Orang-orang Yang Tertipu Dan Klasifikasinya Dalam Beberapa Kategori
A. Kelompok Pertama; Para Ulama.
Orang-orang yang tertipu ada banyak golongan. Salah satunya yaitu:
1. Golongan Pertama.
Orang yang belajar ilmu agama (syariat) dan logika, memperdalam dan menyibukkan diri dengan ilmunya hingga lalai terhadap anggota tubuhnya sendiri dari perbuatan maksiat. Dan orang yang taat tetapi mereka terpedaya dengan iImunya sendiri, mereka mengira telah mendapatkan suatu tempat/kedudukan di sisi Allah.
Mereka mengira ilmunya telah sampai pada level di mana Allah tidak akan menyiksa orang-orang seperti mereka. Bahkan (mereka kira) Allah telah menerimanya serta para makhluk juga akan mendapat syafaat sehingga Allah tidak akan menuntut semua dosa dan seluruh kesalahannya. Mereka ini sungguh telah tertipu.
Sesungguhnya kelompok ini memandang-dengan penglihatan hati-dan mereka tahu bahwa ilmu itu ada dua, ilmu muamalah (bersosial) dan ilmu kasyaf (al-mukasyafah). Ilmu kasyaf di sini adalah ilmu untuk mengenal Allah dan sifat-sifatNya.
Sedangkan ilmu muamalah merupakan ilmu tentang kebijaksanaan yakni untuk mengetahui tentang halal dan haram serta mengetahui akhlak manusia yang baik dan buruk.
Ibarat seorang dokter yang mampu mengobati orang lain sedangkan pada saat dokter tersebut yang ditimpa sakit, seharusnya dokter tersebut mampu mengobati dirinya sendiri tetapi ia tidak dapat melakukan karena energinya sedang lemah.
Apakah hanya dengan minum obat saja cukup? Tidak mungkin. Minum obat saja belum cukup tanpa dibersamai dengan melakukan hal lain seperti makan makanan yang sehat, menjaga pola tidur, minum air putih yang banyak dan lain-lain.
Mereka melupakan firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan’ jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. Allah tidak berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mengetahui cara menyucikan jiwanya, menyia- nyiakan ilmunya dan mengajarkannya kepada manusia.
Mereka juga lupa terhadap ucapan Nabi SAW, “sesungguhnya manusia yang mendapat azab pedih di hari kiamat nanti adalah orang alim sedangkan Allah tidak membuat ilmunya bermanfaat” (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Mereka ini termasuk orang-orang yang tertipu daya. naudzu billahi min dzalik. Mereka terbiasa menyukai dunia, akhirat dan ketenangan, mereka menyangka bahwa ilmunya nanti di akhirat tidak berguna jika tidak diamalkan.
2. Golongan Kedua.
Orang-orang yang menghukumi sesuatu dengan ilmu dan amal serta meninggalkan maksiat tetapi lupa menjaga hatinya sendiri.
Mereka tidak menghindari sifat-sifat yang tercela seperti sombong, pamer, hasud, mencari muka dan kedudukan yang tinggi, mengharap penghormatan dari orang lain dan sekutu mereka serta mencari popularitas.
Itu semua adalah ketertipuan. Penyebabnya adalah kelalaian mereka terhadap sabda
Nabi SAW:
– “Pamer merupakan syirik kecil”.
– “Dengki dapat memakan habis semua kebaikan bagai api yang melalap habis kayu
bakar”.
– ‘Cinta terhadap harta dan kemuliaan dapat menumbuhkan sifat munafik dalam hati bagai air yang menumbuhkan sayuran”.
Serta banyak hadis-hadis lain yang senada dengan pembahasan di atas .
Mereka melupakan firman Allah, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan
hati yang bersih”.
Mereka lalai menjaga hatinya sendiri karena telah sibuk dengan perkara yang lahir. Barangsiapa yang tidak membersihkan hatinya, niscaya tidak akan sah ketaatannya. Seperti orang yang sakit kudis, maka dokter menyuruhnya agar memakan anak rusa dan minum obat. Kemudian ia hanya memakan anak rusa tanpa minum obat. Akibatnya, hanya bagian luarnya saja yang sembuh tetapi bagian dalam tubuhnya tidak sembuh.
Padahal asal dari sesuatu yang terlihat dari luar tubuh berasal dari bagian dalam tubuh. Penyakit kudis yang ia derita akan terus kambuh, karena bagian dalam tubuh belum diobati.
Demikian pula dengan perbuatan yang tercela yang berasal dari dalam hati, akan terlihat dampaknya pada anggota tubuh. Namun, apabila penyakit dari dalam tubuh telah hilang, maka yang ada di luar tubuhnya akan menjadi bersih terbebas dari segala penyakit.









One Comment