Syarat-syarat mengerjakan amal-amal kebajikan
Aku pernah ditanya tentang ucapan al-Imam al-Ghazali: “Untuk mengerjakan amal-amal kebajikan, tidak cukup hanya mengetahui bahwa hal itu adalah amal kebajikan. Tetapi, harus diketahui pula ketentuan waktu pelaksanaannya, tata tertibnya, dan persyaratannya.”
Yang dimaksud waktunya adalah waktu yang telah ditentukan untuk mengerjakan amal-amal kebajikan. Misalkan mengerjakan Shalat Subuh pada waktu Subuh, mengerjakan puasa Ramadhan pada Bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji pada bulan-bulan Haji.
Yang dimaksud tata tertibnya adalah ketentuan mengerjakan suatu amal kebajikan sesuai dengan tata tertibnya yang telah ditentukan, misalnya apa yang harus didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Seperti jika seorang hendak mengerjakan shalat, maka ia harus bersuci lebih dulu, jika keduanya dikerjakan tanpa peduli dengan tata tertibnya, maka keduanya tidak sah. Maka ketertiban merupakan hal yang wajib bagi semua amal-amal kebajikan. Dan hukumnya waktu dan tata tertib bagi amal-amal kebajikan adalah jelas.
Adapun persyaratan menurut al-Imam al-Ghazali adalah, ilmu yang terkait erat dengan pelaksanaan segala amal kebajikan dan termasuk terkait erat dengan kesempurnaannya. Misalnya, akal yang waras termasuk persyaratan yang harus dipenuhi bagi sahnya keimanan dan keislaman seorang.
Dan keduanya merupakan persyaratan yang harus dipenuhi bagi sahnya melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan maupun bagi amal-amal kebajikan yang bersifat sunnah. Dan yang paling penting dalam masalah ini adalah membersihkan niat dari segala sifat riya’ agar amal-amal kebajikan yang dilakukan dapat menambah tabungan akhirat.
Perasaan dalam hati dan sanksinya
Aku pernah ditanya tentang perkataan al-Imam al-Ghazali tentang masalah perasaan dalam hati dan sangsinya. Sebenarnya masalah ini sudah jelas. Secara global dapat dijelaskan bahwa selama perasaan dalam hati itu masih ragu-ragu, apakah ia baik ataukah buruk? Maka hal itu tidak akan mendatangkan pahala ataupun siksa, sampai timbulnya kemantapan yang pasti. Pada saat itulah orientasi balasan baru ditetapkan.
Adapun perasaan dalam hati yang dibicarakan oleh al-Imam alGhazali dalam bab ini tidak berbeda dengan ucapannya yang disebutkan olehnya dalam bagian akhir Kitab al-Khauf. Di sana ia menyebutkan bahwa di dalam batin manusia terdapat berbagai sifat yang buruk, seperti sombong, riya’, dengki dan sifat apapun yang semisalnya dengannya.
Yang mana kesemuaanya itu akan terlihat dalam wajah yang menakutkan setelah ia mati, sebab ia tersiksa oleh karena perkara itu. Masalah ini akan dialami oleh seorang yang belum sempat membersihkan berbagai noda buruk di dalam hatinya sampai ajalnya datang.
Jika perasaan dalam hati yang disebutkan di dalam Kitab al-Khauf memang seirama dengan yang kami sebutkan dalam bab ini, maka hal itu tidak ada kesulitan, karena perasaan dalam hati adalah sesuatu yang bergetar di dalam jiwa, kemudian maju dan mundur di dalam dada hingga mencapai puncaknya, namun terkadang ada kalanya ia surut sebelum itu.
Sifat-sifat buruk inilah yang pernah disebutkan dalam Kitab al-Khauf, kesemuanya merupakan sifat yang dapat membinasakan seorang, dan kesemuanya sering timbul di hati seorang dan kesemuanya merupakan dosa-dosa besar yang menyebabkan datangnya siksa segera ataupun lambat. Dari situ dapat dibedakan antara sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati dengan perasaan yang tergerak di dalam hati.
Jika keterangan kami di atas merupakan jawaban bagi pertanyaanmu, maka aku bersyukur kepada Allah swt. Tetapi kalau tdak, maka kirimkan kepada kami keterangan yang terdapat di dalam Kitab al Khauf yang tidak engkau mengerti, agar kami dapat memberikan jawabannya untukmu.









One Comment