20 Tinggalkan Semua yang Meragukanmu
Nabi Muhammad saw. bersabda,
“Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu, dan kerjakanlah sesuatu yang tidak membuatmu ragu.”
Jika sesuatu yang meragukanmu bercampur dengan sesuatu yang tidak meragukan, tinggalkanlah yang meragukan itu dan ambillah yang tidak meragukan dengan penuh keyakinan. Jika sesuatu yang meragukan dan bercampur itu telah terbebas sepenuhnya dari kekacauan dan kebimbangan di dalam hati, berhentilah sejenak. Tunggulah datangnya perintah batin.
Jika kau diperintahkan untuk mengambilnya, lakukanlah. Jika kau dilarang untuk mengambilnya, tinggalkanlah. Anggaplah sesuatu yang dilarang itu tidak pernah ada sebelumnya. Kembalilah ke pintu gerbang Allah dan carilah rezeki dari sisi Tuhanmu. Andaikata kau merasa tak sanggup bersabar, pasrah, ridha, atau fana, ingatlah bahwa Allah swt. tak butuh diingat. Dia tak lupa terhadapmu dan makhluk-makhluk lain selain dirimu.
Dia memberi rezeki orang-orang kafir, munafik, dan mereka yang berpaling dari-Nya, lantas bagaimana mungkin Dia melupakanmu, duhai orang yang beriman dan bertauhid, duhai manusia yang senantiasa patuh kepada-Nya dan teguh menunaikan perintah-perintah-Nya siang dan malam?
Penjelasan lain: campakkanlah segala sesuatu yang ada di tangan manusia, jangan menginginkannya, dan jangan kau buat hatimu terpaut padanya. Jangan pula berharap atau takut kepada makhluk, dan ambillah karunia Allah yang tidak
meragukanmu. Hendaknya kau hanya memiliki satu pemberi rezeki, satu tumpuan harapan, satu yang ditakuti, satu entitas (wujud), dan satu tujuan, yaitu Tuhanmu yang Maha Mulia lagi Maha Agung.
Dialah Dzat yang memegang ubun-ubun (menguasai) para raja dan mengendalikan hati manusia yang merupakan rajanya badan. Seluruh harta makhluk adalah milik- Nya. Sementara mereka hanyalah wakil dan pemegang amanat-Nya. Uluran tangan manusia yang memberimu sesuatu pun terjadi dengan izin, perintah-Nya. Dialah yang menggerakkan tangan mereka. Begitu pula jika mereka menahan tangannya darimu, sejatinya yang melakukannya adalah Allah. Allah swt. berfirman,
“Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 32)
“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (QS. al-
‘Ankabut [29]: 17)
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. al-Baqarah [2]: 186)
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. al-Mu’min [40]:
60)
“Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat
Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 58)
“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 37)
21 Berbincang dengan Iblis
Suatu waktu aku melihat Iblis yang terkutuk di dalam mimpi. Seolah-olah aku berada di tengah kerumunan manusia, dan aku sangat ingin membunuhnya.
Si laknat itu berkata kepadaku, “Mengapa kau hendak membunuhku, apa dosaku? Jika Tuhan telah menakdirkan kejahatan terjadi, aku tak kuasa mengubah dan menjadikannya kebaikan. Demikian juga sebaliknya, jika Tuhan telah menakdirkan kebaikan terjadi, aku pun tak kuasa mengubahnya menjadi kejahatan. Lantas apa yang ada dalam kuasaku?”
Aku mendapati rupa Iblis itu seperti seorang banci, suaranya lembut, buruk rupa, janggutnya panjang dan lebat, fisiknya buruk rupa. Dia lalu tersenyum padaku penuh rasa malu dan takut. Itu terjadi pada malam Ahad, 12 Dzul Hijjah 516 H. Hanya Allah yang dapat memberi petunjuk untuk melakukan segala kebaikan.
