30 Kesabaran Sumber segala Kebaikan
Betapa sering kau berkata, “Apa yang mesti kulakukan? Bagaimana caranya?” Jawaban yang tepat bagimu adalah “Tetaplah di tempatmu. Jangan melampaui batasmu sampai datang jalan keluar bagimu dari Dzat yang telah memerintahkanmu untuk tetap di tempatmu.” Allah berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)
Allah memerintahkanmu untuk bersabar, wahai orang beriman, lalu berlomba-lomba dalam kesabaran, memegang teguh kesabaran itu, menjaganya, serta senantiasa menekuninya. Allah kemudian memperingatkanmu agar tidak meninggalkan kesabaran itu. Dia berfirman, “Takutlah kepada Allah,” jika kau meninggalkan kesabaran itu.
Artinya, janganlah kau tinggalkan kesabaran, sebab di dalamnya terdapat kebaikan dan keselamatan. Nabi Muhammad saw. bersabda,
“Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala dalam tubuh.”
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Segala sesuatu akan diberi balasan yang setimpal, kecuali kesabaran. Balasannya tidak terhitung dan berlipat ganda.” Hal ini sesuai dengan firman Allah,
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. az-Zumar [39]: 10)
Jika kau bertakwa kepada Allah, Dia akan menjagamu agar kau senantiasa dapat bersabar dan menjaga batas-batas yang telah ditentukan oleh-Nya. Sehingga Allah
pun akan memenuhi janji-Nya kepadamu. Sebagaimana yang Dia janjikan dalam kitab-Nya,
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. ath- Thalaq [65]: 2—3)
Dengan kesabaran itu, kau akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertawakal kepada Allah, hingga jalan keluar terbentang bagimu. Sungguh Allah telah menjanjikanmu kecukupan, sebagaimana firman-Nya,
“Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)- nya. (QS. ath-Thalag [65]: 3)
Dengan kesabaran dan tawakalmu itu, kau akan termasuk ke dalam golongan orang- orang yang berbuat baik (ihsan). Allah telah menjanjikan balasan untukmu, sebagaimana firman-Nya,
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
al-Qashash [28]: 14)
Dengan kesabaran, tawakal, dan ihsan-mu itu, Allah akan mencintaimu, sebab Dia berfirman,
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah [2]:
195)
Jadi, kesabaran adalah sumber segala kebajikan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Melalui kesabaran ini, seorang mukmin merangkak naik ke tingkatan ridha, muwafaqah (menyesuaikan dirinya dengan kehendak Allah), dan terakhir fana (melenyapkan diri) di dalam takdir-Nya, sebagaimana kondisi wali abdal atau wali yang tersembunyi. Sebaiknya engkau berhati-hati, jangan sampai meninggalkan kesabaran agar Allah tidak membuatmu hina di dunia ini dan di akhirat
kelak, dan agar engkau tidak kehilangan kebaikan keduanya. Na’udzu billah min
dzalik.
31 Cinta dan Benci karena Allah dan Rasul-Nya
Jika engkau merasakan hatimu sedang membenci atau mencintai seseorang, kembalikanlah perilaku orang itu kepada al-Quran dan sunah Nabi. Jika perilakunya ternyata dibenci oleh al-Quran dan hadis, dan kau pun juga membencinya, berbahagialah karena tindakanmu telah selaras dengan Allah dan Nabi-Nya. Jika perilakunya sesuai dengan al-Quran dan hadis, sedangkan kau membencinya, ketahuilah bahwa kau adalah pengikut hawa nafsu. Kau membencinya berdasarkan hawa nafsu. Kau berbuat zalim kepadanya dengan kebencianmu itu, tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menentang al-Quran dan hadis.
Bertobatlah kepada Allah dari kebencian terhadapnya, mohonlah kepada-Nya agar engkau dapat mencintai orang itu dan hamba-hamba-Nya yang lain, seperti para wali- Nya, para kekasih-Nya, orang-orang suci, orang-orang shalih, dan lain-lain, agar perilakumu selaras dengan Allah azza wa jalla.
Demikian pula seharusnya kau bertindak terhadap orang yang kau cintai. Pertimbangkan kitab Allah dan sunah Nabi. Jika perilakunya dicintai oleh keduanya, cintailah dia. Tapi, jika perilakunya dibenci oleh keduanya, bencilah dia, agar kau tak mencintai dan membencinya karena hawa nafsumu. Sebab Allah telah memerintahkanmu untuk melawan hawa nafsumu. Dia berfirman,
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. ” (QS. Shad [38]: 26)
32 Tidak Menduakan Cinta-Nya
Betapa sering kau berkata, “Siapa pun yang kucintai, cintaku kepadanya tak abadi. Kami selalu saja berpisah, entah karena berjauhan, kematian, permusuhan, atau lenyapnya harta.” Tidakkah kau tahu, wahai hamba yang dicintai Allah, wahai hamba yang diperhatikan dan dicemburui Allah. Tidakkah kau tahu bahwa Allah itu cemburu. Dia telah menciptakanmu, mengapa kau justru ingin menjadi milik selain Dia? Tidakkah kaudengar firman-Nya,
“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. al-Ma‘idah [5]: 54)
Juga firman-Nya,
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-
Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Atau belumkah kau dengar hadis Nabi,
“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya. Jika si hamba bersabar, Allah memeliharanya. Rasul ditanya, ‘Ya Rasulullah, apa maksud Allah akan memiliharanya?’ Beliau menjawab, ‘Allah tidak menyisakan kekayaan atau anak baginya.’”
Hal ini karena jika si hamba mempunyai anak dan harta, cintanya kepada Allah akan berkurang dan terbagi-bagi. Cinta yang seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah, dia bagi kepada selain-Nya. Allah tidak mau disekutukan. Dia cemburu. Dia Mahakuasa atas segalanya. Oleh karena itu, Dia menghancurkan segala yang menjadi sekutu bagi-Nya, agar tak ada yang lain di hati hamba-Nya selain Dia. Saat itulah, Allah akan membuktikan firman-Nya,
“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. al-Ma‘idah [5]: 54)
Sampai akhirnya, hati si hamba bersih dari segala sekutu Allah, seperti keluarga, harta, anak, kenikmatan dan syahwat duniawi, keinginan memperoleh kekuasaan, pangkat, kemuliaan, kedudukan, bahkan surga, derajat, serta kedekatan di sisi Allah.
Tiada kehendak dan tujuan apa pun di hatinya selain Allah. Maka, hatinya menjadi layaknya bejana berlubang yang tidak mampu menampung air. Sebab saat ini, Allah menghendakinya hancur.
Setiap muncul di dalam hatinya kali suatu keinginan, Allah akan menghancurkannya dengan kehendak dan kecemburuan-Nya. Kemudian, tirai-tirai keluhuran, kekuatan dan kewibawaan akan menyelimutinya. Parit-parit keagungan dan kekuasaan mengitarinya. Sehingga, tak satu pun kehendak terhadap sesuatu mampu mendekati hatinya.
Akhirnya, tidak satu pun harta, anak, istri, sahabat, kemuliaan, kekuasaan, ilmu pengetahuan, atau ibadah yang mampu membahayakan hatinya. Oleh karena itu, semua berada di luar hati, Allah pun tidak cemburu kepadanya. Sebaliknya, semua itu justru menjadi penghormatan, kasih sayang, kenikmatan, dan rezeki yang dianugerahkan Allah kepada para hamba-Nya yang menempuh jalan menuju-Nya (suluk). Mereka pun dimuliakan, disayangi, dan dijaga karena dia mulia di mata Allah. Allah pun menjadi penjaga, pelindung, pemelihara dan pemberi syafaat kepada mereka di dunia dan akhirat.
33 Empat Jenis Manusia
Ada empat jenis manusia. Pertama, manusia yang tidak mempunyai lidah dan hati, yaitu ahli maksiat, orang bodoh dan hina. Allah sama sekali tidak memedulikannya, dan tidak ada kebaikan di dalam dirinya. Orang-orang seperti itu layaknya kulit padi yang tak berbobot, kecuali jika Allah mengasihi mereka, membimbing hati mereka untuk beriman kepada-Nya, dan menggerakkan segenap raga mereka untuk taat kepada-Nya.
Waspadalah, jangan sampai kau termasuk jenis manusia seperti itu. Jangan pedulikan mereka, jangan pula kau bergaul dengan mereka. Sebab mereka itu manusia yang akan mendapat siksa. Mereka orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan calon penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka. Sebaliknya, hendaklah
kau menjadi manusia yang mengenal Allah, guru yang mengajarkan kebaikan, serta pembimbing, pemimpin, dan penyeru agama.
Datangilah mereka, ajaklah mereka menaati Allah, dan peringatkanlah mereka agar tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Maka, di mata Allah kau akan dicatat sebagai pejuang, dan kau akan diberi pahala layaknya para nabi dan rasul. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a.,
“Jika Allah membimbing seseorang melalui perantara bimbinganmu, hal itu lebih baik bagimu dari apa saja yang disinari oleh matahari.”
Kedua, manusia yang mempunyai lidah tetapi tidak memiliki hati. Dia berbicara bijak, tetapi tidak mengamalkannya. Dia menyeru orang kepada Allah, tetapi mereka sendiri lari dari-Nya. Dia jijik dengan aib orang lain, tetapi dia sendiri tenggelam dalam aibnya. Dia menunjukkan keshalihan kepada orang lain, tetapi dia sendiri berbuat banyak dosa besar kepada Allah. Di kala sendiri, orang seperti ini bagai serigala berbusana. Inilah tipe manusia yang diperingatkan Nabi dalam sabdanya,
“Hal yang paling aku takuti terjadi pada umatku, melebihi ketakutanku terhadap
seluruh orang munafik, yaitu orang yang alim, tapi hanya di lidahnya saja.”
Dalam hadis lainnya, Rasulullah bersabda,
“Hal yang paling aku takuti terjadi pada umatku adalah munculnya para ulama busuk
(jahat).”
Kita berlindung kepada Allah dari tipe manusia seperti itu. Menjauhlah dari orang seperti itu dan jangan pernah bersinggungan dengannya, agar kau tak termakan oleh lidahnya yang manis sehingga api dosa-dosanya pun akan membakarmu, dan pada akhirnya kebusukan hatinya akan membinasakanmu.
Ketiga, manusia yang memiliki hati tetapi tidak memiliki lidah. Inilah tipe orang beriman yang disembunyikan Allah dari seluruh makhluk-Nya. Allah memeliharanya,
menunjukkan aib-aib dirinya sendiri, mencerahkan hatinya, membuatnya sadar akan mudarat berbaur dengan manusia dan ucapan yang keji (buruk).
Tipe orang ini juga meyakini bahwa keselamatan terletak pada sikap diam, menjauh, dan menyendiri dari manusia. Dia memerhatikan betul-betul sabda Nabi,
“Siapa yang senantiasa diam, dia akan memperoleh keselamatan.”
Dia juga mendengarkan ungkapan bijak salah seorang ulama,
“Sesungguhnya ibadah kepada Allah itu terdiri atas sepuluh macam, sembilan di antaranya adalah terdapat pada diam.”
Orang seperti ini adalah wali Allah yang tersembunyi. Dia diberi keselamatan dan kebijaksanaan. Dia menjadi kekasih Allah dan diberi karunia oleh-Nya. Segala yang baik akan diberikan kepadanya. Maka, hendaklah kau berteman dan bergaul dengan orang seperti ini, bantu dan cintailah mereka dengan cara memenuhi kebutuhan dan bekal mereka. Jika engkau berbuat demikian, Allah akan mencintaimu, menyucikanmu, dan memasukkanmu ke dalam golongan para kekasih-Nya dan hamba-hamba-Nya yang shalih, dengan keberkatan dari-Nya. Insya Allah.
Keempat, manusia yang dijuluki “Sang Agung” di alam Malakut. Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam hadis Nabi saw.,
“Siapa yang mempelajari (suatu pengetahuan), mengajarkan, dan bertindak berdasarkan pengetahuannya, dia akan dijuluki sebagai Orang Yang Agung di alam Malakut.”
Tak lain, dia adalah orang yang mengenal Allah dan tanda-tanda-Nya. Allah menitipkan pengetahuan-pengetahuan rahasia-Nya di dalam hatinya dan memberitahunya berbagai rahasia yang Dia sembunyikan dari orang lain. Allah memilihnya, mendekatkannya kepada-Nya sendiri, serta membimbingnya menuju pintu kedekatan-Nya.
Allah juga akan melapangkan hatinya agar dapat menerima berbagai rahasia dan pengetahuan gaib itu, menjadikannya seorang yang mengetahui hal-hal tersembunyi, menjadikannya penyeru, pemberi peringatan, sekaligus hujjatullah (argumentasi Allah) di tengah-tengah mereka. Allah juga akan menjadikannya pemberi petunjuk sekaligus yang diberi petunjuk, pemberi syafaat sekaligus yang diberi syafaat, orang yang jujur sekaligus dipercaya. Allah akan menjadikannya pengganti para rasul, nabi- Nya (semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, penghormatan, dan keberkahan kepada mereka seluruhnya).
Inilah tingkatan tertinggi dalam kehidupan manusia. Tidak ada kedudukan lain yang lebih tinggi darinya, kecuali maqam kenabian. Oleh karena itu, berhati-hatilah, jangan sampai menentang, menjauhi, atau memusuhi orang seperti ini. Jangan sampai kau tidak menghiraukan nasihat dan perkataannya. Sebab, keselamatan dalam segala hal yang dia ucapkan ada padanya, sedangkan kehancuran dan kesesatan ada pada orang lain, kecuali mereka yang diberi taufik, pertolongan, dan rahmat oleh Allah.
Demikianlah, aku telah memaparkan jenis-jenis manusia kepadamu. Sekarang, terserah kepadamu untuk mengintrospeksi dirimu sendiri, jika memang engkau berpikir. Selamatkanlah dirimu, jika memang engkau menginginkan keselamatan dan menyayangi dirimu sendiri. Mudah-mudahan Allah membimbing kita dalam meraih apa yang Dia cintai dan ridhai.









One Comment