9, Golongan Kesembilan.
Orang yang melampaui batas dari kelompok-kelompok sebelumnya. Mereka tidak berpaling dari cahaya-cahaya tarekat dan tidak peduli kepada sesuatu yang justru dapat membuatnya mudah mendapatkan pemberian yang melimpah. Mereka tidak berusaha untuk meraih pemberian tersebut.
Saat hampir meraihnya, mereka mengira telah sampai kepada Allah sehingga mereka berhenti dan tidak terus meraihnya. Mereka keliru karena Allah memiliki tujuh puluh hijab dari cahaya dan kegelapan. Seorang yang menempuhnya tidak akan bisa mencapai kecuali mereka merasa telah mampu meraihnya.
Hal ini sebagai isyarat dalam firman Allah tentang Nabi Ibrahim yang mencari siapa Tuhannya dan berkata, “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku”, maka ketika bintang itu terbenam ia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam””. Sungguh banyak sekali hijab yang ada pada maqom ini.
Adapun hijab yang pertama antara seorang hamba dan Tuhannya adalah hatinya. Ini merupakan sesuatu yang bersifat illahi yang agung, ia adalah satu cahaya dari banyaknya cahayacahaya Allah yaitu rahasia hati (sirrul qalbi) yang di dalamnya jelas ada hakikat dari segala kebenaran, sehingga ia dapat mengetahui apa saja yang terjadi di alam semesta.
Pada saat itu, cahaya orang tersebut memancar dengan dahsyat, semua hal yang wujud akan terlihat. Fase ini adalah fase pertama kali ia ditutupi dengan cahaya yang menutupi dirinya sendiri.
Tatkala cahaya ini tampak sehingga terbukalah keindahan hati setelah sinar Allah sampai kepadanya, orang yang memiliki hati tersebut terlena dengan yang dialaminya karena telah melihat keindahan hatinya melebihi apa yang dia takutkan. Dengan demikian ia akan berkata, “Akulah al-Haq”. Jika ia tidak paham dengan apa yang ada di baliknya dan dia berhenti di situ, maka ia celaka.
Dengan mata inilah orang-orang nashrani melihat Nabi Isa al-Masih ketika mereka melihat pancaran cahaya Allah kepada Nabi Isa. Tetapi mereka salah, bagai orang yang melihat cahaya dari cermin atau air, mereka mengira cahaya dalam cermin itu adalah cahaya yang sebenarnya (padahal bukan, lalu mereka mengulurkan tangannya untuk meraih cahaya tersebut. Mereka ini telah tertipu.
Ada banyak macam tipuan bagi orang yang menuju kepada Allah dan tak terhitung banyaknya. Kecuali setelah semua ilmu yang samar menjadi jelas. Karena itulah tidak
ada dispensasi dalam menyebutkannya. Terkadang dibolehkan menjelaskan hal tersebut agar seseorang tidak menjadi tertipu.









One Comment