Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ithaf Sail

Mengetahui sesuatu

Aku pernah ditanya tentang ucapan al-Imam al-Ghazali: “Mengetahui sesuatu berbeda dengan pengetahuan mengetahui sesuatu.”

Ketahuilah bahwa ucapan tersebut sebenarnya sudah jelas. Namun supaya dapat mudah dimengerti, kami akan mencoba membuat sebuah permisalan. Kamu tahu bahwa hanya Allah swt yang menciptakan dirimu dan segala sesuatu. Itulah yang dimaksud dengan mengetahui sesuatu. Kemudian engkau mengetahui segala ciptaan Allah swt yang diciptakan untukmu, itulah dimaksud dengan pengetahuan mengetahui sesuatu.

Asy-Syeikh Khalil ibnu Ahmad berkata: “Kaum lelaki ada empat macam: Pertama, ada lelaki yang mengerti, namun ia mengetahui bahwa dirinya mengerti. Itulah orang’yang berilmu, maka ikutilah dirinya.

Kedua, ada lelaki yang mengerti, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya mengerti. Itulah orang yang tidur, maka bangunkanlah ia.

Ketiga, lelaki yang tidak mengerti, namun ia mengetahui bahwa dirinya tidak mengerti. Itulah orang yang meminta petunjuk, maka berikanlah petunjuk kepadanya.

Keempat, lelaki yang tidak mengerti, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengerti. Itulah orang yang bodoh, makajauhilah ia.”

Kaitan ilmu pengetahuan dengan keadaan dan kaitan keadaan dengan tingkatan

Akupun pernah ditanya tentang ucapan al-Imam al-Ghazali: “Ilmu akan membuahkan keadaan dan keadaan akan membuahkan tingkatan.” Apakah pendapat itu benar? Sebab ada yang berbeda pendapat dengannya.

Ketahuilah bahwa pendapat al-Imam al-Ghazali itu merupakan pemikiran yang pokok, meskipun ada yang berbeda pendapat dengannya, namun hal itu tidak dapat mengalahkannya. Keterangan dari pendapat ini dikenal dengan tingkat keyakinan, sehingga tingkatan-tingkatan yang lain dapat dikiaskan dengannya

Ketahuilah bahwa zuhud merupakan tingkatan yang mulia, sumber dasarnya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dan tuturkata para salafunassalihin yang mencela dunia dan orang-orang yang rakus terhadapnya, serta memuji mereka yang berpaling dari dunia dan mencurahkan perhatiannya kepada akhirat, sehingga hatinya menjadi zuhud terhadap dunia dan berharap besar kesenangan di akhirat.

Yang pertama adalah ilmu pengetahuan dan pengaruhnya adalah keadaan. Adapun sebagai tandanya adalah enggannya anggota tubuh kita menerima segala bentuk kesenangan dunia dan kemauan kita untuk mendapatkan kesenangan di akhirat dengan memperbanyak amal-amal shaleh.

Selanjutnya, ada kalanya pengaruh ini mendapat halangan berupa was-was dari setan dan hawa nafsu yang mengajak seorang condong kepada kesenangan dunia, sehingga untuk sementara waktu ia raguragu dan ada kalanya ia mengalami kondisi yang lemah atau ada kalanya ia menghilang was-wasnya itu pada sebagian waktu, itulah yang dinamakan keadaan.

Tetapi, jika perasaannya telah mantap dan akar-akar kokoh di dalam hati dan kemauannya tidak goyah sedikitpun, sehingga ia tidak ingin mendapatkan kesenangan dunia sedikitpun, maka di saat itu dinamai magam atau tingkatan, yang dengan kata lain disebutkan bahwa pengetahuan dapat membuahkan keadaan dan keadaan dapat membuahkan maqam atau tingkatan.

Dan bagi keduanya mempunyai tanda-tanda tertentu yang dapat membuktikan apakah ia benar ataukah ia palsu? Tanda-tanda itu terlihat pada sikap lahiriyah yang biasanya disebut amalan dan ia tumbuh dari ilmu pengetahuan, hanya saja ia terkait erat dengan sikap lahiriyah, sehingga dapat dibedakan antara ia dan keadaan.

Penyusun Kitab al-‘Awaarif menyebutkan bahwa keadaan-keadaan merupakan awal tingkatan-tingkatan, jika tingkatan keyakinan seorang telah mantap, maka ia telah meraih tingkatan yang lebih tinggi daripada yang telah ia raih pada waktu sebelumnya, maka ketahuilah baik-baik hal itu.

Perlu diketahui pula bahwa keadaan-keadaan mempunyai dua bagian, yang pertama seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya. Sedangkan yang kedua adalah, karunia apa saja yang datang kepada hati yang bercahaya sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan perjuangan yang keras, seperti timbulnya rasa tenang, fana, mabuk cinta dan bertemu.

Keadaan-keadaan semacam ini tidak dapat diraih dengan ilmu, tetapi hanya dapat diraih dengan berbagai amal shaleh yang dipenuhi dengan konsentrasi dan niat yang benar. al-Imam al-Ghazali tidak bermaksudkan menerangkan keadaan-keadaan yang sering dibicarakan oleh kaum sufi, yaitu keadaan bagian kedua.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker