Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ithaf Sail

Adapun haqqul yagin tingkatannya paling tinggi, yang di kenal dengan ilmu mukasyafah, pengetahuan ini hanya diberikan kepada para wali senior dan para ‘arif pilihan yang mewarisi dari para nabi dan para as-Shiddigin. Dan masalah ini tidak perlu diragukan kebenarannya, karena bukti-buktinya telah jelas.

Adapaun fana dari alam semesta merupakan suatu kondisi yang mulia, yang diberikan oleh Allah swt kepada wali-wali-Nya. Maksudnya mereka meleburkan diri mereka dari alam semesta, sehingga mereka Yapat menyaksikan hakikat diri mereka dan kemisterian alam lain. Hasil Yari kefanaan seorang dapat menyaksikan sifat-sifat Allah swt Yang Maha Mulia dan Maha Benar, jika hal ini terjadi, maka segala sikap dirinya dan Yam semesta menjadi hilang dan lenyap, yang ada hanya alam Allah swt Yang Maha Mulia dan Maha Benar.

Ketika fana telah benar-benar terwujud, maka sifat-sifat Allah swt akan tampak jelas bagi pelakunya, sehingga arwah mereka menjadi sentosa, diri mereka lenyap mereka melebur terhadap sifat ketuhanan yang maha sempurna dan mereka merasa bahagia dan senang berada di sisi Allah swt dan perasaan ini tidak dapat disifatkan nikmatnya dan keindahannya, karenaitu, tingkatan ini sangat diharap oleh para wali Allah swt.

Kenikmatan dan keindahan di sisi Allah swt yang di rasa oleh para wali Allah swt pernah disebutkan oleh asy-Syeikh Ibnul Farid di dalam bait-bait puisinya sebagai berikut: “Itulah malam-malam yang pernah aku lewati dalam usiaku bersama para kekasihku, aku rasa semuanya sebagai malam pengantin. Mataku tak pernah berkedip sedikitpun dari memandang mereka dan hatiku tidak pernah merasa sesejuk ketika bersama mereka. Wahai surga, engkau ditinggalkan oleh nafsu karena terpaksa, andai kata aku sudah

. tidak untuk mendapatkanmu kembali pasti aku mati karena putus asa.”

Penyusun bait-bait diatas asy-Syeikh as-Suddi dan kaum ‘arifin

lainnya banyak menyebutkan bait-bait puisi yang kami sebutkan diatas.

Tingkatan seperti ini merupakan tingkatan yang diberikan oleh Allah swt kepada wali-wali-Nya yang mau berusaha untuk meraihnya. Tingkatan ini merupakan tingkatan yang kekal. Dari tingkatan ini si ‘arifbillah akan kembali kepada masyarakatnya dan mengajak mereka untuk menuju kepada Allah swt dan bertatakrama seperti tatakrama mereka, sebagai sebuah refleksi untuk memberikan relevansi antara mereka dan dirinya, sehingga mereka dapat menerima dirinya.

Konsep tersebut membutuhkan keterangan yang luas yang mengandung banyak pengertian, teliti dan rahasia-rahasia yang misteri yang tidak boleh disebarluaskan di segala buku agar tidak jatuh ke tangan orang yang bukan ahlinya, agar ia tidak mengaku bahwa dirinya telah mencapai tingkatan tersebut, sehingga ia menjadi sesat. Kemudian syeikh berkata: “Sampai jiwa mereka bersih dari segala kotoran, sehingga nilainya tidak dapat diukur dengan harta. Alam semesta tunduk kepada mereka, sedikitpun tidak akan membantah kehendak mereka itulah Sang Raja tidak diragukan lagi, yang tidak dapat digoyahkan dan tidak pula diturunkan.”

asy-Syeikh Abubakar menjelaskan bahwa mereka fana setelah menyaksikan alam musyahadah, yaitu setelah menyaksikan hadirat Ilah itulah hasil pembersihan nafsu mereka dari segala noda dan keburukan.

