Pasal:
Anjuran mengulang-ulang ayat untuk merenungkannya
Telah kami kemukakan dalam pasal sebelumnya dorongan untuk merenungkan ayat, penjelasan pengaruhnya dan terpengaruhnya ulama salaf.
Kami riwayatkan dari Abi Dzarr, ia berkata: Nabi mengulang-ulang waktu pembacaan satu ayat sampai pagi, yaitu: (Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu). Al-Maidah: 78.
Hadits riwayat Nasa’iy dan Ibnu Majah.
Diriwayatkan dari Tamim Ad-Daariy bahwa ia mengulangi ayat ini sampai pagi:
“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu menyangka behwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh?.” Al-Jaatsiyah: 21.
Diriwayatkan dari Abbad bin Hamzah, ia berkata: Aku masuk kepada Asma’ yang sedang membaca (Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan melindungi kami dari siksa neraka). Ath-Thur: 27.
Kemudian ia berhenti padanya dan terus mengulanginya dan berdoa. Maka aku menunggu lama. Kemudian aku pergi ke pasar dan menyelesaikan keperluanku. Kemudian aku kembali dan ia masih tetap mengulanginya dan berdoa. Dan kami riwayatkan cerita ini dari Aisyah.
Ibnu Mas’ud mengulang-ulang ayat (Dan peliharalah dirimu dari (siksa yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah). Al-Baqarah: 281.
Dan mengulang-ulang pula ayat:
“Kelak mereka akan mengetahui. Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret.” Ghafir: (Al-Mu’min): 70-71.
Dan mengulang-ulang pula ayat:
(Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah). Al-Infithar: 6.
Adh-Dhahhak mengulang-ulang sampai dini hari firman Allah Ta’ala:
“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api).” Az-Zumar: 16.
Pasal:
Menangis ketika membaca Al-Qur’an
Telah dikemukakan dalam dua pasal yang lalu penjelasan tentang sebab yang mendorong orang untuk menangis ketika membaca Al-Qur’an dan itu adalah sifat orang-orang yang arif dan hamba-hamba Allah yang shaleh.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka menyungkur di atas muka mereka sambil dan mereka bertambah khusyuk. “Al-Isra’: 109.
Banyak hadits dan atsar diriwayatkan dari salaf mengenai hal itu. Di antaranya sabda Nabi :
“Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika kamu tidak bisa menangis, maka usahakanlah menangis.”³⁹
Diriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab bahwa ia mengimami jama’ah shalat Subuh dan membaca surah Yusuf. Maka ia menangis hingga mengalir air matanya dan mengenai tulang bahunya.
Dalam suatu riwayat: la mengimami shalat Isya’ sehingga menunjukkan pengulangannya dari waktu itu.
Dalam suatu riwayat: Ia menangis hingga mereka mendengar tangisnya dari belakang saf-saf.
Diriwayatkan dari Abi Raja’, ia berkata: Aku melihat Ibnu Abbas dan di bawah kedua matanya tampak bekas air mata seperti tali sandal yang usang.
Diriwayatkan dari Abi Shaleh, ia berkata: Orang-orang dari penduduk Yaman datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq Mereka mulai membaca Al-Qur’an dan menangis. Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: Demikianlah kami dulu melakukannya.
Diriwayatkan dari Hisyam, ia berkata: Terkadang aku mendengar tangisan Muhammad ibnu Sirin di waktu malam ketika ia dalam shalat.
Banyak atsar diriwayatkan mengenai hal ini dan tidak mungkin menghitungnya. Apa yang kami kemukakan dan kami tunjukkan sudah cukup. Dan Allah Maha Mengetahui.
Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata: Menangis itu dianjurkan ketika membaca Al-Qur’an. Beliau berkata: Cara menghasilkannya ialah dengan menghadirkan kesedihan di dalam hatinya, yaitu dengan merenungkan ancaman dan peringatan keras dan janji-janji, kemudian merenungkan kecerobohannya dalam hal itu.
Jika tidak timbul kesedihan dan tangisan sebagaimana yang dialami oleh orang-orang yang arif, maka hendaklah ia menangis atas kegagalan itu, karena hal itu termasuk musibah yang terbesar.
Anjuran membaca dengan tartil
Hendaklah ia membaca Al-Qur’an dengan tartil. Para ulama sepakat atas anjuran membaca dengan tartil. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” Al-Muzzammil: 4.
Diriwayatkan dari Ummi Salamah “bahwa ia menggambarkan bacaan Rasulullah sebagai bacaan yang jelas huruf demi huruf.” Hadits riwayat Abu Dawud, Nasa’iy dan Tirmidzi. Berkata Tirmidzi: Hadits hasan sahih.
Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Qurrah dari Abdullah bin Mughaffal, ia berkata:
“Aku melihat Rasulullah pada hari penaklukan Makkah di atas untanya membaca surah Al-Fath dan mengulang-ulangi dalam bacaannya.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku lebih suka membaca sebuah surah dengan tartil daripada membaca Al-Qur’an seluruhnya.
Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia ditanya tentang dua orang. Yang satu membaca Al-Baqarah dan Ali Imran dan yang lain membaca Al-Baqarah saja, sedangkan waktu keduanya, rukuk, sujud dan duduknya sama?
Ibnu Abbas menjawab: Yang membaca Al-Baqarah saja lebih baik. Dilarang membaca terlalu cepat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seorang lelaki berkata kepadanya: Aku membaca surah Al-Mufashshal dalam satu raka’at.
Maka Abdullah bin Mas’ud berkata: Ini seperti memotong rambut (karena cepatnya). Sesungguhnya ada orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak melampaui tenggorokan mereka. Akan tetapi jika masuk di dalam hati dan menjadi kokoh, maka ia pun bermanfaat.
Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Ini lafadh Muslim dalam salah satu riwayatnya.
Para ulama berkata: Tartil dianjurkan untuk merenungkan dan untuk lainnya. Mereka berkata: Dianjurkan membaca dengan tartil bagi orang bukan Arab yang tidak memahami maknanya, karena hal itu lebih dekat kepada pengagungan dan penghormatan dan lebih berpengaruh di dalam hati.









One Comment