Pasal: Tentang adab-adab Pelajar
Semua yang kami sebutkan tentang adab-adab pengajar juga berlaku bagi pelajar. Termasuk adab-adabnya ialah menjauhi sebab-sebab yang melalaikan dari konsentrasi belajarnya, kecuali sebab yang harus dilakukannya untuk suatu keperluan.
Hendaklah ia membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran agar layak menerima Al-Qur’an dan menghafalkan serta memanfaatkannya.
Diriwayatkan dari Rasulullah SAW beliau bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Dan apabila daging itu rusak, maka seluruh tubuh menjadi rusak. Ketahuilah, ia adalah hati.”²²
Orang bijak berkata: Hati menjadi baik untuk menerima ilmu seperti tanah menjadi baik untuk ditanami.
Pelajar harus merendahkan dirinya kepada pengajarnya dan bersikap sopan terhadapnya, meskipun lebih muda usianya, lebih sedikit kemasyhurannya, lebih rendah nasab dan kebaikannya dan selain itu.
Hendaklah ia merendahkan diri kepada ilmu, karena dengan tawadhu’nya kepada ilmu akan mendapatkannya.
Penyair berkata:
Ilmu tidak bisa mencapai pemuda yang tinggi hati seperti banjir yang tidak bisa mencapai tempat yang tinggi
Patutlah pelajar taat kepada gurunya dan bermusyawarah dengannya dalam berbagai urusannya. Ia terima perkataannya seperti orang sakit yang berakal menerima perkataan dokter yang menasihati dan pandai. Yang ini lebih utama.
Memilih pengajar
Janganlah ia belajar, kecuali dari orang yang lengkap keahliannya, jelas keagamaannya dan nyata pengetahuannya dan terkenal kebersihan dirinya. Berkata Muhammad ibnu Sirin dan Malik bin Anas dan ulama salaf lainnya: Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agamamu.
Hendaklah ia memandang pengajarnya dengan pandangan hormat dan meyakini keahliannya dan keunggulannya atas orang-orang yang setingkat dengannya, karena hal itu lebih dekat untuk mendapat manfaat darinya.
Ada di antara ulama terdahulu apabila pergi kepada gurunya, ia menyedekahkan sesuatu dan berkata: Ya Allah, tutupilah aib guruku dariku dan jangan hilangkan keberkahan ilmunya dariku.
Berkata Ar-Rabi’ teman Asy-Syafi’i ra: Aku tidak berani minum air sementara Asy-Syafi’i memandang kepadaku, karena segan kepadanya.
Kami riwayatkan dari Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib, ia berkata: Hak orang alim padamu ialah engkau beri salam kepada orang banyak secara umum dan memberinya penghormatan secara khusus tanpa mereka.
Engkau duduk di depannya, Jangan memberi isyarat dengan tanganmu di dekatnya dan jangan mengedipkan kedua matamu. Jangan engkau katakan: Si Fulan berkata lain dari yang engkau katakan.
Janganlah engkau menggunjing seseorang di dekatnya, jangan bermusyawarah dengan teman dudukmu di majelisnya dan jangan memegangi baju bila ia berdiri. Jangan mendesaknya bila ia malas dan merasa jenuh karena lama bergaul dengannya.
Belajar patut mengamalkan adab dengan perkara-perkara yang ditunjukkan oleh Ali karomallahu wajha dan menolak gunjingan terhadap gurunya jika ia mampu. Jika tidak mampu menolaknya, ia tinggalkan majelis itu.
Sifat-sifat Pelajar
Hendaklah pelajar masuk pada gurunya dengan memiliki sifat-sifat sempurna, yaitu membersihkan diri dengan yang kami sebutkan mengenai pelajar, bersuci dengan menggunakan siwak, mengosongkan hati dari hal-hal yang melalaikan, Hendaklah ia tida masuk tanpa minta izin apabila guru berada di tempat di mana ia perlu minta izin.
Hendaklah ia memberi salam kepada orang-orang yang hadir ketika masuk dan memberi penghormatan secara khusus kepadanya dan memberi salam kepadanya dan kepada mereka bila ia pergi sebagaimana ia datang.
Disebutkan dalam hadits: Salam pertama tidak lebih patut diucapkan daripada salam kedua.²²
Janganlah ia melangkahi pundak orang-orang, tetapi duduk di tempat yang bisa dicapainya dalam majelis itu, kecuali guru mengizinkannya untuk maju atau ia ketahui dari keadaan mereka bahwa mereka lebih menyukai hal itu.
Janganlah menyuruh seseorang berdiri dari tempatnya. Jika orang lain mengutamakannya, janganlah ia menerima karena mengikuti teladan Ibnu Umar, kecuali dalam mendahulukannya terdapat maslahat bagi para hadirin atau guru menyuruhnya melakukan itu.
Hendaklah ia tidak duduk di tengah halaqah (majelis), kecuali karena kebutuhan yang mendesak. Janganlah ia duduk di antara kedua teman tanpa izin keduanya. Jika kedua melapangkan tempat baginya, ia boleh duduk dan merapatkan dirinya.
Pasal: Pelajar harus bersikap sopan pula kepada teman-temannya dan para hadirin di majelis Syeikh, karena hal itu sama dengan bersikap sopan kepada Syeikh dan untuk menjaga majelisnya.
Hendaklah ia duduk di hadapan Syeikh dengan posisi dudunya sebagai pelajar, bukan duduknya pengajar.
Janganlah ia mengeraskan suaranya dengan sangat keras tanpa keperluan dan jangan tertawa.
Janganlah banyak bicara tanpa keperluan dan jangan mempermainkan tangannya maupun lainnya. Jangan menoleh ke kanan dan kiri tanpa keperluan, tetapi tetap menghadap kepada guru dengan mendengarkan pembicaraannya.
Adab pelajar terhadap guru
Yang diperhatikan ialah pelajar tidak belajar kepada guru ketika hati gurunya sedang sibuk, jemu, takut, sedih, gembira, lapar, haus, mengantuk dan gelisah dan sebagainya yang memberatkannya atau mencegahnya dari kesempurnaan kehadiran hati dan kegiatan. Hendakah ia memanfaatkan waktu-waktu ketika gurunya berada dalam keadaan giat.
Termasuk adabnya ialah bersabar atas kekerasan gurunya dan keburukan akhlaknya. Janganlah hal itu menghalanginya untuk tetap belajar darinya dan meyakini kesempurnaannya. Hendaklah ia menakwilkan perbuatan dan perkataannya yang kelihatannya buruk dengan takwil-takwil yang benar. Tiada yang gagal melakukan itu, kecuali orang yang mendapat sedikit taufik atau tidak mendapatkannya. Apabila guru memarahinya, hendaklah ia meminta maaf kepada guru dan menyatakan bahwa dialah yang berdosa dan patut dipersalahkan. Hal itu lebih bermanfaat baginya di duni dan akhirat dan lebih membersihkan hati gurunya.
Para ulama berkata: Siapa yang tidak sabar ketika mengalami kehinaan di waktu belajar, ia pun tetap dalam kebodohan sepanjang umurnya. Dan siapa yang sabar atas hal itu, ia pun akan memperoleh kemuliaan di akhirat dan dunia. Mengenai hal itu, diriwayatkan atsar yang masyhur dari Ibu Abbas: Aku merasakan kehinaan ketika menuntut ilmu, maka aku menjadi mulia karena menjadi guru.
Penyair berkata:
Siapa yang tidak merasakan kehinaan sesaat
ia pun menghabiskan zaman seluruhnya dalam keadaan hina
Kemauan besar dan tekun belajar pada waktunya
Termasuk adab pelajar yang sangat penting ialah memiliki kemauan kuat dan tekun menuntut ilmu dalam seluruh waktu yang dapat dimanfaatkannya dan tidak puas dengan yang sedikit, sedangkan ia bisa belajar banyak. Janganlah ia memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tak mampu dilakukannya supaya tidak jemu dan hilang apa yang diperolehnya.
Ini berbeda-beda menurut perbedaan orang-orang dan keadaan mereka. Apabila tiba di majelis guru dan tidak menemukannya, iya harus menunggunya dan tetap tinggal di pintunya. Janganlah menimbulkan tugasnya, kecuali bila ia takut gurunya tidak menyukai hal itu dengan mengetahui bahwa gurunya mengajar dalam waktu tertentu dan tidak mengejar di waktu yang lain.
Apabila mendapati guru sedang tidur atau mengerjakan sesuatu yang penting, hendaklah ia tidak meminta izin masuk kepadanya, tetapi menunggu sampai iya bangun atau selesai dari pekerjaannya. Bersabar lebih utama sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Abbas dan lainnya.
Hendaklah ia mendorong dirinya untuk bekerja keras dalam menuntut ilmu di waktu senggang dalam keadaan dia dan kuat, cerdas pikiran dan sedikit kesibukan lainnya sebelum nampak gejala-gejala ketidakmampuan dan sebelum mencapai kedudukan yang tinggi.
Amirul mukminin Umar ibnu Khattab berkata: Belajarnya ilmu agama sebelum kamu diangkat menjadi pemimpin.
Artinya: Berijtihadlah dengan segenap kemampuan mu ketika kamu menjadi pengikut sebelum kamu menjadi pemimpin, karena jika menjadi pemimpin yang diikuti, kamu tidak mau belajar karena kedudukanmu yang tinggi dan kesibukanmu yang banyak.
Inilah makna perkataan Al-Imam Asy-Syafii: Belajarlah ilmu agama sebelum kamu menjadi pemimpin. Jika kamu menjadi pemimpin, tidak ada jalan untuk belajar ilmu.
Adab-adab umum
Hendaklah belajar ilmu kepada guru di awal siang, sesuai dengan hadits Nabi SAW:
“Ya Allah, berkatilah umatku pada awal waktunya.”²⁴
Pelajar harus memelihara bacaan hafalan-hafalannya dan ia tidak boleh mengutamakan orang lain pada waktu tiba giliran nya, karena mengutamakan orang lain dalam ibadah adalah makruh, berbeda dengan mengutamakan orang lain dalam urusan dunia, karena hal itu disukai.
Apabila Syeikh berpendapat adanya maslahat dalam mengutamakan orang lain pada suatu waktu karena alasan makna syar’iy, lalu menyuruhnya melakukan itu, maka ia patuhi perintahnya.
Di antara yang wajib atasnya dan harus dilakukannya iyalah tidak iri kepada seorang temannya atau lainnya atas suatu keutamaan yang di anugerahkan Allah kepadanya dan tidak membanggakan dirinya atas prestasi yang dicapainya. Telah kami kemukakan penjelasan hal ini dalam adab-adab Syeikh dan caranya untuk menyingkirkan kebanggaan diri ialah mengingatkan dirinya bahwa ia tidak memperoleh hal itu dengan daya dan kekuatannya, tetapi dari kemurahan Allah.
Maka ia tidak boleh merasa bangga dengan sesuatu yang tidak diciptakannya, tetapi Allah Ta’ala menetapkannya padanya.
Caranya dalam menyingkirkan rasa iri ialah dengan mengetahui bahwa hikmah Allah Ta’ala menghendaki keutamaan ini pada orang lain. Maka ia tidak boleh menyanggahnya dan tidak membenci hikmah yang dikehendaki Allah Ta’ala dan tidak dibenci-Nya.









One Comment