Sebagai penjelasannya, meskipun seorang wali telah berusaha sekuat tenaga untuk membersihkan segala noda dan keburukan hatinya, tetapi noda tersebut akan tetap ada, pada suatu saat hatinya akan condong kepada dunia, sehingga noda-noda tersebut akan kembali. Maka untuk tetap menjaga kebersihan hatinya seorang wali diperluka fana yang melupakan segala yang berkaitan dengan alam semesta Karena itu, seorang tidak pantas menjadi syeikh tarekat, kecuali setelah iamencapai tingkatan fana dan baqa”‘.

Kemurnian di sini adalah emas murni dan emas yang benar-benar asli. Di dalam dirinya sudah tidak tersisa kotoran sedikitpun. Setelah batin para ‘arifbillah telah suci dari segala noda dan keburukan, Sehingga pengertian mereka, ilmu mereka dan tatakrama mereka tidak bisa dinilai dengan harta, karena harta tidak mempunyai nilai Sedikitpun di sisi Allah swt.

Ketika nafsu, kemauan dan harapan mereka sudah lenyap, dan mereka tidak mempunyai keinginan apapun selain ridha Allah swt dan kedekatan dengan-Nya, maka di saat itulah seluruh alam semesta diizinkan oleh Allah swt tunduk kepadanya, karena mereka tundu. kepada Allah swt.

Selamanya alam semesta akan tunduk kepada khaliknya. Siapapu yang taat kepada Allah swt, maka Allah swt akan cinta kepadanya, kala Allah swt sudah cinta kepadanya, maka seluruh alam semesta aka tunduk kepada orang itu. Di dalam salah satu firman Allah swt pernal disebutkan:

Artinya: “Wahai putra Adam.. Akulah Allah yang dapat menjadika segala sesuatu dengan kehendak-Ku, maka taatlah engkau kepada-Ku aga engkau dapat menjadikan segala sesuatu dengan kehendak-Ku”.

Maka apapun yang diinginkan dan dikehendaki oleh seorang ‘arifi billah, akan terwujud dengan izin Allah swt. Akan tetapi karen. keinginan mereka telah lenyap dari hati mereka, maka tidak suat keinginan pun yang timbul dari hati mereka kecuali yang sesuai denga kehendak Allah swt. Maka masalah ini perlu diperhatikan baik-baik, sebab masalah ini sangat pelik.

Intinya semua keinginan para arif billah selalu dikembalikan kepada Allah swt, sehingga keinginan mereka selalu sesuai dengan keinginan dan kehendak Allah swt. Tunduknya seluruh alam semesta kepada wali-wali Allah swt adalah sesuatu yang diketahui oleh umum, berdasarkan periwayatan yang mutawatir. Apa saja yang dikehendaki oleh para wali Allah swt akan terjadi, demi untuk Jebih menguatkan keimanan mereka kepada Allah swt.

Pengalaman seperti ini dapat juga dialami oleh wali-wali Allah swt yang telah mencapai tingkatan fana. Hanya saja mereka sedikit yang merasakannya, karena jiwa mereka lenyap dan lebur dalam kefanaan dan mereka tidak mempunyai keterkaitan apapun dengan alam semesta.

Adapun wali-wali Allah swt yang telah mencapai tingkatan baga’ yang kesibukannya hanya berdakwah ke jalan Allah swt, maka pengalaman seperti itu Jarang terjadi, karena nafsu mereka telah puas dengan kehendak Allah swt dan keterkaitan mereka dengan semesta sudah terputus, sehingga mereka sudah tidak mempunyai keinginan apapun.

Namun ada kalanya mereka diberi izin untuk memperlihatkan kedigdayaannya bagi orang-orang yang lemah imannya atau bagi mereka yang mengingkari kekuasaan Allah atau untuk menunjukkan penghargaan Allah swt kepada wali-wali-Nya.

Andaikata, seorang menyuruh sebuah gunung untuk hancur atau menghendaki air laut untuk kering, pasti keinginannya akan terkabul karena izin Allah swt. Perlu diketahui, bahwa para wali Allah tidak | pernah menginginkan karamah, mereka berkata: “Sebaik-baik karomah adalah istigamah.”

Ucapan mereka ini mengandung ketidakpedulian mereka terhadap karamah dan mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan mengikuti jejak Rasulullah saw secara lahir dan batin. Tidak seorang bun diantara mereka dapat meraih karamah kecuali setelah nafsunya menjadi sangat lembut setelah memperbanyak menekannya dan setelah mereka mampu menyimpan segala rahasia Allah swt dan setelah nafsy mereka tidak mempunyai keinginan apapun.

Siapapun di antara mereka yang mendapatkan karamah sebelum dapat membunuh hawa nafsunya, maka karamah yang diberikan kepadanya akan menjadi cobaan baginya, kecuali jika ia dilindungi oleh Allah swt. Dan ia telah melepaskan dirinya dari keterkaitan dengan alam semesta dan dari kesenangan apapun, ia hanya menyibukkan dirinya untuk mendekat kepada Allah swt, sehingga ia tidak mempunyai hubungan apapun dengan selain Allah swt.

Ia bagai seorang raja yang tidak butuh bantuan dan dukungan dari siapapun, ia tidak takut disaingi atau didesak oleh siapapun, seperti para penguasa yang selalu takut disaingi atau didesak oleh kaum perusuh. Sebab wali-wali Allah swt adalah penguasa akhirat, sedangkan para penguasa adalah penguasa bumi.

Kekuasaan raja yang paling mulia adalah jika ia sudah mampu melenyapkan semua keinginan nafsunya dan tidak butuh pada pertolongan dan dukungan selain Allah swt, ia tidak mempunyai keinginan apapun di dunia maupun di akhirat selain berharap ridha Allah dan kedudukan yang dekat di sisi Allah swt. Itulah sifat para wali Allah dan orang-orangnya disayangi oleh-Nya. Allah swt ridha kepada mereka dan mereka pun demikian. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah swt:

Artinya: “Mereka adalah partai Allah swt. Ketahuilah, sesungguhnya partai Allah swt adalah orang-orang yang sukses”.

asy-Syeikh Abubakar menerangkan beberapa aspek dalam baitbait yang singkat, tetapi isinya cukup padat. Dalam bait-bait itu ia menerangkan berbagai karunia Allah swt yang berupa mukasyafah dan musyahadah yang diberikan kepada wali-wali-Nya, termasuk juga karunia tagarub dan karunia kefanaan.

Ia memisalkan wali-wali Allah swt sebagai kaum penguasa yang hakiki, yaitu kaum penguasa yang tidak butuh pada bantuan dan dukungan siapapun dan tidak takut disaingi atau didesak siapapun. Selain itu ia menerangkan juga tentang perjalanan tarekat ke jalan. Allah swt secara jelas mulai dari awal hingga akhir, sehingga siapapun yang ingin mengikuti jalan tarekat, maka ia akan mudah melakukannya.

Selanjutnya ia mengakhiri bait-bait puisinya: “Sebagai penutup baitbait puisi ini maka bershalawatlah kalian kepada Nabi, seorang yang sempurna tutur katanya dan kelakuannya, dan kepada sahabat-sahabat Beliau, manusia pilihan, dan kepada segenap keluarga Beliau, sebaik-baik keluarga.”

Sebagai penutup dari keterangannya tentang bait-bait di atas, maka | asy-Syeikh Abubakar mengajak kita untuk mengikuti tarekat ke jalan Allah swt yang pernah ditempuh oleh wali-wali Allah swt, seperti yang telah diterangkan panjang lebar diatas.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker