Para ‘arifbillah mempunyai beberapa pengalaman dan pemikiran yang amat dalam, mereka tidak dapat menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan kemampuan dan kondisi si penanya, seperti yang kami sebutkan tadi. Karena itu, sebaiknya kalian menyerahkan jawabannya menurut kebijaksanaan mereka, karena mereka bukanlah orang-orang yang pantas untuk dibantah atau disebut orang-orang bodoh atau tidak mengerti.
Seorang dibolehkan bertanya dengan maksud menguji dalam dua kesempatan: Pertama, jika ada seorang murid yang kagum kepada dirinya sendiri, sehingga ia enggan mencari ilmu dan mencari tambahannya dan ia tidak mau mengakui keutamaan orang lain, maka sang syeikh hendaknya menguji kedalaman ilmu murid tersebut, agar ia mengerti kekurangannya, dan sebaiknya pengujian tersebut dilakukan di tempat tersendiri, agar tidak diketahui orang lain.
Kedua, jika ada seorang munafik yang manis tutur katanya, sehingga dikhawatirkan ia dapat memberi pengaruh negatif kepada orang-orang beriman yang lemah dengan memasukkan unsur-unsur yang asing ke dalam agama, maka seorang syeikh atau seorang guru boleh menguji kedalaman ilmu orang tersebut di hadapan orang banyak, agar mereka mengerti tentang keburukannya dan kebodohannya dan sekaligus sebagai nasehat bagi tersangka agar ia menyesali kesalahannya dan mau kembali kepada kebenaran.
Hal-hal semacam ini mengundang para ulama untuk mendebat para ahli bid’ah, orang-orang yang sesat dan orang-orang yang hendak merubah agama. Jika seorang ‘alim ditanya tentang ilmu pengetahuan yang pantas untuk dijawab, maka ia tidak boleh enggan menjawabnya, karena Rasulullah saw pernah bersabda:
Artinya: “Barangsiapa ditanya tentang suatu pengetahuan dan menyembunyikannya, maka di hari kiamat kelak ia akan diberi tali kendali dari api.”
Bagi para ulama masa kini, hendaknya mereka tidak menyembunyikan ilmunya sampai ada orang yang bertanya kepada mereka, sebab pada masa kini kebanyakan orang suka menganggap ringan terhadap masalah-masalah agama, tidak begitu mempedulikan ilmu pengetahuan dan apa saja yang bermanfaat di akhirat, sehingga mungkin saja seorang sudah beruban jenggotnya, namun ia tidak mengetahui fardhufardhunya wudhu’ dan shalat.
Bahkan ilmu keimanannya pun terhadap Allah swt, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat tidak cukup, atau boleh saja dikatakan tidak mengetahui sama sekali. Kejadian ini cukup dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh para ulama, jika merekamengerti.
Seorang santri yang ingin menuju ke jalan Allah swt yang keinginannya hanya ingin mengenal Allah swt, yang ingin bebas dari segala ikatan yang menyibukkan diri dari jalan menuju Allah swt, hendaknya ia tidak menanyakan ilmu, kecuali yang ia butuhkan menurut keadaannya dan waktunya. Akan tetapi seorang penuntut ilmu yang semacam ini cukup sedikit bilangannya di masa kini.
Sebaiknya, setiap orang suka bertanya tentang ilmu pengetahuan, demi untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui dan untuk menambah khazanah yang telah ia ketahui, setiap mukmin tidak boleh berhenti mencari kebaikan, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis:
Artinya: Ada dua penjarah yang tidak pernah merasa kenyang. Yaitu penjarah ilmu pengetahuan dan penjarah harta.”
Hal ini pernah dialami oleh seorang sufi, yaitu asy-Syeikh Daud athThaa’i, ketika ia telah berkeinginan keras untuk menempuh jalan menuju Allah swt, maka ia mulai suka menghadiri majelis taklim, salah satunya ia menghadiri majelis taklim al-Imam Abu Hanifah hampir satu tahun. Selama itu, ja ingin menanyakan beberapa masalah, tetapi ia menekan nafsunya seperti yang kami sebutkan di atas bahwa seorang santri sebaiknya tidak menanyakan ilmu pengetahuan, kecuali jika sangat mendesak.
Sebenarnya masalah-masalah yang kami sebutkan di dalam mukaddimah ini cukup banyak dalilnya, yang andaikata kami tuangkan semuanya, tentunya kami keluar dari keinginan kami untuk menerangkan secara ringkas. Meskipun demikian, apa yang dituangkan kami rasa cukup untuk menambah keteguhan dan keyakinan kita. Dan selebihnya, sebaiknya kami pasrah diri kepada Allah swt, sebab Dialah sebaik-baik tempat untuk berpasrah diri.









One Comment