71 Dunia adalah Ladang Akhirat
Kau tak akan terlepas dari dua hal: menghendaki (murid) atau dikehendaki (murad). Jika kau menjadi seorang yang menghendaki, kau akan menanggung beban yang berat dan sulit. Sebab kau adalah seorang pencari (thalib), dan seorang pencari pastilah mengalami kesulitan sebelum akhirnya meraih sesuatu yang dia cari dan mencapai tujuan yang dia idamkan. Tidak pantas kau lari dari kesusahan yang menimpa diri, harta benda, keluarga, dan anakmu sehingga beban-beban yang kau
tanggung itu diringankan atau hilang sama sekali, deritamu diangkat, kesulitan dan kehinaanmu dilenyapkan.
Dengan demikian, kau akan terlindungi dari segala kehinaan, kotoran, dan ketergantungan terhadap makhluk dan seluruh manusia. Jika sudah begitu, kau akan masuk ke dalam golongan para kekasih Allah yang senantiasa diberi karunia dan dikehendaki (murad) oleh-Nya.
Namun, jika kau adalah orang yang dikehendaki (murad), jangan menyalahkan Allah jika Dia menimpakan musibah kepadamu. Jangan pula kau ragukan kedudukan dan derajatmu di hadapan-Nya, sebab terkadang Dia mengujimu agar kau meraih kedudukan para kekasih Allah dan agar kau dapat mencapai derajat para wali serta para wali abdal. Apakah kau suka jika kedudukan dan derajatmu berada di bawah mereka, atau jika busana kemuliaan, cahaya, dan anugerahmu tak seperti milik – mereka? Jika pun kau rela dengan kedudukan rendahmu ini, ketahuilah bahwa Allah swt. tidak rela itu terjadi padamu. Allah berfirman,
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 232)
Dia memilihkan untukmu derajat yang lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih terhormat, tetapi kau justru menampiknya.
Mungkin kau bertanya, mengapa seorang hamba yang dikehendaki Allah (murad) itu masih diuji, padahal dia telah meraih anugerah (derajat tinggi di sisi Allah)? Anda pun tahu bahwa ujian itu biasanya ditujukan kepada hamba yang mencintai Allah, sedangkan hamba yang dicintai (dikehendaki) Allah biasanya diberi anugerah.
Jawabannya yang pertama adalah kondisi secara umum atau mayoritas, sedangkan yang kedua adalah kondisi yang sangat jarang, tapi mungkin terjadi. Lagi pula, tak seorang pun menyangkal bahwa Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin para kekasih Allah. Namun demikian, beliau juga sekaligus manusia yang ujiannya paling berat. Hal ini sebagaimana beliau sampaikan,
“Aku pernah merasa demikian takut di jalan Allah, tiada seorang pun yang lebih takut dariku. Aku pernah disiksa di jalan Allah, tiada seorang pun yang siksanya lebih berat dariku. Pernah aku mengalami tiga puluh hari tiga puluh malam di mana kami tidak mendapatkan makanan, kecuali hanya sebesar yang dapat disembunyikan di bawah ketiak Bilal.”
Rasulullah saw. juga bersabda,
“Sesungguhnya kami—para nabi—adalah manusia yang paling berat ujiannya, kemudian orang-orang yang berada di bawah tingkatan kami, kemudian orang-orang yang berada di bawah itu.”
Di kesempatan lain, Rasulullah juga bersabda,
“Aku manusia yang paling mengenal Allah dibanding kalian, dan aku manusia yang paling takut kepada Allah dibanding kalian.”
Lantas bagaimana mungkin orang yang dicintai atau dikehendaki Allah bisa diuji dan ditimpakan rasa takut? Hal ini tak lain agar dia dapat mencapai derajat tinggi di surga, sebagaimana yang kami jelaskan sebelumnya. Sebab, derajat di surga dibangun berdasarkan amal yang dikerjakan selama di dunia.
Dunia tak lain adalah ladang akhirat. Amal kebajikan para nabi dan wali setelah segala perintah telah mereka laksanakan dan segala larangan mereka patuhi adalah sabar, ridha, dan menyelaraskan diri dengan kehendak Allah pada saat mendapat ujian. Lantas, ujian itu akan dilepaskan dari mereka, diganti dengan segala nikmat, anugerah, serta perjumpaan abadi dengan Allah. Wallahu a’lam.
72 Melihat dengan Pandangan Rahmat
Orang Islam dan ahli ibadah yang mampir ke pasar saat sedang dalam perjalanan melaksanakan perintah Allah seperti shalat Jumat, shalat jamaah, dan memenuhi kebutuhan hidup, terdapat beberapa macam:
Pertama, orang yang jika melihat berbagai barang dan kelezatan di pasar langsung terkesima dan menginginkan barang-barang tersebut sehingga tanpa dia sadari hatinya telah terpaut pada fitnah (ujian hawa nafsu). Inilah yang menyebabkan dirinya hancur, meninggalkan agama dan ibadahnya, kembali pada tabiat hewani, serta menuruti hawa nafsu, kecuali jika Allah melimpahkan kasih sayang (rahmat), perlindungan, dan kesabaran baginya dalam menghadapi godaan hawa nafsu itu maka dia akan selamat.
Kedua, orang yang ketika melihat barang-barang di pasar dan nyaris tergoda olehnya, tapi dia langsung menepisnya dengan akal dan ajaran agamanya, menahan diri, lalu menanggung pahitnya mencampakkan barang-barang itu. Mereka bagaikan pejuang di jalan Allah yang diberi pertolongan oleh-Nya dalam mengendalikan hawa nafsu serta tabiat hewani mereka. Mereka akan diberi pahala melimpah di akhirat kelak, sebagaimana sabda Nabi dalam hadis berikut ini,
“Tujuh puluh kebajikan akan dicatatkan untuk seorang mukmin, apabila dia berhasil membuang syahwat ketika sedang dikuasai hawa nafsu, atau apabila dia dapat menguasainya.”
Ketiga, orang yang membeli dan memanfatkan barang-barang dari pasar itu dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka, berupa keluasan rezeki dan harta. Lantas, mereka pun bersyukur atas rezeki tersebut.
Keempat, orang yang tidak sedikit pun melihat ataupun tergoda oleh barang-barang itu. Dia buta terhadap segala sesuatu selain Allah swt. maka tak ada apa pun yang dia lihat, kecuali Allah semata. Dia tuli terhadap
segala sesuatu selain Allah maka tak ada apa pun yang dia dengar, kecuali Allah semata. Dia terlampau sibuk dengan Allah, Sang Kekasih dan dambaan hatinya sehingga lupa terhadap yang lain. Mereka jauh dari dunia dan segala kesibukannya. Apabila kau bertanya kepada orang semacam ini di pasar tentang apa yang mereka lihat, dia akan menjawab, “Kami tidak melihat apa-apa.”
Betul bahwa dia melihat barang-barang tersebut di pasar, tapi dia hanya melihatnya dengan mata kepala saja, bukan dengan mata hatinya. Dia hanya melihat semua itu sekedarnya saja, tidak dengan hawa nafsu. Yang dia lihat hanyalah rupa fisiknya, bukan maknanya. Yang dia lihat hanyalah sisi lahiriahnya, bukan batiniahnya, Secara lahiriah memang dia melihat barang-barang yang ada di pasar, tetapi di dalam hatinya dia hanya melihat Allah. Terkadang pada keagungan-Nya, terkadang pada keindahan-Nya.
Kelima, orang yang ketika memasuki pasar, hatinya justru penuh dengan Allah dan mengasihi orang-orang yang ada di situ. Hatinya disibukkan oleh kasih sayang terhadap mereka, alih-alih memusatkan pandangan pada barang-barang milik mereka dan segala sesuatu yang ada di hadapan mereka. Sejak memasuki pasar sampai keluar lagi, orang ini senantiasa terhubung dengan Allah melalui doa, istighfar, memohonkan keselamatan bagi penghuni pasar, serta mengasihi mereka.
Matanya tertuju pada segala yang ada di hadapannya, sedangkan lisannya tiada henti memuji Allah atas segala karunia dan nikmat yang Dia limpahkan kepada seluruh makhluk. Orang semacam ini dijuluki pengawal negeri dan para hamba. Bisa juga kau menyebutnya sebagai orang ‘arif (mengenal Allah), wali abdal, zahid, orang alim yang tersembunyi, wali abdal yang dicintai dan dikehendaki Allah, wakil Allah di muka bumi, duta Allah, peneliti, penegak hukum Allah, pemberi hidayah, yang diberi hidayah, dan pembimbing jalan yang lurus. Mereka layaknya permata yaqut merah atau burung kucica (‘aq’aq). Semoga Allah meridhai orang seperti ini dan setiap mukmin yang dikehendaki Allah, yang telah mencapai derajat tertinggi. Hanya Allah yang dapat memberi petunjuk.
73 Kemarahan Para Wali
Kadang Allah memberitahu wali-Nya tentang aib, kebohongan, pernyataan palsu, syirik—baik dalam ucapan maupun perbuatan—rahasia, serta niat orang lain. Oleh karenanya, sang wali amat cemburu terhadap Tuhan, Nabi, dan agama-Nya. Batinnya sangat marah karena ingin membela ketiganya, lantas menjalar pada fisik luarnya, saat dia berada di tempat ataupun saat sedang tak ada di tempat.
Kemarahan sang wali itu dipicu oleh pertanyaan: bagaimana bisa orang itu mengaku telah memperoleh keselamatan, sedangkan berbagai penyakit masih menggerogoti lahir dan batinnya? Bagaimana bisa dia mengaku bertauhid, sedangkan kesyirikan masih tertanam dalam dirinya? Dan syirik membawa seseorang kepada kekufuran dan menjauhkannya dari Allah. Lagi pula, bukankah syirik juga merupakan ciri musuh- musuh Allah seperti setan yang terkutuk dan para munafik yang akan dicampakkan ke dalam kerak neraka dan kekal di dalamnya?
Oleh karena itu, melalui lisan wali-Nya, Allah akan menunjukkan aib, perilaku-perilaku buruk serta tak tahu malu orang itu, yang mengaku-ngaku telah mencapai kondisi spiritual para shiddiqin, padahal dia memusuhi orang-orang yang telah fana’ (lenyap) dalam takdir dan kehendak Allah.
Sang wali melakukan itu lantaran kecemburuan mereka untuk Allah, terkadang dengan cara mengingkari si pengaku-ngaku itu, terkadang dengan cara menasihatinya, terkadang dengan menunjukkan kekuasaan, kehendak, dan kemurkaan Allah atas dustanya itu. Dengan demikian, wali itu dituduh melakukan ghibah terhadap orang yang bersangkutan. Dia akan ditanya, “Apakah seorang wali dibenarkan membicarakan aib orang lain? Bukankah ghibah itu dilarang? Bolehkah dia membicarakan seseorang, ada maupun tak ada orang itu, di hadapan masyarakat luas?” Pengingkaran terhadap seorang wali seperti ini bisa diibaratkan sebagaimana firman Allah,
“Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 219)
Secara lahiriah, yang tampak adalah pengingkaran terhadap sang wali. Tetapi pada hakikatnya, dia telah membuat Allah murka, bahkan dia telah menentang-Nya. Akibatnya, dia akan merasa kebingungan sendiri. Dalam kondisi seperti ini, yang wajib dia lakukan adalah diam, tunduk dan pasrah, serta mencari kebenarannya di dalam syariat. Bukan malah menentang Allah dan wali-Nya dengan dusta dan kebohongannya.
Sikap seperti inilah yang kadang menjadi sebab hilangnya kekejian dari dalam dirinya, menjadi faktor dia bertobat, serta sembuh dari kebodohan dan kebingungannya. Di sisi lain, hal ini juga menjadi sebab kebencian mereka terhadap sang wali, tapi sekaligus juga menjadi manfaat bagi orang-orang yang tertipu (oleh bujuk rayu dunia) dan hampir binasa oleh ketertipuan dan kebohongannya itu. Allah memberi petunjuk orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.









One Comment