelamkannya dengan keadaan yang lebih mengenaskan ketimbang tenggelamnya kaum Nabi Nuh.
Sesungguhnya Nabi SAW meminta izin kepada Allah untuk menziarahi makam ibundanya dan memintakan ampunan kepada-Nya; maka Allah mengizinkan untuk menziarahinya tetapi tidak memberi izin untuk memintakan ampunan kepada-Nya.
Mereka lupa bahwa Allah berfirman, “Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa
orang lain. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”.
Siapapun yang mengira bahwa ia akan selamat dari siksa sebab ketaatan ayahnya adalah bagai orang yang bisa kenyang (tanpa makan) dan hilang dahaga sebab ayahnya yang makan dan minum.
Takwa kepada Allah merupakan fardu ‘ain, sehingga ketakwaan anak tidak dapat diukur dari ketakwaan orang tuanya. Sebagaimana firman Allah, “Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan ibu bapaknya, serta istri dan anakanaknya”. Kecuali ia mendapatkan syafaat.
Mereka lupa terhadap ucapan Nabi SAW, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berharap secara berlebihan terhadap Allah SWT”.
Dan firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang yang mengharapkan rahmat Aliah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Dan firman Allah, “Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan”. Tidak dapat dibenarkan jika mengharap rahmat Allah tanpa didahului dengan amal. Jika tidak didahului dengan amal, maka jelas hal tersebut adalah sebuah ketertipuan.
Orang Yang Tertipu Sebab Sedikit Kebaikan Dan Banyak \ Keburukannya.
Termasuk golongan yang ketertipuannya sama dengan orang mukmin yang bermaksiat di atas adalah orang yang taat namun masih melakukan maksiat, tetapi maksiatnya lebih banyak. Mereka ini meminta ampunan Allah dan mengira bahw timbangan kebaikannya lebih banyak, padahal sebenarnya timbangan keburukannya yang justru lebih berat. Ini adalah puncak dari kebodohan.
Lihatlah seseorang yang membelanjakan uangnya yang banyak, uang tersebut terdiri dari yang halal dan haram. la mendapatkannya dari harta orang lain, padahal perkara syubhat (tidak jelas status halal atau haram) nya lebih banyak.
Bagai orang yang meletakkan uang sepuluh dirham dalam satu timbangan dan meletakkan seribu dirham ke dalam timbangan yang lain. Kemudian ia berharap timbangan yang berisi seribu dirhamlah yang lebih berat. Tentu ini adalah sebuah puncak dari segala kebodohan.
Orang Yang Tertipu Sebab Menyangka Taatnya Lebih Banyak Dari Maksiatnya.
Ketika orang yang taat mengerjakan suatu amal, ia menjaga dan menghitungnya seperti orang yang beristighfar dengan lidahnya, membaca tasbih di siang dan malam sebanyak seratus atau seribu kali. Kemudian ia berharap mendapatkan keutamaan dari membaca tasbih. Lalu ia menakut-nakuti orang-orang Islam dengan perkara yang tidak diridhai Allah sepanjang hari.
Sedangkan ia sendiri lupa terhadap siksa bagi seorang pengumpat, pembohong, provokator, dan munafik. Maka dari itu, menjaga lisan dari ucapan yang menjadikannya maksiat lebih uttama dari membaca tasbih.









One Comment