50 Cara Mendekatkan Diri Kepada-Nya
Sejatinya dirimu tidak terlepas dari dua kondisi: jauh dari Allah atau dekat dan sampai kepada-Nya. Jika kau jauh dari-Nya, mengapa kau masih duduk berleha-leha, tidak bersegera mengejar bagianmu yang terbesar, kemuliaan yang kekal, kecukupan terbesar, keselamatan, kekayaan, dan nikmat di dunia dan akhirat? Berdiri dan segeralah terbang kepada-Nya dengan dua sayap.
Sayap pertama adalah meninggalkan segala kenikmatan dan syahwat yang haram dan mubah, serta meninggalkan seluruh kenyamanan. Sayap kedua adalah sabar terhadap segala kepedihan, hal-hal yang tidak menyenangkan, menguatkan tekad, menjauhkan diri dari makhluk, keinginan, dan cita-cita duniawi atau pun ukhrawi, agar bisa sampai dan dekat kepada Allah. Pada kondisi ini, kau akan memperoleh segala yang kau dambakan, dan diberi kemuliaan serta kehormatan terbesar.
Jika kau telah menjadi orang yang dekat dan sampai kepada-Nya, meraih perhatian, cinta, dan kasih sayangNya, tunjukkanlah perilaku yang baik dan jangan sampai tertipu dengan semua itu, agar kau tak lalai mengabdi dan tidak kembali terjerumus kembali ke dalam kegelapan dan kebodohanmu semula, sebagaimana firman Allah,
“Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. al-Ahzab [33]: 72) Juga sebagaimana firman Allah,
“Memang manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS.
al-Isra’ [17]: 11)
Lindungilah hatimu dari kecenderungan terhadap makhluk, hawa nafsu, kehendak, usaha, serta ketidaksabaran, ketidakselarasan dengan Allah, dan ketidakridhaan saat mendapat ujian, yang sebelumnya telah kau campakkan seluruhnya. Pasrahkanlah dirimu ke hadapan Allah layaknya bola di hadapan pemain polo yang menggulirkannya dengan stiknya, bagai mayat di hadapan orang yang memandikannya, dan bagai bayi di gendongan ibu atau perawatnya. Butakanlah matamu dari segalanya selain Allah sehingga kau tak melihat wujud apa pun selain-
Nya, tiada mudarat, manfaat, pemberian, maupun pencegahan, kecuali Dia yang melakukan.
Anggaplah makhluk dan faktor-faktor duniawi, di masa kau mendapat kesulitan dan ujian, sebagai cambuk yang dipukulkan Allah kepadamu. Sementara di saat kau mendapat nikmat dan anugerah, anggaplah keduanya sebagai tipu daya Allah yang akan Dia gunakan untuk “menyuapimu”.
51 Keistimewaan Zuhud
Dengan sikapnya terhadap bagian-bagian duniawi, orang zuhud menerima pahala dua Kali. Pertama, dia diberi pahala karena meninggalkan bagian-bagian duniawi itu. Dia tidak mengambil jatah duniawinya dengan hawa nafsu atau untuk menuruti hawa nafsu, melainkan sekadar untuk memenuhi perintah Allah. Apabila dia telah menjadi musuh bagi dirinya sendiri dan menentang hawa nafsunya, sejatinya dia telah termasuk dalam golongan ahli hakikat dan wali Allah.
Dia pun akan dimasukkan ke dalam golongan wali abdal dan orang-orang ‘arif (yang mengenal Allah). Setelah itu, barulah dia diperintahkan untuk mengambil bagian- bagian duniawi karena bagian itu merupakah jatah yang harus dia ambil dan telah ditentukan hanya untuknya, bukan untuk orang lain.
Tinta takdir telah kering untuknya, dan Allah pun telah mengetahuinya. Apabila perintah ini telah dia laksanakan, dia akan memperoleh ilmu dari Allah. Dia akan mengambil bagian-bagian duniawinya seiring berjalannya takdir dan kehendak Allah pada dirinya tanpa sedikit pun dia terlibat di dalamnya, tanpa hawa nafsu, tanpa keinginan, dan tanpa ambisi. Dengan demikian, dia akan mendapatkan pahala yang kedua. Dengan demikian pula, dia telah melaksanakan perintah Allah dan menyelaraskan diri dengan perbuatan Allah di dalam dirinya.
Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana mungkin kau berbicara tentang pahala bagi orang yang telah mencapai kedudukan spiritual paling tinggi, sebagaimana yang kau katakan bahwa orang seperti ini telah termasuk dalam golongan wali abdal dan orang-
orang ‘arif, di mana perbuatan Allah berlangsung dalam diri mereka, mereka lenyap dari makhluk, hawa nafsu, kehendak, bagian-bagian duniawi, angan-angan, bahkan balasan atas segala amal yang mereka lakukan. Mereka melihat bahwa semua ketaatan dan ibadah yang mereka lakukan adalah semata-mata karena anugerah, nikmat, kasih sayang, pertolongan, dan kemudahan dari Allah swt.
Mereka juga meyakini bahwa mereka adalah budak-budak Allah. Tentu saja, seorang budak tidak memiliki hak apa pun atas tuannya. Sebab, dirinya berikut segala gerak gerik, diam, dan pekerjaannya adalah milik sang tuan. Lantas, bagaimana mungkin kau mengatakan orang semacam ini mendapat pahala, sedangkan dia sendiri tidak mengharapkan pahala atau imbalan dari amal yang dia lakukan, bahkan menganggap dirinya yang melaksanakan amal itu pun tidak. Sebaliknya, dia justru melihat dirinya adalah bagian dari kaum pengangguran dan orang paling miskin amal.”
Jika dikatakan demikian, jawablah, “Kau benar, Saudara. Namun, Allah hendak melimpahkan anugerah dan nikmat-Nya kepada orang itu. Dia hendak memeliharanya dengan lemah lembut, penuh kasih sayang, keridhaan, dan kemuliaan. Hal itu tak lain karena orang itu telah menahan tangannya dari segala kepentingan pribadinya, dari bagian-bagian duniawi, serta dari tujuan mengambil manfaat bagi dirinya sendiri atau menepis mudarat dari dirinya sendiri pula.
Dia tak ubahnya sesosok bayi yang disusui dan tak berdaya mencari kebutuhannya sendiri. Dia diasuh oleh kasih sayang dan rezeki Allah yang diwakilkan kepada kedua orang tuanya. Tatkala segala kepentingan pribadinya telah dibuang darinya, orang- orang akan bersimpati kepadanya dan menyayanginya sepenuh hati. Bahkan, setiap manusia akan menyayanginya, bersikap lemah lembut kepadanya, serta memperlakukannya dengan baik. Demikianlah, setiap orang dari mereka telah lenyap dari segala sesuatu selain Allah. Tak ada yang bisa membuatnya bergerak kecuali perintah atau perbuatan Allah. Dia senantiasa mendapat anugerah dan nikmat Allah di dunia ataupun di akhirat, dia senantiasa dijauhkan dan dilindungi dari segala derita.”
Allah swt. berfirman,
“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan kitab (al-Quran). Dia melindungi orang-orang shalih.” (QS. al-A’raf [7]: 196)
52 Sebab Ditimpakannya Musibah Pada Sekelompok Orang yang Beriman
Allah menguji golongan orang yang beriman, yaitu para wali yang menjadi kekasih- Nya, supaya mereka berdoa kepada-Nya. Dia senang menerima doa dan permohonannya. Jika mereka berdoa, Allah senang mengabulkan doanya. Dia pun akan memberikan kemurahan dan kebaikan-Nya kepada mereka, sebab kemurahan dan kebaikan-Nya itu telah diminta oleh para kekasih-Nya. Jika orang-orang beriman memohon kepada-Nya, Allah pasti akan mengabulkan doa mereka.
Terkadang, doa dan permohonan itu Dia diperkenankan, tapi tidak Dia wujudkan saat itu juga. Hal ini sesuai takdir-Nya yang memang memperlambat dikabulkannya doa itu, bukannya tidak dikabulkan. Oleh karena itu, manakala seorang hamba ditimpa malapetaka, hendaknya dia memperbaiki etikanya kepada Allah, memeriksa dirinya sendiri apakah dia telah melakukan dosa dan maksiat, mengabaikan perintah Allah, melanggar hal-hal yang dilarang, baik secara terang-terangan maupun sembunyi- sembunyi, ataukah dia menyalahkan takdir. Jika memang demikian, musibah itu merupakan hukuman baginya.
Jika malapetaka itu telah berlalu, itu baik baginya. Namun, jika tidak, dia mesti selalu berdoa, merendahkan diri, meminta maaf, dan senantiasa memohon kepada Allah. Bisa jadi ujian itu dimaksudkan untuk membuatnya terus berdoa dan memohon. Dia tak boleh menyalahkan Allah karena doanya yang ditangguhkan pengabulannya, sebagaimana kami paparkan sebelumnya. Hanya Allah yang Maha Tahu.
53 Fana dalam Kehendak Allah swt.
Mohonlah kepada Allah agar dapat bersikap ridha terhadap takdir-Nya atau lenyap di dalam perbuatan-Nya. Sebab, di situlah letak kedamaian terbesar dan surga tertinggi
di dunia. Itulah gerbang Allah yang paling agung dan alasan mengapa Dia mencintai hamba-Nya yang beriman. Siapa yang Allah cintai, orang itu tidak akan mendapat siksaan di dunia ataupun di akhirat. Dua kebajikan itu dapat mengantarkan seorang hamba kepada Allah.
Jangan pula bernafsu meraih bagian-bagian duniawi, baik yang tidak ditakdirkan untukmu maupun yang ditakdirkan. Sebab, jika kau berambisi meraih bagian yang tidak ditakdirkan untukmu, itulah kebodohan, ketololan, dan kepandiran. Itulah siksaan paling berat, sebagaimana ungkapan bijak, “Di antara siksaan paling besar ialah berupaya meraih sesuatu yang tidak ditakdirkan. Jika sesuatu itu ditakdirkan, sibuk meraihnya adalah kerakusan, ketamakan, dan kesyirikan dalam upaya beribadah, meraih cinta-Nya, serta menyelami hakikat.
Sibuk dengan selain Allah adalah syirik. Sementara itu, orang yang berupaya mendapatkan bagian duniawi, cinta dan sayangnya kepada Allah adalah palsu. Siapa yang menyekutukan Allah, dia adalah pendusta. Siapa yang mengharapkan balasan atas amalnya, dia tidak ikhlas. Orang ikhlas yang sejati akan memberikan hak-hak ketuhanan (rububiyyah) kepada yang berhak, yaitu Allah yang Mahakuasa dan Maha Sejati karena Allah swt. menguasai dirinya sepenuhnya dan memiliki hak untuk dia sembah dengan seluruh gerakan, diam, ataupun upayanya.
Seorang hamba dan segala yang dimilikinya adalah milik tuannya. Telah kami singgung di banyak tempat sebelumnya bahwa ibadah itu merupakan nikmat dan anugerah Allah bagi hamba-Nya karena Dia-lah yang mengizinkan dan memberi kekuatan kepada si hamba untuk melakukan ibadah itu. Oleh karena itu, menyibukkan diri untuk bersyukur kepada Allah lebih baik baginya daripada meminta balasan atau pahala kepada-Nya atas amal yang dia lakukan.
Lantas, bagaimana mungkin kau masih saja sibuk memburu bagian-bagian duniawi itu, padahal kau telah melihat banyak manusia yang setiap kali kemewahan, kelezatan, kenikmatan, dan bagian duniawinya sehingga bertambah pula kebencian dan keluhan mereka kepada Allah. Mereka semakin mengingkari nikmat, banyak bersedih, semakin menjadi-jadi mengejar bagian yang tidak ditakdirkan dan tidak mereka miliki. Mereka selalu memandang apa yang mereka miliki itu masih terlalu
kecil dan buruk, sedangkan apa yang dimiliki orang lain tampak lebih baik di hati dan matanya.
Mereka pun bergegas mengejarnya, hingga jatah hidupnya semakin berkurang, kekuatannya melemah, usianya bertambah, kondisinya berantakan, tubuhnya lelah, dahinya berkeringat, dan catatan amalnya hitam legam akibat banyaknya maksiat dan dosa-dosa besar yang mereka lakukan dalam mengejar hak-hak orang lain. Pun akibat pengabaian mereka terhadap perintah-perintah Tuhannya. Mereka gagal mendapatkannya, dan akan meninggalkan dunia ini dalam keadaan miskin papa,
“Tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada
golongan itu (orang kafir).” (QS. an-Nisa’ [4]: 143)
Mereka lupa untuk bersyukur kepada Allah atas karunia yang Dia berikan kepadanya, lalu mereka memohon karunia itu agar digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka tidak akan mendapatkan bagian orang lain yang mereka kejar itu. Yang mereka lakukan tak lain hanyalah menyia-nyiakan dunia dan akhirat. Inilah makhluk paling jahat, bodoh, pandir, dan rendah akal dan hatinya. .
Sekiranya mereka ridha terhadap ketetapan Allah, menerima sepenuh hati pemberian-Nya, serta menaati-Nya dengan baik maka bagian-bagian duniawi mereka akan mendatanginya, tanpa perlu bersusah payah mengejarnya. Mereka menjadi dekat dengan Allah yang Mahamulia dan mendapatkan segala yang mereka dambakan. Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang ridha dengan ketentuan-Nya. Semoga Dia menjadikan ridha dan lenyap pada-Nya sebagai permohonan kita. Semoga Allah menjaga kondisi ruhani dan memberi kita taufik untuk melakukan segala yang Dia sukai dan ridhai.
54 Menghindarkan Ketenangan dengan Kezuhudan
Siapa yang menghendaki akhirat, wajib baginya zuhud terhadap dunia. Siapa yang menghendaki Allah, wajib baginya zuhud terhadap akhirat. Dia harus mencampakkan dunianya demi akhirat, dan mencampakkan akhiratnya demi Tuhannya.
Selama di dalam hatinya masih ada syahwat, kenikmatan, dan kesenangan duniawi, seperti makan, minum, pakaian, pasangan, tempat tinggal, kendaraan, jabatan, pangkat, memperdalam pengetahuan Ilmu fikih atas rukun Islam yang lima, meriwayatkan hadis dan qiraah al-Quran beserta riwayatnya, mendalami ilmu nahwu, menguasai bahasa, fashahah dan balaghah, menginginkan kemiskinan dihilangkan darinya, ingin kaya, tidak ingin terkena bencana, ingin sehat, atau secara keseluruhan menginginkan hilangnya bahaya dan datangnya manfaat maka hal itu menunjukkan bahwa dia belum benar-benar zuhud karena di dalam setiap hal itu tersimpan kenikmatan dan keselarasan dengan hawa nafsu, serta kesenangan, dan kecintaan terhadap tabiat pribadi. Semua itu bagian dari kehidupan duniawi yang membuat manusia senantiasa cinta dan merasa nyaman dengannya.
Oleh karena itu, seorang hamba harus berupaya sekuat tenaga mengeluarkan hal-hal buruk dari dalam hatinya, membersihkan jiwanya dari semua itu, serta ridha dengan kehilangan, kekurangan, dan kefakiran abadi sehingga tak tersisa sedikit pun semua itu di dalam hatinya, agar zuhudnya terhadap dunia benar-benar murni. Apabila dia telah melaksanakan semua itu dengan sempurna, segala duka dan sedih akan lenyap dari hatinya, segala derita akan menghilang dari dirinya. Sebagai gantinya, datanglah kebahagiaan, kebaikan, dan kenyamanan bersama Allah, sebagaimana sabda Rasulullah,
“Zuhud terhadap dunia itu membawa ketenangan pada hati dan badan.”
Namun, selama di dalam hatinya masih ada secuil kesenangan duniawi itu maka duka cita, ketakutan, dan beban hidup akan tetap bersemayam di dalam hatinya. Kehinaan senantiasa mengiringnya. Tabir tebal dan berlipat-lipat akan menghalanginya dari Allah dan menutupinya dari kedekatan terhadap-Nya. Semua itu tak akan bisa teratasi kecuali dengan membuang kecintaan terhadap dunia secara total dan memutuskan hubungan dengannya secara keseluruhan.
Dia harus zuhud terhadap akhirat dengan tidak menghendaki derajat atau kedudukan tinggi di surga, tidak menginginkan bidadari-bidadari cantik, anak-anak, rumah, istana, taman-taman, kendaraan, kuda tunggangan, perhiasan, makanan, minuman, dan lain
sebagainya yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di surga. Hendaklah dia tidak mengharapkan balasan ataupun pahala dari Allah sedikit pun atas amal yang dia lakukan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Dengan demikian, dia akan menjumpai Allah, dan Allah pun akan memberinya balasan sebagai anugerah dan kasih sayang dari-Nya. Allah akan mendekatkannya, menyayanginya, dan memperkenalkan diri-Nya dengan berbagai kasih sayang dan kebaikan, sebagaimana yang Dia lakukan terhadap para nabi, para wali, orang-orang khusus, serta para kekasih-Nya yang amat mengenal-Nya. Setiap hari urusannya kian bertambah sempurna, sepanjang usia. Dia akan dibawa ke negeri akhirat untuk mengecap segala hal yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbersit oleh hati manusia. Semua itu tak dapat dipahami oleh akal dan tak dapat dilukiskan dengan ungkapan apa pun. Hanya Allah yang Maha Tahu.
55 Meninggalkan Kesenangan Hidup
Kesenangan hidup dibuang sebanyak tiga kali. Pada mulanya, seorang hamba berada dalam kebodohan yang membutakan dan tak tentu arah. Dia bertindak sewenang- wenang berdasarkan nalurinya dalam segala kondisi tanpa mau mengabdikan diri kepada Allah dan tanpa memerhatikan hukum agama. Dalam keadaan seperti itu, Allah memerhatikan-Nya degan penuh kasih sayang.
Oleh karena itu, Allah mengirimkan seorang penasihat kepadanya dari orang-orang yang termasuk dalam golongannya yang juga seorang hamba Allah yang baik dan satu penasihat lagi yang terdapat dalam dirinya sendiri sehingga terjalin hubungan yang baik di antara kedua penasihat itu pada diri dan nalurinya. Kemudian, kedua penasihat itu memengaruhi dirinya sehingga hamba itu dapat melihat cela yang ada pada dirinya, seperti mengikuti hawa nafsu dan tidak mengikuti yang benar.
Alhasil, orang itu akan condong kepada hukum Allah dalam segala tindakannya sehingga dia pun menjadi muslim hakiki yang berdiri tegak bersama syariat sekaligus lenyap dari naluri hewaninya. Perkara-perkara haram, syubhat, dan pemberian
makhluk akan dia tinggalkan. Sebagai gantinya, dia hanya akan mengambil perkara- perkara yang halal yang dibolehkan Allah dan dihalalkan syariat dalam hal makanan, minuman, pakaian, pasangan, dan segala hal yang menjadi kebutuhannya.
Semua itu dia lakukan dalam rangka menjaga kondisi tubuhnya agar tetap kuat menjalankan ibadah kepada Allah, juga dalam rangka mengambil jatah duniawi yang telah ditakdirkan untuknya, yang tidak mungkin bisa dia hindari dan tak mungkin pula menjauhi dunia tanpa meraih dan memanfaatkan jatahnya itu. Dia pun berjalan dengan menunggang kendaraan mubah dan halal secara syariat di segala kondisi. Kendaraan ini akan mengantarkannya pada pintu gerbang kewalian, memasukkannya ke dalam golongan ahli hakikat, orang-orang pilihan yang memiliki tekad baja dan menginginkan Allah semata.
Sekalipun dia makan, hal itu atas perintah-Nya. Saat itulah, dia mendengar seruan Allah dari dalam dirinya berkata, “Campakkanlah dirimu dan kemarilah! Campakkanlah bagian-bagian duniawi dan seluruh makhluk, jika kau menghendaki Sang Khalik. Buanglah dunia dan akhirat serta kosongkanlah diri dari segalanya. Cintailah Allah yang Maha Esa. Buanglah syirik dan bersikaplah ikhlas.
Telanjangilah dirimu dari segalanya, lenyapkanlah dirimu dari segalanya, pakailah wewangian tauhid, tinggalkanlah syirik, dan luruskanlah niat.
Langkahkan kakimu di atas karpet dan berjalanlah menuju-Nya seraya menundukkan kepala, jangan arahkan pandanganmu ke kanan menuju akhirat, jangan pula ke kiri menuju dunia. Jangan pula melihat ke arah makhluk dan bagian-bagian duniawi. Jika kau telah mencapai tingkatan ini, dan kau pun telah sampai kepada-Nya, kau akan menerima busana kemuliaan dari Allah, diberi pelbagai pengetahuan, ilmu, dan keutamaan.
Lantas kepadanya dikatakan, “Selimutilah dirimu dengan nikmat dan karunia itu. Jangan beretika buruk dengan menolak memakai busana itu karena menolak karunia Raja sama saja dengan membangkang-Nya dan meremehkan kekuasaan-Nya.”
Dia pun akan memakai busana karunia dan bagian dari Allah tanpa harus terlibat di dalamnya, dan sebelum dia memakai busana hawa nafsunya. Dari sini dapat dikatakan, dirinya tak terlepas dari empat kondisi dalam meraih bagian-bagian duniawi.
Pertama, dia meraihnya dengan motif naluri hewani belaka. Inilah yang diharamkan. Kedua, dia meraihnya dengan syariat agama. Inilah yang diperbolehkan dan halal. Ketiga, dia meraihnya dengan perintah. Inilah kondisi kewalian dan pencampakan hawa nafsu. Keempat, dia meraihnya dengan karunia Allah. Inilah kondisi lenyapnya kehendak pribadi, tercapainya derajat wali abdal, dan kondisi di mana dia menjadi objek takdir yang merupakan perbuatan Allah. Inilah kondisi di mana dia telah mengenal Allah dan memiliki sifat shalih. Dia tidak akan disebut shalih jika belum meraih tingkatan tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah,
“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan kitab (al-Quran). Dia melindungi orang-orang shalih.” (QS. al-A’raf [7]: 196)
Dengan demikian, dia menjadi seorang hamba yang menahan tangannya dari mengambil maslahat dan manfaat atau menolak bahaya dan bencana bagi dirinya ; sendiri. Dia laksana bayi di pelukan perawat, ibarat mayat di tangan orang yang memandikannya. Dia pasrah sepenuhnya pada kuasa dan takdir Allah tanpa harus berupaya atau mengusahakan apa pun. Dia telah lenyap dari semua itu. Dia lenyap dari segala kondisi, tingkatan, ataupun kehendak. Sebaliknya, dia berdiri tegak bersama kuasa Allah. Terkadang dia mendapat kelapangan rezeki, terkadang kaya, terkadang miskin.
Dia tidak mengupayakan atau menginginkan hilangnya semua itu dari dirinya. Yang tersisa hanyalah ridha yang abadi dan keselarasan dengan-Nya selamanya. Inilah puncak kondisi spiritual para wali Allah. Semoga Allah menyucikan jiwa mereka.









One Comment