Lisan, akal, dan kalbu
Aku pernah juga ditanya tentang ucapan al-Imam al-Ghazali di dalam Kitab Asrar at-Tilawah: “Lisan sebagai pemberi nasehat, akal sebagai penerjemah dan kalbu sebagai penerima pengaruh.”
Apa yang dikatakan oleh al-Imam al-Ghazali memang jelas. Tugas lisan adalah mengutarakan rangkaian kalimat yang mengandung arti, sedangkan akal mencernanya, kemudian menyalurkannya ke dalam kalbu, dan kalbulah yang bertindak sebagai penerima pengaruh. Dalam hal ini, akal bertindak sebagai seorang wazir yang bertindak sebagai penerjemah, sebab ia berada di antara lisan dan kalbu.
Masalah yang ia sebutkan ini diperuntukkan bagi Ashabul Yamin yaitu orang-orang yang mampu menyerap makna al-Qur’an ketika ia sedang dibaca maupun sesudahnya.
Sedangkan kaum mugarrabin, mereka dapat memahami kandungan makna al-Qur’an sebelum al-Qur’an dibaca, sebab kandungan makna alQur’an telah bercokol kuat di hati mereka dan ia senantiasa menyertai mereka, baik ketika al-Qur’an di baca ataupun tidak.
Menggunakan karunia Allah swt untuk maksiat
Aku juga pernah ditanya tentang ucapan al-Imam al-Ghazali tentang seorang yang menggunakan karunia-karunia Allah swt untuk maksiat: Sebenarnya mengharap sirnanya nikmat dari seorang tidak timbul karena hasud, tetapi timbul karena cemburu kepada Allah swt.
Perlu diketahui bahwa apa yang dikatakan oleh al-Imam al-Ghazali itu adalah benar, akan tetapi alangkah baiknya jika seorang mengharap sirnanya nikmat dari seorang yang suka berbuat maksiat, dan memohonkan petunjuk baginya, agar ia mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan menggunakannya untuk hal-hal yang baik.
Sejak pertama telah disebutkan kisah Dzan Nun bahwa ia melihat sekelompok orang berada di sebuah perahu, mereka ingin menuju ke suatu tempat dan mereka ingin menyaksikan bersihnya seorang dari dosa dengan cara yang batil dan menjauhi yang benar. Maka ia memohon kepada Allah swt, sehingga mereka tenggelam. Ketika ditanya, mengapa ia berbuat demikian, maka ia berkata: “Kesaksian laut lebih baik bagi mereka dari kesaksian yang tidak baik.”
Kejadian di atas dialami juga oleh asy-Syeikh Ma’ruf al-Karkhi, yaitu ketika ia berjalan dengan kawan-kawannya di tepi sungai Tiqris. Di tempat itu mereka melihat sekelompok orang sedang mabukmabukan dan bersenang-senang di atas sebuah perahu. Maka kawankawan asy-Syeikh Ma’ruf berkata kepadanya: “Wahai syeikh, berdo’alah kepada Allah untuk mereka.”
Maka ia mengangkat kedua tangan dan berdo’a: “Ya Allah, sebagaimana Engkau membahagiakan mereka di dunia, maka bahagiakan pula mereka di akhirat.” Mendengar do’a tersebut, kawan-kawannya bertanya: “Jika mereka engkau do’akan semacam itu, tentunya mereka akan bertaubat.” Maka dengan izin Allah swt, mereka mendatangi asy-Syeikh Ma’ruf al-Karkhi dan menyatakan taubatnya masing-masing.
Apa yang dilakukan oleh asy-Syeikh Ma’ruf merupakan perbuatan yang cukup mulia, karena ia bersifat kasih sayang kepada orang-orang yang berdosa, padahal ia adalah seorang wali Allah swt yang memiliki kedudukan besar disisi-Nya.
Apa yang disebutkan oleh al-Imam al-Ghazali tentang asy-Syeikh Ma’ruf di atas menunjukkan betapa besarnya kecemburuannya untuk Allah swt, meskipun ia dikenal sebagai seorang yang tegas di dalam agama.
Ketahuilah bahwa sifat cemburu ada dua macam: Yang pertama adalah k emburuan seorang untuk Tuhannya, yaitu ketika larangan-larangan Allah swt dilanggar oleh orang lain dan hak-hak-Nya diremehkan, maka ia murka karena Allah swt. Orang semacam ini selalu menyuruh yang baik dan mencegah yang munkar, dan membenci para pelaku kedzaliman dan suka mendo’akan mereka, seperti dilakukan oleh Nabi Allah Nuh dan Nabi Allah Musa as.
Yang kedua adalah kecemburuan seorang terhadap miliknya dan ia tidak ingin ada orang lain yang bersekutu dengannya, seperti seorang lelaki yang memiliki seorang isteri. Rasa cemburu macam ini ada kalanya terlalu agresif, sehingga seorang dapat menuduh yang tidak baik kepada orang lain, misalnya ia cemburu dalam masalah ilmu pengetahuan, ibadah, kedudukan, dan ada kalanya ia hasud dan membenci kepada orang-orang yang memiliki kelebihan, tentunya rasa cemburu macam ini tidak terpuji.
Adapun cemburu karena Allah swt adalah timbulnya rasa murka pada diri seorang ketika ia melihat hak-hak Allah swt dilecehkan oleh seorang, misalnya ketika melihat orang lain menyembah selain Allah swt dan melakukan maksiat terhadapnya, dan ada kalanya ia merasa cemburu karena Allah swt ketika ia melihat ada orang lain yang mempunyai sifat seperti sifat Allah swt, seperti sifat sombong, keagungan, kemuliaan dan yang semisal dengannya yang tidak pantas untuk dimiliki oleh siapapun selain Allah swt Yang Maha Agung.









One Comment