58 Menerangi Diri dengan Cahaya Iman
Butakanlah matamu dari segala penjuru, jangan melirik ke satu penjuru pun, selain Allah. Selama kau masih melihat ke salah satu penjuru, karunia dan kedekatan Allah swt. akan tertutup bagimu. Oleh karena itu, tutuplah segala penjuru itu dengan mengesakan Allah dan meniadakan diri serta ilmumu. Tampak oleh mata hatimu penjuru karunia Allah Yang Maha Agung. Saat itu kau akan melihat dengan kedua mata kepalamu pancaran cahaya hati, iman, dan keyakinanmu.
Cahaya itu akan muncul dari dalam batinmu ke permukaan lahirmu, laksana pijar lilin di sebuah rumah gelap di tengah malam gulita yang mencuat melalui lubang dan jendela. Akibatnya, sisi luar rumah pun menjadi terang oleh cahaya dari dalam. Jika kau telah berlaku demikian, jiwa dan seluruh anggota tubuhmu merasa tenteram terhadap janji dan anugerah Allah dibanding janji dan pemberian selain-Nya.
Oleh karena itu, kasihanilah dirimu. Jangan berbuat aniaya terhadap dirimu. Jangan kau campakkan dirimu di lembah gelap kebodohan dan ketololanmu karena hal itu akan membuatmu mengarahkan pandangan kepada penjuru selain Allah, kepada makhluk, daya, upaya, serta sarana sehingga kau pun akan bertumpu kepada hal-hal itu. Jika kau lakukan semua itu, segala penjuru akan tertutup bagimu, dan karunia Allah pun tak akan terbuka bagimu lantaran kesyirikanmu dengan melihat kepada selain-Nya.
Namun, jika kau telah menemukan dan melihat karunia Allah, kau pun hanya berharap kepada-Nya dan membutakan matamu dari segala hal selain-Nya. Dengan begitu, Allah akan membuatmu dekat dengan-Nya. Dia akan mengasihimu, memeliharamu, memberimu makan dan minum, mengobatimu, menyehatkanmu, menganugerahimu karunia, dan membuatmu kaya. Akhirnya, kau tak akan lagi memandang kaya atau miskin kondisimu.
59 Menerima Ujian dan Mensyukuri Nikmat
Sebagian dari Iman Engkau tak akan terlepas dari dua kondisi, yaitu kondisi diuji atau diberi nikmat. Jika kau tengah diuji atau ditimpa musibah, berusahalah untuk bersabar—inilah hal terendah yang harus kau lakukan—dan hadapilah dengan penuh keberanian—dan ini yang lebih tinggi dari sekadar bersabar. Kemudian, hendaknya kau ridha dengan takdir-Nya dan selaraskanlah dirimu dengan kehendak-Nya. Akhirnya, lenyapkanlah dirimu di dalam kehendak-Nya. Inilah kondisi ruhani para wali abdal.
Sementara itu, jika kau tengah diberi nikmat, berusahalah untuk bersyukur, baik dengan lisan, hati maupun organ-organ tubuh. Bersyukur dengan lisan itu dilakukan dengan cara mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah, tidak mengatributkan (menyandarkan, menisbatkan) nikmat itu kepada makhluk, baik itu dirimu sendiri, daya dan upayamu maupun orang lain. Sebab, baik dirimu maupun orang lain hanyalah alat atau sarana datangnya nikmat. Sementara itu, pemberi nikmat yang sejati dan faktor utama datangnya nikmat itu hanyalah Allah swt. Dialah yang paling berhak mendapat rasa syukur, bukan yang lain. .
Pandangan kita tidaklah tertuju kepada bocah kecil yang menerima sebuah hadiah, tetapi pandangan kita akan tertuju kepada guru yang memberinya hadiah. Allah — berfirman tentang orang yang tak bersikap selayaknya,
“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap
(kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. ar-Riim [30]: 7)
Siapa yang hanya melihat hal yang tampak dan sarana dari datangnya sebuah nikmat, sedangkan pengetahuan dan makrifatnya tak mampu menembus faktor utama di balik itu, sejatinya dia manusia yang pandir dan rendah akalnya. Seseorang yang berakal disebut berakal karena dia mampu memahami hal-hal yang tak tampak. Adapun bersyukur dengan hati, dilakukan dengan keyakinan abadi dan janji yang teguh bahwa segala nikmat, kebaikan, dan kenikmatan—baik lahir maupun batin—di dalam gerak ataupun diammu, berasal dari Allah, bukan yang lain. Dalam hal ini, rasa syukurmu melalui lisan menyatakan isi hatimu. Allah swt. berfirman,
“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah.” (QS. an-Nahl [16]: 53)
“Menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin.” (QS. Luqman [31]: 20)
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim [14]: 34)
Dengan semua pernyataan itu, tak tersisa lagi di hati seorang mukmin pemberi nikmat selain Allah. Sementara bersyukur dengan anggota tubuh dilakukan dengan menggerakkan dan menggunakannya untuk menjalankan ibadah kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, bukan untuk siapa pun selain Dia. Oleh karena itu, jangan sekali-kali menaati makhluk dalam hal yang bertentangan dengan perintah Allah. Siapa pun itu, termasuk hawa nafsu, kehendak, angan-angan, dan seluruh makhluk lainnya. Jadikanlah ketaatan terhadap Allah sebagai dasar sekaligus pemimpin yang harus kau ikuti, dan jadikan segala sesuatu selain-Nya sebagai cabang sekaligus objek yang dipimpin.
Jika kau bertindak lain, berarti kau telah menyimpang dari jalan lurus, berbuat aniaya, menjalankan keputusan dengan selain hukum Allah yang ditetapkan kepada hamba- hamba-Nya yang beriman, dan menempuh jalan di luar jalannya orang-orang shalih. Allah swt. berfirman,
“Siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, mereka itulah
orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 44)
“Siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. al-Ma’idah [5]: 45)
“Siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, mereka itulah
orang-orang fasik.” (QS. al-Ma’idah [5]: 47)
Jika itu yang kau lakukan, tempat terakhirmu adalah neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan. Jika kau tak tahan dengan demam selama satu jam saja, atau dengan sedikit saja jilatan api yang mengenai tubuhmu di dunia ini, bagaimana mungkin kau bisa tahan berada di neraka bersama penghuni-penghuninya
selamanya? Selamatkanlah dirimu, selamatkanlah dirimu! Segeralah, segeralah! Berlindunglah kepada Allah, berlindunglah kepada Allah!
Perhatikanlah dua kondisi di atas berikut syarat-syaratnya. Sebab kau tak akan lepas dari dua kondisi tersebut sepanjang hayat: diuji atau diberi nikmat. Berilah setiap kondisi itu hak-haknya, yaitu kesabaran dan rasa syukur, sebagaimana yang telah aku paparkan untukmu. Jangan sekali-kali mengeluh kepada makhluk ketika kau ditimpa ujian atau musibah. Jangan menunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan menyalahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan meragukan kebijaksanaan.
Pilihlah yang terbaik bagi dunia dan akhiratmu. Janganlah berharap kepada orang lain untuk melepaskanmu dari malapetaka. Dengan begitu, kau telah menyekutukan-Nya. Segala sesuatu adalah milik Allah dan tak ada satu makhluk pun yang turut memilikinya. Tidak ada yang mampu memberikan mudarat dan manfaat, mendatangkan kebahagiaan atau penyakit, menurunkan ujian atau menyembuhkan, kecuali Allah swt. semata.
Oleh karena itu, janganlah kau disibukkan oleh makhluk, baik lahir maupun batin. Sebab mereka tidak mempunyai daya dan upaya apa pun terhadapmu. Sebaliknya, hendaknya kau selalu bersabar, ridha, menyesuaikan diri dengan Allah dan melenyapkan diri dalam perbuatan-Nya.
Jika kau tak dapat melakukan semua itu, hendaknya kau memohon pertolongan-Nya, merendahkan diri kepada-Nya seraya menyadari kemalangan diri, menyucikan-Nya, menegaskan keesaan-Nya, mengakui nikmat-nikmat-Nya, membebaskan diri dari segala kesyirikan, memohon kesabaran, keridhaan, dan keselarasan dengan-Nya, sampai waktunya tiba. Musibah itu pun akan berakhir, segala kesulitan teratasi, kenikmatan, kelapangan, kebahagiaan, dan keceriaan datang bertubi-tubi.
Hal ini sebagaimana terjadi pada diri Nabi Ayub a.s., atau seperti gelapnya malam yang berganti cerahnya siang, atau musim dingin yang berganti angin sepoi musim panas. Sebab, segala sesuatu ada kebalikan atau lawannya, segala sesuatu ada awal dan akhirnya.
Kesabaran adalah kunci, permulaan, akhir, sekaligus perhiasan utamanya. Inilah yang tersirat dalam sabda Nabi saw.,
“Posisi sabar dalam iman itu laksana posisi kepala dalam tubuh.”
Juga dalam sabda Nabi,
“Sabar adalah keseluruhan iman.”
Terkadang, syukur itu berbentuk rasa senang menikmati karunia Ilahi yang dilimpahkan kepadamu. Syukurmu adalah menikmati karunia-Nya dalam keadaan lenyapnya diri, hawa nafsu, serta penjagaanmu. Inilah kondisi ruhani para wali abdal. Inilah terminal terakhir mereka. Ambillah pelajaran dari apa yang telah aku jelaskan kepadamu ini, niscaya kau akan mendapatkan bimbingan-Nya, insya Allah.
60 Yang Tersisa Hanyalah Tauhid dan Ibadahmu
Awal kehidupan spiritual adalah keluar dari (jatah-jatah duniawi) yang dijanjikan menuju syariat, lalu takdir, kemudian kembali lagi kepada hal-hal yang dijanjikan dengan syarat tetap menjaga batasan-batasan hukum. Dengan demikian, kau dapat keluar dari segala yang dijanjikan untukmu berupa makanan, minuman, pakaian, suami atau istri, rumah, kecenderungan, dan kebiasaan, lalu masuk ke dalam hukum- hukum syariat, baik perintah maupun larangannya. Hendaknya kau mengikuti al- Quran dan sunah Nabi, sebagaimana firman Allah,
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarang bagimu
tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr [59]: 7) Juga firman Allah,
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Engkau akan berpaling dari hawa nafsu dan kebodohanmu, lahir ataupun batin. Tak ada yang tersisa dalam batinmu, kecuali tauhidmu kepada-Nya, sedangkan dalam lahirmu hanya ada ketaatan dan ibadah kepada Allah, baik perintah maupun larangan- Nya. Inilah ketekunan, jargon, dan pakaianmu di setiap gerak dan diammu, pada siang dan malam harimu, dalam perjalanan ataupun diammu, saat mudah ataupun sulit, sehat ataupun sakit, dan dalam segala keadaanmu.
Engkau dibawa ke lembah takdir yang akan mengendalikanmu sekehendaknya sehingga kau pun akan lenyap dari segala usaha, perjuangan, upaya, dan dayamu. Lantas, bagian-bagianmu yang telah dicatat oleh tinta takdir dan telah diketahui Allah akan didatangkan kepadamu. Bagian-bagian itu akan kaunikmati seraya memperoleh keselamatan dan kemampuan menjaga batasan-batasan hukum sehingga kau tidak akan keluar dari batasan-batasan itu dan justru kau menyelaraskan diri dengan perbuatan Allah. Kau pun tak akan keluar dari kaidah-kaidah syariat menuju kekufuran dan menghalalkan yang haram. Allah swt. berfirman,
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan alQuran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. al-Hijr [15]: 9)
Allah juga berfirman,
“Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf)
termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf [12]: 24)
Dengan demikian, kau akan mendapat perlindungan Allah dalam rangka menggunakan bagian-bagian yang memang dipersiapkan untukmu. Dia menahan bagian-bagian duniawi darimu ketika kau tengah menempuh jalan menuju Allah, sebab bagian-bagian itu tak ubahnya gurun hawa nafsu dan tabiat hewani. Di samping itu, bagian-bagian tersebut merupakan beban yang paling berat untuk kau singkirkan. Allah melakukan itu agar beban-beban itu tidak memberatkan dan membuatmu tak berdaya dalam perjalananmu sehingga kau pun sampai di pintu gerbang fana’.
Inilah yang disebut sampai pada pintu kedekatan dengan Allah dan mengenal-Nya. Sebuah keistimewaan berupa rahasia-rahasia Allah dan ilmu-ilmu agama, masuk ke
dalam samudra cahaya, ketika gelapnya tabiat hewani tak akan membahayakan cahaya itu. Tabiat hewani itu akan tetap ada di dalam dirimu untuk menjemput bagian- bagiannya, sampai ruh meninggalkan jasad. Jika tabiat hewani itu lenyap dari manusia, manusia akan masuk ke dalam golongan malaikat. Jika demikian keadaannya, gugurlah hikmah penciptaan manusia. Oleh karena itu, tabiat hewani manusia itu akan tetap ada pada dirimu demi meraih bagiannya masing-masing. Akan tetapi, pencarian akan bagian-bagian duniawi itu bagi manusia hanyalah tugas, bukan tabiat aslinya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.,
“Aku dijadikan (oleh Allah) menyukai tiga hal dari dunia ini; wewangian, wanita, dan shalat yang menjadi penyejuk mataku.”
Ketika Nabi Muhammad telah lenyap dari dunia dan segala isinya ini maka bagian- bagian duniawinya yang dulu ditahan oleh Allah pada saat beliau menempuh jalan menuju-Nya, akan dikembalikan. Beliau akan meraihnya seraya menyelaraskan diri dengan kehendak Allah, ridha terhadap perbuatan-Nya, serta memenuhi perintah- perintah-Nya. Mahasuci nama-nama Allah. Kasih sayang-Nya meliputi segala hal. Anugerah-Nya kepada para wali dan nabi-Nya mahaluas. Demikianlah kondisi para wali.
Bagian-bagian duniawinya akan dikembalikan kepada mereka seraya tetap menjaga batasan-batasan hukum Allah. Inilah yang disebut kembali dari akhir ke awal. Hanya Allah yang Maha Tahu.









One Comment