22 Orang Mukmin Diuji Sesuai Kadar Imannya
Allah senantiasa menguji hamba-Nya yang beriman sesuai kadar imannya. Jika imannya kuat dan mantap, cobaannya pun dahsyat. Cobaan seorang rasul lebih besar daripada cobaan seorang nabi karena iman rasul lebih tinggi daripada iman nabi. Cobaan seorang nabi lebih besar daripada cobaan seorang wali abdal. Cobaan seorang wali abdal lebih besar daripada cobaan seorang wali biasa. Setiap orang diuji menurut kadar iman dan keyakinannya.
Ungkapan ini berdasar pada sabda Nabi Muhammad saw.,
“Sesungguhnya kami—para Nabi—adalah orang-orang yang paling berat ujiannya, kemudian orang-orang yang lebih rendah, kemudian yang lebih rendah lagi.”
Oleh karena itu, Allah terus menguji manusia-manusia mulia ini agar mereka senantiasa berada di sisi-Nya dan tidak lalai. Allah mencintai mereka. Merekalah Para pemilik cinta Tuhan yang senantiasa mencintai-Nya, Allah tidak ingin orang-orang yang dicintai-Nya itu jauh dari-Nya. Maka, berbagai ujian yang menimpa mereka adalah dalam rangka “merebut” hati dan mengikat jiwa mereka dari kecenderungan
terhadap segala sesuatu yang bukan tujuan hidup mereka. Ujian itu juga dalam rangka menjauhkan mereka dari perasaan senang dan cenderung kepada segala sesuatu selain Allah Yang Maha Pencipta.
Ketika hal ini telah menjadi kondisi abadi mereka, hawa nafsu mereka meleleh dan hancur lebur. Kebenaran telah mengalahkan kebatilan sehingga syahwat, hasrat, serta kecenderungan terhadap segala kesenangan hidup baik di dunia maupun akhirat—lenyap dari mereka, berganti kebahagiaan dengan janji Allah, keridhaan terhadap takdir dan segala pemberian-Nya, kesabaran terhadap ujian-Nya, keselamatan dari kejahatan makhluk-Nya, dan seterusnya yang berhubungan dengan kebahagiaan hati.
Dengan demikian, hati mereka semakin bertambah kuat dan layak mengendalikan seluruh anasir tubuh. Ini tak lain karena cobaan memperkuat hati dan keyakinan, memperteguh iman dan kesabaran, serta melumpuhkan hawa nafsu. Tatkala penderitaan datang mendera orang beriman, tapi dia bersabar, ridha, dan pasrah terhadap segala perbuatan Allah, Allah pun akan ridha dan berterima kasih kepada- Nya. Lantas, datanglah pertolongan, karunia, dan taufik kepadanya. Allah swt. berfirman,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat)
kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Namun, jika manusia bergerak mencari sasaran pemuas hawa nafsu dan kenikmatan, lalu hatinya menuruti keinginannya tanpa perintah dan izin dari Allah, akibatnya adalah lalai dari Allah, syirik, dan maksiat kepada-Nya sehingga Allah pun menimpakan kepadanya kehinaan, bencana, luka, kecemasan, menjadikannya budak makhluk, menurunkan padanya kepedihan, penyakit, siksaan, dan kekacauan hidup.
Hati dan jiwa akan mendapat bagiannya masing-masing. Jika keduanya tidak memedulikan keinginan itu sampai datang izin Allah melalui ilham (bagi para wali), atau melalui wahyu (bagi para nabi dan rasul), lalu tindakan diambil atas dasar ilham dan wahyu tersebut, baik berupa pemberian maupun penolakan, Allah akan menganugerahi jiwa dan hati itu kasih sayang, keberkahan, keselamatan, keridhaan,
cahaya, makrifat, kekayaan, keselamatan dari bencana, serta kemenangan atas lawan. Ketahuilah dan camkan hal ini.
Bekerja keraslah untuk menyelamatkan dirimu dari bencana, yaitu bencana akibat terburu-buru menuruti kehendak hawa nafsu. Berhenti dan tunggulah izin dari Allah dalam hal ini, agar kau senantiasa selamat di dunia ini dan di akhirat kelak. Insya Allah.
