11 Keutamaan Sabar dan Syukur
Apabila di dalam dirimu telah muncul syahwat untuk menikah, padahal kau dalam kondisi serba kekurangan dan tak sanggup menanggung beban persiapannya, yang harus kau lakukan adalah bersabar sembari menunggu datangnya jalan keluar dari Allah swt. Entah jalan keluar itu berupa dihilangkannya syahwat menikahmu dengan kuasa-Nya, atau dimudahkannya engkau menanggung beban itu, atau didatangkan segala keperluan yang meringankan bebanmu itu sebagai anugerah yang menenangkan dan mencukupimu, tanpa harus kau raih dengan susah payah di dunia atau pun membuatmu sengsara di akhirat.
Jika kau telah melakukan ini, Allah akan menyebutmu sebagai orang yang sabar dan bersyukur karena kesabaranmu terhadap syahwat dan keridhaanmu atas ketentuan- Nya. Allah pun akan menambah perlindungan dan kekuatan-Nya padamu. Jika pernikahan itu memang ditakdirkan untukmu, Allah pasti akan mendatangkannya padamu. Segala kebutuhanmu akan tercukupi, kau akan merasa tenteram, dan kesabaranmu itu akan bertukar dengan syukur. Allah swt. telah berjanji untuk senantiasa menambah karunia-Nya kepada orang-orang yang bersyukur, sebagaimana firman-Nya,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Namun, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Akan tetapi jika pernikahan itu belum ditakdirkan untukmu, jalan keluarnya adalah dihilangkannya keinginan menikah itu dari hatimu, baik kau suka maupun tidak suka. Oleh karena itu, bersabarlah selalu, tentanglah hawa nafsumu, berpegang teguhlah pada perintah-perintah-Nya, ridhalah terhadap ketentuan-Nya, dan dengan ini semua, berharaplah akan anugerah dan karunia-Nya. Allah swt. telah berfirman,
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. az-Zumar [39]: 10)
12 Memperbudak Harta, Menjadi Abdi Allah
Apabila Allah Yang Maha Agung memberimu limpahan kekayaan, lantas kekayaan itu memalingkanmu dari kepatuhan kepada-Nya, niscaya Dia akan menghalangimu dari- Nya di dunia dan di akhirat. Mungkin Allah juga akan mencabut karunia-Nya darimu, mengubah kondisimu, dan membuatmu miskin sebagai hukuman atas nikmat yang membuatmu berpaling dari Sang Pemberi Nikmat.
Tetapi jika sebaliknya, kepatuhanmu kepada-Nya membuatmu berpaling dari harta, Allah akan menjadikan harta itu karunia bagimu dan tidak akan sedikit pun menguranginya. Harta akan menjadi abdimu, sedangkan kau menjadi abdi Sang Raja (Allah). Engkau akan hidup di dunia di bawah bimbingan-Nya, dan di akhirat kelak hidup terhormat dan penuh suka cita bersama para shiddiqin’, para syuhada, dan orang-orang shalih.
13 Berserah Pada Allah swt.
Jangan bersusah payah mengusahakan suatu nikmat, jangan pula berupaya menangkis datangnya suatu bencana. Jika nikmat telah ditakdirkan untukmu, ia pasti akan datang kepadamu, baik kau suka maupun benci. Sebaliknya, jika bencana telah ditetapkan untukmu, ia pasti akan menimpamu entah kau suka atau tidak suka, atau kau berusaha menghalaunya dengan doa-doa, atau kau menghadapinya dengan kesabaran, atau kau berusaha bersikap teguh demi meraih ridha-Nya.
Berserah dirilah kepada Allah dalam segala hal, biarlah Dia melakukan perbuatan- Nya pada dirimu. Jika Dia memberimu nikmat, sibukkanlah dirimu dengan syukur. Jika yang Dia berikan adalah bencana, sibukkanlah dirimu dengan ketabahan dan kesabaran, atau terimalah bencana itu dengan sepenuh hati, atau nikmatilah ia, atau tiadakan dan tenggelamkan dirimu dalam bencana itu sesuai kondisi spiritual yang diberikan kepadamu dan sesuai tingkatan-tingkatan yang kau lalui dalam perjalanan menuju Allah, Tuhan yang memerintahkanmu untuk taat kepada-Nya dan menjadikan- Nya penolong, agar engkau bisa sampai kepada-Nya.
Dengan demikian, kau akan ditempatkan pada maqam (kedudukan) yang sebelumnya telah dicapai oleh para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih terdahulu agar engkau dapat melihat langsung mereka yang telah mendahuluimu menuju Tuhan dan dekat dengannya. Yaitu orang-orang yang mendapatkan hal-hal baru, kebahagiaan, ketenteraman, kemuliaan dan kenikmatan di sisi-Nya. Biarkanlah bencana itu menyambangimu, menyingkirlah dan jangan rintangi jalannya. Jangan merasa gundah atas kedatangannya karena panas apinya tak lebih mengerikan daripada api neraka Jahannam dan Lazha.
Diriwayatkan bahwa manusia terbaik, orang terbaik yang pernah hidup di atas bumi dan kolong langit, Nabi Muhammad saw., pernah bersabda,
“Sungguh, api neraka akan berseru kepada orang beriman, ‘Wahai mukmin, cepatlah berlalu karena cahayamu memadamkan kobaran apiku.’”
Cahaya seorang mukmin yang memadamkan nyala api neraka Lazha itu tak lain adalah cahaya yang ada padanya di dunia ini. Cahaya itu berguna bagi orang yang hidup di dunia, baik yang taat maupun yang berbuat maksiat. Biarkanlah cahaya ini memadamkan kobaran api bencana, dan biarkankanlah dinginnya kesabaran dan ketaatanmu terhadap Allah memadamkan hawa panas ujian berupa bencana yang menimpa dan mendekat kepadamu.
Dengan demikian, ujian yang menimpamu bukanlah untuk menghancurkanmu, melainkan untuk mencobamu, memastikan kebenaran imanmu, mengukuhkan pilar- pilar keyakinanmu, dan memberimu kabar baik dari Allah bahwa Dia membanggakanmu. Allah swt. berfirman,
“Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang- orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS. Muhammad [47]: 31)
Jika keimananmu kepada Allah telah teguh dan kau pun telah menyelaraskan diri dengan tindakan Allah dengan keyakinanmu—dan semua itu berkat taufik dan
anugerah dari-Nya—maka kau mesti tetap bersabar, menyelaraskan diri dengan Allah, dan berserah diri pada-Nya. Tidak ada satu kejadian pun dalam dirimu atau orang lain di luar perintah atau larangan Allah. Jika datang perintah-Nya, dengarkanlah dengan seksama, segeralah melaksanakannya, bertindaklah, jangan diam, dan jangan pasif terhadap takdir dan perbuatan-Nya. Namun, curahkanlah seluruh kekuatan dan upayamu untuk melaksanakan perintah itu.
Jika kau tak mampu melaksanakan perintah itu, segeralah kembali kepada Tuhanmu yang Maha Mulia dan Maha Agung. Berlindunglah kepada-Nya dengan penuh kerendahan diri dan mohonlah ampun kepada-Nya. Lantas coba carilah sebab ketakmampuanmu melaksanakan perintah itu dan apa yang menghalangimu untuk taat kepada-Nya dengan penuh antusias. Sebab bisa jadi itu karena buruknya doa dan etikamu dalam mematuhi-Nya, atau kebodohanmu, atau kau terlalu mengandalkan kekuatan dan upayamu sendiri, atau kau sombong dengan ilmumu, atau kau menyekutukan-Nya dengan dirimu sendiri dan makhluk-Nya.
Akibatnya, Allah menghalangimu dari pintu-Nya, memecatmu dari ketaatan dan pengabdian terhadap-Nya, memutus limpahan taufik-Nya darimu, memalingkan wajah-Nya yang mulia darimu, membencimu, membuatmu sibuk dengan bencana, dunia, hawa nafsu, keinginan dan angan-anganmu. Tidakkah kau tahu bahwa itu semua membuatmu lupa akan Allah dan memutusmu dari Dia yang menciptakanmu, mengurusmu, memeliharamu, mengaruniaimu, memberimu anugerah dan kesejahteraan?
Waspadalah, jangan sampai segala sesuatu selain Allah melalaikanmu dari-Nya karena segala sesuatu selain-Nya bukanlah Tuhanmu. Jangan mementingkan sesuatu selain Allah karena Dia menciptakanmu semata-mata untuk-Nya. Janganlah berbuat zalim terhadap dirimu sendiri dengan melupakan perintah-Nya karena sibuk dengan segala sesuatu selain-Nya.
Akibatnya, Allah akan menjerumuskanmu ke dalam api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. Engkau pasti akan menyesal, tetapi penyesalanmu itu tidak berguna lagi. Engkau meminta ampun, tetapi tiada lagi ampunan bagimu. Engkau meratap meminta keridhaan Tuhan, tetapi tiada lagi ridha-Nya bagimu.
Engkau meminta dikembalikan ke dunia untuk menebus kesalahan-kesalahanmu dan melakukan amal shalih, tetapi kau tidak akan pernah dikembalikan.
Kasihanilah dirimu sendiri dan bersimpatilah padanya. Gunakanlah segala sarana yang dikaruniakan kepadamu berupa upaya, keimanan, makrifat, dan ilmu untuk mengabdi kepada Tuhanmu. Terangilah dirimu dengan cahaya ketaatan dalam menghadapi gelapnya takdir. Pegang teguhlah semua perintah dan larangan Allah, laksanakanlah keduanya di jalan-Nya, dan serahkanlah selain keduanya kepada Dzat yang menciptakanmu. Janganlah ingkar terhadap Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah dan mengurusmu yang Dia dijadikan engkau seorang manusia sempurna dari setetes air mani.
Janganlah menghendaki (mencari) apa pun yang tidak diperintahkan-Nya, dan jangan membenci (menjauhi) apa pun tidak dilarang-Nya. Cukuplah bagimu berkehendak seperti ini, dan cukuplah membenci seperti ini pula, di dunia dan akhirat. Segala sesuatu yang kau kehendaki haruslah berjalan sebagaimana kehendak di atas. Sebaliknya, segala sesuatu yang kau benci haruslah berjalan sebagaimana kebencian di atas.
Jika kau telah berjalan seiring seirama dengan perintah Allah, alam semesta ini akan tunduk pada perintahmu. Jika kau membenci apa yang dibenci oleh Allah, segala hal yang kau benci akan lari tunggang langgang darimu, di mana pun kau berada. Dalam beberapa kitab-Nya (yang terdahulu seperti Injil, Taurat, Zabur, dll.) Allah swt. berfirman, “Wahai bani Adam, Akulah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Jika Aku katakan pada sesuatu, ‘Jadilah,’ pasti jadi. Taatlah kepada-Ku, niscaya Kujadikan kau manusia yang jika berkata ‘Jadilah’ pada sesuatu, sesuatu itu pasti jadi.’”
Allah swt. juga berfirman, “Wahai dunia, mengabdilah kepada orang yang mengabdi
kepada-Ku, dan buatlah susah orang yang mengabdikan diri kepadamu.”
Jika larangan Allah datang, bersikaplah seperti orang yang lunglai sendi-sendi tulangnya, panca indranya tak berfungsi, tak punya tenaga, tubuhnya tak berdaya, tak punya gairah, hilang ketampanannya, fisiknya tak berbentuk, kehilangan jejak, halaman rumahnya gelap, bangunannya hancur, rumahnya roboh, atapnya jebol, dan
tiada jejak-jejak kehidupan di dalamnya. Bersikaplah layaknya kau tuli sejak lahir, atau buta sejak lahir, mulutmu penuh luka dan bisul, lidahmu kelu, gigimu nyeri dan tanggal, kedua tanganmu lumpuh dan tak kuasa memegang apa pun, kakimu gemetar dan penuh luka, kemaluanmu lemah, perutmu kekenyangan tak mampu Lagi menampung makanan, akalmu gila, dan tubuhmu seakan seperti mayat yang tengah diangkut ke kubur.
Engkau mesti segera mendengarkan dan menunaikan semua perintah-Nya, sebagaimana kau mesti enggan dan tak bergairah terhadap semua hal yang dilarang- Nya. Kau juga mesti bersikap layaknya seonggok mayat ketika berhadapan dengan takdir-takdir-Nya. Teguklah minuman ini, berobatlah dengan obat ini, dan santaplah makanan ini, niscaya kau akan selamat dan sembuh. Engkau juga akan sembuh dari berbagai penyakit dosa dan belenggu hawa nafsu, dengan izin-Nya, Insya Allah.









One Comment