Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Futuhul Ghaib

64 Kematian Tanpa Kehidupan dan Kehidupan Tanpa Kematian

Suatu hari, masalah mengusik jiwaku dan membuatku tertekan. Lantas, seolah-olah ada suara yang bertanya kepadaku, “Apa yang engkau inginkan?” Aku menjawab, “Aku menginginkan kematian yang tidak ada kehidupan di dalamnya, dan kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya.” Suara itu kembali bertanya, “Kematian apakah yang tidak ada kehidupan di dalamnya? Dan kehidupan apakah yang tidak ada kematian di dalamnya?”

“Kematian yang tidak ada kehidupan di dalamnya adalah kematianku dari sesamaku sehingga aku tak melihat mereka dapat memberi manfaat dan mudarat sedikit pun; kematianku dari hawa nafsu, kehendak pribadi, dan angan-anganku di dalam kehidupan dunia dan akhirat sehingga aku tak berada di dalam semua itu. Adapun kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya ialah kehidupanku dengan kehendak- Nya tanpa campur tanganku di dalamnya, dan kematian di dalamnya adalah wujudku dengan-Nya. Inilah keinginan paling tinggi yang aku inginkan semenjak aku dewasa,” jawabku.

65 Allah Tidak Akan Menzalimi Hamba-Nya

Mengapa kau marah kepada Allah lantaran doamu belum dikabulkan? Kau mengatakan, “Allah mengharamkan hamba-Nya meminta kepada makhluk dan mewajibkan mereka meminta hanya kepada-Nya. Namun, mengapa ketika aku meminta kepada-Nya Dia tidak mengabulkan permintaanku?”

Inilah jawabanku untukmu: apakah engkau orang yang merdeka atau budak? Jika engkau jawab bahwa kau orang yang merdeka, kau telah kafir. Namun, jika engkau jawab bahwa kau adalah budak-Nya, aku kembali bertanya: apakah kau akan menyalahkan Tuhanmu lantaran dia belum mengabulkan permohonanmu? Ragukah kau akan kearifan dan kasih sayang-Nya kepadamu dan kepada seluruh makhluk- Nya? Ragukah engkau bahwa Dia Maha Mengetahui segala kondisimu? Atau justru sebaliknya, kau tak menyalahkan-Nya?

Jika memang kau tak menyalahkan Allah, menerima kebijaksanaan-Nya, kehendak- Nya, maslahat yang akan Dia berikan kepadamu, serta penangguhan doamu, kau wajib bersyukur kepada-Nya, sebab sejatinya dia telah memilihkan yang terbaik bagimu. Dia ingin memberimu nikmat dan menghindarkanmu dari bahaya.

Jika kau menyalahkan Allah, berarti kau telah kafir karena kau telah menuduh-Nya berbuat tidak adil (zalim), sedangkan Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya. Allah tidak menerima kezaliman dan mustahil berbuat zalim. Allah Pemilik segalanya dan berkuasa penuh atas segala milik-Nya. Tidaklah layak Allah disebut zalim atau tidak adil karena yang disebut tidak adil adalah pihak yang berbuat sesuatu terhadap yang bukan miliknya tanpa izin dari sang pemilik. Oleh karena itu, janganlah kau marah terhadap-Nya atas segala ketentuan-Nya perbuat padamu, meskipun engkau tidak menyukai dan secara lahir tampak merugikanmu.

Sebaliknya, kau wajib bersyukur, bersabar, ridha, tidak marah dan tidak menyalahkan- Nya, serta tidak menuruti kebodohan diri dan hawa nafsu yang dapat menyesatkan dari jalan Allah. Wajib pula bagimu senantiasa berdoa, bersandar hanya kepada-Nya, berbaik sangka terhadap-Nya, menanti datangnya jalan keluar dari-Nya, yakin akan janji-Nya, malu terhadap-Nya, menyesuaikan diri dengan perintah-Nya, senantiasa mengesakan-Nya, segera melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan bersikap seolah- olah seperti mayat terhadap takdir dan perbuatan Allah yang terjadi padamu.

Jika pun kau harus menyalahkan dan berburuk sangka, salahkan dan berburuk sangkalah terhadap hawa nafsumu yang senantiasa menyerumu untuk berbuat keji dan maksiat kepada Allah. Itu lebih baik bagimu. Alih-alih menuduh Allah berbuat tidak adil terhadapmu, lebih baik tuduhlah hawa nafsumu sendiri. Waspadalah, jangan sampai kau menuruti hawa nafsu itu, jangan pernah terbujuk oleh perbuatan dan kata- katanya yang manis, apa pun kondisimu. Sebab dia adalah musuh Allah dan musuhmu. Dia pelayan musuh Allah dan musuhmu, yaitu setan yang terkutuk.

Hawa nafsu adalah teman, mata-mata, sekaligus sahabat setan. Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah! Waspadalah, waspadalah, waspadalah! Selamatkan dirimu, selamatkan dirimu, selamatkan dirimu! Salahkanlah

dia dan tuduhlah dia telah berbuat zalim terhadapmu. Bacakan firman Allah berikut ini kepadanya,

“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman.” (QS. an-Nisa* [4]:

147)

Juga firman Allah,

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Yunus [10]: 44)

Demikian pula ayat-ayat serta hadis-hadis lainnya. Berperanglah melawan hawa nafsumu demi Allah. Jadilah penentang dan algojonya karena Allah. Jadilah bala tentara dan pasukan Allah, sebab hawa nafsu adalah musuh Allah paling utama. Allah swt. berfirman, “Wahai Daud, tinggalkan hawa nafsumu, sebab tidak ada yang berani menentang-Ku di kerajaan-Ku, kecuali hawa nafsu.”

66 Adab dalam Berdoa

Jangan berkata, “Aku tidak mau berdoa kepada Allah karena yang permohonanku memang telah ditentukan menjadi milikku, pasti akan datang kepadaku, baik aku berdoa maupun tidak. Namun, jika sesuatu itu tidak ditentukan menjadi milikku, Allah tak akan memberikannya kepadaku, kendati pun aku selalu berdoa.”

Jangan bersikap demikian. Sebaliknya, mintalah kepada-Nya segala kebaikan dunia dan akhirat yang kau inginkan, asalkan yang engkau minta itu tidak mengandung perkara haram dan kerusakan. Sebab Allah swt. telah memerintahkan kita untuk memohon kepada-Nya. Allah swt. berfirman,

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. al-Mu‘min [40]:

60)

Allah juga berfirman,

“Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 32)

Hal ini senada pula dengan sabda Nabi Muhammad saw.,

“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan diterima.”

Juga sabda Nabi,

“Berdoalah kepada Allah dengan kedua telapak tanganmu.”

Masih banyak lagi sabda Nabi lainnya. Jangan katakan, “Sesungguhnya aku telah berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tak mengabulkan doaku. Aku tak akan berdoa lagi kepada-Nya.” Berdoalah selalu kepada-Nya. Sebab, jika memang sesuatu yang engkau minta itu ditakdirkan untukmu, Allah akan mendatangkannya padamu setelah kau memohon kepada-Nya. Sebagai imbasnya, iman, keyakinan, dan tauhidmu semakin bertambah. Kau pun tak akan meminta-minta kepada makhluk, melainkan hanya mengandalkan Allah dalam memenuhi segala kebutuhanmu, di segala kondisi.

Namun, jika sesuatu yang engkau minta itu tidak ditakdirkan untukmu, Allah akan membuatmu tak lagi membutuhkan sesuatu itu dan ridha dengan pemberian-Nya. Jika yang diberikan-Nya padamu adalah kemiskinan atau penyakit, Dia akan membuatmu ridha menerimanya. Jika yang Dia berikan adalah utang, Dia akan melunakkan hati orang yang memberimu pinjaman agar tidak menagihmu dengan cara yang buruk, melainkan dengan penuh kesantunan, atau memaklumi keterlambatanmu dan memberimu kemudahan dalam membayar sampai kau mampu, atau menghapuskan utang-utangmu, atau menguranginya.

Jika pun utangmu tidak dihapuskan atau dikurangi selama di dunia, Allah akan memberimu pahala yang melimpah sebagai ganti dari permintaan yang tidak Dia kabulkan di dunia. Sebab Allah Maha Pemurah, Maha Kaya, dan Maha Pengasih. Dia

tidak akan menyia-nyiakan permohonan hamba yang berdoa kepada-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga bagaimana pun, si hamba akan tetap memperoleh keuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah saw. bersabda,

“Pada hari kiamat kelak, seorang mukmin akan melihat di dalam buku catatan perbuatannya beberapa catatan kebaikan yang tidak pernah dia lakukan dan tidak pernah dia ketahui. Dia akan ditanya, ‘Tahukah kau perbuatan-perbuatan itu?’

Dia pun akan menjawab, ‘Aku sungguh tidak tahu dari mana datangnya ini.’ Dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya ini balasan dari doamu (yang tidak terkabul) selama di dunia dahulu.’”

Seorang mukmin mendapat pahala sedemikian rupa karena dengan berdoa kepada Allah, berarti dia telah mengingat-Nya, mengesakan-Nya, menempatkan sesuatu pada tempatnya, menunaikan hak kepada pemiliknya, melepaskan diri dari daya dan upayanya sendiri, membuang kesombongan, kebanggaan, dan kepongahan. Semua itu menjadi amal shalih baginya, dan Allah sendiri yang akan memberikan balasannya.

67 Kiat Melawan Hawa Nafsu

Setiap kali kau memerangi hawa nafsumu, mengalahkan, serta membunuhnya dengan pedang perlawanan, Allah akan menghidupkan jiwamu. Hawa nafsu itu akan kembali melawanmu dan memintamu menuruti segala syahwat dan kelezatan, baik yang haram maupun yang mubah. Sehingga kau pun harus kembali berjuang melawannya agar Allah senantiasa memberimu pahala. Inilah makna sabda Rasulullah saw.,

“Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju

jihad paling besar.”

Jihad paling besar yang dimaksud  Rasulullah  dalam  hadis di atas adalah  jihad melawan  hawa  nafsu,  mengingat  dia  senantiasa  menyeru  kepada  syahwat,

kenikmatan duniawi, serta tenggelam ke dalam lautan maksiat. Inilah makna firman

Allah,

“Sembahlah Tahanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS, al-Hijr [15]: 99) Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk beribadah kepada-Nva, dan ini berarti

perlawanan terhadap hawa nafsu. Sebab, segala bentuk ibadah tidaklah diinginkan oleh hawa nafsu yang justru menginginkan sebaliknya, hingga ajal menjemput.

Jika dikatakan, bagaimana mungkin hawa nafsu Rasulullah menolak ibadah kepada

Allah, sedangkan beliau tidak lagi memiliki nafsu? Allah berfirman,

“Tidaklah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (al-

Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 3-4)

Maka jawaban dari pernyataan di atas adalah: Allah menyatakan ini kepada Rasulullah dengan maksud untuk menegaskan syariat sehingga menjadi pedoman bagi seluruh umatnya hingga hari kiamat kelak. Lantas, Allah memberikan kekuatan kepada beliau untuk melawan hawa nafsu sehingga hawa nafsu itu tidak mampu menyentuhnya. Inilah yang membedakan antara beliau dan umatnya. Apabila seorang mukmin terus berjuang melawan hawa nafsu sampai akhir hayatnya dengan pedang terhunus dan berlumuran darah hawa nafsu, Allah akan memberinya surga yang Dia janjikan, sebagaimana firman-Nya,

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sungguh, surgalah tempat tinggal-(nya).” (QS. an- Nazi’at [79]: 40-41)

Jika Allah telah memasukkannya ke dalam surga dan menjadikan surga sebagai tempat tinggal, tempat beristirahat, dan tempat kembalinya, orang mukmin itu tidak akan dipalingkan dan dipindahkan kembali kepada kehidupan dunia. Sebaliknya, Allah akan senantiasa memperbarui nikmat baginya di surga, setiap hari, setiap saat. Si mukmin akan senantiasa berada dalam kondisi baru, dengan berbagai perhiasan yang juga senantiasa berganti dan tak akan pernah berakhir atau habis, sebagaimana

dahulu dia senantiasa memperbarui perlawanannya terhadap hawa nafsu di setiap detik, setiap saat, dan setiap hati.

Adapun orang kafir, orang munafik dan tukang maksiat, mereka meninggalkan perlawanan terhadap hawa nafsu di dunia, bahkan menurutinya, bersekutu dengan setan dan berbaur dengan aneka macam maksiat seperti kekafiran, kemusyrikan, dan hal-hal lainnya sampai dia mati dalam keadaan kafir dan belum bertobat; maka Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang memang telah dipersiapkan untuk orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah,

“Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Ali

‘Imran [3]: 131)

Jika Allah telah memasukkan mereka ke dalam neraka dan menjadikan neraka itu tempat tinggal dan tempat kembali mereka, neraka itu akan membakar kulit dan dagingnya. Allah lantas akan kembali mengganti kulit dan daging mereka dengan yang baru. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

“Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit mereka dengan

kulit yang lain.” (QS. An-Nisa’ [4]: 56)

Allah memperlakukan mereka seperti itu sebagaimana mereka dahulu senantiasa menuruti hawa nafsunya untuk berbuat maksiat kepada-Nya selama di dunia. Kulit dan daging penghuni neraka akan senantiasa diperbarui (setelah dibakar) setiap saat, agar  mereka  terus-terusan  tersiksa  dan  kesakitan.  Sebaliknya, kenikmatan  para penghuni surga senantiasa diperbarui setiap waktu, agar kenikmatan dan kelezatan yang mereka rasakan bertambah berlipat-lipat. Hal ini tak lain karena perjuangan mereka melawan nafsu dan keengganan mereka untuk menurutinya selama di dunia. Inilah makna sabda Nabi

“Dunia adalah ladang akhirat.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker