Mukaddimah
Aku menyadari bahwa pertanyaan untuk berbagai kepentingan dan kesulitan, sekaligus juga untuk menambah ilmu serta wawasan, merupakan kebiasaan orang-orang pilihan. Dengan kata lain, pertanyaan akan menjadi sesuatu yang wajib ketika pertanyaan itu berhubungan dengan pengetahuan yang wajib. Dan hal itu akan menjadi keutamaan untuk pengetahuan yang memberikan keutamaan.
Pertanyaan merupakan kunci untuk mengetahui apa-apa yang ada di dalam dada dan hati dari berbagai ilmu pengetahuan serta rahasia alam ghaib. Seseorang tidak akan dapat masuk ke dalam sebuah rumah, kemudian mengambil barang dan perhiasan, kecuali dengan menggunakan sebuah kunci.
Demikian halnya dengan seseorang, ia tidak akan dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan dari para ulama dan kaum ‘arifin, kecuali dengan bertanya untuk mendapatkan sebuah pengetahuan. Tentunya yang diiringi dengan kejujuran, antusiasme dan adab yang baik. Syari’at sendiri memerintahkan untuk bertanya, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah firman:
Artinya: “Bertanyalah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum dirimu.” (Qs. Yunus ayat: 94)
Dalam ayat lain, Allah swt berfirman:
Artinya: “Maka bertanyalah kalian kepada yang mengerti, jika kalian tidak mengetahui dengan berbagai penjelasan dan keterangan.” (Qs. an-Nahlayat: 48).
Rasulullah saw bersabda:
Artinya: “Pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu pengetahuan.”
Setiap orang yang diberitahu tentang luasnya ilmu sang ‘alim, maka ja pun akan mendatanginya untuk mendapatkan pengetahuan yang dimilikinya itu. Lalu ia pun bertanya dan meminta jawaban darinya. Hal tersebut diriwayatkan dari Sahabat Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, serta lainnya dari ulama salaf maupun ulama khalaf.
Para ulama mutagaddimin menghimbau kepada manusia untuk banyak bertanya. Pada masa-masa keemasan Islam, saat pada zaman Urwah ibnu Zubair, Hasan al-Basri, Qatadah, Sofyan ats-Tsauri, serta masih banyak lagi, mereka memerintahkan umat untuk bertanya kepada mereka. al-Iman Sofyan ats-Tsauri, ia segera keluar dari suatu kota jika tidak ada seorangpun yang bertanya kepadanya. Dalam sebuah kesempatan ia berkata: “Ini adalah kota yang mati akan ilmu pengetahuannya.”
Begitu juga dengan al-Imam asy-Syibli, ketika ia sudah duduk dj tengah halagahnya dan tidak ada seorang pun yang bertanya kepadanya, maka ia akan membaca ayat berikut:
Artinya: “Dan jatuhlah ketetapan kepada mereka karena kedzaliman mereka, maka mereka pun tidak berbicara.”
Terkadang, seorang ‘alim bertanya kepada mereka yang duduk di sekitarnya, agar ia dapat memberi pengetahuan kepada mereka, dan untuk mengetahui ilmu mereka, sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis yang shahih, bahwa Rasulullah saw berada di antara sekelompok sahabat. Kemudian beliau saw bertanya kepada mereka mengenai pohon yang tidak pernah jatuh daunnya, pohon itu bagai seorang mukmin.
Mereka pun tidak mengetahuinya, hingga kemudian Rasulullah saw memberitahukannya bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Sebenarnya diantara mereka ada Ibnu Umar ra. Ia tahu bahwa yang dimaksudkan adalah pohon kurma, namun ia tidak mau menjawabnya. Ketika ia menceritakan hal itu kepada ayahnya, Khalifah Umar ra, maka ayahnya itu mencela sikap Ibnu Umar ra tersebut.
Khalifah Umar ra sendiri banyak mengajukan pertanyaan kepada mereka yang duduk di sampingnya. Ketika ia bertanya kepada seseorang, kemudian ia memberi jawaban: Allah swt lah Yang Maha Mengetahui.”
Maka ia akan marah seraya berkata: Aku tidak menanyaimu tentang ilmu Allah swt, namun aku bertanya kepadamu tentang pengetahuanmu, maka Jawablah pertanyaanku, aku tahu atau aku tidak tahu.”
Terkadang, seorang ‘alim bertanya kepada teman duduknya tentang apa yang diketahuinya, agar diketahui oleh yang lain, contohnya adalah pertanyaan Malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw tentang iman, Islam dan ihsan. Mungkin saja seorang yang lebih rendah pengetahuannya bertanya kepada yang mempunyai iman yang lebih tinggi, karena suatu rahasia yang sangat lembut. Contohnya adalah pertanyaan Khalifah Umar ra kepada Sahabat Hudzaifah ra tentang fitnah dan kemunafikan.