23 Rela Dengan Pembagian Allah
Terimalah maqam atau kedudukan spiritualmu yang rendah dan pegang teguhlah itu, sampai datang takdir Allah untuk menempatkanmu di tempat yang lebih tinggi dan lebih mulia. Di tempat itu kau akan hidup tenteram, kekal, terlindungi dari kesulitan hidup di dunia dan akhirat, serta terbebas dari segala konsekuensi dan kehancuran. Engkau akan dibawa ke tempat yang lebih menyejukkan matamu dan menenteramkanmu.
Ketahuilah, bagianmu tak akan lepas darimu meskipun kau tak mengupayakannya, sedang yang bukan bagianmu tak akan pernah kauraih walau kau berupaya keras untuk meraihnya. Oleh karena itu, bersabarlah, tetaplah teguh, dan terimalah keadaanmu. Jangan mengambil apa pun sebelum datang perintah untukmu, jangan memberi apa pun, jangan bergerak, dan jangan diam sebelum datang perintah untukmu. Jika kau melakukan itu, kau akan teraniaya oleh dirimu dan oleh orang lain yang lebih buruk darimu. Sebab, dengan demikian berarti kau telah berbuat zalim, dan kezaliman tidak akan pernah luput dari Tuhan.
Allah swt. berfirman,
“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan
sesamanya.” (QS. al-An’am [6]: 129)
Ketahuilah bahwa kau berada di dalam istana Raja yang perintah-Nya berdaulat, kekuasaan-Nya dahsyat, tentara-Nya tiada terhingga, kehendak-Nya pasti terjadi,
keputusan-Nya tak bisa dibantah, kerajaan-Nya kekal, kekuasaan-Nya abadi, pengetahuan-Nya mendalam, kebijaksanaan-Nya paling tinggi, hukumnya paling adil,
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah, baik yang di langit
maupun yang di bumi.” (QS. Saba’ [34]: 3)
Tak satu pun kezaliman orang-orang yang berbuat zalim akan luput dari-Nya, sedangkan kaulah manusia paling zalim, kaulah pendosa paling besar. Sebab kau telah menyekutukan-Nya dengan hawa nafsumu melalui tindakanmu pada dirimu sendiri dan pada makhluk-Nya yang lain. Allah swt. berfirman,
“Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]:
13)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena menyekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisa [4]: 48)
Berupayalah sekuat daya untuk meninggalkan syirik (menyekutukan Allah). Jangan kaudekati dosa ini, jauhilah dia dalam setiap gerak dan diammu, siang dan malammu, ketika sendiri ataupun saat di tengah keramaian. Waspadalah terhadap segala bentuk dosa dalam anasir tubuhmu maupun dalam hatimu. Tinggalkanlah dosa yang tampak maupun yang tersembunyi.
Jangan melarikan diri dari Allah karena Dia pasti akan menemukanmu. Jangan memusuhi-Nya atas takdir-Nya padamu karena Dia pasti akan meremukkanmu. Jangan menyalahkan keputusan-Nya karena Dia pasti akan menghinakanmu. Jangan melupakan-Nya karena Dia pasti akan menegurmu dan memberimu bencana. Jangan berbuat macam-macam di dalam rumah-Nya karena Dia pasti akan membinasakanmu.
Jangan berbicara tentang agama-Nya dengan hawa nafsumu karena Dia pasti akan membinasakanmu, membuat hatimu gelap, mencabut iman dan makrifatmu,
membuatmu dikuasai oleh setan-setanmu, hawa nafsumu, syahwatmu, keluargamu, tetanggamu-tetanggamu, sahabat dan kawan-kawanmu, dan seluruh makhluk-Nya, termasuk kalajengking, ular, jin, bahkan singa di dalam rumahmu. Sehingga dengan demikian kau akan hidup sengsara di dunia, dan di akhirat kau akan terus menerus mendapat siksaan.









One Comment