Nafi dan isbat tentang Laa ilaaha illallaah
Ketahuilah bahwa kalimat tersebut mempunyai dua bagian. Pertama adalah bagian nafi, yaitu ucapan: “Laa ilaaha” yang artinya: “Tidak ada Tuhan.” Dan kedua adalah bagian ztsbat, yaitu ucapan: “illallaah” yang artinya: “Kecuali Allah swt.” Jika kalimat nafi dan itsbat diucapkan oleh seorang yang tidak mempersekutukan Allah swt dengan sesuatu.
Maka artinya adalah penafian dan penolakan terhadap dugaan orang musyrikin yang beranggapan bahwa ada tuhan lain bersama Allah swt dan menetapkan pengertian tauhid di dalam hati, dan pengertian ini makin bertambah teguh dengan diucapkannya kalimat ini berulang kali, seperti yang disabdakan Rasulullah saw dikatakan:
Artinya: “Perbaharuilah selalu iman kalian dengan ucapan: “Laa ilaaha illallaah.”
Demikian pula kalimat syirik mempunyai berbagai arti tersembunyi dan sangat kecil, yang tidak dapat terselamatkan daripadanya, kecuali para ‘arif ahli hakikat dan orang-orang yang diberi kasyaf yang dapat melihat kebenaran dengan mata telanjang. Ada kalanya seorang mukmin terkena sedikit penyakit syirik, meskipun ia tidak menyadarinya.
Contohnya Jika seorang percaya bahwa ada selain Allah swt yang dapat mendatangkan kebaikan dan menolak malapetaka secara mandiri. Termasuk juga jika seorang mempunyai antusias untuk berkuasa atas orang lain, menguasai hak-hak mereka, menyukai kedudukan, penghormatan dan pujian dari manusia.
Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad saw:
Artinya: “Kemusyrikan di tengah umatku lebih tersembunyi dari merayapnya semut hitam.”
Rasulullah saw sendiri menyebut riya’ dengan sebutan syirik kecil. Adakalanya seorang menyekutukan Allah swt dengan dirinya sendiri atau dengan lainnya, sedang ia tidak menyadarinya. Karena itu, seorang mukmin wajib menjaga dirinya dari syirik yang samar, sebagaimana ia wajib menjaga dirinya dari syirik yang terlihat. Kemusyrikan dalam dimensi ini tidak mempengaruhi pondasi iman yang menjadi sumber keselamatan manusia, akan tetapi ja dapat mengurangi kesempurnaannya.
Telah kami bicarakan sebelumnya, bahwa setiap muwahhid wajib menolak ketuhanan sesuatu selain Allah swt, sekaligus merupakan sanggahan bagi kaum musyrikin dan mereka yang beranggapan demikian. Kami menyebut keyakinan mereka rapuh, karena penuh berbagai angan-angan yang timbul dari pemahaman dan pemikiran yang rapuh, yang menyebabkan rusaknya metabolisme tubuh serta hilangnya akal.
Jikalau tidak, bagaimana mungkin hal itu dapat tersembunyi dari perasaan seorang yang mempunyai indra penglihatan dan pendengaran, apalagi dari penglihatan dan pendengaran hati sanubari seorang tentang wujud Allah swt yang menjadi satu-satunya sumber bagi segala sesuatu. Akan tetapi, siapapun yang disesatkan oleh Allah swt, maka ia tidak akan memperoleh petunjuk, dan siapapun yang diberi petunjuk oleh Allah swt, maka ia tidak akan tersesat oleh penyesat.
Mereka itulah orang-orang yang dihilangkan pendengarannya dan penglihatannya oleh Allah swt, dan mereka dibiarkan dalam kesesatannya, sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran, mereka tuli, bisu dan buta, dan mereka tidak akan kembali kepada jalan yang benar.
Dalam sebuah sya’ir disebutkan: “Sungguh amat mengherankan, bagaimana seorang dapat menentang Allah swt atau mendurhakai-Nya? Padahal, pada setiap benda ada tanda-tanda yang menyaksikan bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Esa. Pada setiap benda yang bergerak ataupun yang menetap ada saksi bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
Salah seorang ‘arifbillah berkata: “Siapapun yang minta bukti atas keesaan Allah swt, maka keledai lebih mengenal Allah swt daripadanya.” Andaikata kami tidak meringkasnya, karena berbagai alasan yang hanya diketahui oleh Allah swt, tentu kami akan menguraikan masalah ini panjang lebar, sehingga orang yang berakal akan puas karenanya, dan Allah swt Maha Mengawasi apapun yang aku ucapkan.
Tidak mungkin ada dua Tuhan atau lebih di alam semesta ini
Para ulama hakekat mengatakan bahwa hanya Allah swt lah adalah Dzat yang pantas untuk disembah, dan Dia adalah Dzat yang menciptakan, yang memberi rizki. Adapun Dzat Yang Menciptakan segala sesuatu dan memberi rizki adalah Allah swt semata, maka Dialah Tuhan yang pantas untuk disembah, Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dalam dimensi rasional dan yuridis, merupakan sesuatu yang mustahil jika di alam semesta ini ada Tuhan lebih dari satu. Maka sudah sepantasnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Sebagai bukti kemustahilannya bahwa ada Tuhan lebih dari satu, adalah firman Allah swt dalam al-Qur’an:
Artinya: “Sekiranya di langit dan di bumi ada dua Tuhan selain Allah swt, tentulah keduanya itu telah rusak binasa, maka Maha Suci Allah Yang mempunyai Arasy dari apa yang mereka sifatkan.” (Qs. al-Anbiya’ ayat: 22).
Sebagaimanafirman Allah swt didalam al-Qur’an:
Artinya: Allah swt sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masingmasing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah swt dari apa yang mereka sifatkan itu.” (Qs. al-Mukminun ayat: 91).
Siapapun yang mengaku dirinya sebagai tuhan, seperti Raja Namrud dan Firaun, atau apapun yang diakui oleh manusia sebagai tuhan, seperti bintang-bintang dan batu-batu, maka pada dirinya akan terlihat jelas kekurangannya, ketidakmampuannya, ketergantungannya, keterpaksaannya, dan kemakhlukannya, yang mengindikasikan bahwa yang mengakui itu adalah manusia biasa, atau benda-bendalain yang diakui sebagai Tuhan.
Secara terang dapat kami katakan bahwa seorang yang mengaku sebagai tuhan, maka anggapannya adalah rapuh dan ilusinya salah,
karena anggapannya lahir dari kemampuan dirinya untuk melakukan salah satu, seperti yang dikisahkan oleh Allah swt tentang Ibrahim as dan Namrud, yaitu ketika Ibrahim as berkata kepada Namrud: “Tuhanku dapat menghidupkan dan dapat mematikan.” Maka Namrud berkata: Akupun dapat menghidupkan dan mematikan.”
Dalam kajian tafsir dikatakan, untuk membuktikan argumentasinya, ja mengundang dua orang lelaki, kemudian ia membunuh lelaki yang pertama dan menmbiarkan hidup lelaki yang kedua. Indikasi yang sama juga terlihat dalam firman Allah swt tentang Fir’aun dalam ayat berikut:
Artinya: “Bukankah kekuasaan Mesir berada di tanganku dan sungai ini mengalir di bawahku. Tidakkah kalian melihat?” (Qs. az-Zukhruf ayat: 51).
Tidak diragukan bahwa kedua orang yang terkutuk ini mengetahui kesalahan pengakuannya, akan tetapi keduanya merasa berkuasa dani dapat berlaku sewenang-wenang, maka pengakuannya sebagai Tuhan tidak dibantah oleh siapapun, khususnya oleh orang-orang lemah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah swt didalam al-Qur’an:
Artinya: “Maka Fir’aun menganggap remeh kaumnya dan mereka pun mentaatinya, sesungguhnya mereka adalah orang-orang fasik.” (Qs. azzukhruf ayat: 54).
Diberitakan dalam sebuah riwayat bahwa, ketika rakyat Mesir meminta kepada Fir’aun untuk dialirkannya Sungai Nil yang ketika itu sedang kering, maka Fir’aun keluar beserta kaumnya ke tepi Sungai Nil, kemudian meminta mereka meninggalkannya sendirian. Kemudian ia menempelkan pipinya di tanah sambil memohon kepada Allah swt dengan penuh rendah diri agar air Sungai Nil segera dialirkan.
Permohonan Fir’aun ini dikabulkan oleh Allah swt sebagai istidraj baginya, agar dosanya makin bertambah banyak. Setelah airnya mengalir, maka ia berkata: “Hanya aku yang dapat mengalirkan air sungai Nil ini.” Dari cerita ini dapat kita buktikan kebenaran dari keterangan kami di atas. Di balik kalimat ini terdapat rahasia-rahasia yang tidak pantas untuk dipaparkan di dalam kitab ini.
Ketahuilah bahwa kajian dalam pasal-pasal ini nampaknya tumpang tindih dan artinya saling mendekati. Kami sengaja tidak menyebutkan penguraian kalimat-kalimat menurut tata bahasanya, tetapi hukumnya dan keutamaannya itulah yang kami maksud, bukanlah kami bertujuan untuk membahas tentang tata bahasanya.









One Comment