Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Futuhul Ghaib

61 Mengetuk Ambang Pintu Ruhani Para Nabi

Sebelum mengambil bagian-bagian duniawinya, setiap mukmin harus berhenti dan memeriksa terlebih dahulu bagian-bagian duniawi itu, sampai jelas baginya bahwa hukum syariat membolehkannya dan dia benar-benar yakin bahwa itu memang bagiannya. Sebab, orang mukmin itu selalu waspada, sedangkan orang munafik itu selalu memangsa dengan buas. Nabi Muhammad saw. bersabda,

“Sesungguhnya orang mukmin itu senantiasa waspada.” Nabi juga bersabda,

“Tinggalkanlah segala yang membuatmu ragu dan ambillah yang tidak membuatmu ragu.”

Jadi, orang mukmin itu selalu berhati-hati terhadap semua perkara seperti makanan, minuman, pakaian, perkawinan, istri/suami dan apa saja yang diberikan kepadanya. Dia tidak akan serta merta mengambil sesuatu, kecuali setelah memastikan bahwa sesuatu itu boleh diambil dan halal secara hukum syariat. Inilah tingkatan takwa (mukmin awam). Sementara dalam tingkatan kewalian terlebih dahulu dia harus mendengarkan perintah dari dalam hatinya. Adapun dalam tingkatan wali abdal dan ghauts, dia harus memastikannya dengan ilmu Allah. Jika dalam tingkatan fana’, dia harus mengikuti perbuatan Allah, dan ini adalah takdir itu sendiri.

Kemudian datanglah satu kondisi spiritual lain ketika seorang mukmin menerima apa saja yang datang kepadanya selama tidak bertentangan dengan ketiga kondisi di atas, yaitu hukum syariat, perintah hati, dan ilmu Allah. Akan tetapi, jika dia bertentangan dengan salah satu dari tiga kondisi di atas, dia tidak boleh mengambil bagian duniawinya. Kondisi ini merupakan kebalikan dari tingkatan pertama (tingkatan takwa atau mukmin awam), ketika kewaspadaan dan kehati-hatian menjadi hal yang paling dominan baginya. Sementara pada tingkatan kedua, yang paling dominan adalah tindakan mengambil dan menggunakan semua bagian yang diberikan kepadanya.

Kemudian datanglah kondisi spiritual ketiga, ketika seorang mukmin dapat mengambil dan menggunakan nikmat apa saja yang diberikan kepadanya tanpa pertentangan sedikit pun dengan ketiga hal di atas. Inilah hakikat fana’ yang sesungguhnya. Pada keadaan ini, sang mukmin terlindungi dari segala bencana dan pelanggaran hukum, dan segala kejahatan dijauhkan darinya, sebagaimana firman Allah,

“Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf)

termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf [12]: 24)

Dengan perlindungan ini, si hamba menjadi seperti orang yang diberi pinjaman, diberi kebebasan untuk. mempergunakan segala hal yang halal, serta diberi kemudahan untuk memperoleh segala kebaikan. Bagiannya yang telah dibersihkan dari segala

bencana dan konsekuensi buruk, serta telah selaras dengan kehendak, keridhaan, dan perbuatan Allah, akan datang menjempunya, baik di dunia maupun di akhirat.

Tidak ada tingkatan lain yang lebih tinggi daripada itu. Inilah tujuan akhir para wali agung, yaitu orang-orang pilihan pemilik rahasia Allah. Merekalah orang-orang yang telah sampai ke ambang pintu spiritual para Nabi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepada mereka seluruhnya.

62 Allah Mencintai yang Tunggal dan

Menunggalkan-Nya Betapa sering seorang mukmin berkata, “Si fulan dekat dengan Allah, sedangkan aku jauh dari-Nya. Si fulan diberi karunia, sedangkan aku tidak. Si fulan kaya, sedangkan aku miskin. Si fulan sehat, sedangkan aku sakit. Si fulan dimuliakan, sedangkan aku dihinakan. Si fulan dipuji, sedangkan aku dicaci. Si fulan dipercaya, sedangkan aku tak dipercaya. Tidakkah dia tahu bahwa Allah itu Tunggal dan bahwa Yang Tunggal itu menyukai yang tunggal serta hanya mencintai orang yang cintanya tunggal hanya untuk-Nya?

Jika Dia mendekatkanmu kepada-Nya melalui perantara selain-Nya, cintamu kepada- Nya itu akan ternoda dan terbagi. Sebab, mungkin saja kau lebih condong kepada manusia yang tampaknya memiliki kekayaan dan anugerah nikmat sehingga cintamu kepada Allah pun akan ternoda. Allah swt. adalah Dzat yang Maha Cemburu. Dia tidak suka cinta-Nya diduakan. Oleh karena itu, Dia menahan tangan orang lain dari membantumu, lidah mereka dari memujimu, dan kaki mereka dari mengunjungimu, agar mereka tak memalingkanmu dari-Nya. Tidakkah kau dengar sabda Nabi,

“Hati tercipta dengan fitrah mencintai siapa pun yang berbuat baik kepadanya.”

Oleh karena itu, Allah menahan manusia berbuat kebaikan kepadamu dari berbagai cara dan sarana, hingga kau hanya mengesakan-Nya, mencintai-Nya semata, dan sepenuhnya menjadi milik-Nya dari segala penjuru, lahir maupun batin, dalam gerak maupun diammu. Dengan demikian, kau tak melihat kebaikan ataupun keburukan, kecuali pasti dari-Nya. Kau pun akan lenyap dari makhluk, dirimu sendiri, hawa nafsu,

kehendak, angan-angan dan segala sesuatu selain Allah. Akhirnya, tangan manusia akan digerakkan kepadamu untuk memberimu karunia, lidah mereka pun digerakkan untuk memujimu. Allah akan memberimu karunia abadi di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, janganlah bersikap tidak sopan. Lihatlah kepada Dzat yang melihatmu. Datangilah Dzat yang datang menemuimu. Cintailah Dzat yang mencintaimu. Sambutlah  seruan Dzat  yang memanggilmu. Ulurkanlah tanganmu kepada Dzat yang menyelamatkanmu yang jatuh tersungkur, mengeluarkanmu dari gelapnya kebodohan, menyelamatkanmu dari kebinasaan, menyucikanmu dari noda dan kotoran, melepaskanmu dari kebusukan diri, angan-angan murahan, hawa nafsu yang senantiasa menyeru kepada kejahatan, teman-temanmu yang sesat dan menyesatkan, setan-setanmu, rekan-rekanmu yang pandir dan senantiasa merintangi jalanmu menuju Allah serta menghalangimu dari berbagai hal yang mulia dan terhormat.

Berapa lamakah kau akan kembali? Kapankah kau akan datang kepada-Nya? Sampai kapankah kau mengikuti hawa nafsu dan kebodohanmu? Sampai kapankah kau akan terus memuja dunia? Kapankah kau akan kembali ke akhirat? Sampai kapankah kau akan terus bersama selain Allah? Mengapa kau menjauh dari Dzat yang menciptakanmu dan menciptakan seluruh makhluk lainnya? Dialah Dzat yang Maha Mencipta, Yang Awal, Yang Akhir, Yang Nyata, dan Yang Batin. Dialah tempat kembali dan tempat bermula segala sesuatu. Dialah Pemilik seluruh hati dan kedamaian jiwa. Dialah Dzat yang Maha Meringankan Beban dan Maha Memberi Karunia. Maha tinggi Dia dengan segala kemuliaan-Nya.

63 Salah Satu Jenis IImu Makrifat

Aku pernah bermimpi seolah-olah aku berkata, “Wahai manusia yang menyekutukan Tuhannya dengan dirinya sendiri di dalam batin, dengan makhluk secara lahir, dan dengan kehendak pribadi di dalam tindakannya!” Mendengar ucapannya, bertanyalah seseorang di sampingku, “Pernyataan apakah itu?” Aku pun menjawab, “Ini salah satu jenis ilmu makrifat.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker