05 Berpaling dari Kefanaan Dunia
Jika engkau melihat dunia ini ada di tangan para pemiliknya dengan bentuk perhiasan, kesesatan, kepalsuan, tipu daya, racunnya yang mematikan, secara lahir tampak lembut, tapi bagian dalamnya sungguh mematikan, menghancurkan dan membunuh siapa pun yang menyentuhnya, terkecoh olehnya, lalai terhadap Dzat yang Menguasainya dan terlena oleh janji-janji palsunya. Jika engkau melihat semua itu, bersikaplah layaknya seseorang yang melihat orang lain sedang buang hajat; kemaluannya terlihat dan baunya menyengat. Dengan begitu, dalam situasi semacam itu, engkau akan memalingkan pandanganmu dari auratnya dan menutup hidungmu dari bau busuknya.
Begitulah seharusnya engkau bersikap terhadap dunia. Jika melihatnya, palingkan pandanganmu dari segala perhiasannya, dan tutuplah hidungmu dari aroma busuk syahwat dan kenikmatannya, niscaya engkau akan selamat dari dunia dan segala malapetakanya. Sementara itu, bagianmu dari dunia akan menghampirimu segera, dan engkau pun akan bahagia. Allah swt. telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya,
“Janganlah engkau tunjukkan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Ta Ha [20]: 131)
06 Berpaling dari Tipu Daya Makhluk
Palingkanlah dirimu dari makhluk dengan izin Allah, palingkanlah dirimu dari hawa nafsu dengan perintah-Nya, dan berserahlah (tawakal) kepada Allah, jika engkau benar-benar beriman. Palingkan pula dirimu dari segala keinginanmu dengan perbuatan Allah. Ketika engkau bisa melakukan ini semua, engkau telah layak menjadi bejana ilmu Allah.
Ketika dirimu berpaling dari makhluk, ditandai dengan ketidakbutuhanmu terhadap mereka, tidak meminta-minta, dan tidak iri terhadap apa yang mereka miliki. Tanda dirimu berpaling dari hawa nafsu ialah tidak mengumpulkan harta dan tidak bergantung pada sarana atau sebab dalam rangka mengambil suatu manfaat dan mengantisipasi suatu mudarat.
Dengan begitu, engkau tidak akan bergerak demi kepentingan pribadi, tidak marah untuk memuaskan nafsu pribadi, tidak membela dan membenci diri sendiri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah karena Dia telah menguasai segalanya sejak awal. Demikian juga akhirnya, Allah menguasai segalanya. Kondisi kepasrahan seperti ini adalah sebagaimana engkau ketika masih berada di dalam kandungan ibumu atau ketika engkau masih menjadi bayi yang disusui.
Memalingkan diri dari kehendakmu sendiri lantaran perbuatan-Nya, ditandai dengan abai terhadap maksud dan tujuan apa pun. Engkau juga tidak merasa membutuhkan atau menginginkan apa pun karena tidak mengharapkan selain kehendak Allah, bahkan hukum Allah sedang berlaku pada dirimu. Saat kehendak dan keinginan Allah itu sama-sama berlangsung pada dirimu, seluruh tubuhmu
akan merasa tenang, hatimu tenteram, dadamu lapang, wajahmu berseri-seri, dan perutmu penuh terisi.
Engkau tak lagi membutuhkan segala sesuatu lantaran engkau telah bersama Sang Pencipta segala sesuatu. Tangan kekuasaan Allah telah menyentuhmu, lisan-Nya berbicara denganmu, dan engkau langsung mendapat bimbingan dari Tuhan agama- agama. Allah akan memberimu pakaian berupa cahaya dan menempatkanmu di tempat ulul ‘ilmi (para ahli ilmu) yang utama. Saat itulah engkau menjadi manusia yang tunduk-pasrah selamanya. Di dalam dirimu tak ada lagi syahwat atau keinginan, layaknya bejana retak yang tidak mampu menampung segala air, baik yang bersih maupun kotor.
Engkau akan terbebas dari segala perangai manusiawi sehingga jiwamu tidak akan mau menerima apa pun, kecuali kehendak Allah. Pada titik ini, engkau akan mendapat kemampuan “mencipta” dan dapat melakukan hal-hal luar biasa. Orang-orang menyangka kemampuan itu sebagai perbuatan dan kekuatanmu, padahal sebenarnya itu adalah perbuatan dan kehendak Allah di alam semesta ini.
Pada titik ini pula, engkau akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang hatinya telah tertundukkan, yang keinginan manusiawi serta syahwat alamiahnya telah musnah, serta diilhami oleh kehendak Ilahi. Mengenai maqam ini, Nabi Muhammad saw. bersabda,
“Aku dijadikan (oleh Allah) menyukai tiga hal dari dunia ini; wewangian, wanita, dan shalat yang menjadi penyejuk mataku.”
Ketiga hal itu diatributkan kepada Rasulullah setelah beliau berpaling dari ketiganya, sebagaimana kami isyaratkan sebelumnya. Allah juga berfirman, “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku.”
Allah Yang Maha tinggi tidak akan menyertaimu, sampai engkau mengingkari hawa nafsu dan kehendakmu. Jika engkau telah menjadi manusia yang tunduk patuh kepada Allah, tak punya apa pun dan tak ada satu pun yang ideal bagimu, saat itulah Allah akan “membangun” dirimu dan memberimu kehendak yang engkau gunakan
untuk berkehendak. Jika engkau berada dalam kehendak itu, sedangkan di dalam dirimu terdapat “pembangunan” Allah, Allah akan meremukkan kehendakmu itu karena keberadaanmu di dalamnya sehingga kau senantiasa menjadi manusia yang tunduk patuh kepada Allah.
Allah akan terus menciptakan kehendak baru di dalam dirimu, lalu melenyapkannya kembali tatkala kau berada di dalam kehendak itu. Demikian seterusnya hingga akhir hayatmu dan engkau bertemu dengan-Nya. Inilah makna firman Allah, “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku.” Sementara makna ungkapan kami, “Tatkala kau berada dalam kehendak itu”, yaitu kecenderungan dan kenyamananmu terhadap kehendak itu.
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan langsung oleh Rasulullah, Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan- amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang dia gunakan untuk mendengar, matanya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk menyentuh, dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan.” Dalam redaksi lain disebutkan, “Denganku dia mendengar, denganku dia menyentuh, dan denganku pula dia mengetahui.”
Ini semua hanya bisa terjadi dalam kondisi fana (lenyap dari makhluk), bukan yang lain. Jika engkau telah berhasil lenyap dari dirimu sendiri dan dari makhluk—dan makhluk itu terbagi dua, baik dan buruk, sebagaimana juga dirimu—maka sekali-kali kau tak akan pernah mengharapkan kebaikan dari mereka dan tidak pula khawatir akan terjadinya keburukan dari mereka. Yang tersisa hanyalah Allah semata, sebagaimana kondisi asal-Nya.
Dalam takdir Allah itu terdapat dua hal: baik dan buruk. Pada kondisi seperti di atas, Allah akan menyelamatkanmu dari keburukan-Nya dan menenggelamkanmu ke dalam samudra kebaikan-Nya sehingga kau menjadi bejana segala kebaikan, sumber segala nikmat, kebahagiaan, kegembiraan, cahaya, kedamaian, dan ketenteraman. Fana (penafian diri), angan-angan (harapan), keinginan, serta tujuan adalah tapal batas yang menjadi ujung perjalanan para wali. Itulah kondisi istiqamah yang senantiasa dicari-cari oleh para wali dan wali abdal terdahulu, agar mereka bisa
berpaling dari kehendak mereka sendiri dan menggantinya dengan kehendak Allah yang Mahakuasa. Mereka berkehendak dengan kehendak Allah selamanya hingga ajal menjemput.
Oleh karena itu, mereka disebut sebagai wali abdal. Bagi mereka, dosa adalah menyekutukan kehendak Allah dengan kehendak pribadi dengan cara lalai, lupa, tenggelam dalam suatu situasi, dan rasa takut. Dalam kondisi ini, Allah swt. akan menolong mereka dengan kasih sayang-Nya, dengan cara mengingatkan mereka sehingga sadar dan memohon ampun kepada-Nya. Sebab, tak satu pun yang bisa terlepas dari kehendak, kecuali para malaikat. Mereka senantiasa suci dari berbagai kehendak, sedangkan para Nabi senantiasa terbebas dari hawa nafsu.
Adapun manusia dan bangsa jin yang dibebani taklif (kewajiban untuk beribadah), tidaklah terjaga dari keduanya. Hanya saja, sebagian para wali terjaga dari hawa nafsu, dan para wali abdal terjaga dari kehendak. Kendati demikian, mereka tak bisa dianggap terbebas sepenuhnya dari dua keburukan ini. Artinya, pada kondisi tertentu mereka mungkin saja memiliki kecenderungan kepada keduanya sebagai sebuah dosa, tetapi kemudian Allah memberikan pertolongan-Nya dengan cara menyadarkan mereka melalui rahmat-Nya.
07 Menghapus Kesedihan Hati
Tinggalkanlah hawa nafsumu, jauhilah dia, kucilkanlah kehendakmu, dan pasrahkanlah segala sesuatu kepada Allah. Jadilah penjaga-Nya di dalam pintu hatimu, patuhilah perintah-Nya untuk mendekati orang yang Allah kehendaki, taatilah larangan-Nya untuk menjauhi orang yang Allah murkai. Jangan kau memasukkan kembali hawa nafsu ke dalam hatimu setelah hawa nafsu itu keluar darinya. Mengusir hawa nafsu dari hati berarti mengingkari dan tidak mengikutinya dalam segala kondisi. Sementara memasukkan hawa nafsu ke dalam hati berarti mengikuti dan menyetujuinya.
Janganlah menghendaki segala hal yang bukan berasal dari kehendak Allah. Segala kehendak yang bukan berasal dari kehendak Allah adalah angan-angan belaka. Itulah
lembah kebodohan yang di dalamnya terdapat kematian, kehancuran, kegagalan, dan keterasinganmu dari-Nya. Oleh karena itu, jagalah perintah Allah selamanya, jauhilah larangan-Nya selamanya, pasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala yang telah Dia tetapkan, dan jangan sekutukan Dia dengan apa pun dari makhluknya. Kehendak, hawa nafsu, syahwat, semuanya adalah makhluk-Nya. Oleh karena itu, janganlah berkehendak, jangan menuruti hawa nafsu, dan jangan mengikuti syahwat, agar kau tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Allah swt. berfirman,
“Siapa saja yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. al-Kahf [18]: 110)
Menyekutukan Allah (syirik) bukan hanya menyembah berhala. Mengikuti hawa nafsu, memilih sesuatu selain Allah berupa dunia beserta isinya dan akhirat beserta isinya, juga syirik. Selain Allah adalah bukan Tuhan. Jika engkau tenggelamkan dirimu dalam sesuatu selain Allah, berarti engkau telah menyekutukan-Nya.
Oleh sebab itu, waspadalah, jangan terlena. Takutlah, jangan merasa aman, dan selalu evaluasi dirimu. Jangan pernah lalai dan merasa tenang, jangan mengatribusikan dirimu dengan kondisi atau kedudukan (spiritual) apa pun, jangan pula kau tinggalkan keduanya. Jika engkau berada dalam satu kondisi atau kedudukan tertentu, jangan memilih satu pun dari keduanya. Allah setiap hari berada dalam kesibukan, Dia hadir dalam setiap perubahan dan pergantian yang terjadi. Allah menjadi penengah antara seorang hamba dan hatinya sehingga Dia akan melenyapkanmu dari segala yang engkau kehendaki dan membuatmu fana dari segala sesuatu yang engkau anggap kekal dan abadi.
Malulah di hadapan yang kau ajak bicara, simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkan dengan orang lain karena semua itu merupakan keabadian dan kau akan mengetahui bahwa itu merupakan anugerah Ilahi sehingga kau pun akan meminta diberi taufik agar dapat bersyukur. Tutuplah pandanganmu terhadapnya, kendati itu bukan sebuah anugerah, sesungguhnya di dalamnya terdapat tambahan ilmu, pengetahuan, cahaya, kesadaran, dan bimbingan dari-Nya. Allah swt. berfirman,
“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. al-Baqarah [2]: 106)
Oleh karena itu, jangan menganggap Allah tak berdaya dalam kekuasaan-Nya, jangan berburuk sangka terhadap ketetapan-Nya, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal ini, jadikanlah Rasulullah saw. sebagai teladan. Ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan kepadanya, yang dipraktikkan, dikumandangkan di tempat ibadah, dan termaktub di dalam mushaf-mushaf; telah dihapus, diangkat, dan digantikan dengan ayat-ayat lain. Perhatian Nabi pun diarahkan kepada wahyu-wahyu yang baru diterimanya dan menggantikan ayat-ayat yang telah lama itu. Ini terjadi dalam masalah-masalah syariat yang bersifat zhahir.
Adapun mengenai masalah-masalah batin, ilmu, dan kondisi spiritual antara beliau dan Allah swt., Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya hatiku pun pernah diliputi kelalaian sehingga aku memohon ampun
kepada Allah 70 kali dalam sehari.”
Dalam riwayat lain ada yang menyebutkan beliau memohon ampun sebanyak 100 kali sehari. Rasulullah saw. dibawa dari satu kondisi spiritual ke kondisi spiritual lain, ditempatkan di tempat-tempat terdekat dari Allah serta ruang-ruang gaib, dan mengembara (ke alam itu) sambil diselubungi oleh nur (cahaya).
Setiap kali Rasulullah naik dari satu kondisi spiritual maka kondisi spiritual yang di bawahnya tampak gelap, ‘tidak jelas, dan terbatas. Beliau senantiasa menerima arahan supaya memohon ampunan dan perlindungan Tuhan karena memohon ampun merupakan sebaik-baik kondisi spiritual seorang hamba. Beliau juga diajarkan untuk bertobat dalam segala kondisi karena di dalamnya terdapat pengakuan dosa dan kelemahan seorang hamba. Dosa dan kelemahan merupakan ciri khas seorang hamba dalam segala kondisi. Keduanya merupakan “warisan” dari kakek moyang manusia, Nabi Adam as. hingga Nabi kita Muhammad saw., yaitu manakala kejernihan ruhani (spiritual) Adam terkubur oleh kegelapan alpa dan lupa atas janjinya
kepada Allah untuk hidup kekal abadi di dalam surga, hidup berdampingan dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemberi karunia. Ketika para malaikat bertamu kepadanya, mereka akan mengucapkan salam dan penghormatan untuknya. Ketika itulah dia mendapati bahwa kehendaknya telah bercampur dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, kehendak Adam tersebut menjadi hancur, kondisi spiritualnya yang suci hilang, kedekatannya kepada Tuhan hilang, kedudukan tingginya jatuh, cahayanya yang bersinar terang menjadi gelap dan kesucian ruhaninya menjadi kotor.
Kemudian Adam sadar dan ingat. Dia pun mengakui dosa dan kealpaannya, lalu berikrar,
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang- orang yang rugi.” (QS. al-A’raf {7}: 23)
Kemudian turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan mengenai tobat dan berbagai maslahat yang sebelumnya tersembunyi di balik tobat itu pun tersingkap. Maslahat-maslahat itu tidak akan diketahui, kecuali dengan tobat itu sendiri.
Setelah itu, kehendak Adam yang salah diganti dengan kehendak yang lain dan kondisi spiritualnya (yang kotor) sebelumnya pun diubah. Dia diberi wilayah (kekuasaan) yang maha dahsyat, serta diberi kedudukan di dalam dunia ini dan di akhirat kelak. Jadilah dunia ini sebagai tempat tinggal dan keturunannya, dan akhirat kelak adalah tempat kembali yang kekal abadi.
Dari sini dapat kita simpulkan, di dalam diri kekasih Allah, Nabi Muhammad saw. dan Nabi pilihan Allah, Adam as. terdapat teladan dalam mengakui segala kekurangan serta memohon ampun kepada-Nya dalam segala kondisi.









One Comment