Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ithaf Sail

Ia menutup keterangannya dengan menganjurkan orang-orang yang membaca bait-bait puisi di atas untuk rajin bershalawat kepada Rasulullah saw. Sebab shalawat merupakan rahmat dan penghormatan Allah swt, bagi Rasulullah saw, Nabi yang mempunyai kedudukan tinggi disisi-Nya.

Sebagai penutup penjelasannya, ia menganjurkan kita rajin membaca shalawat kepada Nabi saw sebagai pemberitahuan bahwa karunia apapun yang ia peroleh dan para arif billah merupakan hasil dari mengikuti jejak Rasulullah saw, sebab tutur kata dan kelakuan Beliau sangat sempurna. Tutur kata Beliau saw adalah jujur, berbobot, bersih dari kata-kata bohong, sebab Allah swt telah menerangkan kepada kita bahwa Beliau tidak mengucapkan satu kalimat pun kecuali didasari wahyu dari Allah swt.

Demikian pula tindak tanduk Beliau saw cukup bersih dari segala noda dan kekurangan, sebab Beliau saw tidak bertindak sesuatu dan tidak bertutur kata, kecuali sesuai dengan petunjuk dan isyarat dari Allah swt. Maka sangat beruntung siapapun yang mengikuti jejak Beliau saw dan mengamalkan sunnah Beliau saw. Sebaliknya, sungguh sangat celaka seorang yang enggan, apalagi menolak mengikuti jejak Beliau saw dan mengamalkan yang tidak sesuai petunjuk dan sunnah Beliau saw.

Para sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah hidup di masa Beliau saw, mereka beriman kepada Beliau saw, berhijrah bersama Beliau saw, menolong agamanya, berjuang bersama Beliau saw, dan menyampaikan ajaran Beliau saw, baik perbuatan Beliau mapun tutur katanya. Karena mereka memiliki sifat-sifat mulia, seperti yang kami sebutkan di atas, maka tidak seorang pun yang seperti mereka, mereka adalah manusia pilihan dan tokoh panutan.

Keluarga Rasulullah saw adalah kaum kerabat Beliau saw yang terkait erat dengan hubungan darah dan agama. Mereka adalah manusia yang paling dekat dengan Rasulullah saw dan yang paling dicintai oleh beliau saw. Allah swt mewajibkan umat Islam menyintai, menyayangi dan menghormati mereka. Mereka disucikan oleh Allah swt dari segala hal yang buruk. Karena itu mereka adalah keluarga yang paling mulia, karena mereka terkait erat dengan Nabi Muhammad saw, beliau adalah makhluk yang paling mulia.

Namun kemuliaan seperti itu tidak akan berguna bagi mereka, jika mereka tidak mengikuti jejak Rasulullah saw. Sebab, mereka adalah manusia terdekat dengan beliau dan manusia yang paling wajib untuk mengikuti jejak beliau saw. Siapapun di antara mereka yang enggan mengikuti jejak beliau saw, makaia adalah manusia yang paling celaka.

Sebab, mereka adalah manusia yang paling dekat dengan beliau saw. Sebagaimana halnya kemuliaan dan keutamaan akan diraih oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasul dengan baik, maka kemuliaan dan keutamaan tersebut akan lebih agung dan lebih utama bagi keluarga beliau saw yang paling baik amal kebajikannya.

Ya Allah… Anugerahkan kepada kami untuk mengikuti jejak Rasul-Mu dengan sempurna, baik akhlaknya, perbuatannya maupun tutur katanya. Bantulah kami untuk melakukan semua itu, berilah petunjuk kepada kami, anugerahkanlah ikhlas dan kesungguhan kepada kami dalam mengikuti jejak beliau saw.

Hidupkan dan matikan kami dalam mengikuti jejak Beliau sampai Engkau mempertemukan kami dengan beliau saw di surga-Mu kelak dan Engkau meridhai dalam kebaikan dan keselamatan, Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ini adalah akhir ulasanku tentang bait-bait puisi karya asy-Syeikh Abubakar di atas. Meskipun demikian, aku tidak mengakui bahwa ulasanku persis dengan yang dimaksud oleh penyusunnya. Namun ini adalah ulasan dari yang aku mengerti tentangnya. Jika ulasanku ini memang cocok, maka aku bersyukur kepada Allah swt. Jika sebaliknya, ulasanku ini semoga dapat memberi manfaat bagi sebagian orang yang memperhatikannya baik-baik.

Selanjutnya, kuakui dengan sesungguhnya, bahwa aku tidak banyak mengerti tentang hakekat wali-wali Allah swt dan kerinduan mereka kepada Allah swt dan tentang budi pekerti mereka yang mulia.

Dan kuakui pula bahwa kecintaanku kepada wali-wali Allah swt masih cukup, aku ingin mengikuti jejak mereka dan menambah jumlah mereka, dan aku berprasangka yang baik terhadap mereka, dan aku yakin bahwa mereka telah meraih ilmu mukasyafahdan musyahadah.

Aku berharap, semoga Allah swt mengikutkan aku bersama mereka dan mengaruniaiku makrifat dan kecintaan sesuatu yang diberikan kepada mereka. Sebuah hadis menyebutkan:

Artinya: “Manusia akan bersama orang yang disukainya.”

Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan:

Artinya: “Barangsiapa meniru jejak suatu kaum, maka ia adalah sebagian dari mereka.”

Dalam hadis yang lain disebutkan:

Artinya: “Barangsiapa memperbanyak jumlah anggota suatu kaum, maka ia adalah sebagian dari mereka.”

Meskipun demikian kisah perjalanan mereka telah lenyap, bahkan peninggalan-peninggalan mereka telah tiada, sehingga kita kesulitan untuk mencari orang-orang seperti mereka. Namun itulah yang terjadi. Sehubungan dengan hal ini asy-Syeikh Abu Madyan pernah menyebutkan dalam bait-bait puisinya yang awalnya mempunyai arti sebagai berikut: “Tidak ada kelezatan hidup kecuali bergaul dengan waliwali Allah swt…” Selanjutnya ia menyebutkan sebagai berikut:

“Ketahuilah, bahwa perjalanan hidup wali-wali Allah swt telah punah, maka bagaimanakah menurutmu, kalau ada orang yang mengaku-ngaku sebagai mereka pada hari ini. Kapan aku dapat melihat mereka, apakah mungkin aku dapat melihat mereka, atau apakah mungkin telingaku dapat mendengar kisah tentang mereka. Untuk siapakah aku, adakah orang sepertiku yang ingin menyaingi mereka di tempat-tempat mereka yang tidak pernah aku dapati ada kotoran di tempat itu.

Sungguh aku menyintai mereka, dan aku selalu merindukan mereka dengan tetesan air mataku, terutama ada beberapa orang diantara mereka. Mereka mempunyai budi pekerti yang mulia, dimanapun mereka duduk, pasti keharuman jejak mereka tetap semerbak.

Ilmu tasawuf telah mendidik budi pekerti mereka menjadi budi pekerti yang mulia, sehingga aku tidak dapat memejamkan mata di malam hari setelah melihat mereka. Mereka adalah kekasihku dan kecintaanku dan mereka memiliki budi pekerti yang dapat dibanggakan. Aku senantiasa ingin bersama mereka, semoga dosa-dosa kami dapat diampuni karena menyintai mereka.”

Inilah akhir penulisan Kitab Tthaaf as-Saail Bijawaabal-Masaail’ semoga Allah swt menjadikan kitab ini sebagai amal yang ikhlas, karena Allah swt Yang Maha Mulia, sebagai sarana untuk mendekatkan kepada rahmat dan ridhaNya. Semoga Allah swt mengampuni kami dari perbuatan yang tidak kami sengaja, yang bertentangan dengan kebenaran yang condong kepada kebatilan atau kepadahawanafsu, seperti, riya’ dan pura-pura.

Demikian pula semoga Allah swt mengampuni bagi siapapun yang menyebabkan terbitnya buku ini, bagi pembacanya, bagi penulisnya, bagi pendengarnya dan bagi ayah-ayah kami dan bagi seluruh saudara kami kaum muslimin.

Ya Allah, kami bersaksi bahwa karunia apapun yang ada pada diri kami, lahir serta batin, yang berada di dunia dan akhirat adalah dari-Mu, Engkau lah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, hanya untuk-Mu segala puji syukur atas semua karunia-Mu dan kami mohon perlindungan-Mu dari dicabutnya karunia-Muserta ditimpakannya siksa-Mu.

Kami mohon kepada-Mu, demi kemurahan-Mu, kasihanilah kami, sesuai dengan keluasan kemurahan-Mu dan karunia-Mu, meskipun kami tidak berhak mendapatkan karunia-Mu, tetapi kami yakin bahwa Engkau berhak untuk melimpahkan karunia-Mu. Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu kepada kami, karena Engkau Maha Pengasih Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam dicurahkan bagi Nabi kami saw dan segenap rasul-rasul-Mu. Walhamdulillaahi Rabbil ‘Alamiin.

Penulisan kitab ini selesai pada awal Hari Jum’at tanggal 15 Muharram, tahun 1072 H

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker