Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Futuhul Ghaib

08 Mendekat Kepada Allah

Apabila engkau berada dalam suatu kondisi spiritual (hal) tertentu, janganlah mengharapkan kondisi yang lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah.

Jadi, jika engkau berada di pintu gerbang istana raja, janganlah masuk ke dalam istana itu, kecuali terpaksa, bukan sukarela. Maksud “terpaksa” adalah engkau mendapat perintah keras yang ditekankan berulang-ulang.

Janganlah engkau merasa cukup hanya dengan mendapat izin masuk karena mungkin saja izin itu sebuah jebakan atau tipuan dari sang raja. Namun, bersabarlah, sampai engkau benar-benar dipaksa masuk sehingga kau memasuki istana itu dalam kondisi benar-benar terpaksa dan mendapat penghormatan dari sang raja.

Dengan demikian, sang raja tidak akan menghukummu karena Dia sendiri yang menghendakimu untuk masuk, Hukuman diberikan kepadamu lantaran keinginan buruk dan ketamakanmu, kegemasan, kekurangajaran, dan kekecewaanmu terhadap kondisi yang sedang dihadapi,

Jika kau harus masuk ke dalamnya karena terpaksa, masuklah dengan menundukkan kepala dan pandangan mata, dengan penuh sopan santun. Perhatikan semua yang diperintahkan kepadamu, tanpa berharap mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Allah berfirman kepada Rasul pilihan-Nya,

“Janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal!.” (QS. Ta Ha [20]: 131)

Ini cara Allah mendidik Rasul-Nya agar senantiasa menghargai kondisi spiritual yang ada serta rela dengan segala pemberian-Nya. Hal ini ditunjukkan dengan firmanNya, “Karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi.” Dengan kata lain, perintah Allah ini berbunyi, “Segala yang telah Aku karuniakan kepadamu berupa perkara-perkara yang baik, kenabian, ilmu, keridhaan, kesabaran, kepemimpinan agama, dan jihad di jalan-Ku, adalah lebih baik dan lebih berharga dibanding semua yang Kuberikan kepada yang lain.”

Jadi, kebaikan itu terletak pada bagaimana menghargai dan mensyukuri keadaan yang ada serta tidak menuntut adanya kondisi yang lain. Sebab, kondisi yang lain itu

ada dua kemungkinan: Bagianmu atau bagian orang lain. Bisa juga kondisi itu bukan bagian siapa-siapa, tapi Allah menciptakannya sebagai ujian.

Jika suatu kondisi telah ditetapkan menjadi bagianmu, ja akan datang kepadamu, baik kau suka maupun benci. Oleh karena itu, tak patut jika engkau bersikap kurang sopan dan rakus dalam mencarinya karena bertentangan dengan hukum ilmu dan akal. Jika kondisi itu telah ditetapkan menjadi bagian orang lain, kau tak perlu bersusah payah meraih sesuatu yang tak bisa kau raih dan tak akan pernah sampai padamu itu. Jika kondisi itu bukan bagian siapa pun, melainkah hanya sebagai cobaan, bagaimana mungkin seseorang yang berakal menyukainya dan berupaya keras meraihnya?

Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, seluruh kebaikan dan keselamatan terletak pada kerelaan kita terhadap keadaan yang ada. Jika kau dinaikkan ke tingkat atas, bahkan sampai ke ujung—sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya—kau mesti sadar diri, menundukkan kepala dan pandangan mata serta menjaga sikap. Hendaknya kau berbuat lebih dari itu karena engkau kini lebih dekat kepada sang raja sekaligus lebih dekat kepada marabahaya.

Oleh karena itu, janganlah menginginkan perubahan kondisi spiritual (hal) dalam dirimu, baik menuju yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Jangan pula kau meminta supaya kondisi itu tetap atau abadi padamu. Janganlah mengubah sifat kondisimu itu tatkala kau berada di dalamnya, sedangkan kau tak punya pilihan sama sekali dalam masalah ini. Jika engkau melakukan itu, sama saja dengan kufur (megingkari) nikmat keadaan. Kekufuran menjadikan pelakunya terhina, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, lakukanlah sebagaimana yang telah kami nasihatkan kepadamu, sampai kau mencapai kondisi yang kelak menjadi maqam (posisi) yang kau tempati, dan kau tidak akan lenyap darinya.

Saat itulah, kau akan mengetahui kondisi spiritual itu merupakan anugerah Allah yang penjelasan dan petunjuknya muncul kemudian. Tambatkanlah dirimu padanya dan jangan biarkan dirimu lepas darinya. Ahwal (keadaan ruhani) adalah milik para wali, sedangkan maqamat (perubahan posisi) adalah milik para wali abdal. Allah-lah yang menguasai petunjuk bagimu.

09 Penyingkapan dan Pengalaman Ruhani

Para wali Allah dan wali abdal diberi kemampuan kasyf (penyingkapan gaib) dan musyahadah (pengalaman spiritual) terhadap berbagai kehendak Allah. Penyingkapan ini di luar jangkauan nalar dan kebiasaan manusia. Kehendaknya ini terwujud dalam Jalal (keagungan) dan Jamal (keindahan).

Penyingkapan keagungan (jalal) menimbulkan rasa takut, kegelisahan, kegundahan, dan pengaruh yang sangat menguasai hati sehingga gejala-gejalanya tampak pada fisik. Hal ini sebagaimana diriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah saw. sedang shalat, dari dadanya terdengar suara bagaikan air mendidih di dalam periuk. Hal itu karena intensitas rasa takut yang timbul dari penglihatan beliau terhadap keagungan dan kebesaran Allah swt. yang tersingkap untuk beliau. Diriwayatkan pula bahwa Nabi Ibrahim Khalilullah dan Umar bin Khattab al-Faruq pernah mengalami kondisi serupa.

Adapun penyingkapan keindahan (jamal) adalah terhiasnya hati dengan cahaya, kebahagiaan, kelembutan, kata-kata manis, ucapan penuh kasih sayang, kegembiraan karena berbagai anugerah-Nya yang besar, kedudukan yang tinggi, dan kedekatan dengan-Nya, di mana segala urusan mereka akan kembali kepada-Nya. Ketetapan Allah (takdir) mengenai bagian mereka masing-masing telah ditetapkan pada masa lampau. Itu merupakan bentuk karunia, rahmat, dan ketetapan dari-Nya untuk mereka di dunia ini, sampai batas waktu ajal menjemput.

Hal ini dilakukan agar kadar cinta mereka tidak berlebihan akibat rindu yang menggebu-gebu kepada Allah, dan karenanya tekad mereka kendor sehingga mereka pun hancur dan tak berdaya melaksanakan ibadah hingga ajal tiba. Allah melakukan itu terhadap mereka sebagai wujud kasih sayang, rahmat, pengobatan, serta pendidikan dan kelemahlembutan bagi hati mereka. (Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana dan Maha Tahu), Maha Berbuat Lemah Lembut, (Maha Pengasih dan Maha Penyayang) terhadap mereka.

Diriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda kepada Bilal Sang Muazin,

“Wahai Bilal, hiburlah hati kita dengan iqamat agar kita segera masuk waktu shalat.”

Maksud beliau, dengan memasuki shalat, Rasulullah dapat menyaksikan kondisi sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Itulah sebabnya Nabi saw. bersabda,

“Dan shalat dijadikan penyenang dan penggembira hatiku.”

10 Hawa Nafsu adalah Musuh Allah

Dalam hidup ini tidak ada yang lain, selain Allah dan hawa nafsumu. Sementara engkau hanyalah objek pembicaraan. Hawa nafsu itu bertentangan dengan Allah dan menjadi musuh-Nya. Segala sesuatu tunduk kepada Allah dan milik Allah. Demikian pula hawa nafsu, ia adalah makhluk sekaligus milik-Nya. Hawa nafsu itu pongah, dipenuhi angan-angan, syahwat dan kenikmatan dalam menurutinya.

Oleh karena itu, jika engkau mengikuti Allah Yang Maha Benar dalam menentang hawa nafsu dan memusuhinya, kau telah menjadi musuh bagi hawa nafsumu karena Allah semata. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. kepada Nabi Daud as., “Wahai Daud, Akulah tujuan hidupmu yang tak mungkin kau elakkan. Oleh karena itu, berpegang teguhlah pada tujuanmu ini dengan beribadah sebenar-benarnya sampai kau menjadi lawan hawa nafsumu.”

Pada titik ini, keakraban dan penghambaanmu kepada Allah benar-benar terwujud nyata. Lalu engkau memperoleh bagian-bagianmu dengan damai, menyenangkan lagi baik. Engkau menjadi orang yang kuat dan terhormat, segala sesuatu mengabdi kepadamu dan mengagungkanmu karena semuanya tunduk dan patuh kepada Tuhan-Nya. Itu tak lain karena Allah adalah Pencipta mereka, sedangkan mereka telah berikrar untuk menyembah-Nya. Allah swt. berfirman,

“Tidak ada sesuatu pun, melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (QS. al-Isra’ [17]:

44)

“Lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan patuh.’” (QS. Fushshilat [41]: 11)

Jadi, ibadah tertinggi itu terletak pada penentangan terhadap hawa nafsu. Allah berfirman,

“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari

jalan Allah.” (QS. Shad [38]: 26)

Allah  juga  berfirman  kepada  Nabi  Daud  as.,  “Jauhilah  hawa  nafsumu  karena

sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menentang-(Ku).”

Sebuah kisah yang masyhur tentang Abu Yazid al Busthami menyatakan bahwa ia pernah melihat Allah di dalam mimpinya. Ia bertanya kepada Allah, “Bagaimanakah caranya agar dapat sampai kepada-Mu?” Allah menjawab, “Buanglah hawa nafsumu lalu datanglah kepada-Ku.”

Abu Yazid mengisahkan, “Aku pun melepaskan diri dari hawa nafsuku layaknya seekor ular yang berganti kulit.” Benar saja, semua kebaikan  itu  terdapat pada memerangi hawa nafsu secara keseluruhan dan dalam segala kondisi. Oleh karena itu, sekiranya kau berada dalam kondisi takwa, lawanlah hawa nafsumu dengan cara keluar dari hal-hal yang haram dan syubhat?, tidak mengharapkan pertolongan makhluk, tidak mengandalkan mereka, tidak memercayai mereka, tidak takut, dan tidak berharap kepada mereka, serta tidak iri dengan perkara duniawi yang mereka miliki.

Jangan pula mengharapkan pemberian mereka, baik berupa hadiah, zakat, sedekah, maupun nazar. Hendaklah engkau membebaskan dirimu dari segala keinginan terhadap mereka, apa pun cara dan perantaranya. Bahkan jika sekiranya engkau mempunyai saudara yang hartawan, janganlah mengharapkan dia lekas mati demi mewarisi hartanya.

Lantas bebaskanlah dirimu dari ikatan makhluk dengan sungguh-sungguh, dan anggaplah mereka layaknya pintu yang bisa tertutup dan terbuka, atau pohon yang kadang berbuah dan kadang tidak. Semua itu terjadi atas kuasa dan rancangan Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, agar engkau senantiasa mengesakan-Nya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, janganlah engkau melupakan upaya manusiawi (kasb) agar engkau tak menjadi korban keyakinan kaum fatalis Jabariyyah), dan yakinlah bahwa tak ada satu pekerjaan pun yang bisa terwujud, kecuali atas izin Allah. Jangan kau sembah mereka dan kau lupakan Allah.

Jangan pula engkau katakan bahwa perbuatan makhluk itu terjadi tanpa ada campur tangan Allah, sebab dengan demikian engkau akan menjadi kafir dan termasuk golongan Qadariyyah. Hendaknya kau katakan bahwa segala perbuatan makhluk itu Allah yang menciptakan, dan makhluk hanya diberi kuasa untuk mengupayakan (kasb) perbuatan itu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis yang menjelaskan persoalan pahala dan hukuman.

Laksanakan perintah Allah yang berkenaan dengan mereka (makhluk), lepaskanlah bagianmu dari mereka dengan perintah-Nya pula, dan jangan melanggar perintahNya. Sebab, hukum Allah itu tegak dengan ketetapan-Nya terhadap dirimu dan mereka. Oleh karena itu, jangan sok menjadi hakim. Kebersamaanmu dengan mereka adalah sebuah takdir, dan takdir merupakan kegelapan. Bawalah kegelapan itu ke dalam pelita, yaitu kitabullah (al-Quran) dan sunah Rasul-Nya (hadis), jangan sampai keluar dari keduanya.

Jika terlintas olehmu suatu pikiran, atau kau menerima ilham, tundukkan pikiran atau ilham itu kepada kitabullah dan sunah Rasul. Jika dalam kegelapan itu kau dapati sebuah larangan (sesuatu yang diharamkan), misalnya engkau tiba-tiba mendapat ilham untuk berzina, berbuat riya, bergaul dengan orang-orang fasik dan tukang maksiat, dan lain-lain; maka buanglah jauh-jauh, tinggalkanlah, dan jangan pernah menuruti ilham semacam itu. Yakinilah ilham itu berasal dari setan yang terlaknat.

Jika dalam kegelapan takdir yang kau dapati adalah hal-hal mubah semisal pemenuhan keinginan-keinginan yang dibolehkan, seperti makan, minum, berpakaian, atau menikah, jauhilah pula ilham itu, jangan kau turuti. Ketahuilah, hal

itu adalah godaan untuk memuaskan hawa nafsu dan syahwat belaka. Sementara engkau telah diperintahkan untuk menentang dan memerangi hawa nafsu.

Jika apa yang diilhamkan kepadamu itu tidak kaudapati haram-halalnya di dalam al- Quran dan sunah, bahkan tidak sesuai dengan akal sehatmu, layaknya seseorang yang mengendalikanmu dan berkata, “Datanglah ke tempat ini dan ini, temuilah si fulan yang shalih,” sedangkan kau sudah tak perlu lagi pergi ke sana atau menemui si orang shalih itu karena Allah telah memberimu karunia ilmu dan makrifat, berhentilah. Jangan buru-buru kau datangi tempat itu, lalu kau berkata, “Ini ilham dari Allah swt., aku harus melakukannya.”

Bersabarlah dahulu sampai kau melihat adanya kebaikan seluruhnya dalam ilham tersebut, dan sampai kau mengetahui bahwa ilham itu adalah perbuatan Allah, Yakni, ilham itu datang berulang-ulang kepadamu dan memerintahkanmu untuk melakukannya. Atau tunggulah datangnya pertanda yang ditampakkan kepada orang- orang yang mengenal Allah, diketahui oleh para wali yang cerdas, dan para wali abdal yang diberi kekuatan.

Kau tak layak terburu-buru mengerjakan perkara itu karena kau tak tahu akibat dan bagaimana ujungnya. Kau juga tak tahu ujian, kehancuran, tipu daya, dan cobaan Allah apa yang terkandung dalam ilham itu. Bersabarlah, sampai Allah swt. menjadi pelaku semua itu di dalam dirimu. Jika tindakan itu telah murni (terbebas dari keinginanmu dan menjadi tindakan Allah) dan kau “disetir” untuk melakukannya, kemudian kau ditimpa fitnah (ujian), kau menjadi orang yang disetir, tapi tetap terlindungi. Sebab, Allah tidak akan menghukummu atas tindakan yang dikehendaki- Nya sendiri, tapi Dia akan menghukummu atas “keterlibatanmu” dalam suatu perkara.

Jika kau telah berada dalam tingkatan hakikat, yaitu kedudukan sebagai wali, lawanlah hawa nafsumu dan taatilah perintah Allah sepenuhnya. Menaati perintah itu terbagi dua. Pertama, mengambil bekal dari dunia sekadarnya sebatas hak bagi dirimu, mencampakkan kesenangan dunia yang menjadi bagianmu, melaksanakan kewajiban dan menyibukkan diri untuk meninggalkan dosa, yang nyata maupun yang tersembunyi.

Kedua, berhubungan dengan perintah batiniah, yaitu perintah Allah kepada hambanya berupa suruhan dan larangan untuk melakukan sesuatu. Perintah seperti ini terjadi dalam hal-hal mubah yang tidak ada ketentuan hukumnya dalam syariat, yakni hal- hal yang tidak tergolong larangan dan tidak tergolong kewajiban, akan tetapi seorang hamba diberi kebebasan untuk bertindak sesuai ikhtiarnya. Oleh karena itu, perintah seperti ini dinamakan mubah.

Dalam hal ini, hendaknya si hamba tidak mengambil prakarsa sendiri untuk melakukan sesuatu, akan tetapi dia harus menunggu perintah (dari-Nya). Apabila perintah ini telah datang, hendaknya dia menaatinya sehingga segala gerak dan diamnya terjadi karena Allah. Jika sesuatu itu terdapat ketentuan hukumnya di dalam syariat, dia kembalikan kepada syariat. Namun, jika tidak ada ketentuan hukumnya, ia bertindak atas dasar perintah batin (tersembunyi) tadi. Pada titik ini, ia benar-benar termasuk golongan orang yang telah mencapai hakikat.

Adapun sesuatu yang tidak terdapat perintah batin di dalamya, itu hanyalah tindakan dalam kondisi berserah diri. Jika kau telah sampai pada kebenarannya kebenaran (haqul haqqi), yaitu kondisi ketiadaan diri (mahwu) dan lenyap (fana)—yang merupakan ciri khusus para wali abdal yang hatinya luluh karena Allah, senantiasa mengesakan Allah, mengenal-Nya, memiliki keluasan ilmu dan akal, yang merupakan pemimpin-pemimpin terhormat, pelindung makhluk, khalifah Allah Sang Maha Pengasih, kepercayaan-Nya, penolong-Nya, serta kekasih-Nya (semoga Allah melimpahkan kesejahteraan bagi mereka semua)—maka mematuhi perintah dalam kondisi seperti ini adalah dengan cara melawan hawa nafsumu sendiri, yaitu dengan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap segala kemampuan dan kekuatan, melepaskan diri dari segala kehendak dan tujuan duniawi dan ukhrawi.

Dengan demikian, kau  menjadi abdi Sang  Raja, bukan  abdi  kerajaan-Nya.  Kau menjadi abdi perintah-Nya, bukan abdi hawa nafsu. Kau laksana bayi dalam buaian ibu yang menyusui, atau mayat yang dimandikan, atau pasien yang tak sadarkan diri di hadapan sang dokter, dalam segala hal yang berada di luar wilayah perintah dan larangan. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker