8. Golongan Kedelapan.
Orang-orang yang meninggalkan kewajiban dalam memberi nasihat kepada umat padahal sebenarnya ia termasuk orang yang paling ditunggu petuah-petuahnya di zaman ini kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah. Mereka suka membuat keributan, kecemasan, mengumbar kata-kata yang melenceng dari aturan syariat dan mencari keadilan yang masih absurd.
Ada kelompok yang menyukai kata-kata yang cenderung lebay dan sepele. Kebanyakan membahas tentang hal yang puitis yang memperlihatkan tentang persatuan dan perpisahan,
Tujuannya adalah untuk mencari panggung demi kepura-puraan dan teriakkan-teriakan yang gaduh meskipun dengan cara yang tidak dapat dibenarkan. Mereka adalah setan yang berwujud manusia sesat dan menyesatkan.
Kelompok yang pertama memang tidak mahir memperbaiki diri sendiri tetapi mahir menguasai orang lain agar berbuat baik. Orang-orang tersebut selalu membenarkan ucapan dan nasihatnya.
Sayangnya mereka ini telah menyimpang dari jalan yang dibenarkan, kebiasaannya dalam menarik perhatian publik agar tertipu dengan kata-kata harapan palsu kemudian mereka malah tidak takut untuk berbuat maksiat dan senang terhadap dunia terlebih saat mereka mulai menyukai pakaian yang bagus, kendaraan dan transportasi serta dapat menjauhkannya dari rahmat Allah.
9. Golongan Kesembilan.
Orang yang terpesona dengan ucapan-ucapan yang keluar dari lisan orang-orang zuhud yang menceritakan tentang hinanya dunia. Mereka mengulang-ulang perkataan tersebut tanpa paham sedikitpun dari filosofi dan maknanya. Hal ity mereka lakukan di atas mimbar-mimbar, pasar-pasar bersama dengan orang-orang yang duduk bersamanya.
Mereka menyangka telah menjadi orang yang selamat di sisi Allah dan telah mendapat ampunan-Nya karena telah menyampaikan apa yang diucapkan oleh orang-orang zuhud tanpa disertai dengan amal alias hanya omong belaka tanpa melakukan sesuatu sesuai yang diucapkan. Mereka ini lebih .parah tertipu dari tertipunya orang-orang sebelum mereka.









One Comment