Terkadang seorang ‘alim bertanya kepada orang ‘alim yang sama, atau kepada orang dekatnya tentang sesuatu dari al-Qur’an atau hadis, untuk mengetahui apakah pengertian orang tersebut sama dengan pengertiannya, agar dapat menguatkan serta mendukung pengertiannya. Contohnya, pertanyaan Khalifah Umar kepada sekelompok sahabat tentang pengertian surat an-Nashr.
Ternyata mereka semua tidak senada pengertiannya, selain Ibnu Abbas. Hal semacam ini sering terjadi pada kalangan ulama-ulama besar di masa lalu maupun zaman sekarang ini. Sementara pertanyaan Khalifah Umar ra kepada Khalifah Ali ra adalah untuk mendapat ilmu darinya, karena Sayyidina Ali mempunyai keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh sahabat lain. Ia adalah pintu gerbang dari kota ilmu, yaitu Rasulullah saw.
Adapun larangan Rasulullah saw kepada para sahabat untuk tidak banyak bertanya, meskipun larangan itu bersifat universal, namun sifat larangan itu secara spesifik adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah hukum-hukum, hukum pidana dan kondisi manusia, sebagai aplikasi kasih sayang beliau saw kepada umatnya, agar mereka tidak mendapat beban yang sulit pelaksanaannya.
Sebagai buktinya adalah firman Allah swt:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada Nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya dapat menyusahkan kalian dan jika kalian menanyakan di waktu alQur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepada kalian.
Allah swt memaafkan (kalian) tentang hal-hal itu. Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kalian menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka) kemudian mereka tidak percaya kepadanya.” (Qs. al-Maaidahayat 101-102)
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya Allah swt mewajibkan berbagai kewajiban, Janganlah kahan menyia-nyiakannya, dan membatasi berbagai batasan, maka jangan kalian melewatinya dan mengharamkan berbagai aspek, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan mendiamkan berbagai aspek sebagai kasih sayang-Nya kepada kalian, bukan karena lupa, makajanganlah kalian mempermasalahkannya.”
Dalam hadis lain dikatakan:
Artinya: “Sesungguhnya penyebab kehancuran orang-orang sebelum kahan adalah karena mereka banyak bertanya dan banyak menentang nabi-nabi mereka.”
Pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw tentang ibadah haji: “Apakah haji itu diwajibkan untuk setiap tahun?” Mendengar pertanyaan itu, beliau saw diam dan tidak menjawabnya. Ketika orang tersebut bertanya hingga berulang kali, barulah beliau saw menjawab: “Memang hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Andaikata saja ak berikan jawaban: “Ya, maka hal itu akan diwajibkan setiap tahun, dan tentulah kalian tidak akan mampu melakukannya.”
Sebagaimana firman Allah swt di dalam al-Qur’an:
Artinya: “Barangsiapa yang taat kepada Rasulullah saw, maka ia benar. benar telah taat kepada Allah swt.”
Dalam firman Allah swt yang lain disebutkan:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membaiatmu (Muhammad saw), sesungguhnya mereka telah membarat Allah swt.”
Selayaknya, seorang santri bertanya kepada syeikhnya tentang sesuatu, tidak mempunyai maksud apapun, selain untuk mencari ilmu pengetahuan. Jangan sekali-kali bermaksud untuk menguji dan melihat kedalaman ilmu syeikhnya, agar tidak membawa kebodohan dan kerugian.
Seorang guru apabila ditanya oleh muridnya tentang suatu masalah yang tidak dapat dimengerti olehnya, hendaknya ia melihat kpadaan si penanya, apakah jika ia diberi jawabannya tidak akan rugikan agamanya, tidak akan menyebabkan ia marah dan tidak akan menyebabkan ia berpaling dari tujuannya, Jika hal-hal tersebut tidak kan terjadi, maka beritahukan jawabannya.
Kalau sebaliknya, maka berilah jawaban yang sesuai dengan batas ilmu dan pengertian yang ia miliki. Jika ia menarik kembali pertanyaannya, maka janganlah ia sampai berkata seperti yang diucapkan oleh seorang ahli ilmu hakikat: “Tugasku hanya menyusun gawafi-gawafi dari sumbernya, maka bukan salahku jika seekor sapi memahaminya.”
Ucapan di atas memberi pengertian bahwa setiap ucapan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi pendengarnya. Seorang syeikh atau seorang guru harus bersikap sebagai seorang ayah, ia harus memiliki sifat penyayang. Atau sebagai seorang kawan yang amat dekat, hendaknya ia berbicara dan bergaul dengansetiaporang sesuaidengan kepentingan dan manfaatnya.









One Comment