01 Tiga Hal Wajib Bagi Seorang Mukmin
Ada tiga hal yang mutlak harus dimiliki seorang mukmin dalam segala keadaan, yaitu (1) menjaga perintah-perintah Allah, (2) menjauhi segala larangan-Nya, dan (3) ridha dengan takdir yang telah ditetapkan-Nya. Seorang mukmin harus melaksanakan tiga hal tersebut. Dia harus menguatkan tekad untuk melaksanakan, selalu mengingatkan dirinya sendiri, dan mengerahkan seluruh organ-organ tubuhnya untuk menerapkan ketiganya dalam segala kondisi.
02 Saling Menasihati Untuk Berbuat Baik
Ikutilah (sunah Rasul), jangan membuat bid’ah. Patuhlah (kepada Allah dan Rasul- Nya), jangan menentang:
Junjunglah tauhid tinggi-tinggi, jangan menyekutukan-Nya. Sucikanlah Dia senantiasa, jangan menuduhkan satu keburukan pun kepada-Nya. Yakinilah (kebenaran-Nya), jangan ragu sedikit pun.
Bersabarlah selalu, jangan gelisah atau putus asa, Teguhkanlah pendirianmu, jangan melarikan diri., Berdoalah kepada-Nya, jangan pernah bosan berdoa, Bersabarlah menanti, jangan putus harapan. Sambunglah tali persaudaraan, jangan saling bermusuhan. Bekerjasamalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, jangan saling mendendam. Sucikanlah dirimu dari dosa-dosa, jangan nodai dengannya.
Jangan lumuri dirimu dengan dosa, hiasilah dengan ketaatan kepada Tuhanmu. Jangan menjauh dari pintu Tuhanmu. Jangan berpaling dari-Nya. Jangan menunda- nunda tobat. Jangan merasa jemu memohon ampunan kepada Sang Pencipta pada waktu siang ataupun malam.
Dengan melakukan itu semua, pasti kalian akan mendapat rahmat (kasih sayang Allah) dan kebahagiaan, dijauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu Allah, bersenang-senang di surga dengan segala nikmat dan bidadari- bidadarinya yang masih perawan, tinggal di dalamnya untuk selamanya, mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan bidadari dan aneka aroma, serta suara merdu hamba-hamba sahaya wanita. Kalian akan dimuliakan bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih.
03 Menyatu dengan Ketetapan-Nya
Apabila seorang hamba tengah mendapat ujian, pertama-tama ia akan mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Jika gagal, ia akan mencari pertolongan kepada sesamanya, seperti para raja, penguasa, hartawan, guru spiritual, atau jika dia sakit, kepada dokter. Jika itu pun gagal, ia akan kembali kepada Tuhannya dengan doa-doa, ketundukan, dan puja-puji. Namun, selama ia mampu mengatasinya sendiri,
ia tidak akan berpaling kepada sesamanya. Selama ia masih bisa mendapatkan jalan keluar dari sesamanya, ia tidak akan berpaling kepada Tuhan.
Kemudian jika dia tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhannya, dia akan memasrahkan diri seraya terus memohon, berdoa, merendahkan diri, memuji, dan mengemis kepada-Nya dengan perasaan takut dan penuh harap. Namun, Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung membiarkan ia letih dalam berdoa dan tak mengabulkannya hingga si hamba itu merasa demikian kecewa karena tak mendapatkan sedikit pun jalan keluar. Saat itulah takdir menjelma nyata dan menjalankan tugasnya pada si hamba.
Pada titik ini, seorang hamba tak lagi butuh segala macam jalan keluar atau usaha karena yang tersisa pada dirinya hanyalah ruh. Dia tidak melihat apa yang terjadi pada dirinya, melainkan perbuatan Tuhan.
Sampailah dia pada keyakinan dan tauhid yang kuat bahwa pada hakikatnya tiada yang melakukan segala sesuatu, kecuali Allah. Tiada yang menggerakkan atau menghentikan sesuatu, kecuali Allah. Tiada kebaikan atau kejahatan, bahaya atau manfaat, pemberian atau penolakan, tiada yang membuka atau menutup, tiada kehidupan atau kematian, kemuliaan atau kehinaan, kecuali semuanya dalam kuasa Allah.
Di hadapan takdir Allah itu, seorang hamba laksana bayi menyusui di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo. Dibolak-balik, dipindahkan, dan diganti. Dia tak berdaya. Pada titik itu, dia terlepas dari dirinya sendiri dan melebur dalam perbuatan Allah. Jika dia melihat, yang dilihat olehnya hanyalah Tuhan beserta perbuatan-Nya. Jika dia mendengar, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Allah. Apa yang dia dengar adalah firman-Nya, apa yang dia ketahui adalah ilmu-Nya. Dengan karunia-Nya dia diberi nikmat dan dengan kedekatan dari-Nya dia diberi kebahagiaan.
Dia menghias dirinya dengan kedekatan itu dan menjadi mulia. Dia bahagia dan yakin dengan janji-Nya. Bersama-Nya dia merasa tenang, dengan firman-Nya dia bahagia.
Dia enggan dan lari dari segala sesuatu selain Allah dan memilih menautkan hati untuk mengingat-Nya.
Keyakinannya terhadap Allah sangatlah kuat, dan kepada-Nya dia bertawakal. Dengan cahaya makrifat-Nya dia mengambil petunjuk dan berbusana. Dia mengetahui ilmu-ilmu-Nya yang tersembunyi dan rahasia-rahasia kekuasaan-Nya. Dari-Nya dia mendengar dan merasa. Segala puja, puji, dan doanya tertuju kepada- Nya.
04 Sirnanya segala Petaka
Jika kau mengabaikan makhluk, layak dikatakan kepadamu, “Semoga Allah merahmatimu dan mematikanmu dari hawa nafsu.” Jika kau mengabaikan hawa nafsumu, engkau perlu mendapatkan ucapan, “Semoga Allah merahmatimu dan mematikanmu dari kehendak dan angan-anganmu.” Jika kau mengabaikan dari kehendakmu, kau akan mendapatkan ucapan, “Semoga Allah merahmatimu dan memberimu kehidupan yang tidak ada matinya.”
Kau akan diberi kekayaan yang tidak pernah habis, anugerah yang tidak pernah bisa ditolak, kenyamanan yang tidak pernah berubah menjadi kesusahan, nikmat yang tidak pernah berubah menjadi celaka, ilmu yang tidak ada kebodohan setelahnya, rasa aman yang tidak pernah berubah menjadi ketakutan, kebahagiaan yang tidak pernah berubah menjadi kesusahan, kemuliaan yang tidak pernah berubah menjadi hina, kedekatan yang tiada pernah berubah menjadi jauh.
Engkau diangkat dan tidak pernah direndahkan, diagungkan dan tidak pernah dihinakan, disucikan dan tidak pernah ternoda. Segala angan-anganmu akan menjadi kenyataan, perkataanmu dibenarkan sehingga kau menjadi layaknya belerang merah yang nyaris tak terlihat, mulia tiada tandingan, berharga tiada duanya, satu dan satu- satunya, tunggal setunggal-tunggalnya. Engkau akan menjadi gaibnya kegaiban, rahasianya rahasia.
Saat itulah engkau menjadi pewaris para nabi, shiddiqin, dan para rasul. Kaulah puncak kewalian, dan para wali abdal’ akan datang kepadamu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, hujan diturunkan karenamu, tanaman tumbuh berkatmu. Melaluimu, sirnalah segala petaka dan ujian yang menimpa masyarakat, golongan awam maupun khusus; penduduk perbatasan, para penguasa dan rakyatnya, para pemimpin dan masyarakatnya. Dengan demikian, kau menjadi tumpuan seisi negeri dan para hamba.
Orang-orang bergegas mendatangimu dengan ketundukan, membawa bingkisan, dan mengabdi kepadamu, dalam segala kondisi, dengan izin Sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa menyebut-nyebut kebaikanmu, melantunkan puja dan puji untukmu di mana pun mereka berada. Tidak akan ada dua orang beriman yang berselisih tentangmu. Duhai manusia terbaik yang hidup di bumi, “Itulah anugerah Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah adalah Pemilik karunia yang agung.”









One Comment