42 Dua Kondisi Jiwa Manusia
Kondisi jiwa manusia itu hanya dua, tidak ada yang ketiga: bahagia dan sengsara. Ketika sedang sengsara, dia akan gelisah, mengeluh, marah, mengkritik dan menyalahkan Allah, tidak sabar, tidak bertawakal, dan tidak ikhlas dengan keputusan Allah, bahkan berperangai buruk kepada Allah dan menyekutukan-Nya dengan makhluk sehingga tidak percaya atau kufur.
Namun, ketika sedang bahagia, dia akan berbuat jahat, sombong, mengikuti hawa nafsu dan segala kelezatan. Nafsunya tidak pernah merasa puas. Dia akan selalu merasa dengan segala nikmat yang dia peroleh, baik berupa makanan, minuman, pakaian, istri, tempat tinggal, maupun kendaraan. Di matanya, seluruh nikmat ini
adalah aib dan sedikit jumlahnya. Dia menghendaki nikmat lebih banyak dan lebih besar yang belum ada dalam genggaman, sedangkan nikmat yang ada mereka campakkan.
Dengan demikian, dia akan terjerumus dalam derita berkepanjangan, tidak ikhlas menerima apa yang telah dia miliki sehingga tenggelam di lautan kebinasaan panjang tiada akhir. Tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Hal ini sebagaimana ungkapan yang berbunyi,
“Sesungguhnya hukuman yang paling menyiksa adalah mencari atau menuntut
sesuatu yang tidak ditentukan (untuk kita).”
Ketika sedang sengsara, dia tak menginginkan apa pun, kecuali agar kesengsaraan itu dihilangkan. Dia lupa akan segala kenikmatan dan kelezatan, tak sedikit pun menginginkannya. Namun, tatkala sedang bahagia, dia kembali tamak, berbuat jahat, mengingkari Allah, tenggelam ke dalam lautan maksiat serta lupa akan penderitaan yang pernah dialaminya. Akibatnya, dia akan kembali ditimpa kesusahan dan penderitaan, bahkan lebih berat dari yang pernah dialaminya, sebagai akibat dari dosa-dosa besar yang dia perbuat.
Dengan cara demikian, dia akan berhenti berbuat maksiat dan dosa pada masa mendatang. Sebab, kesenangan dan kebahagiaan itu tidak akan menyelamatkannya, justru kesengsaraan dan penderitaanlah yang dapat menyelamatkannya. Sekiranya dia berbuat baik, taat kepada Allah, bersyukur dan ridha kepada-Nya ketika penderitaan dan kesusahan itu dihilangkan, hal itu lebih baik baginya di dunia dan di akhirat. Allah akan menambahkan karunia, nikmat, kebahagiaan, dan keselamatan untuknya.
Oleh karena itu, siapa yang menghendaki keselamatan hidup di dunia dan di akhirat, hendaklah senantiasa bersabar dan ridha kepada Allah, tidak mengeluh kepada manusia, mengadukan segala kebutuhannya hanya kepada Allah, senantiasa taat kepada-Nya, menunggu datangnya jalan keluar dari-Nya, dan pasrah hanya kepada- Nya. Sebab Dia lebih baik dari segala sesuatu selain-Nya. Segala yang tidak diberikan
Allah kepada kita sejatinya adalah karunia, Hukuman-Nya sejatinya adalah nikmat, dan penderitaan yang Dia berikan sejatinya adalah obat.
Janji-Nya pasti dipenuhi, firman-Nya pasti terjadi di waktu yang dia kehendaki.
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata
kepadanya, Jadilah!,’ jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin [36]: 82)
Semua perbuatan-Nya adalah baik dan berdasarkan hikmah serta maslahat. Namun, hanya Allah Yang Maha Tahu atas hikmah dan maslahat itu. Dengan demikian, yang lebih utama dilakukan oleh seorang hamba adalah senantiasa pasrah, berserah diri, dan kembali kepada-Nya, melakukan apa saja yang diperintahkan-Nya, dan meninggalkan apa saja yang dilarang-Nya. Jangan mencampuri urusan ketuhanan- Nya karena hal itu merupakan penyakit sekaligus musuh dari takdir-Nya. Berhentilah mengatakan, “Mengapa, bagaimana, dan kapan?”
Jangan pula menyalahkan Allah dalam segala gerak dan diammu. Semua nasihat ini berdasarkan sabda Nabi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dan diriwayatkan oleh
‘Atha’ bin ‘Abbas r.a. berikut,
“Ketika aku sedang bersama Nabi saw. beliau berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, peliharalah (kewajibanmu terhadap) Allah, niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (kewajibanmu terhadap Allah), niscaya kau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kau meminta, mintalah kepada Allah. Jika kau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan dari-Nya. Tinta catatan amal telah kering jika sesuatu itu telah terjadi.”
Oleh karena itu, andaikan seluruh hamba Allah hendak memberikan suatu manfaat yang tidak digariskan Allah untukmu, mereka tak akan mampu melakukannya. Sebaliknya, jika mereka hendak menimpakan suatu bahaya yang tidak ditetapkan oleh-Nya, perbuatan mereka itu akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, jika kau mampu melakukan seluruh perintah Allah dengan sungguh-sungguh dan yakin, lakukanlah semua itu. Akan tetapi, jika kau tidak mampu melakukannya, hendaknya kau bersabar
terhadap sesuatu yang tidak kau suka, sebab di dalam kesabaran itu terdapat banyak kebaikan.
Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu datang melalui kesabaran. Ketahuilah, sesungguhnya jalan keluar itu datang bersama kesulitan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Oleh karena itu, setiap orang yang beriman hendaknya menjadikan hadis di atas sebagai cerminan hati, semboyan, selimut, dan topik pembicaraannya. Dia juga harus mengamalkannya dalam setiap gerak dan diamnya, agar senantiasa mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat serta memperoleh kemuliaan pada keduanya, dengan rahmat Allah swt.
43 Pantang Meminta kepada Selain-Nya
Seseorang akan meminta sesuatu kepada manusia karena dia tidak mengenal Allah, lemah imannya, lemah makrifat dan keyakinannya, dan sedikit kesabarannya. Sebaliknya, dia akan berhenti meminta-minta kepada manusia karena dia amat mengenal Allah, kuat imannya, makrifat (pengetahuan)-nya tentang Allah semakin bertambah setiap hari, setiap saat. Dia menyadari bahwa hidupnya berasal dari-Nya.
44 Sebab Tidak Dikabulkannya Doa Seorang ‘Arif
Sesungguhnya penyebab doa orang yang mengenal Allah (‘arif) itu Allah tidak dikabulkan, dan setiap janji untuknya tidak dipenuhi adalah agar dia tidak dikuasai oleh harapan yang dapat membinasakannya. Sebab setiap kondisi atau kedudukan spiritual pasti di dalamnya terdapat perasaan takut (khauf) dan harap (khauf). Keduanya ibarat dua sayap burung. Iman tidak akan sempurna tanpa keduanya, demikian pula kondisi dan kedudukan spiritual.
Hanya Saja, rasa takut dan harap dalam setiap kondisi spiritual itu disesuaikan
dengannya. Dengan demikian, seorang ‘arif menjadi dekat dengan Allah sehingga dia
tak menghendaki apa pun selain-Nya. Permohonan hamba agar doanya diterima dan janji untuknya dipenuhi, bertentangan dengan spiritualitas yang sedang dia jalani.
Ada dua sebab (tujuan) untuk ini. Pertama, agar dia tidak terbuai oleh harapan dan tipu daya dunia yang dibuat Allah sehingga dia lalai untuk melaksanakan kewajibannya terhadap-Nya. Kedua, agar dia tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, sebab tidak ada satu pun manusia yang terlindungi (ma’shum) dari dosa, kecuali para nabi, termasuk Nabi Muhammad saw. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada mereka semua.
Sebab dua hal inilah Allah tidak selalu mengabulkan permohonan seorang ‘arif, agar dia tak meminta sesuatu pun atas dorongan hawa nafsunya, bukan karena mematuhi perintah-Nya. Ada kemungkinan hal ini akan membawanya kepada perbuatan syirik. Syirik adalah dosa paling besar di setiap keadaan, langkah, dan kedudukan spiritual seluruhnya. Adapun jika doanya itu selaras dengan perintah Allah, hal itu justru akan menambah kedekatannya kepada Allah, semisal shalat, puasa, serta ibadah-ibadah wajib maupun sunah lainnya. Sebab, dengan mengikuti semua itu berarti dia telah mematuhi perintah Allah.
45 Nikmat dan Ujian
Sesungguhnya manusia itu ada dua macam: yang diberi nikmat duniawi dan yang diuji. Mereka yang dikaruniai nikmat duniawi belum tentu terlepas dari dosa dan khilaf dalam menikmati karunia Allah tersebut. Mereka justru berbangga dengan karunia yang diterima, lalu tiba-tiba datanglah takdir Allah berupa kesulitan dan malapetaka yang menimpa diri, keluarga atau harta bendanya. Mereka pun lantas merasa sedih dan berputus asa. Mereka lupa akan segala kebanggaan dan kebahagiaan yang mereka nikmati sebelumnya.
Meskipun mereka telah diberi kekayaan, keselamatan, dan kebahagiaan, mereka tetap lupa diri. Mereka menduga keadaan itu akan kekal. Jika mereka ditimpa malapetaka, mereka pun lupa akan segala kenikmatan yang pernah dirasakan
sebelumnya, seakan-akan kenikmatan itu tidak pernah ada pada mereka. Semua ini terjadi karena kebodohan mereka terhadap Tuannya yang hakiki, yaitu Allah swt.
Andaikan mereka mengetahui bahwa Allah berkuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, baik menjatuhkan ataupun mengangkat, membuat kaya atau miskin, menyenangkan ataupun menyusahkan, memuliakan ataupun menghinakan, menghidupkan ataupun mematikan, dan seterusnya maka tentulah mereka tidak akan menduga bahwa kebahagiaan dan kekayaan yang mereka nikmati itu akan kekal, dan tentulah mereka tidak akan merasa bangga dan sombong ataupun putus asa dan kecewa, ketika kekayaan dan kebahagiaan dicabut darinya.
Tindakan mereka ini disebabkan oleh kebodohannya sendiri mengenai dunia. Mereka tidak mengetahui bahwa dunia adalah tempat ujian, tempat berusaha, tempat bersakit-sakitan dan tempat bersusah payah. Dunia ini bagaikan dua lapisan rasa, di luarnya rasa pahit dan di dalamnya rasa manis. Makanlah dahulu yang pahit itu, baru kemudian yang manis. Seseorang tidak akan merasakan buah yang manis hidup sebelum dia mengecap kulitnya yang pahit. Dia tidak akan mencapai rasa yang manis, kecuali setelah bersabar memakan lapisannya yang pahit.
Oleh karena itu, siapa yang bersabar terhadap ujian. ujian di dunia ini, ia akan mengecap manisnya nikmat, Ibarat seorang pekerja, dia akan diberi upah setelah keningnya berkeringat, tubuh dan jiwanya letih karena bekerja. Setelah semua jerih payah yang telah dia lakukan, dia akan mendapatkan jatah makanan dan minuman yang lezat, busana yang bagus serta merasa senang dan bahagia, meskipun tak seberapa.
Dunia ini permukaannya pahit. Ibarat madu yang diletidak akan dalam sebuah wadah yang dilapisi lapisan pahit di bagian atasnya. Orang yang hendak memakan madu itu tak akan dapat meraih madu murni (yang tidak terkena rasa pahit) sampai dia mengecap lapisan atas yang pahit itu.
Oleh karena itu, jika seorang hamba Allah telah berupaya keras menunaikan perintah- Nya, menjauhi larangan-Nya, pasrah kepada-Nya, dan telah merasakan kepahitan dari semua itu, menanggung semua beban beratnya, berupaya melawan hawa nafsu
dan kehendaknya sendiri, Allah akan memberinya kehidupan baru yang lebih baik, kebahagiaan, kenyamanan, dan kemuliaan. Allah juga akan memeliharanya dan menjamin penghidupannya, layaknya bayi yang disusui ibunya.
Allah akan memberinya rezeki tanpa harus bersusah payah atau berusaha keras, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dia akan merasakan kenikmatan layaknya orang yang mengecap manisnya madu yang terdapat di lapisan bawah wadah, setelah merasakan pahitnya di lapisan atas.
Oleh karena itu, seorang hamba yang diberi karunia oleh Allah hendaknya tidak merasa telah aman dari cobaan-Nya, tidak terpedaya oleh kenikmatan, dan tidak merasa yakin bahwa kenikmatan itu akan kekal baginya sehingga pada akhirnya lupa untuk bersyukur. Nabi Muhammad saw. bersabda,
“Kenikmatan adalah binatang buas, ikatlah dia dengan syukur.”
Cara mensyukuri nikmat kekayaan adalah dengan mengakui bahwa kekayaannya itu milik Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah, senantiasa mengingatnya setiap waktu, mengingat kemurahan dan karunia-Nya, tidak mengklaim nikmat itu sebagai miliknya, tidak melampaui batas, tidak meninggalkan perintah-Nya, diiringi dengan menunaikan kewajiban atas harta itu, seperti mengeluarkan zakat, membayar kafarat, nazar, sedekah, menolong orang-orang yang lemah, membantu mereka yang sedang membutuhkan dan sedang mengalami kesulitan akibat kondisinya yang tiba-tiba berubah menjadi buruk, yaitu ketika masa-masa bahagianya berubah menjadi duka lara.
Adapun menggunakan cara mensyukuri nikmat sehat adalah dengan mempergunakan seluruh anggota tubuh untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, kekejian, maksiat dan dosa. Begitu pula cara menjaga nikmat, menyiram tanamannya, menumbuhkan dahan dan dedaunannya, serta mempercantik buahnya. Inilah cara membuat manis buahnya, menghindari racunnya, mengunyahnya dengan nikmat, dan memetiknya dengan nikmat.
Inilah cara menjalarkan ke seluruh anggota tubuh sehingga keberkahan menyelimutinya melalui berbagai ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya, senantiasa mengingat-Nya. Pada akhirnya, semua itu akan memasukkan hamba ke dalam rahmat, kasih sayang, dan surga Allah bersama para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baiknya teman.
Namun, jika semua itu tidak dilakukan dan justru terpedaya oleh keindahan dan kenikmatan dunia, terbuai oleh kilau fatamorgana dunia, dan semilir angin dingin pagi pada musim panas, terkecoh oleh kulit ular dan kalajengking, lupa dengan bisanya yang mematikan dan perangkap-perangkap dunia yang siap membuatnya binasa, berbahagialah dengan kehinaan. Bergembiralah dengan kehancuran yang segera datang, disertai kehinaan di dunia dan siksa pedih neraka di akhirat kelak.
Adapun jenis manusia yang kedua, yaitu manusia diuji. Ada dua kemungkinan mengapa dia diuji. Pertama, sebagai hukuman atas kejahatan dan kemaksiatan yang telah dia perbuat. Kedua, sebagai penghapus dosa-dosanya. Ketiga, untuk mengangkat derajat dan kedudukannya ke maqam yang lebih tinggi, agar dapat bersama-sama dengan para pemilik ruhani dan maqam tinggi di alam tertinggi. Hal itu terjadi setelah Allah memberikan perhatian khusus kepada mereka dengan cara membuatnya mengembara di padang bencana melalui kendaraan kasih sayang dan kelembutan-Nya. Allah memanjakan mereka dengan angin sepoi yang berhembus dari pandangan dan perhatian-Nya di setiap gerak dan diam mereka.
Demikianlah, ujian tidak ditujukan untuk menghancurkan dan menghinakan mereka, tetapi sebaliknya, ujian itu untuk memilih, dan memunculkan keimanan hakiki mereka, serta membersihkannya dari segala kesyirikan, kesombongan, dan kemunafikan. Sebagai balasannya, Allah memberi mereka berbagai ilmu, rahasia dan cahaya-Nya, serta menjadikan mereka manusia paling bersih di antara manusia-manusia pilihan, mempercayakan rahasia-rahasia-Nya kepada mereka, dan meridhai mereka untuk berada di sisi-Nya.
Nabi Muhammad saw. bersabda,
“Orang-orang miskin yang bersabar adalah pendamping-pendamping Allah pada hari
kiamat nanti.”
Mereka akan berada di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dengan hati mereka, sedangkan di akhirat dengan jasad atau fisik mereka. Oleh karena itu, bencana ditimpakan kepada mereka untuk membersihkan hatinya dari kotoran- kotoran syirik, memutuskan hubungannya dengan makhluk, sebab, angan-angan, dan kehendak. Di samping itu, juga untuk menghancurkan kebanggaan, kesombongan, dan keinginan mereka untuk mendapat imbalan derajat yang tinggi di surga dari berbagai ibadah dan ketaatan yang mereka lakukan.
Tanda bahwa suatu ujian ditujukan sebagai hukuman adalah ketika hamba yang mendapat ujian tidak sabar menerimanya, gelisah, dan mengeluh kepada makhluk, Tanda bahwa ujian ditujukan sebagai penghapus dosa dan kesalahan adalah ketika hamba bersabar, tidak mengeluh, dan tidak menunjukkan kecemasan kepada teman dan tetangga, serta tidak merasa bosan melaksanakan perintah Allah dan beribadah. Sementara itu, tanda bahwa ujian ditujukan untuk meninggikan derajat adalah ketika hamba ridha dan pasrah, jiwanya tenang dan tenteram atas perbuatan Allah, dan melenyapkan diri dalam ujian itu sampai masa ujian itu berakhir.









One Comment